SEBANGKU

SEBANGKU
18



"Kak DJ nyebelin udah bikin Dara khawatir ih" gerutu Dara pada Doyoung dan Jaehyun namun yang digerutui malah terkekeh geli sebab menurutnya jika adiknya menggerutu sangat menggemaskan.


"Udah udah yok kakak anterin kesekolah siapa tau nanti kakakmu ini kecantol dedek gemes" ujar Doyoung tersenyum riang membayangkannya.


"Dih, suka sama dedek gemes" cibir Jaehyun.


"Daripada lo suka sama nuna-nuna" balas Doyoung tak mau kalah.


Dara sebal dengan perdebatan kedua kakaknya. Lekas dia pergi menghiraukan kedua kakaknya yang masih berdebat persoalan yang tidak jelas baginya.


Dasar childish lupa umur cibir Dara dalam hati.


Dara ingin menghentikan sebuah angkot yang lewat namun seseorang dalam sebuah mobil menyapanya dengan ramah.


"Pagi Dara" sapa orang itu yang tak lain adalah Jaemin.


Dara lagi-lagi masih kesal karena Jaemin mantannya.


"Apa?" tanya Dara dengan dingin.


"Bareng gue yuk" tawar Jaemin dengan sumringah.


"Ayok udah Ra gratis tau" kata Renjun yang tiba-tiba memunculkan kepalanya keluar jendela mobil Jaemin.


"Gimana mau gak? Lumayan loh daripada buang-buang uang" paksa Jaemin.


"Iya" jawab Dara akhirnya ia memasuki mobil Jaemin.


Dara duduk disamping kursi kemudi Jaemin.


"Minmin lo gak sekolah lagi?" tanya Renjun pada Jaemin.


Jaemin mendengus kesal sedikit frustasi mendengar namanya dipanggil seenaknya oleh Renjun padahal beberapa waktu yang lalu ia sudah menegaskan bahwa jangan memanggil namanya dengan sesuka hati.


"Jaemin bukan Minmin" tegas Jaemin.


"Panggilan kesayangan" ucap Renjun dengan muka diimut-imutkan.


Dara sedari tadi hanya diam memasang muka datar. Sebab, ia tahu bahwa Jaemin sengaja lewat depan rumahnya atau bahkan sengaja menjemputnya.


"Ra lo diem mulu sakit?" tanya Renjun.


Dara menggeleng.


"Gigi lo sakit?" tanya Jaemin.


Dara menggeleng lagi.


"Terus kenapa?" tanya mereka berdua.


Dara menghembuskan napas dengan kasar.


"Ada apa lo repot-repot jemput gue?" kata Dara dengan nada dingin dan sorot mata sendunya.


"Gue ada perlu dengan kalian berdua" ujar Jaemin dengan tegas.


Dara dan Renjun saling berpandangan serta mengangkat sebelah alis mereka masing-masing.


"Gue jemput kalian lagi sepulang sekolah jangan kemana-mana" sambungnya lagi.


Jaemin menghentikan kendaraan mobilnya tepat digerbang sekolah.


"Jangan lupa" tegasnya lagi.


"Iya" jawab mereka serempak lalu turun dari mobil Jaemin.


Dara dan Renjun berjalan seiringan, seperti biasanya mereka menjadi pusat perhatian siswa maupun siswi yang sedang berlalu lalang maupun yang sedang santai nongkrong-nongkrong didepan kelas.


"Ra, cepetin jalannya gue ngerasa gak enak" ujar Renjun sedikit khawatir.


Dara mempercepat jalannya dan benar apa yang dikatakan Renjun sebelum sampai dikelasnya segerombolan siswi langsung menghampiri keduanya. Hal itu membuat keduanya kuwalahan dan berusaha mencari jalan keluar agar terbebas dari siswi yang mengelilingi mereka berdua.


"Kak Renjun! Kak Dara!"


"Kak aku bawa bekal loh kita makan bareng yuk!"


"Kak minta foto mau cetak terus kujual!"


"Kak Renjun aku ngefans banget sama kakak!"


Begitulah celotehan dan teriakan dari siswi tersebut. Dara pusing mendengarnya begitu pun Renjun, dengan kesabaran yang sudah habis Dara ingin menghentikan kekacauan ini tapi bagaimana mungkin.


Dara menarik napasnya lalu mengeluarkan pelan-pelan.


"Kayak orang mau ngelahirin aja" celetuk Renjun membuat Dara emosi meningkat namun berhasil ia tahan.


Dara menatap tajam Renjun dan balik menatap sendu kerumunan siswi tersebut.


"Jadi cewek jangan bar-bar pernah diajarin sopan santun gak? Kalo kayak gini bisa ngakibatin orang bisa meninggal karena keinjek-injek" jelas Dara pada semua siswi tersebut.


"Iya kak, maaf lain kali kita gak gini. Ya udah yuk kita bubar kak Renjun juga masih sekolah disini kita masih bisa ketemu kan? Ayo bubar semua. Sekali lagi maafin kita ya kak" balas salah satu dari semua siswi tersebut dengan sopan.


Dara hanya tersenyum dan mengangguk begitu pun dengan Renjun. Akhirnya mereka bisa melanjutkan kembali untuk kekelas mereka.


"Wah Dara lo hebat bisa ngebubarin mereka semua" puji Renjun dengan mata berbinar-binar.


Dara diam lalu duduk dikursinya tanpa meletakkan tas punggungnya terlebih dahulu.


"Kok diem?" sambung Renjun lagi.


"Masalah?" ucap Dara dengan dingin.


"Apa salahnya berkata" ujar Renjun dengan muka memelas.


Dara diam memandang pintu kelas dengan pandangan yang kosong entah apa yang dipikirkannya.


"Jangan diem dong Ra" ujar Renjun mengguncang-ngguncang tubuh Dara.


"Entah apa yang merasukiku Renjun, gue banyak pikiran" balas Dara masih dengan pandangan kosong.


"Jangan melo-melo gini dong Ra" kata Renjun memandang Dara kasihan.


"Gue cuma gatau mau gimana lagi ngadepin ini semua" ucap Dara.


"Lo ada masalah?" tanya Renjun.


"Jika gue cerita ke lo pasti lo akan ikut kepikiran karena ini ada kaitannya dengan lo Huang Renjun" jawab Dara.


"Ada apa sama gue? Apa ini tentang agensinya Manager Park?" tanya lagi Renjun.


"Yah, begitulah dan juga ada lagi" kata Dara.


"Apa? Jangan buat teka-teki dong gue gak ahli" ucap Renjun asal hal itu membuat Dara semakin buruk suasana hatinya.


"Lo akan emosi Renjun" kali ini Dara menatap Renjun lekat-lekat dan menampakkan mata Dara yang berkaca-kaca ingin mengeluarkan air matanya.


"Jangan nangis entar disangka gue ngapa-ngapain lo" ujar Renjun.


"Gue gatau lagi gimana ngadepin ini semua. Cukup setahun aja gue sendiri tapi, kali ini jangan" balas Dara kali ini air matanya berhasil keluar.


Dara mengusap air matanya dengan kasar dan berusaha menahan tangisnya.


"Lo bener mau berhenti sekolah disini dan akan home schooling?" tanya Dara menatap Renjun dengan sendu.


Hati Renjun merasa tertohok, ia juga merasa perasaannya hancur mendengar pertanyaan dari Dara. Renjun bingung bagaimana menjelaskannya.


"Kata siapa?" tanya Renjun memastikan.


"Lo gak perlu tahu dari siapa gue tahu" jawab Dara masih menitikkan air matanya.


"Dara, dengerin gue jangan dengerin perkataan dari orang lain mereka itu bohong suka ngebuat-ngebuat cerita" jelas Renjun berusaha menutupi kebenarannya.


"Tapi itu emang bener! Cukup Jaemin yang nyakitin gue lo jangan!" tekan Dara pada Renjun.


Renjun semakin dibuat bingung dengan kelakuan Dara hari ini dan juga Renjun kesal karena Dara telah mengetahui bahwa ia akan keluar dari sekolah ini dan beralih home schooling. Pikiran Renjun langsung tertuju pada Manager Park pasti dia yang memberitahu Dara tentang ini semua.


"Renjun! Sekarang lo keluar dari kelas ini dan jangan harap lo bisa nemuin gue lagi lo terlalu banyak dusta" bentak Dara.


Renjun menatap Dara dengan tak percaya.


"Tapi Ra, baik gue akan keluar dari kelas begitu pun dengan keluar dari kelas ini cukup 5 bulan ini gue bisa ngabisin waktu sama lo bye Dara semoga lo gak sendiri lagi" ucap Renjun lalu berdiri, mengambil tasnya dan tak kembali.


Beruntung kelas masih sepi belum ada murid yang memasuki kelas kecuali Dara dan Renjun.


"Maafin gue Huang Renjun" lirih Dara lalu menangis dalam diam.


##


**masih pagi udah bikin suasana melo hadeh dasar si Dara kebanyakan nonton sinetron hmm...


HI JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK**^^