SMK (COMPLETED)

SMK (COMPLETED)
Extra Part



      Hari telah berlalu dengan sangat cepat begitupun dengan waktu. Tidak kerasa sudah 3 tahun mereka meninggalkan masa putih abu-abu. Dafina memandangi sekolahnya yang begitu banyak kenangan tersimpan di sana.


      Test


      Setetes air mata mengalir dari pelupuk matanya saat mengenang kenangan-kenangan di sana. Tidak kerasa sekarang sudah menjadi kenangan.


"Dafina?" Panggil seseorang dari belakangnya.


      Dafina menoleh ke belakang. Dafina melihat Carissa yang kini berdiri di hadapannya.


"Hai Kak," sapa Dafina.


"Hai Daf," balas Carissa.


"Kakak ngapain di sini?" Tanya Dafina.


"Tadi kakak habis main ke rumah teman di sekitar sini eh pas mau balik ngeliat lo deh," jawab Carissa.


"Oh."


"Rumah lo dimana? Biar gue anter balik," tanya Carissa.


"Eh gak usah, Kak. Gue bisa sendiri," tolak Dafina sopan.


"Gak papa. Yuk ah!" Carissa menarik Dafina masuk ke dalam mobilnya tanpa menunggu respon cewek itu.


"Oh ya, lo di sana ngapain, hmm?" Tanya Carissa.


"Waktu berlalu sangat cepat ya, gak kerasa udah bertahun-tahun meninggalkan SMK," kata Dafina.


Carissa mengangguk, "Padahal rasanya baru kemarin masuk tiba-tiba udah lulus aja."


"Iya betul hahaha."


"Bagaimana sekolah lo? Semuanya lancar kan?" Tanya Carissa.


"Alhamdulillah lancar. Kalo kakak bagaimana?"


"Gue juga alhamdulilah lancar," jawab Carissa.


"Kak," panggil Dafina.


"Hmm?"


"Bagaimana kabar yang lainnya? Apa baik-baik aja?" Tanya Dafina.


"Lo nanya siapa? Rifqi?" Tanya Carissa dengan nada menggoda.


"Hah?"


"Alhamdulillah yang lainnya baik-baik aja. Tapi..." Carissa memberhentikan kalimatnya.


"Tapi apa, Kak?" Tanya Dafina.


"Tapi sekarang Rifqi dingin kayak kulkas walaupun sifat dia yang jelek udah hilang," ucap Carissa.


"Bukannya Kak Rifqi dari dulu dingin hahaha."


"Oh ya Daf, lusa lo sibuk gak?" Tanya Carissa.


"Kayanya gak deh. Emang kenapa?"


"Gue ama Angga ngadain acara reunian khusus kita-kita aja. Kalo lo gak sibuk mau kan datang ke acara itu?"


"Hmm liat aja nanti Kak," jawab Dafina.


"Oke. Kita tunggu ya."


➷➷➷➷


      Dafina tiba di sebuah restaurant yang Carissa share lock. Ia pergi ke reunian itu dan berharap semoga Rifqi tidak ada di sana. Sesampai di sana, ia menyapa semuanya. Matanya mencari ke setiap penjuru restaurant dan tidak menemukan keberadaan cowok itu. Akhirnya Dafina bernafas lega saat tidak melihatnya.


"Kok di sini cuma ada kita-kita doang? Gak ada pengunjung lain?" Tanya Bunga heran.


"Gue udah nyewa restaurant ini seharian khusus untuk kita-kita aja, jadi gak ada pengunjung lain," jelas Angga.


"Oh pantesan."


      Ceklek


      Semua mata tertuju pada seorang laki-laki yang baru saja masuk. Dafina hampir saja tersendak oleh air saat melihat siapa yang masuk. Dia adalah masa lalunya, pria yang pernah mewarnai sekaligus melukai hidupnya.


"Rifqi?" Gumam Dafina.


      Cowok itu adalah Rifqi Pratama Bramasta.


"Hi bro! How are u?" Tanya Bima.


      Rifqi memukul pundak Bima membuat cowok itu meringis kesakitan.


"Ngomong pake Bahasa Indonesia aja elah," cibir Rifqi.


"Hehehe sorry, gue kira lo udah gak bisa Bahasa Indonesia lagi karna tinggal di sana." Bima nyengir.


      Tatapan Rifqi tertuju pada seorang perempuan yang duduk sambil memainkan ponselnya. Dia adalah cewek yang mengubahnya menjadi pribadi yang lebih baik.


"Hai Daf," sapa Rifqi.


      Dafina yang awalnya sedang memainkan ponselnya kini diam seketika. Detak jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara itu. Tatapan Dafina bertemu dengan mata Rifqi itu yang membuatnya gugup.


"Hai," balas Dafina seolah-olah tidak merasakan sesuatu.


"Bagaimana kabar lo? Gimana kuliah lo?" Tanya Rifqi yang kini sudah duduk di hadapannya.


"Baik."


"Ck balasannya lo singkat banget," protes Rifqi.


"Lo cantik, Daf," puji Rifqi.


"Eh? Semua perempuan itu cantik."


"Tapi menurut gue lo yang paling cantik," kata Rifqi.


      Ucapan Rifqi barusan membuat pipi Dafina memerah.


"Daf, gue minta maaf karna waktu itu gue pergi ninggalin lo tanpa kasih tau alasannya," ucap Rifqi menyesal.


"Gue udah lupain, Kak."


"Tapi gue tetap harus ngejelasin ke lo."


"Seterah kakak gue gak maksa kok."


"Sebenarnya gue masih cinta ama lo, Daf, bahkan setelah bertahun-tahun gue tetap cinta ama lo," ucap Rifqi jujur.


      Dafina langsung menatap Rifqi saat mendengar pernyataan cowok itu. Rifqi masih mencintainya? Tapi kenapa dia meninggalkannya?


"Tapi karna ada suatu alasan yang ngeharusin gue ninggalin lo." Rifqi memegang kedua tangan Dafina dan menatap bola mata cewek itu.


"Lo mau tau alasannya apa?" Tanya Rifqi.


Dafina diam.


"Jadi gini..." Rifqi menjelaskan semuanya kepada Dafina.


➷➷➷➷


Flashback On


      Rifqi baru saja pulang dari sekolahnya sehabis belajar bersama Dafina di ruang OSIS. Rifqi langsung masuk ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya lalu istirahat.


      Suara ketukan pintu membuat Rifqi terbangun. Ia membuka pintunya ternyata disana ada Bi Iyem—Asisten rumah tangga.


"Ada apa, Bi?" Tanya Rifqi.


"Maaf Den, Bibi ngeganggu. Tapi tuan besar memanggil anda untuk ke bawah," ujar Bi Iyem.


"Bilangin ke Mama dan Papa kalo Rifqi akan ke sana," ucap Rifqi kepada Bi Iyem.


"Baik Den."


      Setelah mencuci mukanya, Rifqi turun ke bawah lebih tepatnya ke orang tuanya.


"Ada apa, Ma, Pa?" Tanya Rifqi saat sudah duduk di sana.


"Papa mau bicara sama kamu, sayang," kata Mamanya.


"Mau bicara apa, Pa?" Tanya Rifqi kepada Papanya.


"Kamu kan anak tunggal Mama dan Papa sekaligus penerus keluarga Bramasta. Papa ingin menyekolahkan kamu lebih tinggi," jelas Papanya.


"Mama dan Papa berniat untuk menyekolahkan kamu ke Amerika lebih tepatnya ke New York dan Los Angeles," timpal Mamanya.


      Keputusan orang tuanya membuat Rifqi sangat terkejut, yang berarti dia harus pergi dari Indonesia dan meninggalkan Dafina. Ia tidak bisa melakukannya.


"Rifqi gak bisa, Pa, Ma. Mama sama Papa tenang aja Rifqi bakal membuat kalian bangga walaupun cuma kuliah di Indonesia," tolak Rifqi.


"Tapi Nak, Mama ama Papa maunya kamu kuliah di sana. Kamu boleh pulang ke Indonesia lagi setelah menyelesaikan sekolah di sana," kata Papanya.


"Tapi Rifqi gak mau," tegas Rifqi pergi meninggalkan orang tuanya.


      Terdengar bunyi orang masuk ke dalam kamarnya yang Rifqi yakinin kalau yang masuk adalah Mamanya.


"Kalo Mama mau bilang itu lagi lebih baik keluar aja. Keputusan Rifqi sama kalo Rifqi gak mau kuliah di sana!" Tegas Rifqi.


"Mama mau ngomong ama kamu, Nak, ini tentang Dafina," kata Mamanya.


      Mendengar nama Dafina membuat Rifqi langsung bangun dari tidurnya.


"Hubungan kalian gimana?" Tanya Mamanya.


"Alhamdulillah hubungan kami masih baik, Ma."


"Bagus deh. Mama boleh nitip sesuatu untuk Dafina?" Tanya Mamanya.


"Mama mau nitip apa emangnya?" Tanya Rifqi balik.


"Tolong bilangin ke Dafina kalo Mama dan Papa mengucapkan terima kasih banyak karna dia kamu berubah menjadi lebih baik," ucap Mamanya.


"Kamu tau kenapa Mama dan Papa ngelakuin itu?" Tanya Mamanya.


Rifqi menggeleng.


"Karna Mama ama Papa mau kalo kamu sukses besar supaya saat hidup dengan Dafina atau keluarga kecil kamu nanti enak. Dan dia bangga ngeliat cowoknya sekolah di luar negeri dan sukses besar," jelas Mamanya.


"Bener gitu? Mama ama Papa ngelakuin itu bukan ingin memisahkan kami kan?" Tanya Rifqi.


"Mama ama Papa malah gak kepikiran kesana. Ya udah Mama keluar dulu ya sayang."


Flashback Off


➷➷➷➷


Nah, aku udh jelasin kenapa Rifqi waktu itu memutuskan Dafina tanpa alasan yang jelas. Dan ternyata alasannya itu.


Gimana Extra Part-nya?


Bikin Extra Part lagi?


Ets, sebelum itu kalian Vote+Comment+Share cerita ini


Akan update jika yg Comment (200) & vote (1000). Deal?