SEBANGKU

SEBANGKU
22



Dara berlari dengan kencang membawa buku-buku ditangannya serta tas yang terbuka dan juga sepatu sebelahan, hal itu membuat banyak pasang mata yang melihatnya dengan aneh bahkan ada yang tak segan menertawakannya.


"Huh...huh.. capek juga lari" keluh Dara saat sudah berada dalam kelasnya.


"Dara lo kesambet apaan? Sepatu lo sebelahan" ujar Lindu mengingatkan Dara yang masih terengah-engah.


Dara yang tak menyadarinya langsung melihat kearah sepatu yang ia pakai dan benar apa kata Lindu bahwa sepatu sebelah kanan berwarna putih sedangkan sebelah kiri adalah warna kuning kunyit. Dara menepuk jidatnya dan mengumpat kesal.


"Thanks udah ngingetin tapi ini gue gimana dong?" tanya Dara bingung.


"Yoi, gini aja Ra lo pake sandal gue aja terus nanti kalo ditanya kenapa make sandal jawab aja kalo kaki lo tadi keseleo" tutur Lindu pada Dara.


Dara manggut-manggut tanda mengerti.


"Mana sandalnya?" tanya Dara.


"Bentar gue ambilin tunggu sini" kata Lindu meninggalkan Dara yang sedang menata buku dan melepas sepatu yang ia pakai.


"Nih pake aja" ujar Lindu menyodorkan sandal japitnya pada Dara.


Dara mengambil dari sodoran tangan Lindu lalu ia memakainya.


"Gue pinjem dulu ya" kata Dara pada Lindu dengan tersenyum.


"Yoi, eh kok gue jarang liat Renjun ya? Dia kemana?" pertanyaan tiba-tiba dari Lindu membuat Dara sedikit terdiam lalu dia angkat bicara.


"Dia balik ke profesinya, eum.. ya udahlah sandalnya gue pinjem dulu ya entar gue balikin" jawab Dara tergesa-gesa karena tak mau Lindu semakin banyak tanya padanya.


"Oh gitu gue balik ke bangku gue ya Ra bye" pamit Lindu meninggakan Dara yang terdiam.


Padahal gue masih ingin lebih lama duduk sama lo Huang Renjun.


Dara duduk pada bangkunya yang serasa sepi karena tanpa kehadiran sosok Renjun namun, apalah daya jika memang takdir memisahkan mereka berdua.


***


"Huaaa... sakit badan gue"


"Makanya kalo tidur jangan disini pulang sana" cibir Jaemin pada Hina.


"Gue itu sendirian diapartemen lo tega banget ama gue dan juga masih banyak kerjaan yang belum selesai" balas cibir Hina pada Jaemin.


"Terserah lo deh gue ngalah" kata Jaemin membereskan beberapa kertas yang berserakan dilantai.


"Dimana Dara?" tanya Hina sambil mengambil botol yang berisi air mineral.


"Udah pulang semalem kenapa?" jawab dan balik tanya Jaemin pada Hina.


"Cuma nanya" kata Hina mengambil selimutnya dan berdiri menuju ambang pintu yang terbuka.


"Mau kemana lo?" tanya Jaemin.


"Pulang lah mau mandi sama makan. Tenang aja gue gak akan tersesat kok sans ae lah" ucap Hina tenang.


Jaemin hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap aneh Hina yang menurutnya tidak berubah sama sekali. Jaemin kembali memunguti berbagai sampah-sampah bekas makanan dan minuman serta kertas yang berserakan dengan dibantu oleh sekretarisnya yaitu Ari.


"Direktur Na apakah ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya sekretarisnya pada Jaemin.


"Ada, coba tanyakan pada bagian pengendali keamanan apakah ada seseorang yang ingin mengambil alih ini semua" jelas Jaemin.


"Baik Direktur Na" kata Ari seraya pergi tak lupa membawa 2 kantung sampah ditangannya.


"Gue capek banget ternyata begini rasanya kerja hadeh ngapain coba papa nyuruh gue jadi direktur mending gue ke luar negeri aja" omel Jaemin pada dirinya sendiri dan menghempaskan tubuhnya pada sofa tempat untuk tidur Hina semalam.


"Tidur bentar gak apa-apa lah ngantuk gue" kata Jaemin sambil memejamkan matanya hingga tertidur pulas membuat Ari yang melihatnya tak jadi untuk memberikan laporan pada Jaemin.


"Akan saya kirim lewat e-mail Direktur Na saja" ujarnya menutup pintu membiarkan bosnya beristirahat sejenak untuk menghilangkan rasa penat.


***


"Aduh! Pusing banget sama ini semua siapa yang ngasih berita ini!"


Brakk...


"Kalian kenapa diam saja!" teriak Manager Park dengan suara lantang serta wajah yang memerah menahan amarah.


"Kami takut salah pak" kata salah satu asisten pribadinya dengan nada takut-takut.


Manager Park semakin frustasi hingga menjambak rambutnya sendiri lalu berlalu pergi meninggalkan ruangan pribadinya.


"Bagas! Cepat cari tahu orang yang menyebarkan aib kita!" kata Manager Park saat mengangkat telepon dari Bagas dengan nada keras dan penuh tekanan.


Saat hendak menuju keparkiran dia tak sengaja bertemu dengan Taeyong atau Mas Jo mereka sempat bertatapan lalu Taeyong dengan cepat memutuskan kontak mata dan kembali mempercepat langkahnya.


"Siapa dia?" tanya Manager Park pada dirinya sendiri.


Sedangkan disebuah kamar asrama milik Renjun terlihat ia sedang duduk diatas kasur sambil membaca sebuah komik. Pada saat itu juga ia mendengar suara ketukan pintu dan dengan malas ia turun dari kasur menuju kearah pintu tersebut.


"Loh bang Tae eh maksudnya mas Jo ngapain?" tanya Renjun.


Tanpa permisi pada Renjun, Taeyong pun memasuki kamar Renjun dan duduk dikursi milik Renjun.


"Ada apa sih?" tanya Renjun sekali lagi.


Taeyong masih diam menatap Renjun.


"Kabar buruk buat lo" ujar Taeyong membuat Renjun mengernyit tak mengerti.


"Ada apa?" tanya Renjun kebingungan.


"Ini tentang Jisung dan tante Mira" jawab Taeyong.


Renjun kicep karena pikirannya sudah kemana-mana serta rasa khawatir yang perlahan menyelimuti dirinya.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Renjun.


"Mereka berdua kecelakaan waktu akan datang ke sini" jawaban Taeyong semakin lirih.


Renjun yang mendengarnya merasa hatinya mencelos dengan sikapnya yang selalu tergesa-gesa ia segera memakai jaketnya dan pergi meninggalkan Taeyong yang masih didalam kamar asramanya.


"Renjun! Jangan gegabah!" teriak Taeyong saat berusaha mencegah Renjun pergi.


"Jangan gegabah kata lo? Gue itu khawatir dan gue itu sangat sayang pada mereka berdua gue gak mau kehilangan cukup Dara aja tapi keluarga jangan" tegas Renjun dengan mata berkaca-kaca sambil pergi dari hadapan Taeyong.


"Maafin gue Renjun karena ini semua salah gue" lirih Taeyong.


Renjun tetap berlari mengacuhkan berbagai pertanyaan dari staf-staf di agensi Manager Park dan juga beberapa kali ia sempat dicegah oleh security didepan.


"Gue kan gatau rumah sakitnya" kata Renjun.


"Hape gue ketinggalan lagi" sambungnya lagi.


Tiba-tiba ia mendengar bunyi motor dan menolehnya dia kearah sumber suara tersebut.


"Mau kemana lo?" tanya orang yang mengendarai motor tersebut.


"Ke rumah sakit tapi gue gatau rumah sakit mana" jawab Renjun dengan penuh kekhawatiran.


"Siapa yang sakit?" tanya orang itu lagi.


"Nyokap ama adik gue kecelakaan eh siapa lo?"


Orang yang mengendarai motor tersebut membuka kaca helm fullfacenya dan betapa terkejut Renjun karena pengendara motor itu adalah Jaehyun kakaknya Dara.


"Gue tahu, sekarang lo naik dan gue akan nganterin lo" ujar Jaehyun menyuruh Renjun untuk segera naik pada motornya.


"Kok lo bisa tahu?" tanya Renjun heran.


"Udah jangan banyak tanya, nih pake helmnya gue akan ngebut" ucap Jaehyun pada Renjun.


Renjun kemudian memakai helm tersebut dan naik pada kendaraan Jaehyun.


###


HAI HAI HAI JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA^^