
Sebelum baca chapter ini, alangkah baiknya kalian kasih vote ⭐, Comment 💬, and share cerita ini ❤️❤️
Jam berapa kalian baca ini ^^?
Happy Reading ^_^
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
"Jadi gitu alasannya kenapa gue ninggalin lo, Daf," kata Rifqi.
"Kenapa kakak mutusin gue? Padahal bisa LDR-an," tanya Dafina.
"Iya gue tau bisa LDR-an. Tapi gue gak bisa kalo LDR ama lo yang ada gue gak fokus kuliah di sana. Gue niatnya balik ke sini untuk nemuin lo saat gue udah sukses di sana," ujar Rifqi.
"Berarti kakak udah sukses dong, kan kita udah ketemu?"
"Baru dikit belum sukses banget," jawab Rifqi.
"Oh."
"Eh ya, besok lo libur kan?" Tanya Rifqi.
"Besok gue kuliah, Kak," jawab Dafina.
"Balik ngampus jam berapa?" Tanya Rifqi.
"Sore sekitar jam 4," jawab Dafina.
"Ya udah nanti gue jemput lo di kampus."
"Emangnya kakak tau kampus gue dimana?" Tanya Dafina.
"Tau dong. Apa sih yang Rifqi gak tau." Rifqi memasang wajah sombongnya.
"Ckck ternyata belum berubah masih sama kaya dulu."
"Kalo gue berubah nanti lo gak bisa ngenalin gue lagi hahaha."
"Semerdeka lo aja dah."
"Hahahaha."
➷➷➷➷
Sesuai janji kemarin, Rifqi sudah berada di kampus Dafina untuk menjemput cewek itu. Dari kejauhan ia melihat Dafina yang sedang berjalan dengan teman-temannya.
"Guys main yuk ke kost gue, gue bete sumpah," ajak Indah—Salah 1 teman sekelas Dafina di kampus.
"Ayok gue mah ikut aja," jawab Michelle.
"Gue juga skuy," kata Bunga.
"Lo gimana, Daf? Ikut gak?" Tanya Indah.
"Emmm..."
"Dafina gak bisa ikut karna ada urusan sama gue," jawab Rifqi yang menghampiri mereka. Semua mata tertuju pada Rifqi.
"Kak Rifqi?" Gumam Bunga.
"Iya gue Rifqi Pratama Bramasta."
"Lo siapa?" Tanya Indah bingung karena ia baru ngeliat Rifqi.
Rifqi langsung menarik tangan Dafina pergi dari sana tanpa menjawab pertanyaan dari Indah.
"Lepasin tangan gue, Kak!" Seru Dafina seraya melepaskan tangannya dari genggaman Rifqi.
Rifqi baru melepaskan tangan Dafina setelah sampai di depan mobilnya. Rifqi membukakan pintu penumpang yang di depan untuk Dafina.
"Ayok masuk," pinta Rifqi.
Saat sudah masuk ke dalam mobil Rifqi, Dafina langsung mengeluarkan berbagai pertanyaan dan protes.
"Kakak ngapain ke kampus gue? Kakak tau darimana gue kuliah di sini?" Tanya Dafina.
"Tapi kan gue belum jawab setuju apa gak," protes Dafina.
"Lo lupa ama gue? Walaupun lo gak mau, gue tetap maksa." Rifqi mengingatkan lagi.
"Yayaya serah lo deh, Kak."
Tanpa sadar Rifqi tersenyum.
➷➷➷➷
Mereka tiba di sebuah taman yang begitu indah. Dafina akui ia senang dibawa ke sini selain bagus tempatnya udaranya pun lumayan segar.
"Lo mau di mobil aja atau mau turun?" Tanya Rifqi.
"Hah?" Dafina segera keluar dari mobil.
Saat memasuki taman itu, Dafina melihat berbagai bunga yang berjajar dengan rapih dan bagus. Dafina akui selera Rifqi tentang taman lumayan bagus.
"Gimana tamannya?" Tanya Rifqi.
"Bagus."
"Lo suka tamannya?" Tanya Rifqi. Dafina mengangguk.
"Ternyata selera lo tentang taman lumayan bagus," kata Dafina.
"Makasih lho atas pujiannya," balas Rifqi.
"Mau ngapain lo ngajak gue ke sini?" Tanya Dafina.
"Gue mau ngomong sesuatu ama lo," kata Rifqi.
"Ngomong apa?" Tanya Dafina.
Bukannya menjawab pertanyaan Dafina, Rifqi malah menarik Dafina ke suatu tempat yang masih di taman itu.
Rifqi menatap bola mata Dafina sambil memegang kedua telapak tangannya. Rifqi mengikis jarak diantara mereka. Perilaku Rifqi membuat Dafina menahan nafasnya.
"Daf, lo tau bukan kalo gue cinta sama lo dan lo cinta pertama gw?" Tanya Rifqi.
Dafina tidak menjawab pertanyaan Rifqi, ia berusaha mengontrol degup jantungnya.
"Gue tau waktu SMK gw itu nakal, playboy, bad boy dan lainnya, tapi semenjak lo hadir di hidup gue semuanya berubah menjadi baik. Lo mengajarkan dan menjelaskan apa pentingnya pendidikan, ilmu, teman, kasih sayang, cinta, kesetiaan, dan semuanya," ucap Rifqi.
"Gue akui gue banyak salah sama lo terutama gue pergi tanpa bilang alasannya ke lo. Dan lebih parahnya lo baru mengetahui alasannya beberapa tahun kemudian," lanjut Rifqi.
"Tapi apakah masih ada kesempatan untuk gue kembali ke lo? Apakah lo bisa maafin & melupakan semuanya? Apa kita bisa mengulang semuanya? Gue pernah bilang bukan dengan impian gue memiliki kekuarga yang bahagia bahkan sampai hari tua sama lo? Apa itu juga bisa terwujud?" Tanya Rifqi.
Mata Dafina berkaca-kaca saat mendengar pernyataan dari Rifqi. Ada rasa senang dan bahagia, adapun rasa kecewa dan takut.
"Jawab, Daf, bukan diam aja! Gue butuh kepastian." Seru Rifqi.
"Gue udah ngelupain sekaligus maafin lo bahkan sebelum lo minta," Dafina menjeda kalimatnya. "Tapi maaf, gue gak bisa ngabulin permintaan maupun impian lo, Kak. Gue hanya ingin kita berdua melupakan masa lalu dan mulai masa depan dengan lembaran baru," lanjut Dafina.
Dafina bisa melihat jelas kecewaan di wajah Rifqi. Tapi Dafina tidak bisa bohongin dirinya apalagi hatinya.
"Gue juga gak maksa kok, Daf. Tapi apa kita bisa jadi teman atau sahabat?" Tanya Rifqi.
Dafina mengangguk sambil memperlihatkan senyumannya.
➷➷➷➷
**Etsss jangan kemana-mana dulu karna masih ada 2 chapter lagi
Mohon maaf ya jika tidak sesuai ekspektasi kalian semua ^^
Makasih juga yang masih setia & dukung cerita ku**