
**Sebelum baca chapter ini, alangkah baiknya kalian kasih vote ⭐, Comment 💬, and share cerita ini ❤️❤️
Jam berapa kalian baca ini ^^?
Happy Reading** ^_^
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
Bunyi mantulan bola terdengar di lapangan. Rifqi dan teman-temannya sedang bermain bola basket di lapangan. Sebenarnya mereka tidak ada pelajaran olahraga tapi mereka madol ke lapangan.
"Rif, duduk dulu, capek gue!" Ajak Bima kepada Rifqi. Rifqi pun duduk bersama gerombolannya.
"Eh Ris, lu tau dimana Rayn? Belakangan ini gue gak ngeliat cowok lu," tanya Bima.
"Rayn memang lagi sibuk belajar buat mempersiapkan masuk ke perguruan tinggi dan UN," jawab Carissa.
"Gue kira Rayn masih nganggap kita musuh, ternyata dia lagi mempersiapkan buat perguruan tinggi dan UN," ucap Angga.
"Rayn rajin sementara kita brandalan. Jelaslah tuh anak mulai jarang ngumpul ama kita lagi," timpal Bima.
"Asal kalian tau tidak semua anak Akuntansi rajin, ada juga yang sama seperti kita." Rifqi mulai ikut membahas anak Akuntansi.
"Eh liat dah di sana ada cewek cantik plus sexy! Gila kok gue baru liat ya? Ternyata seorang Angga bisa kudet juga," ucap Angga sambil melihat siswi menggunakan seragam sekolah yang ketat lewat di seberang sana.
"Eh iya body-nya juga sexy pars," timpal Bima.
"Laki-laki sama aja ya. Sama-sama mata keranjang! Liat cewek yang sexy langsung melotot," cibir Carissa kesal.
"Woy Angga ingat lo udah punya Cleo! Dan lo Bim, ingat lo lagi PDKT ama Michelle!" Seru Carissa.
"Gak papa kali sekali-kali nyuci mata," balas mereka berdua.
"Astaghfirullah!! Rif, temen lo urusin tuh." Cariss memadang Rifqi.
"Dari pada kalian ngeliat yang gak berfaedah, mendingan main basket lagi! Ayok!" Ajak Rifqi seraya menepuk pundak Bima dan Angga.
"Ayok."
Bel istirahat berbunyi, beberapa murid pada keluar dari kelas ada yang langsung ke pinggir lapangan dan ada yang di koridor lantai atas untuk melihat sekelompok cogan main basket di lapangan.
"*KAK RIFQII!!!"
"KAK ANGGA!!"
"KAK BIMA*!!!"
Teriakan-teriakan dari para fans mereka sendiri. Mata Rifqi tidak sengaja melihat Dafina yang baru duduk di bangku yang berada di lapangan bersama teman-temannya—Cleo, Michelle, dan Bunga.
Rifqi berjalan menghampiri Dafina membuat beberapa siswi iri terhadap Dafina. Walaupun keringat mengalir di tubuh Rifqi malahan itu menambah kesan cool.
"Fin, gue ama Michelle dan Bunga pamit ke kelas dulu ya," pamit Cleo sebelum pergi disusul oleh Michelle dan Bunga.
"Nanti lo balik bareng ama gue. Gak ada penolakan!" Ucap Rifqi seraya bertepuk tangan.
"Napa tepuk tangan? Perasaan Kak Bima dan Kak Angga belum ada yang masukkin bola ke ring," tanya Dafina heran.
"Biar perasaan gue gak bertepuk sebelah tangan," jawab Rifqi sambil tersenyum.
➷➷➷➷
Setelah bel pulang berbunyi, Dafina melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Sesampai di sana, ia melihat Rifqi sudah berdiri di samping motornya.
"Pulang?" Tawar Rifqi saat Dafina sudah di hadapannya.
Dafina mengangguk.
"Gue laper, jadi sebelum balik kita makan dulu." Ucap Rifqi saat mereka sudah di atas motor.
Tidak lama kemudian, motor Rifqi sudah terparkir di sebuah tempat makan yang berada di pinggir jalan.
"Gak papa kan kalo makan di pinggir jalan?" Tanya Rifqi kepada Dafina ketika mereka sudah duduk di bangku.
"Gak papa kok."
Mereka sudah menikmati pesanan mereka masing-masing. Rifqi yang sudah selesai makannya terlebih dahulu, cowok itu membersihkan tangannya yang sudah disediakan kobokan kecil di meja. Lalu cowok itu memperhatikan Dafina yang sedang menghabiskan makanannya.
Dafina yang menyadari dirinya dilihat oleh Rifqi sebisa mungkin ia menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Rifqi yang melihat itu ketawa kecil.
➷➷➷➷
Pagi-pagi di depan ruang kepala sekolah sudah ramai oleh beberapa murid yang berkumpul dan mengintip ke dalam melalui jendela.
"Gila ramai bat di ruang kepsek. Gue jadi kepo," kata Bunga.
"Liat yuk gengs."
"Gaes ada apaan sih?" Tanya Dafina kepada teman-temannya. Dafina tidak bisa melihat karna dirinya ketutupan oleh teman-temannya.
"Ada anak baru. Cantik, sexy, putih bening, mulus kayanya blasteran deh," jawab Cleo.
"Blasteran apaan? Amerika? Arab? Cina?" Tanya Dafina.
"Kayanya bukan Amerika deh, kan yang blasteran Amerika itu gue ama Cleo. Kalo Arab dan Cina kan lo Fin," jawab Bunga.
Memang Dafina memiliki keturunan Arab dan Cina, namun cewek itu lebih dominan ke Arab dan China cuma beberapa saja.
Tak lama kemudian, pintu ruangan kepala sekolah terbuka. Pak Rama—kepala sekolah—muncul dari balik pintu.
"Ngapain kalian semua di sini?! Bubar-bubar! Balik ke kelas masing-masing!" Perintah Pak Rama kepada murid-murid yang berkumpul di depan ruangannya. Mereka semua terpaksa pergi dari sana begitupun dengan Dafina dan teman-temannya.
"Gila dah tuh murid baru cakep parah. Gue langsung jatuh cinta dari mata ini mah," ucap Bisma heboh saat mereka sudah di kelas.
"Dari matamu, matamu ku mulai jatuh cinta." Albert bernyanyi namun suara tidak bagus.
"Ingat Bis, lu udah punya Kak Vanissa," ucap Albert. Dafina dan teman-temannya
yang mendengar nama Vanissa disebut
langsung menengok ke gerombolan para cowok yang sedang bergosip ria.
"Kak Vanissa kelas 12 OTKP 2? Temennya Kak Rifqi dan Kak Angga?" Tanya Michelle memastikan.
"Iyalah, orang yang namanya Vanissa di skul ini cuma dia," jawab Albert.
"Lo pacaran ama Kak Vanissa? Sejak kapan?" Tanya Bunga.
"Udah lama kali mereka jadian." Haris membantu menjawab.
➷➷➷➷
Di tengah-tengah pelajaran, Pak Rama masuk ke kelas membawa seseorang yang membuat heboh seantero sekolah. Kini semua mata tertuju pada Pak Aris dan murid baru itu.
"Assalamualaikum! Selamat pagi anak-anak!" Sapa Pak Rama.
"Waalaikumsalam, selamat pagi Pak!" Balas mereka kompak.
"Di kelas kalian akan ada murid baru, silahkan perkenalkan diri nak," ucap Pak Rama kepada murid baru itu.
"Annyeonghaseyo! Nae ileum-eul sogaehagessseubnida, Park Lisa! Gue di Indonesia baru seminggu. Eommaneun hangug-eseo wassgo abeojineun indonesia-eseo wass-eoyo. Oh ya satu lagi, maaf banget jika kurang lancar bicara bahasa Indonesia, tapi tenang kok gue bisa bahasa Inggris juga." Park Lisa memperkenalkan dirinya.
(Translate) : Halo! Biarkan saya memperkenalkan nama saya, Park Lisa! Ibu saya asli Korea sedangkan ayah saya asli Indonesia
"Kalian ngerti apa yang murid baru itu ucap?" Tanya Dafina.
"Ngerti yang bagian bahasa Indonesia," jawab Bunga polos.
"Ye kampret kalo bagian bahasa Indonesia gw juga ngerti," cibir Michelle.
"Murid barunya namanya siapa?" Tanya Cleo.
"Park Lisa," jawab Bunga.
"Nah itu, katanya dia bisa bahasa Inggris kenapa dia gak ngomong pake bahasa Inggris aja? Kenapa malah ngomong pake bahasa Korea? Mau pamer bisa Korea? Cuma bahasa Korea kecil," cibir Cleo kesal.
"Emang lu bisa bahasa Korea?" Tanya Dafina.
"Kagak." Cleo memakerkan deretan giginya, "Dia mamerin bisa bahasa Korea? Gue aja yang bisa bahasa alien, semut, dan semacamnya diam aja."
Obrolan mereka berempat terhenti saat mendengar pertanyaan Bisma.
"Avaible gak?" Tanya Bisma. Semua murid sontak menyorakinya.
"Jika ada pertanyaan lebih baik disimpan dulu ya. Lisa kamu boleh duduk di bangku belakang Michelle," ucap Pak Rama kepada Park Lisa.
Satu kursi di belakang Michelle dan Dafina—lebih tepatnya belakang Michelle kosong—karena kursi belakang Dafina ada Ratna yang selalu duduk sendiri. Ratna terlihat gembira, akhirnya ia punya partner meja.
Dafina dan Michelle memutar tubuh mereka ke belakang sehingga mereka berhadapan dengan Ratna dan Lisa.
"Ratna salken." Ratna mengulurkan telapak tangannya ke Lisa.
"Park Lisa." Lisa membalas uluran tangan Ratna.
Dafina dan Michelle pun berkenalan secara bergantian.
"Btw, mau kita manggilnya apa?" Tanya Ratna.
"Setelah kalian sih, mau manggilnya Lisa or Park," jawab Lisa.
➷➷➷➷