SMK (COMPLETED)

SMK (COMPLETED)
PART 17



**Jangan lupa kasih vote ⭐, Comment, and share 🌚🌝🌜🌛🌞


Jam berapa kalian baca ini ^^?


*Happy Reading*** ^_^


❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥


"Walaupun gue gak punya perasaan ke dia, tapi gue gak bakal ngelakuin hal seperti itu!"


❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥


      Saat perjalanan ke kantin, Dafina melihat Angga yang sedang duduk di pinggir lapangan. Dafina menghampiri Angga untuk bertanya dimana Rifqi, karena udah seminggu ini ia tidak bertemu dengan cowok itu.


"Hai Kak!" sapa Dafina ramah kepada Angga.


      Dafina kira Angga akan membalas sapaannya, tapi nyatanya tidak.


"Kakak kenapa?" tanya Dafina heran.


"Lo nanya gue kenapa?! Setelah perbuatan lo itu. Lo yang kenapa, Daf?! Puas lo ngebuat Rifqi menderita?!" bentak Angga.


"Maksudnya apa? Emangnya salah aku apa?" tanya Dafina tidak mengerti.


"Gak usah sok gak ngerti deh!"


"Hah?"


"Emang gue gak setuju ama hubungan lo dan Rifqi. Tapi gue gak nyangka, kalo lo bisa berbuat seperti itu," ucap Angga sebelum pergi meninggalkan Dafina yang masih tidak mengerti semuanya.


      Sepulang sekolah, Dafina melangkahkan kakinya menuju kelas XII OTKP 2. Dafina harap dirinya bisa bertemu dengan Rifqi. Sesampai disana, semua anak OTKP melihat Dafina dengan tatapan tidak suka. Ketika Dafina mau mengetuk pintu kelas XII OTKP 2, saat itu juga Dafina berpapasan dengan Rifqi. Rifqi ingin pergi, tapi tangan Dafina menghalang cowok itu.


"Minggir gue mau balik!" perintah Rifqi dingin.


"Gak mau. Ada apa sih sebenarnya, Rif?" tanya Dafina. Rifqi tidak menjawab.


"Sebenarnya ada apa, Rif? Gini aja deh, lu ingat kan kata-kata Pak Herry kalo gue harus mengajari lu sampe nilai lu bagus?" tanya Dafina.


"Terus apa urusan ama gua?"


"Jelas-jelas ada hubungannya ama lu, Rif.  Setiap pulsek, gue cariin lu kemana-mana tapi lu gak ada," ucap Dafina kesal.


"Gue gak butuh bantuan lu! Gue bisa belajar sendiri! Minggir sana!" ucap Rifqi ketus.


"Rifqi! Asal lu tau aja, gue ngorbanin waktu dan tenaga untuk lu. Tapi apa? Lu malah gak ngerhagain gue." ucap Dafina dengan mata berkaca-kaca.


"Thank you, Fin." Ucap Rifqi dengan senyum miris.


"Oh ya, thanks Fin, karna lo gue dapat surat cinta dari sekolah," ucap Rifqi sebelum pergi meninggalkan Dafina yang masih mematung di tempat.


➷➷➷➷


      Dafina tidak berniat langsung pulang. Dia pergi ke cafe untuk menenangkan diri dan berpikir. Untungnya hari ini cafe tidak begitu ramai seperti biasanya. Dafina menelpon seseorang lewat ponselnya.


"Halo? Ada apa?" ucap seseorang dari seberang sana.


"Ke cafe sekarang! Nanti gue Share lock," perintah Dafina kepada orang itu sebelum mematikan sambungan telponnya dan mengirimkan alamatnya.


      Setengah jam kemudian


      Setelah menunggu cukup lama, akhirnya orang yang ia tunggu datang.


      Rayn Wijaya.


      Dafina menatap cowok yang duduk di hadapannya.


"Tumben nyariin gue, ada apa?" tanya Rayn Wijaya senyuman yang terpampang di wajahnya.


"Gue mau nanya sesuatu ke lu dan gue yakin lu tau tentang ini."


"Nanya apa?" tanya Rayn.


"Ada apa dengan Rifqi dan teman-temannya?" tanya Dafina serius.


"Emangnya mereka kenapa?" tanya Rayn balik.


"Belakangan ini mereka tuh beda banget ama sebelumnya."


"Perasaan lu aja kali, Fin." Rayn optimis.


"Gue gak tau sebenarnya apa yang terjadi. Tapi gue yakin bat pasti ini terjadi kesalahpahaman."


"Perasaan lu aja kali. Orang mereka Oke-oke aja ke yang lain."


➷➷➷➷


      Pukul 06.00 Dafina sudah tiba di sekolah. Setelah menaruh tasnya, ia langsung menuju ke kelas XII OTKP 2. Dia menunggu Angga untuk meminta penjelasan.


      Tak lama kemudian, Angga pun datang sendiri tanpa Rifqi. Walaupun kelas mereka sama, tapi Rifqi lebih suka datang belakangan dari yang lain. Angga langsung masuk ke dalam kelasnya tanpa menyapa Dafina. Angga menganggap seolah-olah dirinya tidak menyadari keberadaan gadis itu.


      Dafina menghampiri Angga dan berdiri di samping cowok itu.


"Ngapain lo ke sini? Kelas lo buka di sini," tanya Angga ketus tanpa melihat ke arah Dafina.


"Gue mau minta penjelasan ke lu, Kak."


"Penjelasan apa? Tidak ada yang perlu dijelasin!"


"Gue butuh penjelasan, Kak. Gue gak kesalahpahaman ini berlanjut terus." Dafina memohon.


"Lu bilang ini kesalahpahaman setelah lu ngelaporin Rifqi?!" bentak Angga emosi.


"Hah? Ngelaporin?" Dafina tidak mengerti sama sekali.


"Sumpah! Bukan gue yang ngelaporin Rifqi. Demi apapun gue gak ngelaporin Rifqi." ucap Dafina sambil bersumpah.


"Alah jujur aja deh! Jelas-jelas lo yang ngelaporin! Emang lo kira siapa yang ngelaporin Rifqi ke BK, hah?!"


"Walaupun gue ngeliat Rifqi ngerokok, tapi sumpah gue gak ngelaporin! Percaya ama gue hiks hiks."


"Belajar akting darimana? Sumpah akting lo bagus bat, cocok banget jadi artis. Udah sana pergi dari sini! Lo ngebuang waktu berharga gue."


➷➷➷➷


"Woy Daf! Belakangan ini lo napa dah? Tuh muka lecek bener," tanya Cleo.


"Kalian tau gak apa yang terjadi ama anak-anak OTKP?" tanya Dafina kepada teman-temannya saat sedang istirahat di pinggir lapangan setelah olahraga tadi.


"Oh itu mah karna lu ngelaporin Rifqi ngerokok waktu di ruang OSIS," jawab Bunga.


"Siapa juga yang gak marah coba kalo temennya dilaporin? Asal lu tau, Fin, kalo lu bermasalah ama Rifqi berarti lu bermasalah sama satu sekolah," ucap Michelle.


"Tapi bukan gue yang laporin. Sumpah!" ucap Dafina meyakinkan teman-temannya.


"Gue percaya ama lo kok, Fin. Tapi waktu itu cuma lo yang ngeliat Rifqi ngerokok di ruang OSIS."


➷➷➷➷


      Tak lama kemudian, bel istirahat berbunyi. Bella, Cleo, Michelle, dan Dafina pun bergegas ke kantin. Seketika, kantin sudah ramai seperti biasanya. Mereka duduk di bangku langganan mereka.


"Jadi hubungan lu ama Rifqi bagaimana? Udah berakhir?" tanya Cleo.


"Gue juga gak tau sebenarnya hubungan gue ama Rifqi tuh apa. Gak jelas."


      Saat Dafina berdiri, tiba-tiba seorang siswi menumpahkan jus kepada Dafina. Dafina menatap ke arah siswi itu. Dafina terkejut ternyata yang menumpahkan jus kepadanya itu Irish. Semua mata pun tertuju pada mereka.


"MAKSUD LO APA NYIRAM TEMEN GUA PAKE JUS, HAH?!" bentak Michelle emosi.


"Gue gak ada urusan ama lo pada. Gue cuma ada urusan ama nih cabe," ketus Irish sambil menunjuk ke arah Dafina.


"Cabe bilang cabe cih."


"Gue kira lu anak baik-baik, ternyata dugaan gue salah. Ngapain lu ngelaporin Rifqi ke BK?! Udah ngerasa paling bener lu?!" ucap Irish setengah membentak.


      Dafina tak menduga kalau dirinya akan berada di posisi seperti ini–posisi yang membuatnya malu. Air mata pun mulai menetes. Dafina langsung dibawa pergi ke toilet oleh teman-temannya.


      Michelle membantu Dafina membersihkan seragam ya, Bunga mencoba menenangkan Dafina yang masih menangis, dan Cleo membantu merapihkan rambut Dafina.


"Kalian tunggu di sini, gue mau beli baju di koperasi buat Dafina. Gak mungkin kalo dia pake baju yang basah," ucap Michelle sebelum pergi.


      Dafina dari tadi masih menangis. Hidung dan matanya sudah memerah karena menangis.


"Udah, Fin, udah." Bunga berusaha menenangkan Dafina.


"Kita gak bisa ngeliat lo sedih. Kita berempat itu sudah seperti keluarga, jadi jika diantara kita ada masalah, maka yang lainnya ikut membantu dan merasakannya." ucap Cleo menghapus air mata Dafina.


      Dafina tersenyum kepada teman-temannya, lalu menghapus air matanya. Tidak lama kemudian, Michelle kembali dengan membawa seragam yang ia beli tadi. Mereka membantu Dafina menggunakan seragam yang Dibawa oleh Michelle.


      Di perjalanan menuju kelas, mereka melihat Rifqi dan teman-temannya yang berjalan ke arah mereka. Rifqi memperhatikan Dafina, namun cewek itu malah memalingkan wajahnya–seolah-olah tidak menyadari keberadaan cowok itu.


"Kenapa tuh cewek? Mukanya merah kaya habis nangis," tanya Bima.


"Bukan urusan gue," ucap Rifqi dingin.


➷➷➷➷


      Rifqi menikmati Cafe yang sepi dengan meminum Green tea, sesekali melirik ke arah luar dari jendela yang di sampingnya. Tidak lama kemudian, seseorang yang ditunggunya datang.


"Ada apa nyuruh aku ke sini? Kangen ya?" tanya Irish yang langsung duduk di hadapan cowok itu.


"Lo ngapain Dafina pas istirahat?" tanya Rifqi dingin.


"Gak ngapa-ngapain kok."


"Jangan bohong! Gue tau semuanya! Jujur!" Ucap Rifqi dengan nada agak tinggi.


"Emm... ya gue gak nerimalah kalo lo dilaporin ke BK ama tuh cabe. Yeah, jadi gue labrak tuh cabe gara-gara emosi."


"Gue gak minta lo untuk ngurusin hidup gue! Dan gue gak minta lo nyakitin apalagi mempermalukan Dafina!" ucap Rifqi dengan nada tinggi.


"Kok lo malah belain dia sih? Padahal gara-gara dia lo dapat masalah. Bukannya lo gak punya perasaan ke dia?  Gue tau kok, kalo lo kasih hukuman ke dia untuk jadi pacar lo itu pun rencana, karna lo mau ngebalas dia yang udah ngebentak lo di hari pertama dia masuk SMK kan?"


"Walaupun gue gak punya perasaan ke dia, tapi gue gak bakal ngelakuin hal seperti itu!" ucap Rifqi.


"Gue heran ama lo, Rif." Irish berdiri dari tempatnya dan pergi meninggalkan Cafe.


➷➷➷➷


**Hai gaess 😚😚


Bagaimana kabar kalian semua?


Kita ketemu lagi hacin 🌝🌚


Bagaimana chapter ini?


Pasti datar ya? :((


Maapin author ☺️


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa vote and comment Kalian ^^


See u hacin 👋🏻**