
Jam berapa kalian baca chapter ini?
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Pagi-pagi Dafina sudah melihat motor sport terpakir di depan rumahnya. Motor tersebut terasa familiar baginya. Ketika Dafina membuka pintu rumahnya, seorang laki-laki memakai seragam putih abu-abu yang terlihat rapih berada di depan pintu.
Angga Yudayana.
Dafina mematung di tempatnya, terpaku melihat Rayn tersenyum padanya. Sudah lama mereka berjauhan, tapi hari ini seakan dunia berputar.
"Ngapain ke sini?" tanya Dafina.
"Ngapain ke sini? Kan lu yang minta ke gue," jawab Rayn.
Dafina dilempar dari ketinggian. Ternyata Rayn ke sini atas permintaannya kemarin bukan keinginan sendiri.
"Dan juga mau berangkat sekolah bareng lu," lanjut Rayn di telinga Dafina. Seketika
senyuman terukir di wajah gadis itu.
"Lu udah gak marah ama gue?" tanya Dafina.
Rayn mengangguk lalu berkata, "Maaf ya."
Dafina tidak tahu harus memaafkan cowok itu apa tidak. Setelah beberapa lama menunggu balasan dari Dafina, tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar. Rayn mengajak Dafina menuju motornya.
Sepanjang jalan hanya hening yang terjadi.
"Gue minta maaf banget, Fin. Seharusnya gue denger penjelasan lu dulu," ucap Rayn.
"Sudah tidak ada lagi yang perlu dijelaskan."
"Bagaimana caranya supaya gua dapat maaf dari lo? Gue bener-bener menyesal," tanya Rayn.
"Lu mau tau caranya? Caranya adalah lu balik ke masa lalu dan perbaiki kesalahan lu," perintah Dafina kepada Rayn. Sebuah perintah yang tidak mungkin bahkan mustahil untuk dilakukan.
Motor Rayn sampai di gerbang sekolah. Mata Dafina tidak sengaja menangkap Rifqi yang sedang membonceng seorang cewek. Hati Dafina terasa tertusuk dan itu rasanya sakit. Harusnya ia merasa biasa aja karena dirinya dengan Rifqi tidak beneran pacaran. Dafina tahu kalau Rifqi hanya ingin menerbangkan dirinya lalu menjatuhkannya.
Rayn yang menyadari Dafina tidak mendengarkan perkataannya, ia melihat ke belakang dan benar saja Dafina sedang melihat sesuatu. Rayn mengikuti arah pandang Dafina.
"Rifqi emang gitu, Fin. Dia itu players dari dulu."
➷➷➷➷
Rifqi dengan terpaksa menjemput Irish di rumahnya. Sesampai di rumahnya, ia melihat Irish sudah berdiri di depan gerbang menunggu dirinya.
"Hai Rif!" Sapa Irish ketika Rifqi berhenti di depannya.
Rifqi tidak menjawab sapaan Irish. Irish naik ke tempat duduk yang di belakang dan memeluk Rifqi dari belakang.
"Ris, megangnya jangan kaya gitu. Malu," ucap Rifqi.
"Tapi aku maunya kaya gini supaya gak jatuh," ucap Irish.
Rifqi tidak mau memperpanjangnya. Ia langsung menancapkan gas motornya melaju sekolah. Sesampai di sekolah semua mata tertuju pada mereka berdua lebih tepatnya Irish yang duduk di belakang.
"Turun!" perintah Rifqi setelah ia memikirkan motornya.
Rifqi tidak sengaja melihat Dafina yang turun dari motornya Rayn dan pergi tanpa menunggu Rayn. Rifqi kesal kenapa mereka berangkat sekolah bareng.
"Kamu ngeliatin apa, Rif?" tanya Irish yang baru saja menyadari Rifqi mengalihkan tatapannya.
"No problem," jawab Rifqi.
➷➷➷➷
"Bu!" Dafina berdiri dari bangkunya.
"Iya Daf?"
"Bu saya mau izin ke toilet, kebelet."
"Ya sudah tapi jangan lama!"
Dafina langsung pergi ke kamar mandi cewek yang berada setelah ruang kepala sekolah. Setelah selesai dengan panggilan alamnya, Dafina balik ke kelas. Di perjalanan ia melihat Rifqi berdiri di depan ruang kepala sekolah.
Ngapain dia berdiri di sana? Batin Dafina heran.
Beberapa lama kemudian, dari dalam ruang kepala sekolah keluar seorang cewek. Dafina seperti familiar dengan wajah cewek itu, tapi ia lupa.
Cewek itu lompat kegirangan sambil memeluk Rifqi dan Rifqi membalas pelukan cewek itu.
"Rif, besok gue udah mulai sekolah di sini. Bareng ama lo," ucap cewek itu.
What! What! Tadi dia bilang apa? Besok ia mulai sekolah di sini?
"Irish lu kenapa pindah ke sini? Bukannya sekolah di Jepang itu lebih bagus?" tanya Rifqi.
"Emang sih di Jepang bagus, tapi masalahnya gak ada lo di sana," jawab Irish mengalungkan tangannya di leher Rifqi.
Dafina mengepal tangannya saat Irish mengalungkan tangannya di leher Rifqi, sedangkan Rifqi sama sekali tidak memberontak. Sebenarnya Rifqi itu menganggap Dafina apa? Mainannya atau jalangnya?
➷➷➷➷
"Rif, tolong balikin pelnya ke ruang OSIS yang di belakang sekolah!" perintah Matahari–teman sekelas Rifqi.
"Lu aja ah, males gue."
"Lu aja gak ngapa-ngapain. Gue ama yang lain udah nyapu, ngepel, buangin sampah," omel Matahari.
"Yayaya bawel lo."
Rifqi akhirnya menyerah dan pergi ke ruang OSIS yang terletak di belakang sekolah sambil membawa alat pel.
Sekolah susah lumayan sepi, beberapa murid sudah ada yang pulang, ada juga yang ekskul dan aja juga yang nongkrong dulu.
Sesampai di ruang OSIS, Rifqi mengembalikan alat pel itu ke tempat sebelumnya. Saat ia berniat untuk pergi dari sana, ia mendengar suara teriakan Dafina.
"Kak Rayn!"
Rifqi mengikuti arah sumber suara tersebut, menemukan Dafina dan Rayn yang sedang bercakap-cakap. Rifqi menyimak dari jarak yang agak jauh.
"Kok lu berubah gini sih, Kak? Semenjak gue ama Rifqi. Seberapa benci lo ama hubungan kami?" tanya Dafina to the point.
"Kak, lu itu ganteng, pintar, tinggi, tajir pula, cewek di dunia ini banyak bukan cuma gue aja."
"Tapi sayangnya hati gue udah jatuh ke lo, Fin," ucap Rayn.
"Maaf Kak, tapi gue cuma nganggap lu sebagai abang gue gak lebih. Tolong jangan salah paham atas perilaku gue selama ini ke lo. Tolong jangan buat ini semakin rumit," pinta Dafina.
Dafina meneteskan air matanya dan Rifqi terkejut ketika Rayn memeluk Dafina. Cowok mana yang rela ceweknya dipeluk-peluk pria lain? Namun Rifqi masih diam menahan emosinya. Ketika Dafina membuka matanya, tatapan mereka bertemu. Dafina melihat Rifqi yang mematung di sana dan melihat apa yang terjadi. Tanpa berkata apapun, Rifqi pergi dari sana.
"Rifqi!"
Dafina mengejar Rifqi sambil meneriakki namanya, namun cowok itu menghiraukan teriakannya.
Dafina berhasil meraih tangan Rifqi dan menahannya.
"Rif, gue bisa jelasin semuanya," ucap Dafina.
"Gak ada yang perlu dijelasin," ucap Rifqi dingin tanpa menatap ke arah Dafina.
Dafina memegang wajah Rifqi, "Rif, liat gue sebentar saja!" pinta Dafina memohon.
Tatapan matanya tajam dan dingin ke arah Dafina.
"Rif, percaya sama gue. Dia yang meluk gue duluan bukan gue."
"Oh ya? Terus kenapa lo gak ngeberontak saat dia meluk lo? Lo malah terlihat nyaman dipelukannya."
"Gini deh Rif, kita sebenarnya gimana sih? Lo nganggep gue apa? Mainan lo atau jalang lo? Terus kenapa waktu itu lo kasih hukuman gue kaya gitu? Lu ngelarang gue deket ama cowok kecuali lu, sedangkan lu? Lu deket-deket ama cewek lain." Tanpa disadari Dafina menangis.
"Asal lo tau, gue cape Rif, cape!" Dafina mengusap air matanya dengan telapak tangannya. Lalu Dafina pergi meninggalkan Rifqi.
➷➷➷➷
"Eh Fin, lo tau gak?" tanya Bunga.
"Yee si goblok, Dafina belum taulah orang lu aja belum kasih tau," cibir Cleo.
"Fin, tadi di kelas Lia merhatiin lu mulu sumpah," ucap Bunga ketika mereka berjalan menuju gerbang sekolah.
"Emangnya dia ngeliatin gue napa?" tanya Dafina heran.
"Yee si dongo. Mana gue tau alasan dia ngeliatin lu," cibir Bunga.
Tiba-tiba Michelle dan Cleo yang berjalan di depan Dafina dan Bunga menghalangi Dafina.
"Lu pada napa ngalangin jalan gue? Orang gue mau balik juga," ucap Dafina.
"Eh Fin, barang gue aja yang ketinggalan di kelas. Temenin yuk!" Pinta Michelle.
"Apaan njir, orang gak ada barang–Aawww!" Jerit Bunga saat pinggangnya dicubit sama Cleo.
"Apasih Cly nyubit-nyubit. Lu kira gue apa," omel Bunga.
"Sorry, gak sengaja hehehe."
"Awas deh Chelle, gak usah halangin gue. Orang gue mau balik juga," protes Dafina.
Dafina mematung di tempat saat melihat Rifqi memeluk Irish dengan mesra di dekat gerbang sekolah. Entah kenapa, hati Dafina terasa sakit dan matanya memanas. Dafina menghapus air matanya yang keluar, lalu pergi ke cafe duluan seolah-olah tidak melihat kejadian tersebut.
"Fin, sebenarnya hubungan lu ama Rifqi apaan dah?" tanya Cleo saat mereka sudah di cafe.
"Lo pacarnya Rifqi ato bukan sih?" tanya Bunga.
"Gue bukan pacarnya Rifqi. Gue ama dia cuma sekedar kakel dengan adkel," jawab Dafina.
Dafina menceritakan semua kejadian saat ia telat dan mendapat hukuman konyol itu kepada teman-temannya.
"Terus lo kenapa seperti orang marah dan nangis saat melihat Rifqi memeluk Irish tadi?" tanya Michelle.
Skakmat. Dafina tidak bisa berkata apapun lagi.
"Jangan-jangan lo punya perasaan lagi ke Rifqi?" tebak Michelle.
➷➷➷➷
Rifqi menarik kerah baju Rayn, "Maksud lo apa jemput cewek gua ke sekolah, hah?" tanya Rifqi emosi.
"Wait wait! Tadi lu bilang apa? Cewek lo? Dia itu bukan milik lu melainkan milik gue. " Rayn tersenyum miring.
"Mendingan lu jaga jarang dengan cewek gue!"
"Ngapain jaga jarang? Dia aja bukan cewek lo. Oh ya, lu nyuruh gue jaga jarak dari Dafina? Takut kalo lu kalah saingan sama gue?" ejek Rayn.
Emosi Rifqi tidak bisa dikendalikan. Ditonjoklah pipi sebelah kanan Rayn dengan keras. Rayn merasakan rasa sakit yang teramat, namun dia tidak meringis.
"Dafina tuh gak cocok ama lo! Dafina itu cewek baik, sementara lo? Lo cowok yang suka kasar," ejek Rayn lagi.
Rifqi menonjok Rayn lagi. Kali ini ia menonjok di pipi sebelah kiri.
"Tonjok aja terus gua sampe semua kebusukan lo keumbar!" Rayn mengusap darah segar yang mengalir dari hidungnya.
"Jaga mulu lo baik-baik!!" Rifqi menarik kerah baju Rayn.
Hampir saja tonjokan melayang ke Rayn, tapi Rifqi berhasil mengendalikan emosinya. Dengan kasar, ia mendorong Rayn sampai cowok itu terpental ke belakang.
Gue bakal ngerebut apa yang menjadi milik gue! Batin Rayn.
➷➷➷➷
***Kalian di pihak siapa nih?
Rayn?
Rifqi?
Dafina?
Atau siapa?
Jangan lupa tinggalkan vote dan comments kalian ^^
See u next chapter 😉😊***