SEBANGKU

SEBANGKU
16



"Manager Park yang melakukan kak" kata seorang anak laki-laki dengan gemetaran.


"Si*alan be****h" umpat Renjun dan langsung menemui satpam yang ada dirumahnya.


Namun, satpamnya ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri hal itu membuat emosi Renjun memuncak. Ia kembali menemui keluarga yang sudah berada diruang tamu karena Dara yang menyuruh mereka masuk kedalam.


"Pak Panji pingsan" ujar Renjun.


"Ya dibawa kesini" kata Mira mamanya Renjun.


Renjun segera berlari menuju pos satpam lagi dan menggendong Pak Panji yang tak sadarkan diri dibantu oleh Jisung adiknya Renjun.


Renjun segera menaruh badan Pak Panji yang lumayan berisi pada sofa diruang tamu dan asisten rumah tangganya dengan segera juga mengambil minyak kayu putih untuk menyadarkan Pak Panji.


Dara dan Renjun khawatir, pikiran mereka kemana-mana takut terjadi hal yang tak diinginkan.


Akhirnya, Pak Panji pun sadar dari pingsannya dan Dara memberikan air putih padanya.


"Kenapa bisa terjadi seperti ini?" tanya Renjun sedikit frustasi.


"Karena gue gak ikut diikat biar gue aja yang jelasin" ucap Jisung.


*Flashback on


Seseorang berbadan tinggi dengan otot yang berisi datang dari arah belakang. Awalnya, mereka mengira bahwa itu adalah bibi Lina yang sedang membersihkan piring-piring yang ada didapur.


"Bibi ngapain teriak-teriak apa ada kecoak lagi atau tikus?" tanya Jisung pada dirinya sendiri.


"Ma, Pa, Bi kalian dimana?" teriak Jisung.


Dengan rasa penasaran yang tinggi Jisung kedapur untuk melihat keadaan dapur saja. Tapi, pintu dapur yang menuju kearah taman belakang itu terbuka hingga Jisung ingin menutupnya kembali.


Suatu hal terjadi pada mereka bertiga yang sudah terikat dan mulut mereka dilakban serta sosok orang bertubuh tinggi dengan otot berisi membentak-bentak mereka bertiga.


Jisung bersembunyi dibalik pintu dan menempelkan telinga kearah tembok agar mendengar ucapan darinya.


"Kalian tidak akan bisa lolos dari saya! Karena ulah anak kalian agensi kami merosot drastis! Kalian tidak tau apa yang saya rasakan! Sana sini hutang! Cukup kalian dengar saja bahwa Huang Renjun mau tidak mau harus kembali pada agensi kami dan menjadi artis kami dengan limit kontrak! Camkan itu!" jelas orang itu sambil membentak-bentak.


"Manager Park" gumam Jisung.


Setelah itu Jisung langsung berlari masuk kedalam kamar karena mendengar suara derap Manager Park yang masuk kedalam begitu pun suara langkah Renjun dan Dara.


Flashback off*


Renjun semakin geram tapi seketika ia ingat akan sesuatu.


"Sabar, sabar, besok gue bales ulah Manager Park" ujar Renjun.


Yui papanya Renjun langsung kesal akibat sikap anaknya.


"Kenapa kamu diem aja!" emosinya.


"Pa, Ma, Jisung ada es cendol tuh didapur sama sate mau gak?" Renjun malah menawarkan makanan dan minuman yang telah ia beli tadi.


Semua keluarganya langsung kesal kepada Renjun, seharusnya dia membela keluarganya atau marah pada Manager Park sedangkan dia malah sebaliknya.


"Kamu ini jadi anak seharusnya ngertiin perasaan orangtua lah ini malah sebaliknya kenapa kamu tambah kayak gini sih Renjun" omel Mira dan ia langsung mendapat rangkulan dari Yui suaminya.


"Sabar Ma sabar" ucapnya menenangkan sang istri.


"Ehem" Dara berdehem cukup keras membuat semuanya noleh kearah Dara.


"Oh kamu, Tante sampai lupa loh terima kasih udah nolong tante dan semuanya" ujarnya menghampiri Dara.


"Nama kamu siapa? Kamu keliatan akrab banget sama Renjun" katanya lagi kali ini sambil memegang pundak Dara.


"Dara tante saya teman sekelas dan sebangku Renjun" jawab Dara dengan sopan.


"Ehem ayo silahkan duduk dulu gak enak kalo berdiri ya kan?" ujar Yui menyuruh semuanya duduk.


"Renjun tolong bikinkan minuman" suruh Mira pada Renjun.


"Kenapa gak Bibi aja Ma? Kenapa bikin kan ada es cendol, kenapa gak nyuruh Jisung aja dia kan nganggur" bantah Renjun.


"Kamu jangan membantah Renjun kamu mau telinga kamu jadi telinga keledai gara-gara sering ngebantah orangtua?" ujar Mira pada Renjun yang langsung menuju kedapur.


"Sekali lagi terima kasih ya Dara" ucap Yui.


"Iya sama-sama om dan tante" jawab Dara dengan sopan.


"Orangtua kamu kerja apa Dara?" tanya Mira.


"Ibu saya pengusaha toko roti dan ayah saya sudah meninggal" jawab Dara sedikit ragu.


"Maaf mengingatkanmu kami sekeluarga turut berduka cita" ujar Mira.


"Ya, tidak apa-apa" jawab Dara dengan senyum yang dipaksakan.


"Dara, kakakmu itu yang bernama Doyoung dan Jaehyun bukan?" kali ini Yui membuka suaranya dengan nada menyelidik.


"Iya om kenapa?" jawab Dara.


Pantesan dirumah nganggur harus diaduin ke Mama batin Dara kesal.


"Iya om" jawab Dara.


Tak lama kemudian Renjun datang dengan membawa 7 gelas berisi es cendol dan menaruhnya diatas meja.


"Silahkan dinikmati nyonya dan tuan" ucap Renjun dengan nada dibuat-buat.


"Lo sakit bang?" tanya Jisung dingin.


Renjun hanya menggeleng dan duduk diantara Jisung dan Dara.


"Jangan mepet-mepet sama calon pacar gue lo" kata Renjun sok ketus pada Jisung.


Calon pacar? idih ogah batin Dara.


"Yeu, siapa juga yang mepet" ucap Jisung dan pindah dekat orangtuanya.


"Udah jangan debat malu sama Dara" lerai Mira.


Udah biasa Tante batinnya lagi.


Dara hanya diam melihat keluarga Huang yang hangat dengan anggota keluarga yang lengkap tidak seperti dirinya yang tinggal berempat saja tanpa kehadiran ayah. Dara meringis mengingat kenangan bersama ayahnya dulu.


Namun, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ada sebuah pesan masuk.


Kak Jaehyun


Cepet pulang toko roti mama kebakaran!


Setelah membaca pesan yang dikirim oleh Jaehyun air mata Dara menetes dan membuat semua orang menoleh kearahnya dengan khawatir.


"Kenapa Dara?" tanya Renjun dan Mira.


"Toko roti mama saya kebakaran tante" jawab Dara dengan lirih.


Yui yang mendengarnya pun langsung berdiri.


"Mau kemana Pa?" tanya semuanya kecuali Dara.


"Ambil mobil digarasi dan kita semua akan kesana" jawabnya dengan tergesa-gesa.


Dara merasa tak enak dengan sikap yang baginya terlalu berlebihan.


"Maaf tante, Dara ngerepotin" ucap Dara dengan mata berkaca-kaca.


Mira langsung memeluk Dara dengan erat dan mengelus punggung Dara.


"Gak kok, ayo kita keluar" ujar Mira.


Mobil sudah terparkir didepan rumah dan Yui menyuruh mereka masuk kedalam mobil. Dengan segera Dara menunjukkan alamat toko roti mamanya dan Yui langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.


Tak lama kemudian telah sampailah mereka pada tujuannya yang disana telah menampakkan toko roti mamanya yang hangus terbakar.


Dara segera keluar dan menghampiri mamanya yang masih shok berat.


"Mama!" teriak Dara dengan air mata yang masih mengalir deras.


"Ma mama gak apa-apa kan?" tanya Dara cemas.


"Mama gak apa-apa beruntung tadi mama udah ngambil uang mama dan kita bisa membangun lagi dari nol Dara" ucap Melati sambil mengelus punggung Dara.


"Dimana kakak-kakak?" tanya Dara.


"Mereka masih ada didalam semoga mereka bisa terselamatkan" lirih Melati sambil menangis sesenggukan.


Dara yang mendengarnya langsung pingsan dalam dekapan mamanya. Membuat semuanya bingung.


"Loh Dara kenapa pingsan?" tanya Doyoung dan Jaehyun bebarengan.


"DJ!" teriak Melati senang melihat kedua anaknya kembali dengan selamat.


"Katanya kamu ada didalam?" tanya Melati.


"Kata siapa? Orang tadi kita berdua lagi nyari bantuan buat madamin api" ucap Jaehyun dan diangguki oleh Doyoung.


"Kata orang tadi" ujar Melati sedikit bingung.


"Ya udah sekarang kita bawa kerumah biar Doyoung yang ngurus masalah ini. Eh ada Renjun" kata Doyoung.


"Ya udah kita bawa pulang Dara saja dan kamu Renjun temani Doyoung" ujar Yui.


##


**DJ \= Doyoung Jaehyun (biar mudah manggil mereka berdua)


Jangan lupa tinggalkan jejak**^^