Revenge Of The Ugly Lily

Revenge Of The Ugly Lily
Bab 29. Premier



Setelah pernikahannya gagal, Boby semakin gila kerja. Lelaki dingin itu bertambah beku. Dia melampiaskan semua kekecewaan dan kegundahan dengan terus bekerja. Sementara Yura dan Eden dipecat secara tidak hormat dari maskapai.


Yura memilih untuk pergi ke Paris dan tinggal di sana. Perempuan itu tidak tahan jika harus menetap di Korea dan menghadapi hujatan dari warganet. Selain itu, Jackson pun mengusir anak angkatnya itu dan memutuskan hubungan keluarga darinya. Namun, dia tetap memberikan sejumlah uang untuk biaya hidup di Paris selama enam bulan. Selebihnya Yura harus bekerja sendiri.


Tak terasa proses syuting berakhir dan hari ini adalah pemutaran pertama film yang dibintangi Mika serta Ed. Lily dan Amy tentu saja mendapatkan undangan khusus karena ikut terlibat dalam pembuatan film. Mereka mendapatkan kursi paling depan, dan duduk bersama para pemain film serta kru lain.


"Aku yakin setelah ini, para penggemar akan menjodoh-jodohkan Ed dengan Mika!" seru Amy dengan mata menatap layar lebar yang sedang menampilkan iklan.


"Akting mereka sungguh luar biasa! Setiap melihat keduanya, aku seperti sedang menyaksikan sepasang kekasih sungguhan!"


"Ed sudah memiliki tunangan," sahut Lily.


Amy yang awalnya bersandar pada kepala kursi pun kini duduk tegak. Matanya terbelalak dan menatap tak percaya pada Lily yang sedang memakan berondong jagung seraya menatap layar lebar di depannya.


"Kamu jangan bercanda, Lily!" seru Amy tak terima.


"Aku tidak sedang bercanda," ujar Lily tanpa bergeser dari posisinya sekarang.


"Astaga! Ka-kamu serius? Ed sudah memiliki tunangan? Tapi, kenapa tidak ada media yang menyorot hal ini?"


Lily memutar bola mata kemudian menggeser tubuh hingga kini dia berhadap-hadapan dengan Amy. Lily melipat lengan di depan dada seraya menatap tajam Amy yang masih bengong setelah mendengar fakta tentang Ed.


"Aku kenal baik dengan tunangannya! Jadi, apa perlu aku membawamu ke rumahnya?" Lily tersenyum miring seraya menatap tajam perempuan berkacamata itu.


"Aku rasa jika berita ini terendus oleh media, perempuan itu akan disakiti oleh fans fanatik Ed."


"Jika sampai hal itu terjadi, maka aku akan menjadi orang pertama yang menolong perempuan itu!" seru Lily.


Wajah Amy mendadak serius karena terbawa suasana. Perempuan itu berdeham selali untuk meredakan kecanggungan antara dirinya dan Lily karena pembahasan mengenai Ed. Dia pun memutar tubuh, hingga kini tatapannya kembali fokus pada layar di depannya.


Film pun diputar tak lama kemudian, suasana dalam bioskop mendadak hening. Hanya terdengar suara yang berasal dari film tersebut. Beberapa penonton tampak gemas dan menitikkan air mata ketika menyaksikan tokoh utama ditindas.


Film berdurasi satu setengah jam itu diakhiri dengan berhasilnya sang tokoh utama menampar semua perundung dengan kesuksesan yang diraihnya. Tepuk tangan riuh pun menutup acara pemutaran film pertama itu.


"Aku tidak percaya kamu bisa menulis cerita sebagus itu. Aku seperti melihat masa laluku di sana!" ujar Lily sambil tersenyum miring.


"Aku memang hebat! Setelah film ini, pasti banyak produser lain yang mengincar buku-buku yang sudah aku tulis!" seru Amy sombong.


Lily hanya terkekeh melihat gadis itu tampak percaya diri. Sejujurnya dia sangat senang bisa mengubah Amy yang penakut menjadi lebih berani dan percaya diri seperti sekarang.


Saat keluar dari gedung bioskop, Lily menangkap sosok Lilac. Saudari kembarnya itu tampak cantik dalam balutan busana kasual. Ingin sekali rasanya Lily menyapanya.


Akan tetapi, Lily menahan keinginannya. Akhirnya dia hanya menunduk menyembunyikan wajah. Meski tanpa menunduk, sebenarnya Lilac pun tidak akan mengenali Lily. Ternyata Amy menangkap gelagat aneh sahabatnya itu.


"Lily, kenapa kamu menunduk? Aku seperti melihat orang lain saja! Kamu biasanya berjalan tegap seraya membusungkan dada penuh percaya diri!" Amy mempraktekkan bagaimana Lily biasanya berjalan.


Suara Amy yang cukup keras ternyata tertangkap oleh pendengaran Lilac. Perempuan itu pun menghentikan langkah. Dia langsung balik kanan kemudian berjalan menghampiri Lily dan Amy.


"Aduh, lepas! Sakit, Lily! Lepas!" seru Amy sambil meringis menahan sakit.


Tanpa mereka sadari, Lilac sudah berhenti memperhatikan tingkah keduanya. Lilac menatap Lily dengan mata membola. Dia mengamati Lily yang tampak asing baginya.


Akan tetapi, entah mengapa hati Lilac sangat tertarik untuk mendekati perempuan itu. Dia menarik lengan Lily, sehingga tatapan keduanya beradu.


"Lily? Ka-kamu Lily adikku, bukan?"


"Bukan, Anda salah orang. Permisi!" Lily menarik lengan Amy kemudian menghindar dari Lilac.


Namun, Lilac setengah berlari menghampirinya. Dia menarik lengan Lily, kemudian menurunkan sedikit bagian atas bajunya untuk melihat punggung Lily. Dugaan Lilac benar, di punggung perempuan itu ada tanda lahir berbentuk hati berwarna merah muda.


"Lily!" Sontak Lilac melepaskan lengannya dari baju Lily.


Lily tidak dapat menghindar lagi sekarang. Dia menelan ludah kasar, kemudian tersenyum. Perempuan itu melambaikan tangan lalu tersenyum canggung.


Lilac menarik lengan saudarinya itu kemudian memeluknya erat. Mata perempuan tersebut mulai berkaca-kaca. Ada sedikit rasa bersalah yang bergelayut di hati Lily karena telah bersembunyi dari Lilac.


"Kamu ke mana saja?" tanya Lilac seraya merangkum wajah Lily.


"Maaf, Kak. Aku harus melakukan sesuatu untuk membalas perbuatan mereka."


"Mereka siapa?" Lilac mengerutkan dahi.


Lily akhirnya menceritakan semuanya sambil menikmati malam itu di sebuah kafe. Lilac tampak terkejut mendengar cerita Lily. Dia sedikit kecewa karena merasa tidak dianggap oleh Lily dan sang ayah.


Ayahnya mengetahui semua tentang Lily, tetapi Lilac sama sekali tidak diberi tahu. Bahkan selama ini sang ayah bersikap biasa seakan tidak tahu di mana Lily sekarang berada.


"Kenapa kalian menyembunyikan semuanya dariku?" tanya Lilac.


"Maaf, aku hanya ingin fokus membalas perbuatan Yuna dan yang lain. Sedikit lagi semua akan mendapatkan ganjarannya!" seru Lily berapi-api.


"Lily, membalas perbuatan jahat orang lain dengan hal yang sama bukanlah hal yang baik. Sebaiknya biarkan karma bekerja dengan sendirinya." Lilac mencoba untuk menasihati sang adik.


"Aku tidak membalas kejahatan mereka dengan kejahatan, Kak. Aku hanya membantu karma agar bekerja lebih cepat. Toh, aku tidak sepenuhnya membalas perbuatan jahat mereka dengan kejahatan. Bahkan aku mengeluarkan sejumlah uang untuk membantu mereka menjalani kehidupan selanjutnya. Kecuali Yura tentunya."


"Baiklah, terserah. Aku sudah mengingatkanmu. Jangan menyesal suatu hari nanti."


Malam itu mereka pun berpisah. Lilac sebenarnya ingin tahu di mana sang adik kembar tinggal. Akan tetapi, Lily menolak untuk memberitahu.


Lily hanya bisa percaya dengan sang ayah, serta kedua sahabatnya untuk saat ini. Lily dan Amy pun kembali ke apartemen dan beristirahat untuk mulai menjalankan misi balas dendam selanjutnya.


Lily berencana menarik pelanggan Yuna secara halus dan mengungkap fakta tentang Sena kepada publik. Untuk Yuna sebenarnya dia belum menemukan hal yang bisa membuat perempuan itu merasa malu. Jay pun masih berusaha menyelidiki kelemahan Yuna hingga sekarang.