
"Iris, bangunlah! Iris!" Vena asisten Iris terus menepuk pipi sang atasan.
Iris yang memiliki riwayat penyakit asma langsung panik ketika pesawat mengalami turbulensi. Pasokan oksigen ke otak berkurang sehingga membuat perempuan itu kehilangan kesadaran. Perlahan Iris mulai mengerjapkan mata.
Begitu kesadarannya kembali, Iris langsung terbelalak. Di mulut perempuan itu sudah terpasang alat bantu pernapasan. Di depan Iris kini ada seorang pramugari serta Vena.
"Iris, astaga! Kamu membuatku sangat panik!" Vena mengembuskan napas lega.
Iris berusaha mencerna keadaan. Dia perlahan duduk tegak. Seingatnya perempuan itu ditusuk pada bagian perut.
Sontak Iris langsung memegangi perutnya. Dia pun mengembuskan napas lega karena tidak benar-benar terluka. Ya, perempuan itu kini kembali ke tubuhnya lagi.
Bukankah seharusnya Iris senang tidak jadi mati karena terperangkap di tubuh Lily? Namun, entah mengapa hatinya malah merasa kecewa. Iris akhirnya menatap gumpalan awan yang terlihat melayang melalui jendela pesawat.
"Sebentar lagi kita mendarat. Mohon pasang sabuk pengaman kalian." Seorang pramugari menghampiri Iris dan juga Vena.
Ternyata kejadian yang dialami Iris hanya sebuah mimpi selama pingsan. Menurut Vena dia pingsan dan terus mengigau. Setelah pesawat mendarat, Iris dan Vena menarik koper keluar dari burung besi itu menuju taksi yang sudah mereka pesan.
Sepanjang perjalanan Iris hanya terdiam seraya menatap jalanan Seoul yang tak asing baginya. Setelah membelah jalanan Seoul selama tiga puluh menit, mereka sampai di hotel. Hotel itu kebetulan terletak dekat dengan salon Sara.
Iris yang masih penasaran dengan mimpinya akhirnya memutuskan untuk pergi ke salon tersebut setelah beristirahat. Dia ingin memastikan bahwa apa yang sebenarnya dia mimpikan selama kehilangan kesadaran tidak benar-benar terjadi.
"Aku ingin keluar sebentar. Kamu mau ikut?" tanya Iris seraya menyambar tas yang tergeletak di atas meja.
"Boleh! Tapi ... apa kamu nggak takut tersesat? Kita baru pertama kali datang ke sini!"
"Tempat ini terasa tidak asing bagiku, Ven. Aku ingin memastikan sesuatu."
"Baiklah, toh ada google maps yang akan membantu jika tersesat!"
Mereka berdua akhirnya keluar dari kamar. Iris mengamati setiap sudut jalanan yang terasa sangat akrab. Di samping hotel itu, adalah kedai mi pasta kedelai hitam kesukaannya. Sebelum mendatangi salon Sara, Iris berniat untuk mampir.
Iris segera memesan satu porsi besar mi kesukaannya itu. Vena yang menyaksikan bagaimana Iris sangat fasih dalam berbahasa Korea pun menganga. Setahu Vena, atasan sekaligus sahabatnya itu hanya memahami beberapa kosa kata bahasa asing tersebut sama sepertinya.
"Iris, se-sejak kapan kamu lancar berbahasa Korea?" tanya Vena dengan mata terbelalak.
"Jika aku mengatakannya, apa kamu akan percaya?" tanya Iris seraya tersenyum tipis.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Vena meminta pemilik kedai untuk menyiapkan garpu karena dia tidak bisa menggunakan sumpit. Ketika menunggu garpunya datang, Vena kembali dikejutkan dengan kelakuan Iris yang menurutnya aneh.
Iris dapat menggunakan sumpit dengan sangat mudah. Padahal sebelumnya dia tidak pernah menggunakan alat makan yang satu itu. Ketika Vena mengungkapkan kekagumannya, Iris hanya tersenyum tipis.
Usai menyelesaikan makan, mereka kembali berjalan kaki di trotoar. Iris kembali mengingat jalan menuju salon Sara yang hanya berjarak 50 meter dari kedai itu. Dari kejauhan, Iris dapat melihat poster Lily yang masih terpasang di depan salon. Kaki perempuan utu seakan lemas.
"Iris, kamu baik-baik saja?" tanya Vena ketika mendapati Iris yang sedikit limbung.
"A-aku baik-baik saja." Iris terus melangkah dengan bantuan Vena.
Di depan salon Sara ada tulisan yang mengatakan bahwa mereka ikut berduka atas kematian Lily. Iris membungkam mulut dengan telapak tangan. Mata perempuan itu mulai terasa panas.
Perlahan butir bening membasahi pipi Iris. Dadanya terasa begitu sesak. Tangisnya langsung pecah setelah mengetahui bahwa hari ini adalah hari ketiga kematian Lily. Ternyata apa yang dia mimpikan selama pingsan merupakan sebuah kejadian nyata.
Tubuh Iris ambruk seketika. Dia langsung menangis meraung-raung. Vena yang kebingungan hanya bisa terus menenangkan sahabatnya itu.
"Hei, kamu itu kenapa?"
"Perempuan itu ...." Iris menunjuk poster yang ada di depan salon Sara.
"Kenapa dengan perempuan itu?" tanya Vena seraya menautkan kedua alisnya.
"Aku pernah tunggal dalam tubuhnya! Ternyata dia benar-benar ada! Kasihan sekali perempuan itu!" Iris kembali menangis seraya menunjuk-nunjuk wajah Lily dalam poster.
Vena terus berusaha menenangkan Iris. Setelah perempuan itu sedikit lebih tenang, dia mengajak Vena untuk memasuki salon. Begitu pintu salon terbuka, orang pertama yang dia lihat adalah Sara.
Sang pemilik salon terlihat sedang tidak baik-baik saja. Sara yang biasa terlihat segar dan rapi, kini berpenampilan kusut. Matanya tampak satu dengan lingkar hitam di area mata.
"Kak Sara ...."
Mendengar namanya dipanggil, sontak membuat Sara menoleh. Perempuan itu mengerutkan dahi dan berjalan ke arah Iris. Sara tampak memaksakan senyum.
Iris tidak sanggup menahan kesedihannya. Mimpi itu terasa sangat nyata dan berlangsung lama bagi Iris. Dapat mengenal Sara merupakan sebuah kebetulan yang luar biasa bagi perempuan itu.
Sara yang mencium aroma parfum Iris mendadak mematung. Dia tahu betul bahwa aroma itu adalah aroma favorit Lily. Tak terasa air mata menetes membasahi pipi Sara.
"Kak Sara ...."
Terlebih ketika mendengar cara Iris memanggil namanya. Sara langsung menangis histeris. Dia merasa bahwa gadis yang sedang memeluknya merupakan Lily yang dia kenal.
Keduanya pun larut dalam kesedihan. Sebab kejadian dan kebetulan yang sulit diterima akal sehat benar-benar mereka alami. Hal yang biasanya hanya ada di dalam novel, kini menimpa Iris.
Iris berpindah tubuh, membantu tubuh inangnya menjadi wanita kuat, kemudian kembali ke raganya lagi setelah misi selesai. Namun, kali ini misi Iris berakhir tragis karena ternyata ada musuh tak terduga yang muncul di akhir cerita.
"Kenapa aku merasa kita sudah lama saling mengenal!" seru Sena seraya merangkum wajah Iris.
"Kita memang saling mengenal, Kak! Selama ini aku hidup di tubuh gadis bernama Lily itu! Dia meninggal secara tragis karena ditusuk oleh kakak kembarnya sendiri!"
Meski memiliki wajah yang sangat jauh berbeda, Sara yakin bahwa Iris merupakan Lily yang selam ini dia kenal. Tak lama kemudian, seorang lelaki bertubuh tegap masuk ke salon. Dia adalah Jay.
Jay melongo saat melihat Sara sedang berpelukan dengan perempuan asing. Perlahan Jay mendekati dua orang yang sedang berusaha menyeka air mata itu. Dia menatap Iris dan Sara secara bergantian.
"Dia siapa, Kak?"
"Jay!" Iris langsung menghambur ke pelukan Jay.
Jay mematung seketika. Dia merasakan hal sama dengan Sara. Aroma parfum yang menguar dari tubuh Iris sama persis dengan milik Lily. Mata Jay mulai berkaca-kaca karena teringat dengan perempuan yang sang dia cintai itu.
"Jay, ini aku ...," ucap Iris di antara isak tangisnya.
Sesaat Jay tersadar kemudian mendorong tubuh Iris. Dia menatap tajam perempuan yang baginya terlihat asing itu. Suara Jay bergetar ketika menanyakan siapa sebenarnya Iris.
Iris pun kembali menceritakan hal aneh, sama seperti yang pernah diucapkan Lily kepada Jay. Takdir mempertemukan dua anak manusia itu dengan cara yang unik. Awalnya Jay tidak percaya, sampai akhirnya Iris mengucapkan semua kebiasaan buruk Jay.
Kebiasaan buruk yang hanya diketahui oleh Lily. Jay pun terbelalak seketika. Sedetik kemudian, dia menarik lengan Iris dan menghirup aroma tubuh gadis itu dalam-dalam.
"Aku sangat merindukanmu. Maaf karena tidak melindungimu saat itu." Jay melepaskan pelukannya kemudian merangkum wajah cantik sang kekasih.
"Tapi ... aku dan Lily adalah orang yang berbeda, Jay. Apa perasaanmu akan tetap sama kepadaku?" Iris berlinang air mata dengan bibir gemetar.
"Tubuh kalian memang tidaklah sama. Tapi, jiwamu dan jiwa Lily yang aku kenal sama. Iris, aku hampir gila tiga hari belakangan ini! Aku benar-benar tidak bisa jika harus kehilanganmu lagi! Iris, maukah kamu menikah denganku?" Jay bersimpuh di hadapan Iris.
Lelaki utu mengeluarkan kotak cincin dari dalam saku celananya. Semua orang yang ada di sana ikut terharu sekaligus bahagia ketika mengetahui bahwa Lily yang mereka kenal sebenarnya adalah orang lain bernama Iris.
Iris pun mengangguk, menerima lamaran Jay. Jay meraih jemari iris, kemudian menyematkan cincin ke jari manisnya. Setelah itu dia kembali berdiri tegak, dan memberi sebuah kecupan mesra pada bibir Iris.
"Setelah ini, kita akan terus bersama. Menjalani hidup dalam suka dan duka bersama-sama. Menghabiskan sisa umur tanpa berpisah sedetik pun." Jay kembali mendaratkan kecupan pada punggung tangan Lily.
"Aku sangat mencintaimu, Iris ...."
"Aku juga sangat mencintaimu, Jay."
...-TAMAT-...