
Nilai anak OTKP naik dan setara dengan nilai anak Akuntansi. Rifqi merasa senang karena setara dengan anak Akuntansi.
Rifqi berniat menghadapi Rayn berdamai, namun niatnya itu diurungkan karna gengsinya yang tinggi. Rifqi berpikir jika ia bersama duluan, harga dirinya akan tercemar. Hubungannya dengan Angga pun belum membaik.
Rifqi sedang berasa di dalam ruangan OSIS. Baginya, OSIS membuat hidupnya menyenangkan. Selama hampir setahun ia menjabat sebagai ketua OSIS tapi itu tidak membuatnya lelah.
Ceklek
Rifqi memalingkan wajahnya saat melihat Angga masuk ke dalam ruang OSIS MPK. Dia membuka handphone, pura-pura tidak menyadari kalau ada Angga. Belakangan ini, Rifqi jarang ber komunikasi dengan Angga–Ketua MPK–apalagi menyapa.
"Rif!" Panggil Angga. Rifqi mendongak menatap Angga.
"Gue seneng banget, akhirnya lu mutusin Dafina. Gue tau kok waktu itu lu khilaf," ucap Angga dengan senyum lebarnya.
Rifqi mengernyit. Putus? Siapa yang bilang? Dia tidak memutuskan Dafina apalagi sebaliknya.
"Lu ngapain di sini? Bukannya cabut juga," tanya Angga.
"Gue masih mau di sekolah," jawab Rifqi.
"Ok deh. Gue cabut duluan ya, Rif. Bye," pamit Angga sebelum pergi.
Rifqi menganggukan kepalanya. Setelah kepergian Angga, ia meletakkan kepalanya di atas meja, perlahan-lahan dirinya larut ke dalam mimpi. Pukul jam 18.00 WIB Rifqi terbangun dari tidurnya karna dering dari Handphone-nya. Rifqi memutuskan pulang. Mau gak mau ia harus balik karna bentar lagi gerbang mau ditutup.
Motor sport melaju kencang membelah jalanan. Langit sudah gelap, membuat Rifqi menikmati perjalanan pulangnya. Sebelum pulang, Rifqi memutuskan untuk pergi ke rumah Dafina. Memang jarak antara rumahnya dan Dafina sangat jauh, tapi keinginan untuk bertemu dengan Dafina besar.
Dari kejauhan, Rifqi melihat mobil sport warna hitam yang terpakir di depan rumah Dafina. Tidak lama kemudian, Dafina keluar dari rumahnya menggunakan dress warna soft pink selutut. Terlihat berbeda dari biasanya. Seorang pria turun dari mobil dan menghampiri Dafina.
Yups! Dafina dijemput oleh Rayn oleh mobil sport. Rayn merangkul Dafina dan membukakan pintu mobil untuk Dafina. Mobil itu pun pergi setelahnya. Dari belakang, Rifqi mengikuti mereka menggunakan motor sport-nya. Rifqi menyesuaikan kecepatan motornya dengan mobil Rayn agar tidak tertinggal.
Mereka berhenti di sebuah restoran mewah. Dua orang itu turun dari mobil dan Rayn merangkul Dafina. Rifqi merasa kesal saat Rayn merangkul ceweknya sementara dirinya tidak bisa. Rifqi memutuskan turun dari motornya dan mengikuti mereka berdua. Dafina DAN Rayn duduk di bangku yang berada di tengah, sementara Rifqi berada di pojok ruangan namun masih bisa terjangkau. Rifqi panas melihat mereka berdua bermesraan di depannya. Rasanya ingin sekali Rifqi menarik Dafina dari sana dan mungkin saja Rayn sudah babak belum saat ini juga jika ia tidak ingat perkataan Dafina 'Tidak semua bisa diselesaikan dengan otot.'
"Rif, kok lu di sini? Ngapain?" Tanya Carissa. Rifqi menoleh ke sumber suara dan menemukan Carissa berdiri di sebelahnya.
"Sttt! Jangan berisik!" Rifqi meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya mengisyaratkan supaya Carissa diam.
"Apaan sih?" tanya Carissa heran, namun Rifqi diam. Dia tidak mau melihat Carissa sedih melihat gebetannya bersama dengan cewek lain. Belakangan hari ini Carissa dan Rayn sudah dekat dan Carissa mempunyai perasaan ke Rayn.
"Rif, lu gak malu apa ke sini masih pake seragam?" tanya Carissa ketika menyadari Rifqi masih memakai seragam sekolah.
"Itu suara kecilin napa."
"Sono balik udah malam tau. Udahlah gue mau bal–" ucapan Carissa terhenti ketika dirinya berbalik dan menemukan Rayn bersama Dafina tak jauh dari tempatnya sekarang.
"Ma-maaf Ris."
Carissa memutar badannya dan duduk di hadapan Rifqi.
➷➷➷➷
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa vote and comments