
**Jangan lupa kasih vote ⭐, Comment, and share 🌚🌝🌜🌛🌞
Jam berapa kalian baca ini ^^?
*Happy Reading*** ^_^
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
Jika orang lebih terlihat baik saat tersenyum, mengapa harus memperlihatkan wajah datar?
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
Dafina sedang duduk di bangku yang berada di pinggir lapangan–hanya sendirian–karna Pak Herry tidak masuk jadi jamkos.
"Ngapain di sini sendirian?"
Dafina langsung nengok ke sumber suara, di sana ada Rifqi. Dafina segera bangun dari tempatnya, tapi Rifqi menahannya dan mengisyaratkan untuk tetap di sini. Dafina kembali duduk dan Rifqi duduk di sampingnya.
"Kenapa lo selalu gini setiap kali ama gue?" tanya Rifqi.
Dafina diam, hanya menundukkan kepalanya. Ia bingung harus menjawab apa.
"Emangnya gue kaya monster apa sampe-sampe lo takut?"
Ya! Monster paling menyebalkan yang pernah Dafina temui.
"Dafina cantik."
"Banget."
"Rifqi ganteng."
"Banget."
Rifqi terkekeh mendengar ucapan Dafina barusan. Rifqi menoleh ke arah Dafina yang berada di sampingnya. Cewek ini cukup manis, cantik, baik, polos, luguh, bulu matanya lentik dan matanya indah, hidungnya lumayan mancung. Dafina terlihat sederhana dibandingkan dengan cewek-cewek zaman sekarang.
"Lo manis."
"Makasih."
"Tapi lebih cantik Irish."
"Iya tau kok."
Rifqi meraih wajah Dafina agar cewek itu melihat ke arahnya. Mereka bertatapan lumayan lama. Entah apa yang dicari Rifqi, tapi dia memperhatikan wajah Dafina dengan seksama.
"Why?" Tanya Dafina merasa tidak nyaman.
"Gue suka mata lo, hidung lo lumayan mancung." Rifqi tersenyum manis yang jarang ia perlihatkan.
Dafina suka senyuman itu. Mungkin Rifqi sedang sombong dengan memperlihatkan senyumnya.
Jika orang lebih terlihat baik saat tersenyum, mengapa harus memperlihatkan wajah datar?
"Gue suka senyuman lo," kata Dafina.
"Jangan suka ama senyuman."
"Kenapa?"
"Karna banyak boongnya."
Jawab Rifqi membuat Dafina terdiam. Fake smile?
"Terus kenapa lo suka mata gue ama hidung gue?" tanya Dafina.
"Gue gak cuma bilang kalo hidung lo lumayan mancung. Gue cuma suka ama mata lo, karna mata tidak pernah berbohong sama kaya hati."
➷➷➷➷
Dafina memutuskan pergi ke ruang OSIS untuk menemui Rifqi. Kata teman sekelas, Rifqi berada di ruang OSIS. Sesampai di depan ruang OSIS, cewek itu langsung mendorong pintunya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Dafina mematung di tempat, menemukan Rifqi sedang duduk di kursi dengan menghisap seputung rokok yang menyempil di jarinya. Melihat ekspresi terkejut di wajah Dafina, lantas membuat Rifqi membuang putung rokoknya dan menginjaknya.
"Lo ngelapor, habis lo ama gue!" ancam Rifqi kepada Dafina. Setelah itu cowok itu keluar dari ruang OSIS.
➷➷➷➷
Rifqi lagi malas belajar hari ini. Ia memilih memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa bosannya. Angga yang duduk di sampingnya hanya bisa menggeleng-geleng atas perilaku sahabatnya ini.
"Rifqi Pratama Bramasta!" suara seseorang memanggil dirinya. Rifqi langsung mematikan ponselnya dan menaruh kembali di dalam sakunya. Ternyata bukan guru sejarah yang memanggilnya, melainkan Pak Herry yang memanggilnya.
"Ikut saya ke ruang BK, sekarang!" perintah Pak Herry kepada Rifqi.
Rifqi berdiri dari kursinya dan mengikuti Pak Herry ke ruang BK. Di perjalanan, ia mengingat-ingat lagi apa kesalahan yang diperbuat. Ketika mereka sudah sampai di ruang BK, Rifqi duduk di bangku yang berada di depan Pak Herry.
"Ada apa Pak, manggil saya? Kangen ama saya?" tanya Rifqi ke-pede-an.
"Siapa yang kangen ama anak seperti kamu?! Yang ada saya muak dengan anda."
"Yeah, jadi bapak manggil saya ke sini kenapa?" tanya Rifqi.
"Jadi kamu belum tau kenapa saya manggil kamu ke sini?" tanya Pak Herry.
"Gimana mau tau, orang bapak aja belum kasih tau."
"Kamu tau bukan, di sekolah ini dilarang merokok. Tapi kenapa kamu malah melakukannya?!" bentak Pak Herry.
Rifqi langsung membisu. Ini pasti ulah Dafina!
"Bapak dapat informasi dari mana?" tanya Rifqi dengan memasang wajah tidak terima kalau dirinya dibilang ngerokok.
"Kamu jangan ngelak! Saya dapat sisa rokok yang sudah terbakar ini dari tempat sampah di ruang OSIS dan katanya itu kamu yang ngerokok." Pak Herry meletakkan putung rokoknya yang sudah dimasukkan ke dalam plastik ke atas meja.
➷➷➷➷
"Tuh muka napa kaya belum disetrika hahaha?" Tanya Angga.
"Ada ngelaporin gue ngerokok di ruang OSIS," ucap Rifqi membuat teman-temannya kaget.
"Siapa yang ngelaporin lo?" tanya Carissa.
"Dafina."
"What?! Dafina? Seriously?! Gue gak percaya kalo Dafina ngelakuin itu," ucap Carissa.
"Karna cuma Dafina yang ngeliat gue ngerokok di ruang OSIS pas istirahat."
"Cewek gak tau diri. Dikasih hati minta jantung."
➷➷➷➷
**Kita ketemu lagi dong hacin 🌚🌝
Bagaimana kabar kalian semua?
Apa baik-baik saja?
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian (vote, comment, and share Cerita ini ya)
See u next time 😚 😚**