
Sekarang Renjun dan Dara sudah berada di Festival Jajanan seperti yang dikatankannya tadi siang. Mereka kesana mengendarai menggunakan skuter maticnya Renjun.
Renjun nampak bahagia melihat aneka jajanan dijual berjejeran oleh pedagangnya sebab Renjun suka makan tapi tidak dengan Dara, sedari tadi mukanya hanya ditekuk kesal.
"Kenapa mukanya kok asem gitu laper? Ayok gue beliin" ujar Renjun sambil memegang tangan Dara.
Dara diam dan melepaskan pegangan tangan dari Renjun.
"Eh iya sorry" ucap Renjun sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Tadi gue nyontekin lo tapi lo nya yang dapet nilai bagus, lain kali gue gak akan nyontekin lo lagi" celetuk Dara pada Renjun dengan menyipitkan kedua matanya menatap Renjun kesal.
"Oh karena itu, ya maaf kan gue nyontek nya cuma seperempat aja dan yang lainnya gue kerjain sendiri" jelas Renjun pada Dara.
"Gue harus percaya?" ujar Dara dengan nada dingin.
"Ya iya" jawab Renjun.
"Ya udahlah ya, nanti kapan-kapan lo bisa belajar bareng sama gue biar bisa ngalahin gue. Nanti gue akan bawa lo kerumah kediaman Huang" jelas Renjun dengan santai.
"Ya udah lah gue laper" kata Dara dengan berjalan sendiri menghiraukan panggilan Renjun.
Mereka berjalan beriringan seperti sepasang kekasih. Sebelum memasuki area festival, Renjun menggunakan masker dan kacamata hitam untuk menutupi identitas dirinya sebab takut kejadian yang tak diinginkan kembali terjadi.
Banyak pasang mata yang melihat aneh kearah Renjun.
"Mbak, pacarnya kenapa mbak? Malu ya?" celetuk seorang gadis muda berambut panjang sebahu pada Dara.
"Dia alergi keramaian" balas Dara asal.
Setelah berinteraksi dengan gadis tersebut Renjun langsung menarik tangan Dara seenaknya menuju seorang pedagang aneka sate yang ramai.
"Aduh, sabaran dikit napa ini juga masih antre" keluh Dara pada Renjun.
"Keburu panjang antrenya Dara, katanya kalo rame gini artinya enak" ujar Renjun sembari mengantre pada urutan kelima.
Setelah menunggu lama akhirnya sekarang bisa beli juga.
"Mas, satenya campur semuanya 2 bungkus. Ra lo suka pedes gak?" kata Renjun pada pedagang sate tersebut lalu beralih pada Dara.
Dara mengangguk setelah mendengar pertanyaan dari Renjun tersebut.
"2 bungkus pedes ya mas dikasih lontong" ujar Renjun pada pedagang sate itu.
"Siap mas, sama pacarnya mas?" tanya pedagang sate itu di sela-sela mengipasi satenya.
"Iya dong mas, masa iya saya kesini sendirian" jawab Renjun seenaknya.
Dara pun mencubit tangan Renjun.
"Pacar? in your dream" ketus Dara.
Pedagang sate yang melihat tingkah laku mereka berdua hanya terkekeh geli karena menurutnya, mereka seperti hiburan sesaat untuk menghilangkan rasa penat akibat berjualan.
"Nih satenya, lontongnya udah ada didalem semuanya jadi 25 ribu" jelas pedagang sate itu dengan menyodorkan 1 buah plastik yang berisi 2 bungkus sate dan 2 lontong.
Renjun mengambil uang 50 ribu dan memberikannya pada pedagang sate tersebut lalu menerima pesanannya.
"Ini kembaliannya" ujar pedagang sate itu.
"Buat mas aja doain, biar cepet pacaran ya mas" balas Renjun dengan ramah.
Renjun pun kembali berjalan disamping kanan Dara.
"Jun, mampir kesitu yuk kayaknya enak deh" ujar Dara mengajak Renjun pada penjual kue serabi.
Renjun mengiyakan.
"Lo mau gak?" tanya Dara sebelum memesan.
"Iya" jawab Renjun dan Dara segera memesan kue serabi pada ibu itu.
Sembari menunggu pesanannya jadi, mereka duduk dikursi yang telah disediakan dan memandangi orang-orang berlalu lalang membawa aneka jajanan yang setelah mereka beli.
"Ra nanti kesana yuk, kayaknya seger deh gue haus juga" kata Renjun menunjukkan penjual es cendol yang lumayan ramai.
"Iya" jawab Dara.
"Mbak ini, semuanya 15 ribu" kata ibu penjual kue serabi itu.
Dara segera membayarnya dan mengambil kue serabi pesanannya.
"Makasih bu" ucap Dara ramah.
"Mang, es nya 2 diminum sini terus dibungkus 5 ya mang" ucap Renjun sambil duduk lagi dikursi yang telah disediakan diikuti dengan Dara.
"Buat siapa Jun?" tanya Dara sembari makan kue serabinya yang masih panas.
"Buat dibawa pulang lah" jawab Renjun enteng.
Renjun pun menoleh kearah Dara berniat untuk mengambil kue serabinya tapi, alangkah terkejutnya saat dia melihat sedikit sisa serabinya dihidung Dara.
Renjun tertawa geli melihatnya.
"Ra dhidung lo tuh ada sisa kue serabinya" ujar Renjun memberitahu Dara.
Segera Dara membersihkan hidung namun, tangannya dicegah oleh Renjun. Jadi yang membersihkan hidung Dara adalah Renjun.
Dara melanjutkan makannya tanpa menggubris Renjun yang membersihkan hidungnya.
"Terima kasih kek" omel Renjun.
"Sama-sama" jawab Dara dengan santai hal itu membuat Renjun tersenyum dibalik kacamata hitam dan maskernya.
"Eh mas dibungkus semuanya gajadi diminum sini" ujar Renjun dan langsung diangguki oleh penjual es cendol itu.
Sebenarnya Renjun haus dan lapar tapi jika ia ingin, maka dia harus membuka maskernya dulu. Tapi ia tidak mau karena takut terjadi hal yang tak diinginkan maka dari itu ia membungkus dan membawanya pulang.
"Nih mas, semuanya jadi 35 ribu" ucap penjual es cendol itu.
Renjun kembali memberikan uang 50 ribu dan saat penjual es cendol itu mengambil kembaliannya Renjun melakukan hal yang sama seperti penjual sate tadi.
"Ra pulang yuk" ajak Renjun pada Dara.
Dara pun mengangguk setuju. Dara membawa 1 plastik yang berisi dua bungkus sate, dan 2 bungkus kue serabi sedangkan Renjun membawa es cendol tadi.
Mereka langsung menuju skuter matic milik Renjun yang terparkir.
"Ra lo bawa nih es cendolnya terus yang lo bawa taruh disini" ujar Renjun.
"Pasangan helm dulu dong gue mana bisa" gerutu Dara.
Dara pun menaruh makanan yang ia bawa pada pegangan setir lalu mengambil es cendol dari Renjun, ia pun memakaikan helm pada Dara dengan telaten.
"Yuk pulang" ajak Dara setelah selesai dipasangkan helm oleh Renjun. Ia segera menaiki skuter matic milik Renjun.
Renjun menyalakan skuternya lalu berjalanlah dengan mulus melewati keramaian.
Diperjalanan pulang mereka hanya diam menikmati indahnya malam di kota Bandung. Beruntung Dara memakai baju sweater dan celana jeans jadi ia tak merasa dingin begitu pun dengan Renjun, yang memakai jaket hoodie berwarna abu-abu dan celana hitam.
Setelah menempuh waktu 30 menit sampailah mereka pada sebuah rumah besar yang Dara tidak ketahui.
"Rumah siapa ini Jun?" tanya Dara.
"Rumah kediaman keluarga Huang" sahut Renjun santai sambil menunggu satpamnya membukakan pintu gerbang.
"Sama pacarnya den Renjun?" gurau satpam itu pada Renjun.
Renjun membuka maskernya dan ia hanya menunjukkan senyum manisnya.
Ia pun segera masuk lebih dalam dan memakirkan skuter maticnya digarasi.
"Renjun pulang" ucap Renjun saat membuka pintu dan masuk diikuti Dara.
Tidak ada yang menyahut padahal biasanya mamanya yang akan menghampirinya.
"Kok sepi Jun?" tanya Dara sedikit berbisik.
"Mana gue tahu cari yok" jawab Renjun menuju dapur diikuti dengan Dara.
Didapur tidak ada namun, beberapa perkakas dapur nampak berserakan. Mereka segera menaruh makanan yang tadi dibelinya karena Renjun merasa ada yang tidak beres.
"Dara ikut gue" ucap Renjun dengan nada yang sedikit marah.
Dara mengikuti Renjun yang menuju ke arah belakang. Dan firasat Renjun benar, ia telah menemukan keluarga diikat serta mulut yang dilakban.
Renjun segera menghampiri mereka begitu pun Dara yang sampai duluan langsung berusaha membuka tali pengikat dan membuka lakban pelan-pelan.
"Siapa yang melakukan semua ini?" tanya Renjun khawatir.
###
Jangan lupa tinggalkan jejak ^^