SEBANGKU

SEBANGKU
8



"Tumben rapi dek" tanya Jaehyun heran melihat penampilan Dara yang dibilang rapi dari biasanya.


"Kayak gak pernah SMA aja lo Jae huu.." celoteh Doyoung sambil melemparkan kulit kacang pada Jaehyun.


"Ya gak usah maen lempar juga kali bang" protes Jaehyun kesal.


"Diajak Renjun jalan kak" jawab Dara malas.


"Uhuk...uhuk...uhuk" Doyoung dan Renjun tersedak bebarengan membuat Dara kebingungan lalu ia langsung menepuk-nepuk punggung keduanya.


"Biasa aja kali kak gak usah lebay sampek keselek" omel Dara masih menepuk-nepuk punggung keduanya.


"Bukannya lebay dek, tapi kaget aja soalnya aw... sakit bambank!" teriak Jaehyun saat tiba-tiba Doyoung menoyor kepala Jaehyun.


"Kenapa?" tanya Dara.


"Soalnya... soalnya Renjun bilang katanya dia ada les basket nah iya les basket ya gak Jaehyun?" kata Doyoung dengan terbata-bata dan melirik Jaehyun tajam.


"Iya dek nah itu maksud kakak" ujar Jaehyun membalas lirikan tajam dari Doyoung.


"Lha terus tadi ngapain kak Doyoung noyor kak Jaehyun?" tanya lagi Dara.


"Balas dendam dek, semalem si Jaehyun pas tidur ngigo sampek noyor kepala kakak" jelas Doyoung asal.


Jaehyun yang mendengar hendak menyangkal namun, lagi-lagi dia mendapat lirikan tajam dari Doyoung.


"Oh... ya udah kalo gitu Dara pamit dulu dah kakak-kakakku" pamit Dara sambil melambaikan tangannya pada kedua kakaknya.


"Itu mulut gak pernah diberi tata tertib?"


"Mana bisa lah bang lo kira lalu lintas apa!"


"Maksud gue jangan sampek keceplosan Jaehyun Sudirman!"


"Tadi kebablasan Doyoung Sudirman!"


"Kok lo nyolot!"


"Lo duluan bang"


"Lo!"


"Lo!"


Tiba-tiba Melati datang membawa sapu dari arah belakang mereka. Jaehyun yang menyadari kehadiran Melati pun terdiam dan menundukkan kepalanya dalam-dalam hal itu membuat Doyoung tertawa dan mengejek Jaehyun.


"Ngapain lo? takut? Payah lo!" ujar Doyoung sambil tertawa.


"Siapa yang takut hah? Siapa?" Bentak Melati sambil menjewer telinga keduanya.


Mereka berdua berteriak dan meminta ampun. Namun, hal itu malah membuat Melati semakin geram kepada mereka berdua.


"KALIAN BERDUA BERSIHIN RUMAH SELAMA 24 JAM!"


"Iya ma" jawab mereka berdua dengan kompak walaupun masih menggerutu kesal.


Melati yang melihat kelakuan kedua putranya pun hanya mengelus dadanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Astaga dulu gue ngidam apaan coba. Semoga aja gak darah tinggi" ucapnya.


***


"Cantik banget lo Ra" ujar Renjun dengang menatap Dara yang berdiri didepannya.


"Karena gue cewek. Udahlah ayo buruan gue gak mau lama-lama berdiri" jawab Dara dengan nada dingin.


Renjun pun mengangguk dan menyuruh Dara menaiki motor maticnya. Renjun memang anaknya seorang artis tapi, dia tidak mau menggunakan barang-barang mewah atau branded karena menurutnya artis itu juga manusia biasa gak perlu punya barang buat menampakkan dirinya artis.


Renjun mulai menyalakan motornya, tak berapa lama motor maticnya pun mulai berjalan meninggalkan pekarangan rumah Dara.


Diperjalanan mereka hanya diam tak ada yang mau membuka percakapan. Hal itu membuat rasa canggung keduanya.


"Ehem" Renjun berdehem memecahkan keheningan ini.


"Dara" panggil Renjun sambil melihat Dara dari kaca spion.


"Apa" jawab Dara.


"Mau kemana ini?" tanya Renjun.


"Lo ngajak gue gaada tujuan?" tanya balik Dara sambil mengerutkan keningnya.


"Ada sih, tapi gue takut lo gak suka" jawab Renjun dengan ragu-ragu.


Dara menghembuskan napas kasarnya.


"Emangnya kemana sih Jun?" tanya Dara dengan penuh kesabara.


"Ke kafe gue Ra. Lo mau kan? Gak jauh juga kok" jawab Renjun.


"Lo punya kafe sendiri?" tanya Dara dengan selidik karena ia tak percaya.


"Iya, jangan bilang ke siapa-siapa ya" ujar Renjun dengan sedikit memohon pada Dara.


"Iya iya" jawab Dara dengan malas.


Tak beberapa lama diperjalanan pun akhirnya mereka sampai di kafe milik Renjun. Dara turun dari motor matic Renjun dan membuka helmnya lalu memberikan pada Renjun.


"Yuk masuk" ajak Renjun sambil menggandeng tangan Dara.


Dara yang menyadari kelakuan Renjun pun gugup begitu pun dengan Renjun mereka langsung melepaskan tautan dari tangannya.


"Ma..maaf reflek" ucap Renjun sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Dara hanya mengangguk gugup.


"Selamat datang Mas Renjun" sapa pegawai kafe tersebut dengan ramah.


"Bisa aja lo Bang" jawab Renjun dengan tersenyum kikuk dan melanjutkan jalannya menuju meja yang kosong.


"Mau pesen apa Ra gak usah bayar gratis buat lo" tawar Renjun.


"Eum.. yang adem dan bikin seger tapi gak berbau susu" jawab Dara.


"Bentar ya tunggu jangan kemana-mana" ujar Renjun seraya meninggalkan Dara.


Dara menikmati suasana di kafe Renjun yang lumayan besar. Tanpa sengaja Dara melihat ada panggung kecil disisi sebelah kanan dilengkapi beberapa alat musik.


"Pasti itu tempat Renjun manggung" ucap Dara pada dirinya sendiri.


"Woy ngelamun aja liatin apaan?" tanya Renjun menganggetkan Dara.


"Itu tempat lo manggung?" tanya balik Dara pada Renjun.


Kemudian Renjun meletakkan minuman 2 gelas keatas meja lalu dia duduk didepan Dara yang dibatasi oleh meja.


"Iya, kenapa? Lo mau lihat gue nyanyi?" jawab Renjun.


"Gak" ucap Dara sambil menyeruput minumannya.


"Enak gak Ra? Gue loh yang meraciknya" kata Renjun dengan percaya diri.


"Lumayan enak, ada rasa mangganya, apel, nanas, jeruknya" ucap Dara menyeruput kembali minumannya.


"Iya, itu adalah minuman yang terfavorit disini. Kebetulan gue juga suka bereksperimen dengan mencampurkan beberapa rasa buah-buahan gitu. By the way itu ada tehnya juga loh" jelas Renjun pada Dara.


"Ini kafe lo sendiri? Maksudnya lo mendirikan kafe ini?" tanya Dara pada Renjun.


Renjun nampak berpikir sejenak.


"Iya, ini kafe gue sendiri yang gue dirikan dari hasil kerja keras gue sebagai artis jadi bukan hasil kerja uang dari nyokap. Kenapa? Jelek ya?" jelas Renjun dengan sedikit ragu.


"Gak kok gak jelek. Lo artis juga? Kirain cuma nyokap lo aja" ujar Dara.


Renjun tersenyum kikuk kembali mendengar ucapan dari Dara.


"Bentar ya Ra" ijin Renjun pada Dara yang diangguki oleh Dara.


Ternyata Renjun berjalan kearah panggung kecil tersebut. Renjun mengambil gitar dan duduk dikursi yang telah disediakan serta memulai memetik gitar tersebut.


Pengunjung kafe yang lain langsung memusatkan perhatiannya kepada Renjun.


"Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita


Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp


Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak


Barang sejenak agar aku bisa menikmati tawamu


Inginku berdiri di sebelahmu menggenggam erat jari-jarimu


Mendengarkan lagu Sheila on 7 seperti waktu itu


Saat kau di sisiku


Dan tunggulah aku di sana memecahkan celengan rinduku


Berboncengan denganmu mengelilingi kota


Menikmati surya perlahan menghilang


Hingga kejamnya waktu menarik paksa kau dari pelukku


Lalu kita kembali menabung rasa rindu


Saling mengirim doa, sampai nanti, Sayangku


Jangan matikan HP-mu


Kau tahu aku benci khawatir saat kau tak mengabari


Aku tak suka bertanya-tanya


Ingin kubakar dia yang sering mention-mention-an denganmu di Twitter


Namun kau selalu meyakinkanku 'tuk tumbuhkan percaya


Bukan rasa curiga


Dan tunggulah aku di sana memecahkan celengan rinduku


Berboncengan denganmu mengelilingi kota


Menikmati surya perlahan menghilang


Hingga kejamnya waktu menarik paksa kau dari pelukku


Lalu kita kembali menabung rasa rindu


Saling mengirim doa, sampai nanti, Sayangku"


Renjun langsung bernyanyi dan para pengunjung langsung memberi tepuk tangan. Dara juga memberi tepuk tangan yang meriah untuk Renjun.


Renjun mengucapkan terima kasih dan membungkukkan badannya berkali-kali.


Mereka tak menyadari jika salah satu dari mereka ada yang menguntit Renjun tapi Renjun tak menyadarinya.


"Masih belum saatnya harus ekstra sabar" katanya sambil meninggalkan kafe Renjun.


Kira-kira siapa orang itu ya? Gak capek nguntit terus? Penasaran? Ikuti terus ceritanya dan jangan lupa tinggalkan jejak ^^