
"Wah gila ternyata Renjun ada udang dibalik batu"
"Sebegitu jahatnya dia sampek ngemanfaatin Dara"
"Gue harap Dara bisa nerima"
"Keterlaluan banget Renjun"
Dara yang mendengar obrolan dari teman-temannya mengerutkan keningnya kebingungan. Ada apa dengan Renjun? Dara pun mencoba menghampiri beberapa temannya dan bertanya pada teman-temannya.
"Kenapa?" tanya Dara.
"Lo harus hati-hati sama Renjun Ra, dia udah ngemanfaatin lo" jelas temannya.
Dara hanya ber-oh saja dan meninggalkan teman-temannya yang asik bergosip ria.
"Kok lo gitu sih Ra? Lo kan deket sama Renjun" tanya temannya kebingungan.
"Terlalu males gue ngeladenin berita yang simpang siur belum jelas kebenarannya" jawab Dara dingin.
Teman-temannya saling berpandangan lalu kembali bergosip ria entah apa yang digosipkan.
Tak beberapa kemudian Renjun datang dan membuat suasana kelas yang tadinya gaduh diam seketika melihat kedatangan Renjun.
"Loh kok diem?" tanya Renjun kebingungan dan terheran-heran.
Suasana kelas hening, Renjun pun berjalan kearah tempat duduknya kemudian bertanya pada Dara apa yang telah terjadi.
"Kenapa mereka?" tanya Renjun setengah berbisik.
Dara menoleh kearah Renjun dan menghembuskan napas pelan.
"Habis gosipin lo" jawab Dara dengan malas.
"Gue kenapa?" tanya Renjun sekali lagi.
"Katanya lo ngemanfaatin gue" jawab Dara.
Renjun yang mendengar pernyataan dari Dara itu pun merasa hatinya tertohok. Siapa yang menyebarkan berita-berita tidak benar itu? Cepat atau lambat dia harus menyelesaikan berita-berita bohong ini.
"Ikut gue sekarang" ucap Renjun dengan tegas dan bernada dingin.
"Gak, males" jawab Dara sambil memejamkan matanya.
"Dara! Ini ada sangkut pautnya sama lo! Lo mau diintai banyak paparazi dan selalu diikutin wartawan hah?!" kata Renjun penuh penekanan disetiap perkataannya dan masih dengan nada dinginnya.
"Iya gue ikut" jawab Dara.
Mereka berdua pun berdiri dan keluar meninggalkan kelas mereka yang kembali ramai.
"Gue yakin pasti Dara marah besar sama Renjun" ucap seorang siswi lain dan disetujui dengan anggukan teman-temannya.
Mereka berdua berjalan beriringan dengan sedikit tergesa-gesa mengacuhkan banyak pasang mata yang menatapnya terheran-heran.
"Mau kemana mereka?"
"Kencan mungkin"
"Kalian gatau? Kalo Dara kena masalah sama Renjun"
Begitulah obrolan yang sempat mereka dengar. Mereka menuju kearah parkiran, Renjun pun menghampiri motor maticnya yang terparkir disana.
Renjun menyerahkan helm pada Dara dan Dara langsung menerimanya serta memakainya. Begitu pun dengan Renjun juga mengenakan helm.
"Naik" ucap Renjun dingin.
Tanpa menjawab ucapan dari Renjun, Dara langsung menaiki motor Renjun. Renjun menyalakan kendaraannya dan menyalakannya.
"Gimana sekolahnya?" tanya Dara.
"Gue udah urus semuanya, kita punya cukup banyak waktu" ucap Renjun dingin.
Mereka melewati gerbang sekolah yang langsung dibuka oleh satpam yang menjaga sekolah.
"Hati-hati nak Renjun!" teriak satpam itu kemudian, ia kembali menutup gerbang sekolah.
***
"Pak, apa ini gak terlalu berlebihan?" tanya Bagas pada Manager Park.
"Lihat aja nanti dia juga akan kemari untuk meluruskan masalah yang kubuat ini" jawab enteng Manager Park.
Didepan kantor agensi tersebut sudah banyak wartawan yang menunggu penjelasan dari Manager Park tentang masalah ini.
"Pak Manager, Huang Renjun bersama perempuan itu telah datang" lapor seorang ajudan bertubuh kekar pada Manager Park.
"Baiklah" jawab Manager Park.
Manager Park segera keluar dari ruangannya dan menuju kearah Renjun yang sudah menahan emosinya.
"Maksud Manager itu apa! Mengapa menyebarkan berita bohong itu! Hingga melibatkan Dara!" bentak Renjun sambil melayangkan tinjuannya namun ditahan oleh Dara.
"Tenang jangan emosi Huang Renjun" jawab Manager Park dengan santai.
"Apa faedah bapak melibatkan saya? Apakah bapak punya keuntungan? Bapak perlu uang banyak?" ucap Dara memancing emosi Manager Park.
Namun, Manager Park tak semudah itu dipancing.
"Tidak juga, aku hanya ingin Huang Renjun kembali pada agensiku saja mudah bukan?" ujar Manager Park masih dengan nada santai.
"Bagaimana Huang Renjun? Kamu ingin kembali sebagai artisku atau memilih yang lain?" tanya Manager Park sedikit memancing emosi Renjun.
"Saya hanya ingin keluar dari agensi Manager Park!" tegas Renjun lalu meninggalkan agensi tersebut.
"Lelaki yang menarik. Tetap intai Huang Renjun dan perempuan itu" perintah Manager Park pada ajudannya.
"Dan kamu Bagas, tetap sebarkan semua berita bohong ini aku ingin bagaimana reaksi dari Huang Renjun kali ini. Dan juga suruh si pemalas itu untuk mengawasi keluarga Huang sebab mereka juga akan kulibatkan dalam skandal-skandal bohong" jelas Manager Park dengan seringainya.
"Baik pak!" tegas Bagas lalu meninggalkan Manager Park.
"Dengan begini aku bisa mempunyai banyak keuntungan dari menyebarkan berita-berita ini. Ryan! Cepat sediakan mobil untukku kita akan bersenang-senang hari ini"
"Baik Pak"
Jangan lupa tinggalkan jejak ^^