
"Baiklah pelajaran hari ini ibu akhiri. Selamat beristirahat"
Semua siswa dan siswi langsung berhamburan keluar dari kelas mereka untuk menuju kekantin. Tapi beberapa siswi ada yang langsung menuju bangku Dara tentunya untuk menemui Renjun.
"Renjun kantin yuk" ajak siswi yang bernama Vika.
Vika merupakan siswi yang terkenal akan kecentilannya.
"Gak deh" tolak Renjun dengan halus disertai senyuman yang terukir dibibirnya.
Vika nampak kesal oleh karena itu ia langsung merapat pada Renjun dan menempelkan dadanya yang sedikit besar pada lengan Renjun. Dara yang melihat hal itu otomatis ia jijik dan langsung menghentikan kegiatan Vika.
"Vik, lo pernah diajarin sopan santun gak?" tanya Dara sedikit sarkastik.
"Pernah lah kenapa? Lo mau les ke gue? Sorry gue gak buka jasa kayak gitu" jawab Vika dengan enteng belum sadar jika dia telah melakukan hal yang menjijikan.
"Bisa gak dada lo itu jauhin orang-orang liat jadi ilfeel" ujar Dara dengan nada dingin.
Vika langsung menghentikan kegiatannya sedangkan Dara masih duduk santai sambil menatap tajam kearah Vika.
"Dibayar berapa lo?" Dara langsung pada intinya dan membuat Vika sedikit kelabakan.
Renjun hanya diam tak berani berbicara karena takut pada Dara yang menurutnya menyeramkan jika marah.
"Maksud lo apa!" tekan Vika berusaha mengalihkan topik.
"Gak usah mengalihkan topik karena gue udah tau" Dara membalas perkataan Vika dengan santai tapi hal itu membuat Vika tertohok.
Brakkk
Vika menggebrak meja dengan keras.
"Lo gak usah sok campur ya Ra dasar lo ja*lang" kata Vika marah.
"Tak perlu memutar balikkan fakta yang penting mending lo sekarang urusin sekolah lo aja kan mau dikeluarin karena lo udah gak virgin" ujar Dara blak-blakan.
Vika yang mendengar perkataan dari Dara membelalakkan kedua matanya yang berkaca-kaca. Lalu dia keluar dari kelas.
Renjun yang sedari tadi menyimak hanya diam saja tak berkutik sedikit pun dan juga ia heran mengapa Dara tau semuanya.
"Lo dukun apa cenayang?" tanya Renjun dengan penuh hati-hati.
"Gue dukun nanti lo gue santet" jawab Dara dengan santai.
"Kok lo tau semuanya Ra? Kok bisa gitu loh bingung kan jadinya gue" ucap Renjun sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Nanti sepulang sekolah gue ceritain dan juga lo harus ikut gue lagi seperti kemarin" jelas Dara pada Renjun.
Renjun manggut-manggut tanda mengerti dan ia ingin bertanya lagi namun, tidak jadi karena pasti jawabannya sama.
"Ra kantin yuk" ajak Renjun yang akhirnya membuka suara.
"Gue bawa bekal lo aja yang kekantin" tolak Dara sambil mengambil bekalnya yang ada di dalam tas.
"Ya udah jangan kekantin" jawab Dara enteng seraya membuka tutup bekalnya dan menyendokkan satu suapan kedalam mulutnya.
"Tapi gue laper" kata Renjun dengan melas lagi.
Dara menghentikan aktivitasnya mengunyah makanan dan menoleh kearah Renjun.
"Nih, barengan sama gue aja" kata Dara sambil menyodorkan kotak bekalnya pada Renjun.
"Wah Ra enak banget makanan lo nyam...nyam.." celoteh Renjun disela-sela mengunyah makanannya.
"Bang Jaehyun yang masak" ujar Dara dan membuat Renjun tersedak seketika.
"Uhuk..uhuk.."
"Nih minum, makannya kalo makan hati-hati jangan serakah" omel Dara seraya menyodorkan minumnya pada Renjun yang sedang tersedak.
Dara menepuk-nepuk punggung Renjun.
"Yha, gue kaget dan gak percaya Ra" celoteh Renjun lagi.
Kemudian mereka berdua pun makan bersama hingga habis tak tersisa. Beberapa siswa atau siswi pasti menganggap mereka romantis atau sebagainya. Padahal mereka hanya dua manusia yang sedang kelaparan.
***
"Beneran akan lo gagalin semua rencana Manager Park? Dia itu orang yang licik" ucap seorang wanita muda berpakaian formal.
"Iya lah, ini demi Huang Renjun dan keluarga Huang juga jangan lupa dengan Dara" jawab laki-laki itu dengan tegas.
"Wah jadi lo berani nanggung resiko dong?" tanya wanita itu dengan penuh selidik.
"Yah, gimana lagi mau gak mau harus berani nanggung semua resiko. Gue juga ingin balas budi pada keluarga Huang" jawabnya dengan santai dan memejamkan matanya.
"Perbuatan lo emang baik gue salut sama lo yang rela ngepending untuk pergi ke luar negeri demi orang-orang yang lo sayang. Gak salah gue jika memilih lo" puji wanita itu sesekali menyeruput tehnya.
"Gue anggep itu pujian. Asal lo tahu aja usaha kita gak berhenti disini aja tapi kita harus lebih gencar untuk menurunkan jabatan Manager Park!" tegasnya.
"Ya, itu harus. Oh ya, bagaimana nasib paparazi kemarin?"
"Aman, gue udah tangani dia"
"Terus gimana dengan siswi bernama Vika itu?"
"Tenang, gue akan jadiin dia sebagai umpan untuk memancing Manager Park"
"Semoga berhasil Direktur Na"
###
Maaf update telat :" dan jangan lupa seperti biasanya tinggalkan jejak ^^