
**Sebelum baca chapter ini, alangkah baiknya kalian kasih vote 👍🏻, Comment 💬, and share cerita ini ❤️❤️
Jam berapa kalian baca ini ^^?
Happy Reading** ^_^
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
Semoga lo bahagia ke depannya nanti.
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
Tok tok tok!
Fani masuk ke kamar Dafina. Fani menggelengkan kepalanya melihat putrinya yang masih tidur.
"Kak! Bangun!" Fani membangunkan putrinya.
"Ahh nanti Ma, kakak masih ngantuk."
"Bangun Kak! Ada teman kakak di luar," ucap Fani.
"Bilang aja kalo aku masih tidur." Bukannya bangun, Dafina malah membenarkan posisi tidurnya.
"Ckck ya udah Mama bilang Nak Rifqi kalo kamu masih tidur."
Saat Fani mau bangun, Dafina menahannya.
"Tadi Mama bilang apa? Rifqi?" Tanya Dafina memastikan.
"Iya, yang datang Nak Rifqi."
Dafina heran kenapa Rifqi datang ke rumahnya.
"Bilang ke Rifqi tunggu sebentar, Ma! Kakak mau siap-siap," pinta Dafina.
"Baik. Kamu cepetan siap-siapnya."
Setengah jam kemudian.
Setelah sudah rapih, Dafina pergi ke luar untuk menemui Rifqi. Ia bisa melihat Rifqi sedang duduk di bangku teras depan sambil memainkan ponselnya.
"Sorry, nunggu lama hehe. Lu juga sih datang ke sini gak bilang-bilang," ucap Dafina.
"Kalo gue bilang namanya gak suprise dong."
"Btw, lu ke sini ada apa?" Tanya Dafina.
"Mau ngajak lu jalan," jawab Rifqi.
"Ya udah lu tunggu sini, gue mau bilang ama nyokap," ujar Dafina.
"Gak usah bilang, gue udah minta izin ama nyokap lo. Barusan nyokap lo baru berangkat kerja."
"Kita mau jalan kemana?" Tanya Dafina.
"Gue mau ngajak lo ke restaurant."
➷➷➷➷
"Gila Rif, makanan dan minuman di restaurant ini enak banget sumpah," puji Dafina.
"Banget."
"Ok lain kali gue ngajak lo ke sini lagi."
"Gue pegang janji lo. Liat aja bohong!"
"Hahaha ampun Mak ampun."
Mata Dafina tertuju pada luar restaurant yang dimana ada seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan membawa koper.
"Itu bukannya Kak Rayn Wijaya ya?" Tanya Dafina memastikan.
Rifqi mengikuti arah yang dimaksud Dafina. Rifqi yakin kalau cowok itu adalah Rayn. Mereka langsung menghampiri Rayn.
"Kak, lo mau kemana?" Tanya Dafina saat sudah di samping Rayn.
"Eh?" Rayn terkejut, "Fin, gue mau ngomong ama lo."
➷➷➷➷
"Gue mau ngomong ama lo, Fin," pinta Rayn membuat Dafina dan Rifqi bingung.
"Ngomong aja." Dafina mempersilahkan cowok itu bicara.
"Berdua aja," pinta Rayn sambil melirik Rifqi.
"Gak bisa, Kak. Kalo kakak mau ngomong, ngomong aja di depan gue dan Rifqi."
"Udah Daf, gak papa, gue nunggu lo di restaurant tadi." Rifqi pergi meninggalkan mereka berdua.
"Gue suka ama lo, Fin, dari awal lo MPLS. Gue tau kok lo gak bisa ngebalas perasaan gue," ucap Rayn.
"Maksud kakak?"
"Gue kira dengan jadian ama Carissa, gue bisa ngelupain dan relain lo. Tapi nyatanya? Gue gak bisa sama sekali."
"Lo boleh marah ama gue, karna gue udah mutusin Carissa tanpa alasan. Gue tau kalo tindakan gue ngebuat dia sedih dan kecewa, tapi gue gak bisa kalo dalam suatu hubungan dilandasi kebohongan."
"Gue gak nyangka sahabat gue sendiri melukai sahabat gue yang lainnya," ucap Rifqi dengan menarik kerah baju Rayn.
Dafina mencoba menarik tangan Rifqi dari kerah baju Rayn. Dengan kasar, Rifqi melepaskan tangannya dari kerah Rayn membuat cowok itu mundur beberapa langkah.
"Maaf Rif, Fin. Gue bakal pergi dari sini dan gue janji gak bakal nyakitin yang lainnya. Tapi gue cuma minta sesuatu ama kalian, biarin gue bawa kenangan slama disini."
"Gue udah maafin lo kok, Rayn," ucap seorang.
Mereka bertiga menengok ke arah tersebut yang dimana ada Carissa.
"Gue udah maafin lo kok. Tapi kenapa lo pergi, Rayn? Kenapa lo gak tetap di Indonesia aja biar kita semua bisa sama-sama kayak dulu?"
"Ini keputusan gue, Ris."
"Gue tau ini keputusan lo, kita pun gak bisa ngelarang lo. Kita cuma bisa berdoa semoga lo bahagia ke depannya nanti. Aamiin."
➷➷➷➷