SEBANGKU

SEBANGKU
1



Seorang gadis dengan seragam sekolahnya yang kumal karena keringat nampak tergesa-gesa. Rupanya dia menghindari Renjun yang sejak tadi mengikutinya dari belakang.


"Lo ngapain ngikutin gue?" ucap gadis tersebut sedikit kesal dan menghentikan berjalannya yang tergesa-gesa.


"Gue laper bisa minta tolong anterin ke kantin?" balas Renjun dengan nada yang memelas.


Gadis tersebut memutar bola matanya dengan malas dan menghampiri Renjun yang masih berdiri tak jauh darinya.


"Ayo" kata gadis itu dengan dingin.


Mereka berjalan beriringan membuat beberapa siswi iri ada juga yang seenaknya mencemoohnya dengan pedas. Tapi, gadis itu menanggapinya santai seperti tak terjadi apa-apa.


"Lo gak capek denger mereka?" tanya Renjun.


"Gak, nanti juga berhenti sendiri kalo udah capek" jawab gadis tersebut dengan sedikit jengah.


Sebenarnya dia ogah-ogahan mengantarkan Renjun kekantin karena disana pasti ramai dan harus mengantri terlebih dahulu dan itu membuatnya tidak sabaran.


"Dari tadi belum kenalan. Gue Renjun" ucap Renjun disertai uluran tangannya pada gadis itu.


"Dara" jawab gadis itu yang diketahui bernama Dara tanpa menerima uluran tangan Renjun.


Mereka saat ini melewati koridor kelas 12 yang terkenal akan kumpulan geng kakak kelas. Banyak kursi dan meja yang terjajar disitu dan ditempati oleh anggota geng tersebut.


"Anak baru ya?" ucap salah satu dari mereka sambil menepuk bahu Renjun.


Renjun menjadi tersentak karena kaget dan juga sedikit takut namun berbeda dengan Dara yang lebih santai. Renjun sudah mulai mengeluarkan keringatnya hingga membasahi wajahnya.


"Yha, gitu doang udah keringetan cupu lo" kata mereka diiringi gelak tawa yang menggelegar dari mereka.


"Dia pacar lo Ra?" tanya salah satu mereka yang tak lain adalah ketua gengnya.


Dara yang merasa diajak bicara pun segera meraih pergelangan Renjun dan segera menuju ke kantin. Namun, mereka tak lagi bisa untuk pergi kekantin karena dihadang oleh geng tersebut.


"Eh mau kemana?" ucapnya.


Renjun gemetaran sedangkan Dara masih diam terlihat santai menanggapi keadaan saat ini, seolah-olah sudah sering baginya.


"Minggir" ucap Dara dengan nada yang terkesan dingin.


Dara semakin malas dan jengah untuk hari ini sebab, hari ini terlalu banyak hal yang merepotkannya. Renjun mulai tak gemetaran dan masih terdiam kaku layaknya patung manekin didepan butik baju.


"Terserah lo" ketus Dara dan langsung melenggang pergi dari tempat itu.


Mereka sudah tak dihadang lagi jadi, mereka langsung bergegas pergi dan menuju pergi kekantin. Keadaan kantin menjadi riuh karena kedatangan Renjun dengan seketika Renjun sudah dikelilingi oleh belasan siswi yang berada dikantin.


"Dara tolongin gue!" teriak Renjun pada Dara.


Dengan malas dan ogah-ogahan tentunya Dara langsung membawa pergi Renjun ketempat yang lebih aman dari sekumpulan para siswi.


Mereka masih dibuntuti oleh belasan siswi yang memanggil-manggil nama Renjun berharap Renjun berhenti dan merespontnya. Akhirnya mau tak mau Dara dan Renjun berlari agar terjauhi dari siswi-siswi itu.


"Aa' Renjun berhenti!"


"Dek Renjun!!"


"Mas Renjun!!"


Semakin lama semakin banyak juga yang mengikutinya. Keringat mulai mengucur deras membasahi tubuh mereka berdua karena kebanyakan lari.


"Kita...mau....kemana....hosh...ini...hossh..Ra?" tanya Renjun dengan napas yang tersenggal-senggal.


"Ke rooftop, nanti kita belok kekanan" jawab Dara dengan tegas.


Mereka semakin mempercepat lari mereka dan belok kekanan untuk pergi ke rooftop. Akhirnya tempat yang mereka tuju sampai juga.


Mereka berdua berhenti dan duduk serta mengatur napas mereka.


"Thanks Ra udah nyelametin gue dari cewek-cewek tadi" kata Renjun kepada Dara sambil memejamkan matanya menikmati semilir angin.


"Gak masalah asal lo nanti mau ikut gue" jawab Dara dengan menatap langit biru.


"Kemana?" tanya Renjun pada Dara dengan menatap Dara curiga.


"Nanti lo juga tau sendiri" jawab Dara dengan santai.