
**Sebelum baca chapter ini, alangkah baiknya kalian kasih vote ⭐, Comment, and share cerita ini ❤️❤️
Jam berapa kalian baca ini ^^?
Happy Reading** ^_^
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
Jadi nyamuk tuh gak enak sumpah!
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
Sebuah pesan masuk dari ponsel Dafina. Dafina melihat pesan tersebut yang ternyata dari Carissa dan segera membalasnya.
Carissa
Daf, gue minta maaf ya, maap baru bilang sekarang :(
Dafina
Gak papa 😄
Carissa
Btw, pulsek lu bisa anterin gue gak?
Dafina
Kemana?
Carissa
Ke cafe yang deket sekul
Dafina
Ok
Dafina memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu memperhatikan pelajaran lagi. Tidak lama kemudian, bel pulang berbunyi.
"Jam pelajaran selesai. Tugas halaman 30-50!" Setelah itu Pak Bambang pergi.
"Fin, mau balik bareng gak?" Tawar Bunga.
"Gak, makasih. Soalnya gua ada janji ama Kak Carissa," tolak Dafina sopan.
"Oh ok, hati-hati."
Di parkiran, Carissa yang sudah bersandar di samping mobilnya—menunggu Dafina. Carissa melambaikan tangannya ke arah Dafina saat melihat Dafina berlari kecil menghampirinya.
"Hai Daf! How are u?" Sapa Carissa ketika Dafina sudah berdiri di hadapannya.
"I'm fine. And u?"
"I'm too," jawab Carissa.
"Yuk, masuk biar gak pulang malem," kata Carissa kepada Dafina yang dibalas anggukan dari cewek itu.
Hanya butuh beberapa menit untuk sampai sana. Carissa dan Dafina turun dari mobil dan jalan bersampingan.
"Kita mau duduk dimana?" Tanya Dafina ketika mereka sudah di dalam cafe.
"Duduk di sana aja," jawab Carissa menunjuk tempat yang dekat jendela.
Mereka berdua berjalan menuju tempat tersebut.
"Makasih ya, Daf, karna udah nganterin gue," ucap Carissa memegang kedua telapak tangan Dafina.
"Sama-sama. Emangnya ada apa ngajak ke sini?"
Saat Carissa mau jawab, seseorang menghampiri mereka.
"Hai Ris! Maaf ya ngebuat lo nunggu lama," kata seseorang yang baru saja sampai.
"Eh, Hai Daf!" Sapa orang itu saat menyadari ada Dafina.
Dafina mendongkak untuk menatap orang itu. Ternyata dia adalah Rayn Wijaya.
"Eh hai, Kak!" Balas Dafina.
"Gak papa Rayn, sans aja elah."
Rayn duduk di pinggir—samping Carissa—sedangkan Dafina duduk di depan Carissa.
"Oh ya bagaimana sekolah lo?" Tanya Carissa.
"Seperti biasa. Kalo lo?"
"Hari ini kayanya para guru lagi balas dendam ke kelas gue," jawab Carissa.
"Maksudnya?" Tanya Rayn tidak mengerti.
"Yah, para guru ngasih tugasnya banyak banget njir. Bayangin satu guru aja tugasnya 50 soal. Nah hari ini yang ngajar ada 4 guru dan semuanya ngasih tugas. Gila bat tuh guru!" Gerutu Carissa kesal.
"Hahaha." Rayn ketawa mendengar gerutuan Carissa.
"Ishh kok lo malah ketawa sih, orang gue lagi sengsara juga. Gak baik bahagia di atas penderitaan orang lain!" Protes Carissa.
"Yayaya maap atuh."
Demi apapun, Dafina merasa seperti nyamuk di sana. Kalau udah tahu bakal jadi nyamuk mendingan gak usah ke sini.
"Eh ya, gua ke toilet dulu ya," pamit Dafina kepada Rayn dan Carissa.
"Ya. Hati-hati ya."
Sebenarnya, Dafina tidak kebelet atau apapun ke toilet. Dia hanya beralasan untuk pergi dari mereka. Ketika Dafina sudah berada di toilet, ia menelpon teman-temannya dari grup WhatsApp.
"SUMPAH NJIR!! GUE JADI NYAMUK DI SINI!! TOLONGG!" Teriak Dafina histeris ketika sambungan telpon sudah terhubung.
"Astaghfirullah, Dafina!!" Ucap Cleo, Michelle, dan Bunga.
"Sorry, hehehe. Habisan gue kesal di sini cuma jadi nyamuk. Ya udah gue beralasan untuk pergi ke toilet."
"Iya gue ama Kak Rissa, tapi tidak lama kemudian ternyata Kak Rayn datang untuk menemui Kak Rissa."
"*Hahaha sabar yaa. Cup cup cup jangan nangis," ucap Bunga.
"Sakit ati adek liat doi ama yang lain," ucap Cleo dramatis.
"Tenang Fin, masih ada Abang Rifqi," ucap Michelle.
"Hahahaha." Selanjutnya Cleo, Bunga, dan Michelle ketawa terbahak-bahak*.
Dafina memutuskan sambungan telponnya bukan karena dia marah oleh ucapan teman-temannya, melainkan ia mendengar ucapan Rayn dan Carissa walaupun cuma kecil. Dafina berjalan menuju meja yang di belakang Rayn dan Carissa. Untung saja dua orang itu duduk membelakangi dirinya.
"Rayn," panggil Carissa.
"Hmm?"
"Gua pengen ngomong sesuatu," kata Carissa.
"Ngomong aja."
"Gue suka ama lo," ucap Carissa.
Dafina tidak menyangka kalau Carissa menyatakan perasaannya ke Rayn.
"Gimana kalo kita pacaran?" Tawar Rayn yang mendapatkan anggukan langsung dari Carissa.
➷➷➷➷
"Eh woy, Ris!" Panggil Bima dan Angga sambil mengejar Carissa yang baru saja sampai sekolah.
"Apaan sih?!" Carissa merasa risih kepada mereka yang dari tadi terus aja ngejar.
"PJ dong!" Kata mereka seraya mengulurkan tangannya ke Carissa.
"PJ apaan sih?! Gaje dah."
"Alah... gak usah sok gak tau deh. Asal lo tau, kabar lo jadian ama Rayn tuh udah kesebar," ucap Angga.
What?! Demi apa kabar Rayn dan Carissa jadian langsung tersebar seantero sekolah?
"Gak mau!"
"Pelit lo najis!" Ejek Bima.
"Bomat wlee."
"Ciee Risa yang udah jadian ama doi. Kita kira lo..."
"Apa lo?!" Ucap Carissa sambil menatap tajam ke arah mereka berdua.
➷➷➷➷
Rifqi dan Carissa sudah berada di kantin, sementara Angga dan Bima masih di kelas karena masih banyak tugas.
"Eh hai Ris! Hai Rif!" Sapa Rayn kepada mereka.
"Eh hai!" Balas Carissa dan Rifqi.
"Boleh gabung?" Tanya Rayn.
"Ya boleh kok," jawab Carissa.
"Rif, gue minta maaf," ucap Rayn.
"Gak papa, gue udah maapin lo kok." Rifqi tersenyum.
"Eh ya, gue mesen makan dulu ya. Kalian pada mau mesen apa?" Tanya Carissa kepada Rifqi dan Rayn.
"Gue es teh manis aja," jawab Rifqi.
"Seterah lo gue," jawab Rayn.
Carissa pergi ke stand untuk membeli makanan dan minuman.
"Gue cuma minta, jaga baik-baik sahabat gue! Kalo lo nyakitin Rissa sedikit aja, berarti lo berurusan ama gue!" Ancam Rifqi.
Carissa kembali ke meja dengan membawa minuman dingin tiga & siomay satu. Carissa melahap siomay yang ia pesan.
"Aduh...kalo makan tuh jangan disisain," ucap Rayn terkekeh kecil.
Carissa mengernyitkan dahinya kebingungan.
"Itu di pipi kiri lo ada sisa siomay," ucap Rayn sambil menunjuk.
Carissa memegang pipi sebelah kirinya untuk menghapus bekas siomaynya.
Deg!
Carissa melotot saat jaraknya dengan Rayn sangat dekat. Bahkan debaran jantungnya sangat kencang seperti ingin melompat dari dalam.
"Gue pamit ya. Gue tunggu PJ kalian," pamit Rifqi sebelum pergi dari sana. Rifqi merasa dirinya menjadi nyamuk di sana, maka dari itu ia memutuskan pergi dari sana.
Suara Rifqi membuat Rayn dan Carissa kembali ke alam sadar mereka.
"Udah gak ada sisa makanan lagi di pipi lo," ucap Rayn.
"Eh...thanks."
➷➷➷➷
**Maaf ya, jika nanti aku updatenya lama dikarenakan aku sedang menghadapi PAS (Penilaian Akhir Semester). Jika kalian belum tau apa itu PAS, PAS itu sama kayak UTS.
SEMANGAT PAS Kalian
Mudah2an dimudahkan, dilancarkan, dan dapat nilai yang sangat bagus
Aamiin YRA
Bagaimana chapter ini? Apa datar seperti jalan tol wkwk?
Jangan lupa tinggalkan vote dan comment 😚😚**