
**Jangan lupa kasih vote ⭐, Comment, and share 🌚🌝🌜🌛🌞
Jam berapa kalian baca ini ^^?
Happy Reading** ^_^
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
Membohongi hati sendiri itu sakit
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
Bel pertanda istirahat berdering. Dafina keluar dari kelasnya. Ia duduk di bangku yang berada di koridor untuk menyendiri. Dia malas mendengar omongan para murid. Dia butuh waktu untuk sendiri.
"Halo!" sapa Rayn yang tiba-tiba duduk di samping Dafina.
Jujur, kadang Dafina merasa risiko dengan kehadiran Rayn. Bukannya Dafina tidak suka Rayn atau tidak mau cowok itu di sampingnya, melainkan setiap manusia berhak memiliki waktu untuk menyendiri.
"Kenapa?" tanya Rayn ketika Dafina mengacuhkan sapaannya.
"Gak papa," jawab Dafina.
Rayn mengikuti arah pandang Dafina. Perasaannya mendadak tak enak saat melihat Dafina menatap ke kelas XII OTKP 2. Ia langsung menyadari kalau cewek yang di sampingnya mengharapkan Rifqi, tapi malah dia yang berada di samping Dafina.
"Temuin gw di taman dekat sekolah pas pulsek!" Perintah Rayn sebelum meninggalkan Dafina.
Setelah kepergian Rayn, Dafina memutuskan pergi ke kantin. Sesampai disana, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin untuk mencari Rifqi namun keberadaan cowok itu tidak ada di sana. Setelah membeli makan dan minuman, Dafina menghampiri Carissa, Angga, dan Bima.
"Kenapa, Fin?" tanya Carissa.
"Kak, saya mau nanya dong. Kok Rifqi gak keliatan ya dari pagi, kemana dia?" tanya Dafina setelah menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Lo gak tau? Pacar sendiri kok gak tau," ucap Angga.
"Emm... Sebenarnya saya bukan pacarnya," ucap Dafina.
"Uhuk Uhuk Uhuk." Bima, Angga, dan Carissa tersendak makanan mereka saat mendengar perkataan Dafina barusan.
"What?! Seriously?! Lo Jangan bercanda deh, Fin." ucap Carissa.
"Serius Kak, saya gak bercanda! Saya waktu itu kan telat terus saya masuk lewat gerbang kecil yang berada di kantin. Saat itu saya gak tau kalo anak-anak OSIS yang jaga. Yeah, saya ketauan ama Rifqi dan dihukum-untuk menjadi pacarnya- dan dia juga gak nganggep saya pacarnya." Jelas Dafina panjang lebar.
"Ohh kocak juga tuh bocah," kata Bima.
"Bagus deh lo bukan pacarnya Rifqi. Gue cuma gak mau, lo disakitin ama dia," batin Angga.
"Terus lu pacarnya Rayn?" tanya Angga.
Dafina menggeleng.
"Lah terus kalo lo bukan pacarnya Rifqi atau Rayn, terus pacarnya siapa?" tanya Bima.
"Yeah, bukan pacar siapa-siapa," Jawab Dafina.
"Terus waktu kemarin lo ama Rayn ngapain di restoran?" Tanya Carissa.
Deg! Dafina kaget bagaimana Carissa mengetahuinya kalau kemarin ia dan Rayn pergi ke restoran.
"Kak Rayn yang maksa saya biar ikut," jawab Dafina. Memang benar Rayn yang maksa Dafina buat ikut.
"Terus Rifqi kemana, Kak?" tanya Dafina.
"Kemarin Rifqi diserang ama geng motor lain saat mau balik," jawab Bima.
"Terus sekarang dia dimana? Dia gak kenapa-kenapa kan?" tanya Dafina refleks saat mengetahui kalau Rifqi diserang. Ada sirat khawatir di dalam pertanyaannya.
"Dia di rawat di rumah sakit yang dekat rumahnya," jawab Angga.
"Nanti gue share lock dimana Rifqi dirawat," ucap Carissa.
➷➷➷➷
Seusai bel pulang sekolah berbunyi, Dafina langsung ke taman yang dekat sekolah. Cowok itu sudah sampai lebih dulu dibandingkan dirinya. Rayn menoleh saat Menyadari Dafina sudah tiba di sana. Rayn menghampiri Dafina dengan pandangan yang sulit ditebak.
"Sebenarnya siapa sih yang ada di hati lo?" tanya Rayn saat sudah berdiri di depan gadis itu.
Dafina tersentak saat mendengar pertanyaan Rayn. Dia juga tidak tahu siapa yang berada di hatinya.
"Gue butuh kepastian lo, Fin! Lo kan tau kalo gue cinta ama lo," kata Rayn memegang kedua pundak Dafina.
"Sorry, Rayn. Gue memang punya perasaan terhadap lo tapi tidak lebih dari seorang sahabat," ucap Dafina menundukkan kepalanya.
"Please, Fin. Gue janji gak bakal ngecewain apalagi ngebuat lo sedih," kata Rayn bersungguh-sungguh.
"Stop, Kak! Stop! Lo gak bisa maksa gue dengan cara apapun, kalo memang gue gak punya perasaan lebih ke lo. Gue gak bisa ngebohongin hati gue sendiri."
"Udah kedua kalinya gue nembak lo dan udah kedua kalinya lo nembak gue, Fin." Ucap Rayn dengan senyum sedih.
"Sorry. Gue yakin lo bakal menemukan seorang gadis di luar sana yang jauh lebih baik dan cantik dari gue. Dan gue harap, lo bisa move on dari gue." Dafina tersenyum tulus sebelum ia pergi dari sana.
Dafina tidak bisa menerima Rayn karena memang dia tidak memiliki perasaan lebih terhadapnya. Dia hanya memiliki perasaan sebagai seorang sahabat tidak lebih. Dafina selalu berdoa untuk sahabat-sahabatnya semoga mereka mendapatkan pasangan yang jauh lebih baik.
➷➷➷➷
"Excusme, dimana ruangan atas nama pasien Rifqi Pratama Bramasta?" tanya Dafina kepada penjaga resepsionis.
"Sebentar." Suster mengecek komputernya dan mencari nama pasien tersebut.
"Kamar pasien berada di nomor 500 lantai 5," jawab suster ya setelah mengeceknya.
"Terima kasih."
Dafina langsung pergi ke lantai 5 menggunakan lift. Sampai di lantai 5, ia langsung mencari kamar nomor 500. Dafina celingak-celinguk mencari kamarnya, pada akhirnya ia menemukan kamarnya yang berada di ujung. Saat Dafina mau membuka pintunya, ia melihat ada celah sedikit di pintunya yang memungkinkan dirinya bisa mengintip ke dalam.
Deg! Jantungnya berhenti berdetak saat melihat Rifqi memeluk Irish. Dafina mengerutiki dirinya, seharusnya ia tidak usah menjenguk Rifqi. Tidak udah mengkhawatirkan dirinya. Dafina meletakkan sekeranjang buah di depan ruangan Rifqi.
➷➷➷➷
Luka-luka di tubuh Rifqi belum sembuh. Kemari malam saat balik dari restoran ada geng motor yang menyerang dirinya. Rifqi tidak tahu siapa yang menyerangnya. Rifqi mencoba duduk, kepalanya terasa sakit, sepertinya kemarin malam kepalanya terbentur sesuatu.
Pintu kamar Rifqi tiba-tiba terbuka, Irish muncul dari balik pintu dan berjalan menghampirinya. Dari hidung dan mata cewek itu merah, Rifqi sudah tahu kalau ia menangis.
"Rif, gue kira lu gak bakal bangun hiks hiks," ucap Irish menangis.
"Gak usah sedih. Gue kuat kok. I am a strong man," ucap Rifqi tersenyum, berusaha meredakan rasa khawatir dari cewek itu.
"Tapi kan kemarin malam lo kritis, Rif. Gue takut banget kehilangan lo hiks hiks." Irish menangis lagi. Rifqi menarik Irish ke salam pelukannya supaya menenangkan gadis itu.
"Don't worry! Gue gak bakal ninggalin lo," ucap Rifqi sambil mengelus puncak kepala cewek itu.
"Rif, kalo lo pergi, gue gak tau bagaimana caranya bahagia dan hidup lagi. Gue gak mau kehilangan sahabat kaya lo. Jika di dunia ini ada pilihan, maka gue bakal milih lo walaupun gue harus menyerahkan semuanya," ucap Irish di sela-sela tangisnya.
"Sstt! Gue gak bakal ninggalin lo, Rish."
Rifqi menyadari seperti ada orang di depan pintunya. Rifqi melepaskan pelukannya dari Irish.
"Why, Rif?" tanya Irish.
"Ada orang di luar sana. Gue mau ngecek dulu," ucap Rifqi berusaha turun dari ranjangnya.
"Biar gue yang ngecek, lo tetap di sini aja, gak usah kemana-mana!"
Irish membuka pintunya lebih lebar dan mengeceknya, tidak ada siapapun di sana. Saat ia mau menutup pintu, ada sekeranjang buah yang ada sebuah surat. Irish mengambil sekeranjang buah itu lalu memberikannya ke Rifqi.
"Di luar ada siapa? Dan ini dari siapa?" tanya Rifqi.
"Di luar gak ada siapapun cuma ada keranjang buah ini. Gue juga gak tau dari siapa ini," jawab Irish.
Rifqi menerima keranjang buah itu dari Irish. Ia melihat sebuah surat di keranjang buah itu. Rifqi mengambil surat itu. Saat ia mau membuka surat itu, Irish memanggilnya.
"Eh Rif, udah minum obat blm?" tanya Irish.
"Nanti aja, itu mah gampang," jawab Rifqi.
"Gak bisa dong, Rif. Lu harus minum obat pokoknya habis itu gue potongan buahnya! Dimana obatnya?" omel Irish.
Rifqi memutar bola matanya, "Ada di dalam nakas."
Irish memberikan obat dan air putih ke Rifqi untuk diminum. Rifqi mau gak mau harus menerimanya padahal dirinya tidak butuh obat, ia cuma butuh Dafina di sampingnya. Rifqi menaruh surat yang tadi ia pegang di nakas, tapi ia tidak menyadari kalau surat itu jatuh ke bawah.
"Nah bagus. Gitu dong minum obat biar cepet sembuh." Irish sumringah.
"Ya udah gue potongin buahnya ya?" tanya Irish.
Rifqi mengangguk.
Rifqi tidak mungkin menolak Irish, karena ia ternyata lebih sayang kepada dirinya dibandingkan orang yang dia sayang, cinta, dan yang diharapkan untuk di sampingnya–Dafina–namun sepertinya itu hanyalah khayalan.
Dafina berlari keluar dari rumah sakit. Matanya sudah terasa panas. Dan benar saja, tak lama air mata membasahi pipinya.
"Fin?" Panggil sebuah suara dari belakangnya. Dafina me gelap air matanya lalu menoleh ke sumber suara itu.
"Lo ngapain di sini?" tanya Rayn.
Dafina hanya diam.
"Lo jenguk Rifqi?" tebak Rayn saat Dafina tidak merespons pertanyaannya. "Ya udah skuy, kita jenguk Rifqi berdua," lanjut Rayn.
Dafina lantas pergi meninggalkan Rayn yang mematung disana. Mana mungkin ia mau ke sana setelah apa yang dilihatnya barusan.
➷➷➷➷
**Bagaimana chapter ini? Seru gak? Pasti datar ya kaya jalan tol wkwk?
Menurut kalian, Dafina cocoknya ama siapa?
#TeamRifqi
#TeamRayn
#TeamAuthor
Jangan lupa tinggalkan vote and comments Kalian** ^^