
Semenjak insiden Rifqi mencium kening Dafina semuanya berubah. Rifqi lebih sering mengabari Dafina baik lewat chat atau telpon bahkan hampir setiap hari Rifqi mengantar jemput Dafina.
Dafina sadar, bahwa perasaan ini hanya sekedar mampir. Dafina tidak peduli dengan kata orang lain.
"Ayo masuk." Rifqi membukakan pintu mobil untuk Dafina. Dafina masuk ke dalam mobil cowok itu.
"Pulang langsung?"
"Kakak nanya gua?" Tanya Dafina balik. Rifqi mengangguk.
"Ya gua mau balik langsung karna masih banyak tugas yang harus diselesaikan," ucap Dafina.
Rifqi menjentikkan jarinya, "Bagaimana kalo kita jalan dulu?"
"Tapi—"
"Gak menerima penolakan, Daf. Lu butuh refreshing dalam hidup jangan belajar terus."
Senyum Dafina mengembang di wajahnya. Rasanya bahagia bisa mengenal Rifqi. Apakah ini yang namanya suka? Atau sayang? Atau cinta? Mengalami moment seperti ini, mereka berdua seperti remaja yang dimabuk cinta.
"Daf, gue mau bilang sesuatu," kata Rifqi.
"Hmm?"
"Gue akan bilang sesuatu ke lo hanya sekali saja tidak ada pengulangan, jadi lo harus dengar baik-baik."
Dafina mengangguk.
"I love you."
Teruslah seperti ini, jangan kemana-mana apalagi pergi setelah semua sudah merasa nyaman.
➷➷➷➷
Pulang sekolah, Rifqi berkumpul bersama gerombolannya di belakang parkiran sekolah. Hari ini entah kenapa Rifqi tidak berniat mengantar Dafina pulang. Ia lebih memilih bersama teman-temannya di sini.
"Hai cantik! Ngapain ke sini? Nyari Abang ya?" Goda Bima kepada seseorang.
Rifqi, Angga, dan Carissa melirik Bima yang ternyata sedang menggoda Lisa. Lisa tidak meladeni Bima. Ia menghampiri Rifqi. Rifqi yang melihat Lisa menghampirinya, ia menunggu cewek itu mengungkapkan sesuatu.
"Hai Rif! Gak nyangka ya kita satu sekolah," ucap Lisa sambil tersenyum. Bima, Angga, dan Carissa saling menatap satu sama lain.
"Aku boleh minta tolong gak? Tolong anterin aku balik dong, soalnya aku belum tau jalan di sini. Kan kamu tau kalo aku baru di Indonesia seminggu," ucap Lisa.
"Minta jemput ama ortu lu aja napa. Gue lagi males," tolak Rifqi ketus.
"Mom and Dad gak bisa jemput soalnya mereka lagi kerja," ucap Lisa. Bibir Lisa seketika manyun saat mendengar tolakan dari cowok itu.
"Sama Abang Bima mau gak? Abang sedia kok anterin kamu," tawar Bima dengan memamerkan cengkirannya. Lisa melirik Bima sekilas, lalu kembali menatap Rifqi.
"Please please~~" Lisa memasang puppy eyes.
"Ck! Rumah lo dimana?"
"Kan lo tau."
"Lupa."
Lisa berdecak sebal dengan sikap Rifqi yang sekarang apalagi cowok itu melupakan alamat rumahnya.
"Tar aku kasih tau alamatnya," ucap Lisa.
Rifqi pamit kepada teman-temannya lalu langsung naik ke motornya. Ia memberi isyarat kepada Lisa agar naik ke belakang. Lisa yang paham dengan isyarat itu langsung naik ke belakang. Tanpa izin Lisa memeluk perut Rifqi dari belakang.
"Pegangan di pundak aja napa?!" Ucap Rifqi emosi.
"Gak mau, maunya kaya gini. Soalnya aku takut jatuh kalo pegangan di pundak atau di belakang."
"Gue gak menerima penolakan! Kalo lo gak nurut mendingan balik pake taksi atau sama yang lain!"
"Ishh." Lisa memindahkan tangannya di pundak Rifqi. Rifqi menjalankan motornya.
"Ternyata kamu berubah ya dari dulu, naughty, playboy, dingin," ucap Lisa ketika lampu merah.
Rifqi tidak meladeni ocehan dari cewek itu.
"Kamu udah punya pacar?" Tanya Lisa. Masih sama cowok itu tidak menjawab.
"Mau sekarang kamu punya pacar dan cinta banget ama dia, tapi ortu kamu tetap merestuinya cuma ama aku," ucap Lisa kepedean.
➷➷➷➷
Dafina datang ke sekolah sepagi ini—tidak seperti biasanya. Sekolah masih sepi hanya beberapa murid saja yang baru datang. Mata Dafina tertuju pada cewek yang baru masuk ke kelas—Park Lisa.
"Eh Lis, kita masuknya jam setengah tujuh sementara ini masih jam setengah enam," ucap Dafina.
"I know."
"Terus lu kenapa masuk jam segini?" Tanya Dafina.
"Because I'm excited and happy," jawab Lisa.
(Translate English-Indonesia) : Because I'm excited and happy {Karna aku lagi semangat dan bahagia}
"Karna hari ini gue piket jadi harus datang pagi," jawab Dafina.
"Oh."
Lisa duduk di tempatnya sambil memperhatikan Dafina dan beberapa murid lainnya yang sedang beres-beres kelas.
"Do you know Rifqi?" Tanya Lisa tiba-tiba.
"Tau."
"Dia dingin banget ya?" Tanya Lisa.
"Gitu deh."
"Pasti dia punya pacar," tebak Lisa.
"Walaupun dia punya pacar pasti ujung-ujungnya balik ama gue," ucap Lisa sambil tersenyum.
"Maksud lo?" Tanya Dafina berusaha keras menahan nada terkejut.
"Gue ama Rifqi tuh udah saling kenal dari SD sampai SMP. Waktu SMP Rifqi pernah menyatakan perasaannya ke gue," jelas Lisa.
Dafina berusaha mungkin menampilkan ekspresi biasa saja. Dafina tidak menyangka sama sekali. Rifqi tidak pernah menceritakan apapun kepada dirinya. Masa lalu memang tidak penting, tapi orang spesial harus mengetahui. Spesial? Dafina langsung senyum kecut, tidak mungkin Rifqi menganggap dirinya orang spesial di hidupnya.
"He seems like he doesn't love me anymore," ucap Lisa miris.
➷➷➷➷
Jam istirahat sudah berbunyi dari lima menit yang lalu. Dafina serta teman-temannya sedang duduk di kantin.
"Gue pengen nanya sesuatu," kata Lisa.
"Nanya apa?" Sahut Dafina.
"What do you think of Rifqi?" Tanya Lisa kepada mereka semua.
"Naught," jawab Bunga.
"Playboy and bad boy," jawab Michelle.
"Dingin kaya kulkas," jawab Cleo.
"Nyebelin rasanya pengen gue kulitin tuh anak," jawab Vanissa.
"Kalo lo apa?" Tanya Lisa menatap Dafina.
"I don't know, I can't conclude only people from the outside," jawab Dafina.
(Translate English-Indonesia)
↪️I don't know, I can't conclude only people from the outside
{Aku tidak tahu, Saya tidak bisa menyimpulkan orang hanya dari luar}
"Kenapa lo nanya gini? Jangan bilang lo punya perasaan ke Rifqi?" Tanya Vanissa to the point.
"Maybe," jawab Lisa.
"Gue mau ke toilet." Dafina berdiri dari bangkunya lalu pergi dari sana. Ia tidak kuat di sana lebih baik memutuskan pergi.
Setelah keluar dari toilet, Dafina berpapasan dengan Rifqi. Rifqi menyapanya dengan senyuman sementara yang di sapa hanya diam saja.
"Why beb?" Tanya Rifqi.
Dafina tidak menjawab pertanyaan cowok itu.
Dafina pergi meninggalkan Rifqi tanpa menjawabnya. Rifqi melihat punggung cewek itu yang semakin lama semakin hilang.
"Napa, Rif?" Tanya Angga membuat perhatian Rifqi buyar.
"Dafina jadi berubah."
"Berubah gimana?" Tanya Angga.
"Dia dingin ke gue dan belakangan hari ini dia menghindar dari gue," jawab Rifqi.
"Dia sekelas ama Lisa?" Tanya Angga. Rifqi mengangguk.
"Ajak ngomong dia, Rif. Ceritain semuanya," ucap Angga.
➷➷➷➷
Bagaimana chapter ini?
Vote 👍🏻 and comment 💬 dipersilahkan
Utk mempersemangat author :v
See u hacin ❤️❤️