SEBANGKU

SEBANGKU
21



Renjun berjalan menuju tempat latihan koreografi sebab hari ini adalah jadwal kegiatan pertamanya yang lumayan padat. Beberapa kali Renjun disapa oleh para staf yang kebetulan sedang lewat, Renjun hanya tersenyum simpul menanggapi sapaan dari para staf. Memakai pants berwarna hitam, kaos polos berwarna putih, serta sneakers paduan warna hitam dan putih.


Ia berjalan mengikuti Bagas si asisten barunya dari belakang.


“Kamu nanti disana dengan Mas Jo pelatih barumu” Ujar Bagas dengan sibuk membaca jadwal yang tertera dalam format file pada iPadnya.


“Hmm..” Renjun hanya berdehem dibelakang Bagas.


Kemudian Bagas berhenti pada sebuah pintu dan ia membukanya lalu masuk diikuti oleh Renjun dibelakangnya. Disana berdiri seorang laki-laki memakai pakaian olahraga lengkap dengan topinya.


“Renjun dia adalah Mas Jo seperti yang kubilang tadi dia adalah pelatih barumu” ucap Bagas memperkenalkan Mas Jo pada Renjun.


“Apakah dia ada masalah? Kenapa dia tak membalikkan tubuhnya kearah sini?” tanya Renjun.


“Dia memang sedikit misterius tapi percayalah, dia orang yang hebat. Baiklah saya akan meninggalkan kalian semoga bisa bekerja sama” jelas Bagas sambil berlalu meninggalkan Renjun dan Mas Jo.


Renjun bingung dan canggung untuk menyapa atau sekedar basa-basi dengan Mas Jo. Dengan tekad yang kuat akhirnya, ia memberanikan diri untuk menghampiri Mas Jo yang masih tak membalikkan tubuhnya.


“Permisi” ucap Renjun dengan canggung.


Mas Jo itu pun membalikkan tubuhnya dan menatap Renjun.


1


2


3


“Huwaaa bang Taeyong, gue pengen pulang gak mau disini bang” rengek Renjun tiba-tiba.


“Jangan manja gue jijik elah. Disini panggil gue Mas Jo jangan bang Taeyong oke?” ujar Mas Jo atau Taeyong.


“Lha abang sendiri ngapain disini?” tanya Renjun heran.


“Ssssttss.. Kapan- kapan gue jelasin dan jangan banyak protes oke? Karena panjang banget ceritanya” jawabnya dengan tegas.


“Iya bang eh Mas Jo” ucap Renjun dengan patuh.


Cukup diketahui, Mas Jo atau Taeyong adalah kakak sepupu Renjun yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.


“Sekarang lo harus ikutin dan patuh pada semua perintah dan larangan dari gue” ucap Taeyong.


“Yaelah bang udah kayak peraturan presiden aja” celoteh Renjun.


“Lo mau keluar dari sini kagak? Lo tau gue ngerelain gelar sarjana gue dipending jadi tahun depan”


“Gue kan gak nyuruh”


“Udahlah Ren, sekarang lo patuhi aja gue capek punya urusan sama Hina dan Jaemin”


“Jadi abang..”


“Udah jangan banyak omong”


Renjun kemudian terdiam dan mengikuti semua arahan dari Taeyong.


***


“Min gue laper”


“Laper ya makan jangan ngomong”


Mereka bertiga yakni, Jaemin, Hina, dan Dara sedang dalam kantor Jaemin untuk merundingkan rencana yang mereka buat setelah ini. Diatas meja sudah banyak tumpukkan kertas baik kertas kosong maupun kertas yang berisi laporan dan jangan lupa makanan serta minuman yang sudah habis.


“Lo udah ngabisin makanan kita dan lo masih laper dasar perut gentong” omel Dara pada Hina.


Hina malah menyengir tak berdosa pada Dara.


“Udahlah sekarang kita balik kerencana jangan debat” protes Jaemin.


Dara mengeluarkan beberapa lembar kertas dan menaruhnya diatas meja.


“Nah, ini udah ada buktinya sekarang tinggal kita jalankan eh jangan lupa kita copy dulu buat jaga-jaga” kata Jaemin menegaskan.


“Kita nerornya gimana nih?” tanya Hina.


“Tenang itu udah ada yang ngurusin” ucap Jaemin.


“Siapa?” tanya Dara dan Hina kompak.


“Mas DJ” Jawab Jaemin singkat dan keluar dari ruangannya menuju pada seorang sekretarisnya untuk mengcopy file-file penting.


“DJ siapa Ra?” tanya Hina bingung.


Tak lama kemudian Jaemin kembali dengan membawa seorang laki-laki yang lebih tua dari mereka bertiga. Dara dan Hina saling berpandangan bingung dan keduanya menatap Jaemin meminta penjelasan.


“Dia bang Taeyong saudara sepupunya Renjun dari dialah kita bisa menjalankan semua rencana ini” jelas Jaemin.


“Ganteng banget bang Taeyong, Ra” ujar Hina setengah berbisik pada Dara.


“Sebenernya gue ogah punya urusan sama kalian tapi, karena ada sangkut pautnya dengan Renjun akhirnya gue mau” protes Taeyong.


“Tenang aja nanti kita bayar” kata Jaemin enteng.


“Iya bang nanti dibayar” kata Dara angkat bicara.


“Terus mulai kapan ini?” tanya Taeyong.


“Besok, gue dapet info bahwa mereka memerlukan pelatih koreografi untuk Renjun dan lo bisa ngemanfaatkannya” jelas Jaemin pada Taeyong.


“Gitu doang?” kata Taeyong remeh.


“Itu hanya pengalih aja entar rencana yang pertama akan segera kita lakuin lo harus bisa buat mereka kerepotan dikit sedikit. Target kita adalah saat Renjun melakukan come back barulah kita akan menghancurkan secara besar-besaran sebab agensi itu sangat merugikan bagi sekitar bahkan berani untuk menggunakan bisnis ilegal” jelas Jaemin dengan tegas membuat Taeyong terdiam.


“Begitu kah? Baiklah gue mau” setuju Taeyong.


Mereka berempat sibuk dengan pekerjaan masing-masing hingga lupa waktu bahwa jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Hina telah ketiduran disofa Jaemin, Dara masih sibuk mengotak-ngatik komputer Jaemin, Taeyong sibuk dengan latihan koreografinya, sedangkan Jaemin bolak-balik mengcopy file-file penting serta pekerjaan dari perusahaannya juga.


“Udah malem kalian gak balik?” tanya Taeyong menghentikan aktifitasnya.


“Takut pulang malem bang, dan juga masih belum selesai” jawab Dara tanpa mengalihkan pandangannya kearah Taeyong.


“Gue nginep aja males pulang” ujar Hina sambil merapatkan selimutnya.


“Ya udah kalo gitu gue duluan ya soalnya gue besok udah harus cepet kesana pagi-pagi dadah” pamit Taeyong kepada keduanya.


“Ra gue tidur duluan ya” kata Hina.


“Iya” jawab Dara sambil menyeruput kopi yang sudah disediakan oleh Jaemin.


Jaemin menghampiri Dara.


“Ra, lo balik aja gue anterin gimana? Besok lo kan sekolah” ujar Jaemin dengan perhatian pada Dara.


“Iya juga ya besok gue sekolah tapi ini tinggal dikit lagi” jawab Dara menatap Jaemin.


“Udah tenang itu urusan gue yang penting lo sekarang pulang aja nanti gue anterin” kata Jaemin sedikit memaksa.


“Gak ngerepotin?” Dara memastikan.


“Gak lah ngapain ngerepotin mantan pacar, Cuma nganterin kerumah doang gak nganterin kepelaminan” ucap Jaemin.


“Terserah lo Jaem. Nih, udah selesai sekarang anterin gue pulang”


“Iya”


“Terus gimana nasib Hina?”


“Biarin, udah kebiasaan dia suka nginep disini dia udah bawa selimut sendiri juga”


“Jadi, selama ini lo...?”


“Apa? Lo cemburu? Kagak lah Ra, dia pertama kali nginep sendiri dan itu selimut yang dia pake emang punya dia. Udah bilang kegue kemaren”


“Idih amit-amit cemburu sama lo”


Keduanya pun menuju ketempat parkiran dimana mobil Jaemin terparkir disitu. Saat Jaemin membuka pintu mobil betapa kagetnya keduanya sebab Taeyong tertidur pulas disamping kemudi padahal tadi ia pamit pulang kerumah. Jaemin dengan geram membangunkan Taeyong yang sudah membuat pulau pada kursi mobilnya.


“Bangun!!” teriak Jaemin dengan keras membuat Taeyong terbangun dari tidurnya.


“Ngapain lo disini! Pulang sana!” usir Jaemin dengan marah.


“Gue gak bawa kendaraan dan gue gak bawa uang jadi anterin gue pulang sekalian” ucap Taeyong dengan enteng.


Jaemin mengelus dadanya dan mengucapkan pada dirinya dengan kata sabar berulang kali.


###


**YEAY UPDATE🎉🎉 SORRY KALO KELAMAAN SORRY BANGET YA:") ADA ALASAN UNTUK GAK UPDATE SOALNYA.


ADA YANG KANGEN GAK SAMA JAEMIN, DARA, DAN RENJUN?? ATAU KANGEN SAMA DJ ALIAS DOYOUNG JAEHYUN???


SO, STAY IN MY STORY WUHUUU** ^^