
Jay tersenyum tipis dan mulai mendekatkan bibirnya ke telinga Lily. "Nyonya Kang mulai berusaha menggagalkan pernikahan putranya sendiri dengan cara meminta mahar mahal kepada Yura."
"Benarkah?"
Ucapan Jay sontak membuat Lily terbelalak. Dia menatap lawan bicaranya tidak percaya. Jay langsung membuka aplikasi buatannya yang ada di ponsel. Tak lama kemudian terdengar percakapan antara Rani dan Yura.
Ternyata selama ini diam-diam Jay sudah memasang apat penyadap suara di mobil Yura. Percakapan mereka ketika berada di dalam mobil sontak membuat Lily tertawa puas. Dia tidak menyangka Yura dapat ditaklukkan dengan mudah oleh Rani.
Si perundung ketika remaja, kini balik ditindas oleh calon mertuanya. Yura seakan tidak bisa berkutik. Dari suara yang terdengar dia hanya bisa menahan emosi ketika menghadapi Rani.
"Aigoo, ini sungguh mengesankan!" seru Lily.
"Kamu tidak perlu bersusah payah kali ini. Kamu tidak perlu bermanja-manja atau bersikap genit kepada sutradara bodoh itu! Kamu juga tidak harus menguras isi dompetmu lebih dalam untuk mengambil hati Nyonya Kang. Kamu hanya cukup menatap kehancuran Yura dengan sendirinya sambil menikmati senja." Jay memejamkan mata sejenak seraya mengayunkan telapak tangan di depan wajah.
"Ya, benar! Kali ini, biarkan karma yang bekerja!" seru Lily dengan sorot mata penuh kemenangan.
"Baiklah, aku akan diam dan mulai melancarkan aksi untuk mengganggu bisnis Yuna." Lily tersenyum penuh arti seraya menatap langit gelap melalui jendela apartemennya.
Namun, semua mulai kacau karena kesalahan yang dibuat Lily dan Jay. Kali ini mereka salah langkah karena tidak mencari tahu lebih jauh. Sejak hari itu, hubungan Rani dan Yura memang renggang. Akan tetapi, dia terus berada di sekitar Lily saat perempuan itu berada di salon.
Beberapa kali Rani mengajak Lily berbelanja dan berakhir dengan saldo rekeningnya yang berkurang karena harus membayar barang belanjaan Rani. Sampai akhirnya Lily membuat rencana baru agar terlepas dari jerat ibu dari sutradara terkenal itu.
Sore itu ketika libur syuting dan tidak ada pekerjaan penting di salon, Lily mengajak Rani berbelanja di salah satu toko pakaian mewah. Keduanya berbelanja sambil bercanda. Mencoba beraneka jenis pakaian serta tas dan sepatu. Setelah berkeliling di dalam toko selama satu jam, akhirnya mereka berjalan menuju kasir untuk membayar barang yang akan mereka beli.
"Totalnya empat juta Won," ucap sang kasir seraya tersenyum lebar.
"Ah, Lily. Aku ke toilet dulu, ya?" pamit Rani sembaru tersenyum tipis.
"Baik, Nyonya. Silakan." Lily tersenyum lembut kemudian Rani pun keluar dari toko.
Salah satu kebiasaan Rani yang sudah dipahami Lily adalah setiap hendak membayar barang belanjaan, Rani akan menghindar. Jadi, mau tidak mau Lily yang membayar semuanya.
Namun, kali ini Lily berpikir licik untuk mengimbangi tingkah Rani. Hari itu dia memakai tas yang sama dengan milik Rani. Ketika berada di dalam mobil, perempuan itu pun menukar tasnya dengan kepunyaan Rani. Tak lama kemudian Jay datang.
Lily menyerahkan ponsel Rani kepada lelaki itu. Jay pun meretas kata sandi ponsel serta aplikasi bank milik Rani. Setelah selesai, Jay kembali menyerahkan ponsel itu kepada Lily.
"Terima kasih, Jay. Untuk hal ini kamu memang selalu bisa diandalkan!" seru Lily sembari mengacungkan jempol kepada Jay.
Jay hanya tersenyum simpul kemudian keluar dari toko tersebut secara santai. Setelah itu, Lily langsung menggunakan akun bank Rani untuk membayar semua belanjaan itu kecuali milik Lily. Dia membayar sendiri semua yang dia beli.
Sebenarnya Lily bisa saja menggunakan kesempatan ini untuk membayar belanjaannya. Akan tetapi, Lily tidak melakukan hal itu. Dia berpikir, menggunakan uang orang lain tanpa izin merupakan sebuah tindakan kriminal yang biasa disebut mencuri. Setelah Rani kembali, transaksi juga sudah selesai. Mereka berdua pun akhirnya pulang.
Sepanjang perjalanan, mereka bercengkerama seperti biasa. Ketika lengah, Lily kembali menukar tas miliknya dengan milik Rani. Kebetulan Rani bukanlah tipe orang yang sering membuka tas saat bertemu dengan orang lain, kecuali ada panggilan ke ponselnya.
"Ah, ada orang baik yang mentraktirku belanja!" Rani meletakkan tas belanjanya kemudian duduk di atas sofa.
Tak lama kemudian, Rani membuka tasnya karena ada panggilan masuk. Salah satu teman arisan meneleponnya dan memberitahu bahwa dia sudah mentransfer sejumlah uang. Ketika sambungan telepon sudah berakhir, Rani langsung mengecek saldo tabungannya.
Perempuan itu terbelalak seketika ketika mengetahui deretan angka yang tertulis di layar ponselnya tidak sesuai dengan yang seharusnya. "Kenapa saldonya hanya bertambah sedikit?"
Rani mengira sang teman hanya mentransfer sebagian uang arisan, akhirnya dia yang sedang emosi menghubungi kembali temannya itu. Dia langsung marah-marah kepada temannya sehingga menimbulkan kekacauan. Rani pun mengakhiri panggilan tersebut dengan perasaan kesal.
"Bu, sudah dicek mutasinya?" tanya Boby santai.
"Ya?"
"Itu, riwayat transaksi. Mungkin Ibu ada pengeluaran lain akhir-akhir ini. Jadi, saldo terlihat tidak bertambah."
"Boby, aku ingat betul berapa sisa uang di rekeningku! Setelah Nyonya Kim mentransfer, saldo rekeningku bukannya bertambah justru berkurang!"
Boby yang kesal dengan sikap sang ibu akhirnya merebut ponselnya. Dia mengecek saldo rekening sang ibu, kemudian melihat transaksi terakhir yang keluar dari tabungannya. Benar saja ada sekitar tiga juta Won yang keluar dari tabungan ibunya.
"Ini, apa?" Boby menunjukkan layar ponsel yang menunjukkan bahwa ada pengeluaran beberapa menit lalu.
Rani kembali terbelalak. Dia langsung merebut lagi ponselnya dan memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Begitu mengecek transaksi tersebut, barulah dia sadar bahwa dirinya sudah membayar belanjaannya sendiri ketika tadi bersama Lily.
Di sisi lain, Lily yang mendengarkan percakapan Rani dan Boby melalui alat penyadap pun terkekeh. Dia sangat pias bisa membuat Rani merasa tertipu. Dia terpingkal-pingkal di atas sofa seraya memegangi perutnya yang mulai terasa kaku.
"Jay, seharusnya kamu memberiku CCTV tersembunyi supaya tahu bagaimana ekspresi Nyonya Kang sekarang!" seru Lily di antara ledakan tawanya.
"Yah, kamu enggak bilang. Lagi pula bukankah suaranya yang memekakkan telinga itu cukup untuk meyakinkanmu bahwa dia sedang terpukul saat ini?" Jay berjalan dari dapur ke arah sofa.
Namun sialnya, entah bagaimana Jay bisa tersandung kakinya sendiri. Botol air mineral yang dia genggam pun melayang ke udara. Kini tubuh Jay limbung yang mengarah ke sofa.
Lily yang masih sibuk memasang headphone pada telinga pun belum sadar, kalau tubuh tegap Jay akan menimpanya beberapa detik lagi. Sesaat sebelum Jay jatuh, barulah Lily sadar. Dia sudah terlambat untuk menghindar.
Sebuah tragedi pun terjadi. Bibir Lily dan Jay bertemu. Bibir keduanya saling menempel selama beberapa detik, sampai akhirnya Lily mendorong kasar tubuh Jay hingga tersungkur ke atas lantai.
"Kalian sedang apa?"
...****************...