SMK (COMPLETED)

SMK (COMPLETED)
PART 31



**Sebelum baca chapter ini, alangkah baiknya kalian kasih vote 👍🏻, Comment 💬, and share cerita ini ❤️❤️


Jam berapa kalian baca ini ^^?


Happy Reading ^_^


❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥**


"Buat apa pacaran jika ujung-ujungnya putus? Sama aja lo jagain jodoh orang."


❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥


"Gue cabut duluan ya, bye," pamit Dafina kepada teman-temannya.


"Hati-hati!"


      Dafina pergi ke depan sekolah. Matanya terasa panas saat melihat Rifqi dan Lisa berpelukan di gerbang sekolah. Dada Dafina terasa sesak bahkan air mata sudah menetes tanpa disadari. Dafina mengumpulkan keberaniannya untuk melewati mereka.


"Dafina!" Panggil Rifqi otomatis Dafina memberhentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya ke belakang. Rifqi dan Lisa menatap dirinya. Ketika Rifqi melangkah menghampirinya, Dafina langsung pergi dari sana.


      Dafina berlari sekencang-kencangnya. Dadanya terasa sesak saat melihat Rifqi dan Lisa berpelukan di gerbang sekolah. Dafina tidak peduli orang-orang melihat dirinya berlari dengan air mata yang bercucuran. Di belakang Rifqi masih mengejarnya sambil memanggil Dafina namun panggilan tidak anggap oleh cewek itu.


"Akkkhh...ehmmm..." Ada seseorang menarik Dafina ke belakang semak-semak.


"Diam kalo gak mau ketauan!" Ucap orang itu.


      Deg!


      Dafina membulatkan matanya saat melihat orang yang menariknya.


"Dafina?! Gue bisa jelasin semuanya, tolong dengerin sebentar aja! Akkhhh," teriak Rifqi frustasi.


      Setelah Rifqi tidak keliatan, orang itu melepaskan tangannya dari mulut Dafina. Dafina bernafas lega bisa menghirup udara.


"Joy?" Gumam Dafina kaget.


"Iya ini gue Joy Yudianto Sinaga. Lu masih ingat gue bukan? Kakel lu waktu DI SMP."


"Gimana gue bisa ngelupain lu dan Kefas. Kalian orang yang sudah merubah gue menjadi Dafina yang cerewet, banyak senyum, receh bin jayus, ramah. Dan juga kalian yang sudah membuat gue merasakan namanya bertepuk sebelah tangan." Batin Dafina.


"Malah bengong. Masih ingat gue gak?" Tanya Rifqi lagi.


"Masih kok."


"Gue kira udah lupa haha."


"Kenapa nangis? Jangan nangis dong, nanti dikira gue ngapa-ngapain lu lagi. Apa karna cowok tadi? Emangnya dia siapa lu? Pacar?" Tanya Joy.


      Dafina menghapus sisa air matanya sebelum menjawab pertanyaan cowok itu.


"Dia bukan pacar gue," jawab Dafina. Memang benar bukan, kalau Dafina dengan Rifqi tidak pacaran? Cowok itu pun juga tidak menganggap dirinya sebagai pacarnya.


"Bagus deh," gumam Rifqi.


"Hah? Tadi lu bilang apa?" Tanya Dafina.


"Gw gak bilang apa-apa." Rifqi tersenyum.


"Bagaimana gw anter lu balik? Mau ya?" Tawar Joy.


"Eh gk usah kak, lagian deket kok rumah gue," tolak Dafina.


"Baiklah."


"Ya udh gue balik ya," pamit Dafina kepada Joy.


"Hati-hati!"


      Pikiran Dafina sudah teralihkan dari insiden di gerbang sekolah, namun ini lebih membuatnya kaget. Masa lalunya yang telah ia berusaha untuk melupakannya kini muncul lagi.


➷➷➷➷


      Jam menunjukkan pukul 06.00 WIB. Setelah semuanya selesai, Dafina langsung menuju meja makan. Makanan sudah siap di atas meja.


"Kakak udah punya pacar belum?" Tanya Fani—Mamanya.


"Belum," jawab Dafina.


"Masa sih? Masa cantik-cantik gak punya pacar? Tapi bagus deh kalo belum punya pacar. Mama maunya kakak punya pacar setelah kerja."


      Tok Tok Tok!


      Pintu rumah berbunyi, Fani segera pergi untuk membukakan pintu.


"Assalamualaikum, Tan." Ucap Rifqi.


"Waalaikumsalam," balas Fani.


"Ada Dafina-nya?" Tanya Rifqi.


"Ada kok lagi sarapan," jawab Fani.


      Dafina mengintip dari balik tembok untuk melihat siapa yang datang. Dafina terkejut melihat Rifqi datang ke rumahnya. Dafina segera buru-buru pergi masuk ke kamarnya, ia lagi malas untuk menemui cowok itu.


"Ada apa ya datang ke sini?" Tanya Fani.


"Emm saya mau jemput Dafina sekolah mumpung tadi saya lewat sini," jawab Rifqi.


"Oh ya udah masuk dulu, Nak." Fani mempersilahkan Rifqi untuk masuk ke dalam.


"Makasih, Tan."


➷➷➷➷


      Dafina membantingkan tubuh di atas kasur. Wajahnya ditutupi oleh bantal. Ia tidak menyangka kalau Rifqi akan datang ke rumahnya apalagi saat ada Mamanya. Waktu yang tidak tepat.


      Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dafina langsung pura-pura tidur, takut yang datang adalah Rifqi namun ternyata Mamanya.


"Kamu kenapa, Kak? Kenapa kabur dari cowok itu?" Tanya Mamanya.


"Gak ada apa-apa kok."


"Coba kamu menemui dia, selesaikan masalah di antara kalian. Kasihan dia sayang, dia udah datang ke sini cuma untuk kamu."


"Baiklah, Ma."


➷➷➷➷


      Rifqi dan Dafina duduk di taman belakang sekolah. Rifqi memperhatikan Dafina, namun cewek itu mengacuhkannya—seolah tidak menganggapnya.


"Gue minta maaf, Daf, atas kejadian kemarin. Gue bisa jelasin semuanya." Rifqi memegang kedua telapak tangan Dafina.


"Gue gak butuh penjelasan."


"Daf, gue bener-bener minta maaf karna gak menceritakan semuanya ke lo, gue takut kalo gw menceritakannya malahan membuat lo pergi dari gue," ucap Rifqi.


"Justru gue lebih tersakiti kalo lu gak cerita, Rif! Dan gara-gara lu gak cerita mungkin bisa ngebuat gue pergi dari lu," ucap Dafina setengah membentak.


"Daf, gue ama Lisa gak punya hubungan apa-apa sumpah!"


"Kalo ada hubungan pun gak papa. Gue gak peduli."


➷➷➷➷


      Semenjak kejadian itu, hubungan Dafina dan Lisa memburuk terutama dengan Rifqi.


"Fin, gua mau ngomong ama lu secara pribadi," ucap Lisa kepada Dafina.


"Kita ngomong di perpustakaan."


      Mereka berdua pergi ke perpustakaan. Tempat yang paling tepat untuk mereka ngomong secara pribadi.


"Gue udah tau hubungan lu ama Rifqi," kata Lisa.


"Tapi apa lu ingat kata-kata gue?" Tanya Lisa.


"Gue gak ngelarang Rifqi sama siapa aja, karna gue tau masa depannya itu ama gue," ucap Lisa.


"Buat apa pacaran jika ujung-ujungnya putus? Sama aja lo jagain jodoh orang," ucap Lisa sebelum pergi.


➷➷➷➷


      Sudah lama Rifqi menatap ke layar ponselnya—menunggu panggilan atau sekedar chat dari Dafina. Namun dari tadi tidak ada yang masuk ke ponselnya.


"Huff~" Rifqi membuang nafasnya sebelum menelpon Dafina.


"Hai Daf! Bagaimana kabar lu?" Tanya Rifqi ketika sudah diangkat oleh Dafina.


"Fisik atau batin?" Tanya cewek itu.


"Hah?"


"Kalo fisik gue alhamdulillah sehat, tapi kalo batin gue gak sehat," jawab Dafina.


"Daf, gue minta maaf banget. Lu gak bisa maafin gue dan melupakannya apa? Gue nyesel sumpah."


"Gue bisa maafin lu, tapi kalo untuk melupakannya gue gak yakin bisa," jawab Dafina.


Rifqi tersenyum kecut, "Gue maklumin kok lu belum bisa melupakan kejadian itu, yang terpenting lu jangan berubah dan tetap menjadi Dafina yang gue kenal."


"Gue gak sibuk kok. Kemana?"


"Ke cafe yang deket skul," jawab Rifqi.


"Ok gue siap-siap dulu habis itu baru pergi ke sana."


"Lu jangan pergi biarin gw jemput lu," ucap Rifqi.


"Eh gak usah, gue bisa sendiri kok," tolak Dafina.


"Cowok itu ditakdirkan untuk mengejar bukan dikejar. Jadi biarkan gue ngejar lu asalkan lu jangan kemana-mana," ucap Rifqi.


      Tidak ada komentar apapun yang kelaur dari Dafina. Rifqi sudah tau pasti cewek itu sedang menetralkan jantungnya.


"Kabar keluarga lu bagaimana kabarnya?" Tanya Dafina.


"Gue baik-baik aja kok," jawab Rifqi.


"Gue gak nanya lu, Rif. Gue nanya keluarga lu."


"Ck, keluarga gue baik-baik aja kok," jawab Rifqi.


"Syukurlah."


"Oh ya bahasa Inggrisnya 'udah makan belum' apa?" Tanya Rifqi.


"Have you eaten," jawab Dafina.


"Makasih sudah perhatian jadi tambah sayang deh," ucap Rifqi.


      Rifqi terkekeh mendengar umpatan kecil dari Dafina. Apa ini yang rasanya senang? Memang awalnya Rifqi tidak memiliki perasaan apapun ke Dafina hanya sekedar balas dendam karna cewek itu telah membentaknya di awal masuk pertama sekolah. Tapi kenapa lama-lama benih perasaan muncul dirinya.


"Besok ke sekolah bawa makan buat gue!" Perintah Rifqi.


"Buat apaan? Lagian di skul ada kantin juga."


"Beda, Daf. Makan dari orang yang di suka sama yang gak di suka jelas-jelas beda jauh."


      Dafina diam–tidak membalas godaan dari cowok itu.


"Besok bawa makan ya ke sini?" Tanya Rifqi.


"Udah ah Kak, gue ngantuk. Byee~"


"Jangan dong, orang masih mau telponan juga."


"Ishh gue udah ngantuk. Orang besok ketemu juga," gerutu Dafina.


"Ok. Jangan lupa besok bawa makan buat gue, kalo lupa gue cium lo haha. Oh ya satu lagi, kalo kangen bilang aja, biar lo gak usah kangen ama gue because kangen itu berat biar gue aja."


      Sambungan telpon putus. Pertama kalinya Rifqi bersemangat daripada sebelum-sebelumnya. Thank u Dafina because sudah mewarnai kehidupan Rifqi.


➷➷➷➷


      Rifqi membuka tempat makan yang dibawakan Dafina ke sekolah buat dirinya. Dafina membawakan Rifqi sushi dengan susu vanilla yang dimasukkan ke dalam tempat makan.



"Tumben nurut ama gue biasanya kagak. Atau jangan-jangan lo takut lagi gue cium?" Tanya Rifqi.


"Bacod. Makan tinggal makan."


      Rifqi langsung melahap yang dibawakan Dafina untuknya. Setelah selesai makan, ia meminum susu yang dibawakan cewek itu.


"Kenyang? Bagaimana rasanya?" Tanya Dafina.


"Iya. Rasanya enak," jawab Rifqi.


"Lu udah makan dan minum?" Tanya Rifqi. Dafina mengangguk.


"Udah mandi?"


"Udah."


"Udah sehat?"


"Udah."


"Udah istirahat dengan baik?"


"Udah Kak."


"Udah sayang ama gue?"


"Udah," jawab Dafina, sedetik kemudian ia sadar dengan pertanyaan terakhir yang diberikan oleh Rifqi.


"Tadi kakak bilang apa?" Tanya Dafina.


      Bukannya menjawab, Rifqi malah mengelus puncak kepala cewek itu.


"Lebih baik lu jawab pertanyaan gue," kata Rifqi.


"Pertanyaan apa?" Tanya Dafina.


"Pertanyaan gue gak susah kok. Lu cuma harus jawab dengan sangat jujur gak boleh bohong walaupun cuma dikit."


      Dafina berpikir sejenak sebelum mengangguk, ia berpikir kalau Rifqi hanya memberi pertanyaan yang tidak berfaedah. Jadi biarkan saja.


"Pasti lu cewek?" Tanya Rifqi.


"Iyalah," jawab Dafina seraya memutar bolanya kesal atas pernyataan Rifqi yang sangat tidak berfaedah—udah tau dirinya cewek malah pake nanya lagi.


"Kelas 11."


"Iya."


"Lemot."


"Iya."


"Telmi."


"Suka ama Rifqi Pratama Bramansta."


"Iya."


"Mau jadi pacar gw?"


"Ehh..." Dafina menatap Rifqi. Jantungnya berdegup dengan kencang saat mendengar pertanyaan yang diberikan cowok itu.


"Khusus pertanyaan yang tadi lo cuma boleh jawab 'ya or no' jangan mengulang pertanyaan gue."


      Dafina mengigit bibir bawahnya sedangkan matanya melihat ke kiri kanan atas bawah. Seharusnya Dafina merasa senang, tapi mengapa ia merasa khawatir sekarang.


"Kalo gue terima apa kata orang? Pasti banyak yang gak suka ama hubungan kita," kata Dafina.


"Jangan dengerin orang, hidup kita yang jalanin bukan mereka."


"Dengan syarat, kakak gak bakal ngebuat gue sakit hati bukan hanya batin aja tapi fisik juga. Dan di antara kita tidak ada rahasia dan harus ada rasa kepercayaan karna percuma jika tidak memiliki rasa kepercayaan satu sama lain dalam membangun hubungan," ucap Dafina.


"Dan satu lagi biarkan kita seperti ini, jangan ada orang lain di antara kita. Masalah jodoh apa tidak itu urusan belakangan," tambah Dafina.


"Ok, ge bakal ngelakuin yang lo minta." Rifqi tersenyum.


Dafina mengangguk.


"Kenapa ngangguk?" Tanya Rifqi.


"Iya mau."


"Mau apaan? Masuk ke kelas? Orang belum bel juga."


      Ingin rasanya Dafina ngelempar cowok itu ke jurang tapi sayangnya ia tidak bisa.


"Iya gue mau jadi pacar kakak," jawab Dafina sambil menundukkan wajahnya karna malu.


Rifqi menggenggam tangan Dafina lalu tersenyum, "Makasih."


"Apa kita harus ngomong pake 'aku-kamu'?" Tanya Rifqi.


"Seterah."


"Walaupun lo bukan pacar pertama gue, tapi lo cewek pertama yang ngebuat gue ngerasain apa itu yang rasanya pacaran sesungguhnya. Dan makasih udah mau ngebalas perasaan gue."


      Cup


      Rifqi mencium kening Dafina sebelum membawa cewek itu ke dalam pelukannya. Semoga Tuhan selalu membuat mereka bahagia.


➷➷➷➷


**Dapat feel-nya?


Mudah2an dapat ya 😂 soalnya author bingung ngebuat chapter baper 🙃


Namanya juga masih belajar


Jangan lupa vote 👍🏻, Comment 💬, and share cerita ini ❤️❤️**