Revenge Of The Ugly Lily

Revenge Of The Ugly Lily
Bab 24. Merengek



"Maaf, Tante. A-aku tidak sengaja. Aku benar-benar terkejut mendengar pernyataan, Tante." Yura mengusap wajah kasar sekilas, lalu mencoba meraih lengan Rani.


Akan tetapi, perempuan itu menepis lengan Yura. Selama ini Rani selalu bersikap baik kepadanya. Meski sikap baik itu dilakukan karena dia sering membelikan barang mahal, Yura sangat senang.


Kali ini sikap Rani berubah drastis. Dia terlihat sangat muak dan membenci Yura. Apa pun yang dilakukan oleh Yura terlihat salah di mata Rani.


"Sudahlah, lupakan saja!" Rani mendengus kesal.


"Bukankah bulan lalu kamu ada penerbangan ke Italia? Jadi, kamu membawakan oleh-oleh apa untukku?" Rani menyipitkan mata sembari mencondongkan tubuh ke arah Yura.


"Aku belum sempat jalan-jalan ketika di sana, Tante. Jadi ...." Ucaoan Yura kembali menggantung di udara karena Rani memotongnya.


"Kalau begitu sebagai gantinya, belikan aku dompet Prada. Bagaimana?" Rani tersenyum miring seraya menaikkan sebelah alisnya.


Yura membuang wajah. Dia memejamkan mata kemudian meringis kesal. Pertanda isi dompetnya hari ini tidak akan aman. Perempuan itu pun kembali menatap sang calon ibu mertua seraya memaksakan senyum.


"Baiklah, Tante. Apa pun yang akan membuat Tante senang!"


"Baguslah! Ayo, lajukan lagi mobilnya!" Rani menunjuk ke depan untuk mengingatkan Yura agar segera melajukan mobil.


Yura pun kembali melajukan mobil. Sepanjang perjalanan, Yura selalu mencoba untuk membuka pembicaraan dengan Rani. Akan tetapi, perempuan tersebut bersikap acuh.


Setelah sampai di toko yang menjual produk merek Prada, Rani langsung memilih dompet yang dia sukai. Setiap Rani menyentuh dompet dan menyerahkannya lagi kepada pelayan, Yura selalu menanyakan berapa harga benda itu kepada pramuniaga.


Hampir dua jam Yura mengikuti Rani berbelanja dengan jantung berdegup kencang. Akhirnya perempuan itu menjatuhkan pilihannya pada sebuah dompet berbentuk persegi panjang dengan dua ruang di dalamnya. Namun, ketika hendak membayarnya ke kasir kepala Yura langsung berdenyut kuat.


"Tiga juta Won, Nona," ucap sang kasir ramah.


Mendadak bibir Yura kaku. Seakan ada batu besar yang mengganjal tenggorokannya. Uang yang selama ini dia kumpulkan untuk pesta pernikahan impian, sedikit demi sedikit dirongrong oleh sang calon mertua. Yura hanya bisa menangis dalam hati.


"Tiga juta Won-ku sia-sia!" gerutu Yura dalam hati.


Ketika sampai rumah, barulah Yura mengadukan semua kejadian siang itu kepada Yuna. Yuna yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Yura pun hanya bisa menghela napas kasar. Keduanya memang kembar, tetapi Yuna memiliki prinsip kuat dan tegas.


Tidak seperti Yura yang sedikit lebih lemah. Oleh karena itu, ketika sekolah dulu dia selalu berlindung di bawah ketiak Yuna. Saat menjalani kehidupan sesungguhnya, Yuna agak kesulitan untuk menyesuaikan diri.


"Kenapa?" tanya Jackson ketika melihat Yura yang tampak berlinang air mata.


Yura pun langsung menghambur ke pelukan sang ayah. Dia bergelayut manja layaknya anak-anak yang sedang mencari perhatian dari sang ayah. Jackson melepaskan pelukan sang putri kemudian merangkum wajahnya sambil tersenyum lembut.


"Ada apa, Sayang?"


"Biasa, dia kembali dikuras oleh Nyonya Kang! Aku sudah lelah menasihati Yura. Semua kuserahkan kepada Ayah. Rasanya telingaku sudah lelah mendengar keluh kesahnya sejak tadi!" sahut Yuna, lalu beranjak dari sofa dan naik ke kamarnya.


Setelah Yuna tak lagi terlihat, Jackson dan Yura pun duduk di sofa. Yura masih sesenggukan sambil terus mengusap air mata. Perempuan itu tampak mengatur napas agar tangisnya reda.


"Memangnya calon ibu mertuamu itu minta apa lagi?"


Jackson menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia kembali merangkum wajah sang putri. Setelah itu, Jackson mengusap lembut puncak kepala Yura.


"Kamu tidak usah memikirkan mahar atau biaya pernikahan. Semua yang harus kamu bayar untuk Boby, akan aku urus. Jadi, sekarang fokus saja dengan pernikahanmu. Kalau perlu kamu mengundurkan diri saja dari maskapai."


"Tapi, Ayah. Aku sangat mencintai pekerjaanku. Aku tidak rela kalau harus keluar dari sana." Kini Yura mengerucutkan bibir seraya melipat lengan di depan dada.


"Bukankah suatu saat nanti, kamu juga harus merelakan pekerjaanmu itu? Kamu 'kan harus mengurus anak dan suami. Jadi ...." Belum selesai Jackson berbicara, mendadak Yura berdiri.


Mata perempuan itu kembali merah dan berkaca-kaca. Jemarinya mengepal erat di samping badan. Sebuah tatapan tajam kini dia berikan kepada sang ayah.


"Kenapa perempuan yang menikah harus tetap berada di rumah, jika dia masih bisa berkarier sembari mengurus keluarga! Hidup ini pilihanku, Yah. Jadi, tolong hargai keputusanku!" Yura pun melangkah pergi meninggalkan Jackson yang masih melongo seraya menatap punggung sang putri yang terus menjauh.


"Apa ini yang disebut sindrom pranikah?"


Sementara itu di kediaman Lily, Jay dan perempuan itu saling melemparkan tatapan tajam. Jay kesal karena dia diabaikan oleh Lily seharian penuh, padahal dia hendak menyampaikan sebuah informasi penting. Akan tetapi, Lily juga sebal sebab merasa risi dengan Jay yang terus mengawasinya di lokasi syuting hingga dirinya pulang.


"Apa maksudmu mengabaikanku?"


"Kamu sudah gila, Jay? Aku sedang bekerja! Lagi pula aku sudah memintamu untuk terus mengawasi Yura! Tapi kenapa kamu justru menatapku seharian menggunakan teropong bodohmu itu!" Lily menunjuk sebuah teropong dengan dua lensa yang kini tergeletak di atas meja.


"Ya, karena aku kesal! Pokoknya kesal!" Mendadak Jay teringat bagaimana cara Lily menunjukkan sifat manja kepada Boby.


Lelaki itu sangat tidak suka melihat Lily seperti itu. Selama dia mengenal perempuan tersebut, tidak pernah sekali pun Lily terlihat manja. Dia merupakan wanita yang sangat kuat dan pintar mengintimidasi.


Melihat Lily bersikap manja, mendadak membuatnya khawatir. Jay khawatir kalau suatu hari nanti Lily benar-benar berubah manja dan lembek sehingga melupakan jati dirinya. Jay lebih suka Lily yang tangguh.


"Sejujurnya aku tidak suka kamu memasang wajah manis dan bersikap manja kepada Boby!" seru Jay.


Mendengar ucapan dari teman seperjuangannya itu, sontak membuat Lily terbelalak. Dia menutup bibirnya untuk menahan tawa. Sedetik kemudian tawa Lily pun pecah sampai mengeluarkan air mata.


"Hei, jangan bilang jamu cemburu! Astaga, aku melakukannya untuk menarik sedikit saja perhatian Boby!"


"Enak saja! Maksudku, aktingmu tidak bagus! Bersikap manis dan manja tidak pantas untuk dirimu yang terbiasa bertindak secara bar-bar! Lagi pula, aku menemukan fakta lain. Setelah mendengar ini, aku yakin kamu akan berubah pikiran." Jay mendekatkan tubuhnya ke arah Lily dan menatap perempuan di depannya itu intens.


"Memangnya, kamu menemukan fakta seperti apa?"


Boby kembali memangkas jarak dengan Lily. Lelaki itu perlahan mendekati telinga Lily kemudian membisikkan sesuatu. Sedetik kemudian, bola mata Lily membulat sempurna.


"Benarkah?"


...****************...