SEBANGKU

SEBANGKU
17



Dara membuka matanya pelan-pelan.


"Dara akhirnya kamu sadar juga nak" ujar Melati sambil memeluk tubuh Dara.


"Syukur kalau sudah sadar, nih minum dulu" kata Mira menyodorkan segelas air putih pada Dara.


Dara mengambil segelas air putih tersebut dan meneguknya hingga tandas. Dan menaruhnya pada meja kembali.


"Dimana kak Doyoung dan kak Jaehyun?" tanya Dara.


"Kamu ini baru aja sadar langsung nanyain DJ kamu gak tau tadi mama khawatir sama kamu Dara" omel Melati pada anak perempuan satu-satunya.


"Tadi kan kata mama mereka berdua lagi didalam toko roti mama" balas Dara tak mau kalah.


"Kakakmu Jaehyun dia lagi diluar sama Om Yui dan Doyoung, dia berada di toko roti milik mamamu sama Renjun" jelas Mira dan disetujui oleh Melati dengan anggukan.


"Kirain Dara..." ucapan Dara terpotong.


"Hayo kirain kenapa hayo?" kata Doyoung menggoda adik perempuannya itu.


Dara langsung berjingkat dari duduknya dan menghampiri Doyoung langsung memeluk kakaknya dengan erat.


"Dara khawatir sama kak Doyoung" ucap Dara lirih.


Doyoung membalas pelukkan dari Dara dan mengelus pelan rambut adiknya tersebut.


"Kakak gak apa-apa udah jangan sedih, kalo sedih nanti jelek loh" ujar Doyoung sedikit menghibur Dara tapi Dara menanggapinya dengan mencubit pinggang Doyoung membuatnya merintih kesakitan.


"Oh jadi kak Jaehyun gak dipeluk juga?" cibir Jaehyun yang berdiri dibelakang Doyoung.


Dara tersenyum dan langsung memeluk Doyoung dan Jaehyun bebarengan.


"Huwaaa Dara khawatir sama kalian berdua" ujar Dara memeluk erat kedua kakaknya sambil menangis.


"Udah-udah jangan mewek gini malu dilihatnya. Dan lepasin gak bisa napas nih" gerutu Jaehyun.


Dara mengelap air matanya dengan punggung tangannya dan melepas pelukkannya. Ia hanya tersenyum tanpa dosa menanggapi gerutuan Jaehyun.


"Terus gimana nasib toko roti mama?" tanya Dara beralih menatap sendu Melati.


"Mama bisa menjualnya dengan delivery dan mama bisa mempromosikan lewat media online" ujar Melati pada Dara walau ada perasaan kecewa.


"Jika diizinkan saya bisa membantu pekerjaan bu Melati itung-itung biar ada kerjaan saya" tawar Mira.


"Waduh, saya gak enak masa iya keluarga Huang membantu saya" tolak halus Melati dengan rasa sungkan.


"Tidak apa-apa bu Melati nanti jika usahanya tambah maju kan bisa bangun kembali toko roti" kali ini Yui berujar.


Melati sekeluarga merasa tak enak hati mendengar tawaran yang diberikan dari keluarga Huang.


"Gak usah repot-repot bu Mira dan pak Yui" ujar Doyoung sopan.


"Gak apa-apa bang" jawab Renjun dengan tersenyum tulus.


"Iya deh boleh" kata Melati akhirnya menerima tawaran yang diberikan.


"Jadi, mulai kapan? Besok? Masalah bahan-bahan yang dibutuhkan itu urusan saya" kata Mira dengan penuh semangat.


"Iya deh" jawab Melati dengan malu-malu kucing dan hal itu membuat semuanya tertawa melihatnya.


***


Disebuah ruangan berdirilah seorang Manager Park dengan Bagas yang sedang bingung mondar-mandir.


"Pak, benar ini gak akan ketahuan?" tanya Bagas dengan penuh rasa khawatir.


"Kamu santai saja, kita sudah membersihkan semuanya dan tak ada satu pun yang tau Bagas" jawab Manager Park dengan penuh kepuasan.


Sebenarnya Bagas ingin menyampaikan hal yang berkaitan dengan ulah mereka beberapa jam yang lalu tapi, ia terlalu takut dan enggan menyampaikannya pada Manager Park.


Bagas duduk disamping Manager Park dan segera meneguk minuman yang tadi dituangkan kedalam gelasnya hingga tandas tak bersisa. Sedangkan Manager Park langsung meminum minuman itu dari langsung dari botolnya tidak dituangkan terlebih dahulu kedalam kelas.


Seorang bertubuh besar memasuki ruangan Manager Park dan Bagas yang ada didalam tanpa mengucapkan permisi.


"Kamu gak punya sopan santun!" bentak Manager Park dengan suara sarkastik.


"Maaf pak manager, diluar ada kekacauan" ujar orang itu.


Manager Park langsung membanting minuman yang dipegangnya hingga pecah berkeping-keping. Ia langsung berdiri dan segera keluar dari ruangannya diikuti oleh Bagas dan orang itu.


Benar adanya ternyata, didepan gedung ini telah terjadi kekacauan hingga staf-staf kuwalahan menghentikan kekacauan yang terjadi.


Manager Park langsung menghampirinya dengan marah besar.


"Apa yang terjadi!" teriaknya dengan tegas dan penuh tekanan disetiap katanya.


"Kami menuntut agensi ini agar ditutup karena agensi ini keras dalam sistem kerjanya! Kalian hanya memanfaatkan ketenaran dari kami yang membuahkan hasil uang yang banyak!" balas seorang perempuan yang memakai masker hitam dan membawa sebuah pengeras suara.


Manager Park merasa mengenali suara perempuan tersebut.


"Mana buktinya!" bentak Manager Park dengan nada tinggi.


Perempuan bermasker hitam tersebut langsung menunjukkan kertas-kertas yang didalamnya menunjukkan berbagai laporan serta fakta dari agensi Manager Park.


"Ini adalah bukti dari kotornya agensi Anda!" teriak perempuan bermasker hitam tersebut menggunakan pengeras suara.


"Tapi itu bisa dimanipulasi" ujar Manager Park tak mau kalah.


"Pak sepertinya Anda harus segera pergi karena dia ingin benar-benar menjatuhkan Anda, dan sebentar lagi mungkin para wartawan akan datang" bisik Bagas pada Manager Park.


Manager Park menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Heh, cepat bereskan semua ini saya gak mau ada kekacauan hingga mengundang wartawan" perintah Manager Park pada salah satu ajudannya.


"Siap pak!" jawab ajudannya.


Ajudannya segera mengusir mereka yang mengadakan kekacauan diluar gedung. Dengan sekali bentakkan akhirnya para pengacau pun membubarkan dirinya masing-masing walau ada yang mengumpat kekesalannya.


"Jaemin!" teriak perempuan bermasker hitam itu setelah mengetahui Jaemin yang sedang duduk-duduk dibangku taman sambil meminum soda.


Jaemin yang merasa terpanggil pun menoleh kearah perempuan bermasker hitam tersebut dan tersenyum.


"Gimana?" tanya Jaemin.


"Dibubarin sama ajudannya kayaknya dia takut kalau gue ngundang wartawan" jawab perempuan bermasker hitam itu.


"Yha, dia kan takut agensinya menurun walau yah sekarang memang lagi menurun" ujar Jaemin.


"Tapi, gue belum puas soalnya sakit hati gue 2 tahun yang lalu belum terbalaskan" katanya.


"Kita akan segera membalasnya dan lo masih inget Huang Renjun gak?" kata Jaemin.


Perempuan itu berusaha mengingat-ngingat Huang Renjun.


"Oh Huang Renjun, iya iya gue tau kenapa dia? Ada masalah sama manager materialistik itu?" sahutnya.


"Ya, begitulah" kata Jaemin meminum sodanya.


"Wah, gimana kalo kita ajak dia" ucapnya dengan semangat.


"Dia udah bertindak duluan tapi lebih baik kita gencarkan lagi supaya agensi itu lebih menurun tajam dan bisa diadukan pada pihak yang berwajib" jelas Jaemin.


"Gue setuju dan gak sabar lagi bermain-main dengan manager materialistik itu" seringai perempuan itu dan berharap besar pada rencananya.


##


Jangan lupa tinggalkan jejak^^