
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
Sahabat adalah orang paling jahat, paling tega buat ngatain dan ngetawain lo. Tapi mereka bakal jadi orang pertama yang bakal maju jika lo disakiti dan mereka selalu ada di saat duka maupun suka.
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
Kelakuan para sahabatnya ini seperti anak kecil. Michelle, Cleo, dan Bunga untuk pertama kalinya mereka semua main ke rumah Dafina. Mereka membuat rumah Dafina sangat berantakan seperti kapal pecah. Bunga, Michelle, dan Cleo sudah tahu masa lalu Dafina dan mereka juga sudah saling kenal dengan The Avior–Nama persahabatan Dafina dengan sahabat-sahabatnya waktu SMP.
"Bosen woy, maen apa gitu," gerutu Cleo kesal.
"ToD bagaimana?" saran Bunga.
Semua mengangguk atas saran Bunga.
"Daf, pulpen dong," ucap Michelle.
Dafina mengeluarkan pulpen dari kotak pensilnya dan memberikan pulpen ke mereka. Michelle langsung menyimpan di tengah-tengah.
"Siapa yang mau puter duluan?" tanya Michelle.
"Gue," jawab Bunga .
Bunga langsung memutar pulpen itu, setelah berputar beberapa lama akhirnya pulpen itu berhenti dan menunjuk ke Dafina. Dafina melotot ke mereka, ia tidak percaya dirinya mendapat urutan pertama.
"Truth or dare?" tanya Bunga.
"Dare," jawab Dafina.
Senyum mereka berubah menjadi menyeramkan. Dafina merasa ada aura-aura tidak enak di sini. Kemudian mereka ketawa melihat raut wajah Dafina yang pucat. Memang Dafina itu kadang terlalu polos dan luguh jika dalam beberapa hal, membuat mereka semua melindungi Dafina, dan menganggap Dafina sebagai adik mereka walaupun ia lebih tua dari semuanya.
"Sekarang lo telpon Kak Rayn dan bilang sama dia kalo besok lu minta diantar ama dia," Kata Bunga puas sambil ketawa.
Tatapan Dafina melebar saat mendengar dare dari Michelle. Dare dari Bunga bener-bener gila, udah tahu dirinya dengan Rayn sedang tidak baik ini malah dikasih dare macam ini. Dafina tidak mengerti apa yang ada di otak para sahabatnya ini.
"Ogah. Nyari mati aja dah. Lo kan tau hubungan gue ama Kak Rayn lagi baik belakangan ini," protes Dafina kesal.
Memang cuma sahabat yang bisa mempermalukan sahabatnya sendiri. Mereka bukan jahat, tapi mereka hanya ingin hubungan sahabatnya ini dengan Rayn membaik lagi seperti sedia kala.
"Lakuin aja sih Fin. Kalo pun ditolak gak papa yang penting lo berani," cibir Cleo.
"Gue ganti jadi truth aja deh," Kata Dafina.
"Gak bisa gak bisa," tolak Bunga.
Dafina menghela nafas panjang, mau tidak mau ia harus melakukannya. Lalu jari-jarinya mencari kontak Rayn di Handphone-nya dan menekannya ke tombol yang free call.
Beberapa saat setelah Dafina melakukan free call, Rayn menjawabnya.
"Kenapa lo nelpon gue? Udah gue bilangin anggap aja kita gak saling kenal," tanya Rayn ketus dari seberang sana.
"Kak Rayn, besok berangkat bareng yuk. Jemput aku di rumah ya," kata Dafina to the point.
Harapannya sekarang hanya pada Rayn. Apakah cowok itu menolak atau tidak ajakannya tadi?
"Oke. Gue jemput jam 06.15."
Dafina tidak percaya sama sekali apa yang tadi ia dengar. Sambungan free call tersebut ditutup oleh Dafina, lalu dia menatap sahabat-sahabatnya. Congratulations! Mereka telah membuat harga diri Dafina jatuh.
Takdir cewek itu menunggu, bukan memulai.
"Puas?" tanya Dafina dengan menatap tajam teman-temannya itu.
Semuanya ketawa puas, mereka bahkan tidak yakin sebelumnya bahwa Rayn akan menerima permintaannya.
Untuk membalaskan dendam Dafina menjadi lebih semangat dalam permainan ini. Dafina memutar pulpennya dan pulpennya itu menunjuk ke Bunga. Jangan salahkan Dafina Bunga, salahkan pulpennya yang menunjuk dirimu.
"Truth or dare?" tanya Dafina.
"Truth," jawab Bunga.
"Kenapa lu ama Kak Bima kemarin bertengkar cuma karena hal sepele? Emang ada hubungan apa di antara kalian?" tanya Dafina.
"Karena Bima itu mantan gue," jawab Bunga.
"What?! Seriously? Jadi Kak Bima itu mantan lu? Makanya setiap kali kalian ketemu selalu bertengkar?" Tanya Cleo tidak percaya.
Bunga mengangguk.
Dafina ketawa puas dengan jawaban Bunga. Bunga yang hitz karena sikap tomboy-nya adalah mantan dari Bima Satria XII Jurusan otomotif-1.
Dan inilah saatnya pembalasan dendam Bunga. Bunga memutar pulpen tersebut dan beberapa putaran, pulpen tersebut menunjuk ke arah Cleo.
"Truth or dare?" Tanya Bunga.
"Dare," jawab Cleo.
Dahi Bunga terlihat bergelombang saat memikirkan dare buat Cleo. Setelah beberapa lama dia tersenyum licik dan menatap Cleo seolah mengatakan, 'Ini saatnya lo mati!'
"Telpon Kak Angga kalo lu suka ama dia bahkan jatuh cinta!" perintah Bunga.
"Elo mau bikin gue mati? Gw gak mau dare gila itu," protes Cleo.
"Kan lo sendiri yang milih dare dan itulah dare buat lo," balas Bunga.
Cleo tersenyum sinis ke arah Bunga, lalu ia mengeluarkan ponselnya dan menelpon Angga.
"Iya Cly, ada apa?" sahut Angga dari seberang sana.
"Gue mau bilang sesuatu," Kata Cleo.
"Bilang apa? Cepetan gue lagi sibuk," tanya Angga.
"Gue suka sama lo bahkan udah jatuh cinta sama lo," ucap Cleo dengan cepat , lalu mematikan sambungan telponnya.
"Puas lo?" tanya Cleo ke arah Bunga yang sedang ketawa puas.
Bunga ketawa puas, ia sudah membalaskan dendamnya. Tatapan mereka bertiga langsung menatap Michelle yang belum kena.
"Truth or dare?" Tanya mereka kepada Michelle.
"Dare," jawab Michelle.
"Gue aja yang kasih dare-nya," kata Dafina.
Bunga dan Cleo menatap Dafina tak percaya karena saat awal permainan, Dafina tidak bersemangat.
"Jadi dare-nya itu, lu prank call Rifqi," Kata Dafina.
"Prank call Rifqi? Aelah itu mah gampang," Kata Michelle sombong.
Michelle mengambil ponselnya dan menelpon Rifqi. Beberapa detik kemudian, sambungan telpon terhubung.
"Ini siapa?" tanya Rifqi.
"Saya cuma mau kasih tau sesuatu," kata Michelle.
"Cepetan ya jika anda mau bicara. Saya sibuk," Kata Rifqi.
"Saya mau bilang sesuatu tentang Dafina," ucap Michelle.
"Ada apa dengan dia? Apa dia terluka atau terjadi sesuatu dengannya?" tanya Rifqi khawatir.
"Kemarin pacar anda makan di restoran kami, tapi dia tidak membayar seluruhnya, dia hanya membayar setengahnya saja," ucap Michelle menahan tawanya.
"Berapa total harga makanan yang dimakan olehnya? Saya akan membayarnya," tanya Rifqi.
Michelle, Cleo, dan Bunga berusaha menahan tawa mereka, sedangkan Dafina melotot kepada Michelle dengan tatapan mengatakan, 'Eh woy! Napa bawa nama gue njir.' Sambungan diputuskan sepihak oleh Rifqi. Mereka bertiga tertawa puas melihat kejadian tadi, sedangkan Dafina ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya perlu mempersiapkan diri buat besok.
➷➷➷➷
Sorry jika ada typo atau kesalahan . Soalnya belum di revisi :(((