
**Sebelum baca chapter ini, alangkah baiknya kalian kasih vote 👍🏻, Comment 💬, and share cerita ini ❤️❤️
Jam berapa kalian baca ini ^^?
Happy Reading** ^_^
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
Kembali ke rutinitas semula, Dafina berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Dafina datang pukul enam lewat lima belas. Matanya tertuju pada Rifqi yang baru saja masuk ke dalam sekolah bersama Lisa. Jangan tanya apakah Dafina kesal atau tidak. Tapi kenyataannya Dafina tidak bisa berbuat apa-apa.
Dafina datang ke sekolah dengan mata yang sembam disertai kantong mata yang hitam. Pasti kalian tau kenapa Dafina seperti bukan? Tentu saja gara-gara kejadian itu.
"Tuh muka napa?" Tanya Bunga saat melihat Dafina yang baru memasuki kelas.
Dafina duduk di samping Michelle seperti biasanya. Dafina menenggelamkan wajahnya di atas meja.
Lisa datang dengan senyum merekah. Lalu duduk di bangkunya. Ratna—teman sebangkunya—bingung dengan ekspresi wajah Lisa.
"Rat, sumpah demi apapun gue very happy," ujar Lisa.
"Emang ada apa?" Tanya Ratna. Lisa menceritakan semuanya kepada Ratna.
"Kayaknya Rifqi jatuh cinta ama gue deh," ucap Lisa agak kencang.
.
➷➷➷➷
Bel istirahat pun berbunyi. Bersama gerombolannya Rifqi pergi ke kantin. Rifqi bisa melihat Dafina dan teman-temannya yang sedang memesan sesuatu.
"Lo broke up ama Dafina?" tanya Angga kepada Rifqi. Rifqi tidak menjawab.
"Cewek mah banyak, lo mah tinggal milih mau ama yang mana, Rif." Angga menepuk pundak Rifqi.
"Pasti gara-gara mantan Dafina ya?" Tanya Bima. Semua mata tertuju langsung kepadanya. Terutama Rifqi langsung melotot menatap Bima.
"Mantannya Dafina siapa?" Tanya Angga.
"Joy dan Kefas lah," jawab Bima.
"Mereka bukan mantannya Dafina," ralat Rifqi. Rifqi menjelaskan semua kepada teman-temannya serta alasan Kefas dan Joy pindah ke sini.
➷➷➷➷
Dafina berdiri di samping motor Rifqi. Tak lama kemudian, Rifqi datang ke parkiran dengan ekspresi datarnya.
"Lo ngapain di samping motor gue? Awas gue mau balik," tanya Rifqi.
Bukannya menjawab pertanyaan Rifqi, Dafina malah bertanya balik.
"Rif, lo segitunya benci ama gue?" Tanya Dafina menatap sendu Rifqi. Rifqi terdiam.
"Gue gak maksa kok untuk dicintai ama lo. Kalo lu udah pindah hati ke yang lainnya, gue ikhlas asal itu ngebuat lu bahagia. Tapi gue cuma minta maaf dari lu dan jangan benci gue, Rif," ucap Dafina pasrah.
"Mungkin gue bakalan jadi perempuan yang pernah singgah di hati dan kehidupan lu, dan lu juga bakalan jadi lelaki yang pernah singgah di hati dan kehidupan gue," lanjut Dafina.
"Daripada kita tambah sakit, lebih baik kita akhiri aja sampai sini. Semoga di masa depan kita mendapatkan pasangan yang jauh lebih baik."
Rifqi tersentak mendengar ucapan Dafina.
"Asal lo tau, cewek terbaik yang pernah gue pilih itu lo, Dafina Destarihanifa." Akhirnya Rifqi mengeluarkan suaranya.
Rifqi langsung menarik Dafina ke dalam pelukannya. Dafina membalas pelukan Rifqi. Rifqi meneteskan air matanya di pundak Dafina begitupun sebaliknya.
"Gue gak bisa marah ama lo apalagi benci, Daf. Gue cuma cemburu karena gue terlalu sayang ama lo," ucap Rifqi sambil memegang pundak dan menatap kedua mata Dafina.
Dafina tidak menyangka Rifqi menangis dan akan mengatakan kata-kata itu.
"Janji ya ke depannya lo gak rahasia-rahasian ama gue. Gue pun janji gak bakal main rahasia-rahasian ama lo," ucap Rifqi seraya mengacungkan jari kelingkingnya.
"Janji."
➷➷➷➷
Menonton film bioskop dengan Dafina seperti ini adalah salah satu bentuk kebahagiaan Rifqi apalagi melihat kebahagiaan yang terpancar dalam diri Dafina.
Rifqi menggenggam tangan Dafina, lalu dia menciumnya cukup lama.
"Kayaknya gue juga suka tangan lo deh," kata Rifqi.
"Kenapa kakak suka tangan gue?"
"Soalnya minta gue cium mulu."
"Itumah lu aja yang cabul haha."
"Jangan jauh-jauh ya dari gue," pinta Rifqi.
Dafina menoleh ke arah Rifqi, "Kenapa?"
"Nanti gue kangen."
"Kalo kangen kan bisa ketemuan, chat, video call."
Duh iya sih, tapi Dafina kok dungu amat ya. Menyebalkan, padahal Dafina ingin menciptakan moment romantis.
"Lo harus jalan di depan gue," ujar Rifqi.
"Kenapa kita gak jalan seiiringan aja? Kakak gak mau jalan bareng gue?" Tanya Dafina.
Rifqi mencubit pipi Dafina gemas membuat yang punya meringis kesakitan.
"Bukan itu honey. Biar gue mastiin lo aman dan gak kenapa-kenapa kalo jalan di depan gue dan biar gue mudah melindungi lo," jawab Rifqi.
Mengapa kebahagiaan ini sementara?
Rifqi mengelus rambut Dafina, lalu dia menyelipkan rambut Dafina ke belakang kupingnya.
"Dengerin, kita gak tau bukan bagaimana endingnya? Tapi selama kita masih sama-sama kita jalanin saja."
Dafina mengangguk
Rifqi memeluk Dafina dan menempelkan kepalanya di puncak kepala cewek itu. Bodo amat dengan orang-orang yang di sana menganggap mereka bagaima, yang terpenting mereka bahagia.
"Jangan tinggalkan gue, Kak," ucap Dafina.
"Iya sayang."
Pertama kalinya dari masa mereka pacaran, Rifqi baru memanggilnya 'sayang'. Rasanya begitu bahagia.
"Tadi kakak bilang apa?" Tanya Dafina.
"Apa?"
"Itu."
"Itu apa?" Tanya Rifqi.
"Gak jadi."
"Haha gue bercanda. Iya sayang." Rifqi mencium dahi Dafina.
Seandainya bisa seperti ini lebih lama lagi.
Seandainya tidak ada masalah besar yang memisahkan mereka.
➷➷➷➷
Mobil Rifqi berhenti di depan rumah Dafina. Benar ini moment Rifqi mengantarkan Dafina pulang walaupun ini bukan yang terakhir kalinya.
"Makasih ya, kak, atas hari ini," ucap Dafina.
"Sama-sama."
"Daf?"
"Ya?"
"Kalo suatu hari nanti gue pergi dari lo gimana?" Tanya Rifqi. Dafina menoleh ke arah Rifqi.
"Maksud kakak? Kenapa nanya begitu?"
"Gue mau ngomong ama lo, Daf."
"Apa kak?"
"I love u Dafina Destarihanifa."
➷➷➷➷
Dafina mengajarkan Rifqi di ruang OSIS setelah pulang sekolah. Berkali-kali Dafina terangkan dan contohkan, berkali-kali juga Rifqi tidak paham.
"Ishh lo suka merhatiin Pak Bambang gak sih di kelas?" Tanya Dafina greget.
Rifqi menggeleng, "Pak Bambang gak menarik jadi gue gak merhatiin deh. Kalau lu kan menarik jadi gue perhatiin."
"Receh dasar hahaha."
"Pacarnya romantis juga malah dibilang receh."
Dafina tidak merespons apa-apa. Dafina meletakkan buku-buku kembali ke dalam tasnya.
"Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan."
"Semua tak kan mampu mengubahku."
"Hanyalah kau yang ada di relungku."
Dafina melirik Rifqi yang bernyanyi sambil memetik gitarnya. Setelah selesai memasukkan barang-barangnya, Dafina memperhatikan Rifqi bernyanyi.
"Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta~"
"Kau bukan hanya sekedar indah~"
"Kau tak kan terganti~"
"Gimana?" Rifqi menanyakan pendapat Dafina.
"Jelek."
"Sesekali buat gue baper bukan gue terus yang buat lo baper," cibir Rifqi.
"Hahaha gue bercanda. Bagus banget sumpah," puji Dafina.
"Maksud gue gitarnya bagus banget hahahaha," lanjut Dafina disusul tawanya. Ia segera pergi membawa tasnya sebelum Rifqi mengejarnya.
➷➷➷➷
**Makasih banyak yg udah setia dgn cerita aku yg ini 😭❤️❤️
Makasih banyak tetap baca cerita aku walaupun updatenya lama hehehe
With love,
❤️ Dafina Destarihanifa ❤️**