SEBANGKU

SEBANGKU
7



Dara sekarang sudah mulai bisa bersekolah kembali karena ia merasa badannya sehat seperti semula.


"Dek, kamu bener mau sekolah?" tanya Jaehyun.


"Iya kak. Dara gak mau ketinggalan pelajaran" jawab Dara sambil memakai sepatunya.


"Kakak anterin ya? Kebetulan hari ini libur" tawar Doyoung pada Dara.


"Libur apa ngeliburin diri bang?" tanya Jaehyun sinis.


"Libur beneran. Yok dah kakak anterin keburu telat" ucap Doyoung seraya mengambil kunci motornya.


"Pake motor butut kakak?" tanya Dara dengan sedikit tak percaya.


"Sisil gak butut dek, dia cuma kurang kasih sayang aja" kata Doyoung mengelus pelan motor kesayangannya.


Dara dan Jaehyun saling berpandangan lalu tertawa dengan terbahak-bahak.


"Sisil? Motor butut kek gitu dinamain Sisil?" kata Jaehyun dengan menahan tawanya.


"Biarin lah, Sisil itu selalu ada nemenin gue kemana-mana, hujan deras dan panas menyengat dia gak pernah ngeluh. Sisil adalah motor vespa kesayangan Doyoung" jelas Doyoung sambil mengelus motor vespanya.


"Ada-ada aja kak Doyoung" ucap Dara sambil menggelengkan kepalanya.


"Yok berangkat dek biarin aja si Jaehyun ketawa dia suka iri sama kakak" kata Doyoung dengan kesal.


"Terserah kak Doyoung"


Dara dan Doyoung pun pergi meninggalkan pekarangan rumah mereka untuk menuju kesekolah. Diperjalanan, Dara menyuruh Doyoung untuk berhenti sebentar di toko roti milik Melati.


"Berhenti dulu kak" ucap Dara sambil menepuk-nepuk pundak Doyoung.


Doyoung pun meminggirkan motor vespanya kemudian dia berhenti.


"Ngapain?" tanya Doyoung heran.


"Mau minta uang jajan sama Mama" jawab Dara sambil cengengesan.


Doyoung yang melihat tingkah laku adiknya itu pun merasa gemas dan mencubit pelan hidung Dara.


"Ya udah sana, kakak tungguin disini ya jangan lama-lama" ujar Doyoung.


Kemudian dijawab dengan anggukan oleh Dara. Dara mulai masuk kedalam toko roti milik Melati.


Toko rotinya sengaja sudah buka walaupun masih pagi karena ia mendapat pesanan banyak roti dari pelanggan. Maka dari itu ia memutuskan untuk membukanya pagi.


"Pagi ma" ucap Dara memasuki dapur.


Melati pun menoleh kearah Dara.


"Ngapain kamu disini? Sekolah gih mama lagi repot" kata Melati yang sedang membuat adonan roti.


"Dara mau minta uang jajan mama" jawab Dara sesekali memakan sedikit remahan roti.


"Nih, kamu ambil roti yang didepan sana gih daripada nyemilin remahannya" suruh Melati sambil menyodorkan uang 20 ribuan.


"Gak usah Ma makasih Dara pamit dulu dadah"


"Dara nanti suruh kakakmu kesini lagi ya bantuin mama" teriak Melati.


"Iya ma" ucap Dara meninggalkan toko roti.


Doyoung yang menunggu diluar nampak bosan terlihat dari wajahnya.


Dara yang melihatnya pun terkekeh geli kemudian ia mengetuk helm yang dipakai oleh kakaknya.


"eh naga bujang naga bujang" latahnya kaget.


"Nanti disuruh mama tuh buat ngebantu bikin roti banyak pesanan mama" jelas Dara sambil menaiki motor vespa.


"Iya" jawab Doyoung.


Ia segera menyalakan mesin motornya dan melaju dengan sedikit kencang karena takut jika Dara terlambat.


Sesampainya disekolah...


"Itu abangnya Dara? Wah ganteng banget"


"Gila si Dara kemarin mepet ke Renjun sekarang mepet sama om-om"


"Make pelet apaan tuh Dara"


Begitulah perkataan dari siswi-siswi yang ia dengar. Tapi, dia tidak peduli dan terus berjalan melewati gerombolan siswi tukang gosip itu.


Brukkk...


Seseorang merasa menabrak badannya dari belakang beruntung Dara tak terjerembab kedepan. Dara menoleh kearah orang yang menabrak tersebut.


"Maaf kak, aku gak sengaja" kata orang itu yang ia yakini sebagai siswa kelas 10.


Dara pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju kekelas. Sesampai dikelas dia melihat Renjun sedang melamun.


"Minggir gue mau lewat" ketus Dara pada Renjun.


Renjun masih tak bergeming, ia menatap kosong kearah depan.


"Permisi" ucap Dara.


Renjun masih diam. Akhirnya Dara memutuskan untuk lewat dari bawah bangku.


"Eh Dara ngapain lo dibawah?" tanya Renjun tiba-tiba.


Dara kesal dengan Renjun dari tadi ia sudah berbicara pada Renjun. Tapi, ia malah diam membisu.


"Lo nya kenapa? Dari tadi gue udah bicara tapi malah lo diemin. Lagi kesambet lo" ketus Dara seraya menarik kembali tubuhnya dari bawah bangku.


"Ya maap, gue hari ini banyak pikiran" ucap Renjun memelas sambil membukakan jalan untuk Dara.


Dara pun masuk dan mendudukan dirinya pada kursi kesayangannya.


"Lo gak penasaran gitu sama apa yang gue pikirin?" tanya Renjun menatap Dara heran.


"Ngapain coba gue penasaran gak berfaedah banget" jawab Dara.


"Terus lo gak ngefans gitu sama gue?" tanya Renjun.


"Terlalu males gue ngefans sama lo" jawaban Dara membuat Renjun tertohok.


Pasalnya, cewek mana yang gak ngeidolain seorang cowok ganteng seperti Renjun? Jawabannya adalah Dara.


"Jangan jujur amat lah" kata Renjun memelas.


Hal itu membuat Dara jijik dan sempat tersenyum geli. Renjun yang melihat senyuman Dara pun jantungnya berdetak dengan kencang.


"Dara, lo hari Minggu punya waktu gak? Jalan kuy" ajak Renjun pada Dara.


Dara menatap Renjun dengan mengangkat satu alisnya.


"Ngapain?" tanya Dara penuh selidik.


"Jalan yuk, gue pengen jalan-jalan gitu ditemenin sama lo" jawab Renjun.


"Jalan ama kak Doyoung mau?" tawar Dara dengan polos.


"Idih, ogah entar disangka homo" jawab Renjun bergidik ngeri.


Hal itu membuat Dara semakin terpingkal-pingkal melihat tingkah laku Renjun yang menurutnya lucu.


"Ngapain ketawa?" tanya Renjun dengan kesal.


"Lo lucu" jawab Dara membuat detak jantung Renjun tak beraturan kembali.


"Iya, gue mau kok nemenin lo" kata Dara menerima ajakan dari Renjun.


Renjun merasa dalam dirinya terdapat kembang api yang meletus-letus dan itu membuatnya senang sebab, Dara menerima ajakannya.


"Yang bener? Baiklah gue jemput" ucap Renjun dengan penuh antusias.


***


Sementara itu ditempat lain......


"Rupanya cewek itu yang dekat dengan Huang Renjun pak" ucap lelaki yang menggunakan masker serta kacamata hitam.


"Hm... Kita harus memisahkan mereka agar kita mendapatkan banyak keuntungan. Karena Renjunlah yang hanya bisa membuat agensi kita naik" tegas orang itu menggunakan masker dan kacamata yang serupa.


"Bagaimana caranya Pak Manager Park?" tanya lelaki itu.


"Kamu akan tau nantinya Bagas" jawab orang itu yang ternyata Manager Park.


"Ayo cepat pergi dari sini sebelum mereka mengetahui kita. Dan jangan lupa suruh yang lain untuk mengawasi mereka terutama Huang Renjun" perintah Manager Park pada asistennya yaitu Bagas.


"Siap pak!" jawab Bagas.


Lalu mereka pergi meninggalkan tempat persembunyiannya.


"Bagas cepat kita kembali pada keluarga Huang"


"Siap Pak"


Mereka berdua meninggalkan sekolah Renjun dan Dara. Tanpa sepengetahuan Manager Park dan Bagas seseorang telah membuntutinya dari belakang dan orang itu mempunyai niat untuk menjatuhkan agensi Manager Park.


Terima kasih karena sudah membaca karya Zeebee^^ Jangan lupa tinggalkan jejak ^^