SMK (COMPLETED)

SMK (COMPLETED)
PART 26



**Sebelum baca chapter ini, alangkah baiknya kalian kasih vote ⭐, Comment, and share cerita ini ❤️❤️


Jam berapa kalian baca ini ^^?


Happy Reading** ^_^


❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥


Gue yang terlalu percaya diri kalau lu punya rasa ke gue.


❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥


      Tidak ada hal yang harus dijelaskan disini, Dafina benar-benar menjadi orang tolol. Padahal ia tahu kalau dirinya hanya dipermainkan oleh Rifqi, tapi dirinya sendiri tidak bisa mencegah perasaannya.


      Ibarata gini, jika kalian baru saja disakitin atau di putus ama pacar kalian dan merasakan sakit hati, kemudian datang beberapa orang yang memberikan kenyaman bahkan ada yang memperlakukan kalian spesial, menyatakan perasaannya—padahal tidak tahu itu hanya lelucon atau bukan. Bohong! Jika kalian tidak memiliki perasaan lebih walaupun hanya sesaat.


      Cinta itu tidak buta melainkan manusianya yang buta.


      Pada dasarnya perempuan itu perasa. Tapi terkadang para pria menganggap itu lelucon atau jokes.


Maaf, jika untuk masalah perasaan kami tidak main-main! -Perempuan.


"Gaess gue mau ngomong ama lo pada," kata Dafina memanggil teman-temannya.


"Ngomong apa, Fin?" Tanya Michelle.


      Dafina menghela nafasnya kasar. Rasanya sulit menceritakan semuanya karena sebagian ada yang hanya mampu mendengar tanpa mengerti. Menjadi pendengar yang baik saja belum tentu cukup.


"Kalian tau kan apa yang Kak Rifqi ngelakuin ke gue?"


Mereka mengangguk, "Emang ada masalah? Emangnya Kak Rifqi ngeaniaya lu?"


      Ngeaniaya fisik sih gak, tapi kalau hati iya!


"Tapi gue gak nyaman aja ama sikap dia ke gue belakangan ini," kata Dafina.


      Mereka mengerti topik pembicaraan yang dibicarakan Dafina. Selama ini mereka bukan tutup mata atas apa yang dilakukan Rifqi ke Dafina. Tapi mereka merasa yang Rifqi lakukan sekarang ini sangat berbeda dari sebelumnya. Makanya mereka membiarkannya...memberi kesempatan lagi untuk pria itu.


"Gak nyamannya?" Tanya Bunga.


"Gue gak tau alasan dia ngelakuin ini ke ke gue. Tapi gue ngerasa perilaku Rifqi belakangan ini sangat berbeda, dia lebih possesive, apa yang dia katakan dan yang dia mau harus gue turutin. Hanya saja jika dia hanya niat bercanda jangan ama gue." Dafina menjelaskan semuanya ke teman-temannya.


"Daf, kalau lo kurang nyaman ama dia lebih lo bilang ke Kak Rifqi langsung. Gue yakin dia bakal ngertiin lo," saran Bunga.


"Gue akui dia orangnya possesive itupun cuma kepada orang yang dia sayangi. Kalo tentang dia pemaksa seperti yang lo omongin kayanya gak deh. Cuma di moment tertentu aja dia kaya gitu, itu pun gak akan ngebahayain lo," kata Michelle.


"Gue gak mau bilang ke dia. Gue takut kalo dia ngangep gue baper ama dia."


"Tapi sebenarnya lo baper kan ama Kak Rifqi?" Tebak Cleo.


"Gue jujur ama kalian, kadang-kadang gue tuh baper ama dia tapi di sisi lain gue nyadar kalo gak ada untungnya gue baper ama dia. Gue cuma takut kalo gue udah naruh rasa dan kepercayaan ke dia eh dianya malah mematahkan hati dan kepercayaan gue. Sakit."


"Percaya ama gue, Rifqi bakal tanggung jawab kalo lo baper ama dia," kata Cleo.


"Kak Rifqi bukan orang jahat kok jadi tenang aja. Dia gak pernah main fisik ke perempuan," kata Bunga.


      Benar yang dikatakan mereka, Rifqi tidak pernah main fisik kepada perempuan. Dia hanya membentak, ketus, dingin, dan tegas. Rifqi itu cukup nakal tapi banyak yang mau ama dia. Aneh bukan, kenapa cowok seperti Rifqi banyak yang mau.


      Ponsel Dafina berdering menandakan ada panggilan yang masuk. Dafina melihat siapa yang menelponnya. Ternyata Rifqi yang menelponnya.


"Siapa yang nelpon?" Tanya Cleo.


"Rifqi," jawab Dafina.


"Udah angkat aja," kata Michelle.


      Dafina mengangkat panggilan dari Rifqi.


"Iya ada apa?" Tanya Dafina ketika sudah terangkat.


"......"


"Sekarang Kak?"


"....."


"Yayaya tunggu."


      Dafina menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Lalu menatap ke arah teman-temannya.


"Dia ngajak ketemuan," jawab Dafina.


"Ya udah sana pergi. Siapa tau bisa nyusul gue Kak Angga haha," kata Cleo.


"WHAT?! LO AMA KAK ANGGA UDAH RESMI??" Tanya mereka dengan nada keras saking kagetnya.


Cleo menggaruk tengkuknya yang tidak gatel, "Hehehe iya."


"Udah berapa lama?" Tanya Michelle.


"Baru minggu kemarin," jawab Cleo.


"Dan lebih jahatnya lo gak kasih ke kita-kita," ucap Bunga dramatis.


"Sebenarnya gue mau kasih tau kalian entar. Tapi mulut gue refleks njir," gerutu Cleo.


➷➷➷➷


      Jarak ke taman tidak terlalu jauh, jadi Dafina tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai sana. Dafina melihat Rifqi sedang duduk di salah bangku yang ada di taman. Dafina berjalan menghampiri Rifqi.


"Sorry lama," kata Dafina.


"Gak lama kok, gue juga baru datang."


"Duduk." Rifqi memberi isyarat kepada Dafina untuk duduk di sampingnya. Dafina mengikuti perintah Rifqi, ia duduk di samping cowok itu.


      Hening.


      Hanya itu yang bisa di deskripsikan suasana di antara mereka.


"Emangnya gue nyakitin lo ya, Daf? Gue cowok bajingan yang suka nyakitin cewek?" Tanya Rifqi membuat Dafina kaget mendengar pertanyaan cowok itu.


Dafina hanya mampu diam.


"Jangan diam Daf! Gue butuh jawaban!" Tegas Rifqi.


"Hah? Jawaban apa?" Tanya Dafina dengan polos.


"Jangan pura-pura sok gak denger deh. Gue yakin lo denger pertanyaan gue," protes Rifqi kesal.


      Rifqi mengatakan ini kepada Dafina karena dirinya tidak tahu harus mengatakan ke siapa selain ke Dafina.


"Kak, masalah baper itu sebenarnya gue gak baper. Sumpah."


Rifqi terkekeh kecil, "Baper beneran juga gak papa. Gue bakal tanggung kok."


"Eh..." Dafina menjai gelagapan dengan perkataan Rifqi barusan. Rifqi benar-benar pintar bisa membuat dirinya menjadi sangat kecil di depannya.


"Maksudnya?" Tanya Dafina polos.


"Ck, polos." Rifqi berdecak kesal.


"Udah lupain aja. Kalo lo gak suka sama yang gue lakuin, bilang aja. Gue gak marah kok." Rifqi tersenyum miring.


      Sial! Mengapa keadaan menjadi seperti ini. Padahal dari awal Dafina sudah begitu yakin untuk memberitahukan sesuatu kepada Rifqi. Setelah semuanya seperti ini, dia ragu menceritakan semuanya.


"Jawaban lo apa?" Tanya Rifqi.


      Tuhan! Tolong Dafina, dia bingung harus jawab apa.


"Gue butuh jawaban lo," kata Rifqi serius.


Dafina hanya diam, ia benar-benar bingung harus jawab apa.


"Lo maunya gue perjuangin lo atau gue berhenti?" Tanya Rifqi.


➷➷➷➷


**Kalau kalian jadi Dafina gimana wkwk?


Apa yg bakal kalian lakukan?


Vote and comment


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹**