
**Sebelum baca chapter ini, alangkah baiknya kalian kasih vote ⭐, Comment 💬, and share cerita ini ❤️❤️
Jam berapa kalian baca ini ^^?
Happy Reading** ^_^
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
Lo boleh tinggi, asal jangan lebih tinggi dari gue. Kalo lo lebih tinggi dari gue, gue gak bisa nyium lo
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
Bel istirahat berbunyi, Dafina serta teman-temannya sekaligus Ratna dan Lisa pergi ke kantin bersama. Mereka duduk di bangku langganan Dafina dan teman-temannya.
"Ini namanya apa?" Tanya Lisa ketika ia memakan cilok.
"Itu namanya cilok," jawab Ratna.
"Terbuat dari apa?" Tanya Lisa lagi.
"Dari aci," jawab Bunga.
"Oh."
Gerombolan Rifqi masuk ke dalam ke kantin membuat semua mata tertuju pada mereka. Mereka sadar kalau dirinya menjadi pusat perhatian, tapi mereka pura-pura tidak menyadarinya.
"Tumben mereka baru datang," gumam Michelle.
"Lo jangan mau ama mereka," ucap Cleo kepada Lisa.
"Wae?"
"Mereka nakal-nakal," jawab Ratna.
"Apa itu nakal?" Tanya Lisa tidak mengerti.
"Nakal itu naughty," jawab Bunga.
"Oh."
Vanissa pun datang menghampiri mereka.
"Hai guys! Bagaimana kabar kalian?" Sapa Vanissa.
"Hai Kak! Baik-baik aja kok," balas mereka.
Michelle yang memahami kalau Vanissa bingung dengan dua orang baru di sana yang tak lain adalah Ratna dan Lisa.
"Oh ya Kak, kenalin ini namanya Ratna, temen sekelas kami." Michelle memperkenalkan Ratna kepada Vanissa.
"Ratna Kak." Ratna mengulurkan tangannya.
"Vanissa." Vanissa membalasnya.
"Kalo yang itu dia murid baru namanya Park Lisa." Michelle memperkenalkan Lisa kepada Vanissa.
"Lisa." Lisa memperkenalkan dirinya.
"Vanissa."
"Kak Van, emang kakak pacaran ama Bisma kelas 11 Akuntansi 2?" Tanya Dafina penasaran. Sementara yang ditanya hanya mengangguk kecil sambil tertawa kecil.
"Sejak kapan? Kok kita-kita gak tau? Semoga langgeng ya," tanya Dafina.
"Dari kalian kelas 10 sementara gue kelas 11. Iyalah gue dan Bisma kan gak famoes sama kaya Rifqi dan teman-temannya jadi yang tau pun cuma beberapa. Makasih ya hehe."
"Wait! Bisma is our classmate right?" Tanya Lisa menggunakan bahasa Inggris.
"Yes."
"Oh my God! Serious? Dangsin-eun geuui yeoja chingu-ibnikka? Congrats!" Ucap Lisa.
(Translate Korea-Indonesia) : Dangsin-eun geuui yeoja chingu-ibnikka? {Are you his girlfriend?}
➷➷➷➷
"Tau lu Bim! Bikin mie pedes bat," ucap Angga emosi kepada Bima yang menunggunya di luar toilet.
"Namanya juga samyang pasti pedes lah dodol. Makanya kalo punya orang jangan diambil jadinya kualat haha," ucap Bima.
Tak lama kemudian Angga keluar dari toilet.
"Yuk ke kantin beli minum," ajak Rifqi.
Mereka pergi ke kantin bersama-sama. Angga sudah bad mood untuk makan karena Bima. Ia hanya menemani teman-temannya ke kantin. Saat sudah masuk ke kantin, mata Rifqi tertuju kepada seorang gadis yang sedang menatapnya dengan senyuman. Namun Rifqi pura-pura tidak menyadarinya.
"Ga, lo serius gak mau jajan?" Tanya Rifqi kepada Angga setela mereka duduk.
"Gak," jawab Angga singkat.
Angga dan Rifqi melirik ke arah yang Bima maksud.
"B aja." Rifqi menimpali
"Tadi lo bilang apa, Rif? B aja? Gila selera lo setinggi apa sih?" Ucap Bima tidak percaya.
"Woy Bim! Ingat lu ada Michelle!" Ucap Angga yang mulai bersuara.
"Aelah gak papa kali. Orang gue ama Chelle belum resmi hahaha."
"Murid baru itu bukannya yang kita liat waktu di lapangan?" Tanya Rifqi.
"Eh iya itu murid baru yang waktu kita liat dilapangkan," jawab Bima.
"Namanya siapa?" Tanya Rifqi.
"Namanya Park Lisa," jawab Angga.
"Kok lo tau?" Tanya Bima.
"Orang ada di name tag bajunya," jawab Angga.
"Oh."
Bel pulang sudah berbunyi dari tadi, namun Dafina serta teman-temannya masih berada di kelas untuk menyelesaikan catatan mereka. Tidak lama kemudian, mereka selesai mencatat.
"Gaes gue balik duluan ya," pamit Dafina kepada mereka.
"Ya, hati-hati!"
Dafina berjalan keluar dari kelas menuju gerbang sekolah. Ketika sesampai di depan gerbang, langkahnya terhenti karena Rifqi.
"Ayok gue anter lo balik," ucap Rifqi.
"Eh gak usah kak, gue bisa jalan kok, orang jarak rumah gue ama skul deket," tolak Dafina.
"Gue gak menerima penolakan!" Tegas Rifqi.
Ketika Rifqi mau memasangkan helm kepala Dafina, tangannya ditahan.
"Helm baru?" Tanya Dafina.
"Iya khusus buat lo," jawab Rifqi.
"Hah?"
"Ayok naik biar kita nyampenya cepet," kata Rifqi.
Dafina naik ke atas motornya Rifqi. Entah kenapa perasaannya menghangat. Biarlah seperti ini dulu, Dafina merasa nyaman kepada cowok itu.
"Peluk dong," ucap Rifqi.
"Hah?"
Rifqi langsung menarik kedua tangan Dafina untum dilingkarkan di perutnya.
Perilaku Rifqi membuat Dafina senyum-senyum sendiri. Sekarang Dafina sudah tidak peduli siapa Rifqi.
Di sepanjang jalan tidak ada perbincangan di antara keduanya, hanya terdengar suara keramaian kendaraan. Motor Rifqi terhenti saat mereka sudah sampai di depan rumah Dafina. Dafina segera turun dari motor Rifqi lalu membalikan helmnya kepada cowok itu.
"Jangan lupa minum susu dan olahraga yang banyak, Daf." Kata Rifqi.
"Emang kenapa?" Tanya Dafina tidak mengerti.
"Biar tambah tinggi."
"Iya nyadar diri kok kalo tinggi gue baru 158,6 cm. Tapi liat aja nanti, masa depan gak ada yang tau. Mungkin aja gue lebih tinggi dari lo," kata Dafina.
"Boleh tinggi asal jangan ngelewatin gue," ucap Rifqi membuat dahi Dafina bergelombang karena bingung.
"Kalo lo lebih tinggi dari gue berarti lo gak bisa nyium lo dong," Rifqi menjeda kalimatnya, "kaya gini."
Cup
Rifqi mencium kening Dafina membuat cewek itu shock dengan kejadian barusan.
"Udah sana masuk ke dalam," kata Rifqi sambil mengacak rambut Dafina.
➷➷➷➷
**Bagaimana chapter ini 😂😂?
Apa dapat feel-nya?
Maap y author blm bisa bikin adegan yang romantis 😅😅**