Revenge Of The Ugly Lily

Revenge Of The Ugly Lily
Bab 32. Mencari Susy



Seminggu setelah pertemuan Lily dengan Beby, Jay sudah berhasil mengumpulkan data sepuluh orang lain yang mengalami pemotongan gaji ketika bekerja di salon Yuna. Lily pun sudah menemuinya satu per satu dan mereka setuju untuk dibantu mendapatkan sisa upahnya kembali.


Namun, ada satu orang lagi yang belum berhasil Lily temui. Orang itu adalah Susy. Ternyata Susy merupakan salah satu karyawan Yuna yang akan dijanjikan mendapatkan sisa gaji jika berhasil masuk ke salon Sara.


Jadi, Susy sengaja dipecat dan diminta melamar pekerjaan di salon Sara. Lily berusaha menghubungi Susy, tetapi panggilannya diabaikan. Ketika dia bertanya kepada Juno, lelaki itu juga mengatakan bahwa sudah beberapa minggu ini tidak bisa menghubungi Susy.


"Jay, bisa tolong lacak keberadaan Susy? Dia sudah tidak tinggal di tempat yang alamatnya kamu berikan kepadaku."


"Benarkah? Aku sudah memastikan semuanya kemarin. Kenapa dia bisa pergi dari sana?" Jay mengerutkan dahi karena heran dengan situasi ini.


"Aku harus memastikan dia mau ikut melakukan negosiasi ini. Semakin banyak yang datang semakin baik."


"Baiklah, aku coba lihat dulu."


Jay mulai membuka laptop. Lelaki itu membuka aplikasi buatannya, kemudian melacak keberadaan Susy berdasarkan nomor ponsel yang terakhir dia pakai. Hanya dalam hitungan menit, lokasi terkini Susy tampil di layar laptop.


Perempuan itu ternyata sedang berada di sebuah rumah yang ada di kawasan Myeongdong. Lily pun mengajak Jay untuk ke sana. Keduanya pun langsung menuju lokasi tempat Susy berada malam itu juga.


Suasana malam itu sangat ramai, karena Myeongdong merupakan area perbelanjaan yang terkenal di kalangan turis internasional. Banyak sekali pedagang kaki lima yang berjajar di sana. Aroma beraneka macam makanan menguar memasuki rongga hidung Lily.


"Lapar," ucap Lily lirih seraya mengendus aroma sedap dari makanan yang dimasak oleh para penjual.


Perut Lily pun mulai protes dengan mengeluarkan suara khas. Di dalam usus dan lambungnya hanya tersisa udara sehingga bunyi di dalam sana terdengar begitu nyaring. Jay yang menyadarinya pun langsung menoleh. Mata pria itu membulat dengan bibir menganga lebar.


"Kamu lapar?" tanya Jay.


"Ti-tidak! Ayo, jalan lagi! Rumahnya ada di gang sebelah sana, bukan?" Lily menunjuk sebuah gang yang berjarak sepuluh meter dari tempatnya berdiri sekarang.


"Benarkah tidak lapar? Kalau begitu kamu jalan dulu, aku mau mengambil sesuatu yang tertinggal di mobil!" ujar Jay sambil balik badan dan masuk ke dalam kerumunan.


Setelah Jay pergi, Lily meringis seraya memegang perut. Perutnya terasa perih karena sejak siang dia belum makan apa pun. Akhirnya Lily memutuskan untuk membeli beberapa tusuk odeng untuk mengganjal perut.


Perempuan itu berjalan pelan untuk menunggu Jay datang sambil menikmati kue ikan khas Korea itu. Rasa gurih dan khas dari ikan berdaging putih begitu pas dipadukan dengan kuah odeng yang terbuat dari kaldu, lobak, daun bawang dan kepiting.


Ketika Lily sedang asyik menikmati camilan itu, tiba-tiba Jay datang. Lily yang memiliki gengsi tinggi pun langsung memasukkan kue ikan yang masih satu tusuk ke dalam mulut. Kuah sisanya dia buang begitu saja, karena malu sudah berkata sedang tidak lapar kepada Jay sebelumnya.


"Lily, aku bawakan ini untukmu!" seru Jay sambil menyodorkan kantong plastik berisi dua kotak mi saus pasta kedelai hitam kesukaan Lily.


Akan tetapi, Lily yang sedang dalam kondisi mulut penuh oleh kue ikan tidak bisa menjawab. Lily terus memunggungi Jay. Setiap lelaki itu hendak menatap wajahnya dari depan, Lily akan terus menghindar.


Perempuan itu berusaha mengunyah kue ikan di dalam mulut dan menelannya dengan susah payah. Beberapa kali Lily tampak memukul dada karena rasa sesak pada kerongkongan yang terlalu penuh. Jay pun panik melihat kondisi Lily, dia berpikir sahabatnya itu sedang sakit atau semacamnya.


"Hey, Lily! Kamu kenapa?"


"A-air!" seru Lily seraya mengatur napas.


Jay pun langsung menyodorkan sebotol air mineral kepada perempuan itu. Lily segera membuka tutup botol, dan meminum isinya hingga tandas. Setelah berhasil menggelontorkan odeng ke dalam lambung, Lily pun membuang napas lega.


"Kamu ini kenapa?" tanya Jay dengan mata tak lepas dari Lily yang masih berusaha mengatur napas.


"Tidak apa-apa, ayo lanjutkan perjalanan!"


Lily berjalan lebih dulu. Jay pun mengekor di belakangnya. Namun, dia tersenyum geli ketika melihat mangkuk sterofoam berisi sisa kuah odeng tergeletak begitu saja di atas jalan.


"Dasar!" seru Jay sambil terus mengekor di belakang Lily.


Keduanya pun terus berjalan menyusuri gang sempit yang tampak sunyi. Penerangan di tempat itu redup. Sangat berbanding terbalik dengan riuhnya kondisi sebelum masuk jalan kecil tersebut.


Sebelumnya riuh, terang, dan ramainya kawasan pasar menyambut mereka berdua. Akan tetapi, begitu masuk ke jalan sempit menuju rumah Susy, semua hiruk pikuk itu lenyap. Mereka seperti sedang melintasi tempat lain.


Setelah berjalan hingga ujung gang, mulai tampak beberapa rumah berdesain mini malis. Semua rumah itu tampak sama dan sangat sederhana. Bahkan terlihat suram karena minim pencahayaan.


"Kamu yakin, dia ada di sini?" tanya Lily seraya melirik ke arah Jay yang sedang memperhatikan ponselnya.


"Iya, dia ada di rumah paling ujung!" Jay mengangkat lengan, lalu menunjuk sebuah bangunan sederhana yang terletak di deretan paling ujung.


Lily pun terus melangkah. Keduanya berhenti ketika sudah sampai di rumah yang dimaksud oleh Jay. Lily menekan bel rumah dan menunggu pintu pagar di depannya terbuka.


Akan tetapi, setelah menunggu lebih dari sepuluh menit pintu tersebut tidak terbuka sedikit pun. Jay pun menggunakan drone berukuran mini untuk mengetahui keadaan di dalam rumah Susy.


Kamera terbang itu terus memutari area rumah Susy di bawah kendali Jay. Lily mengamati keadaan di dalam rumah melalui layar ponsel yang sudah dihubungkan dengan drone tersebut. Ternyata rumah tersebut memang sedang kosong.


"Dia benar-benar tidak ada di rumah. Bagaimana ini?" Lily menoleh ke arah Jay seraya memiringkan kepala.


"Apa kita tinggal saja? Aku rasa semua orang yang ada saat ini sudah cukup untuk melayangkan protes dan mengajak Yuna untuk bernegosiasi." Jay pun menarik lagi drone-nya dari dalam rumah.


"Tapi ...." Ucapan Lily menggantung di udara karena terdengar benda jatuh dari belakang keduanya.


Kaki tampak Susy terpaku di atas jalanan. Dia terbelalak ketika mengetahui kehadiran Lily dan Jay di depan rumah. Otak perempuan itu mendadak beku.


Ketika Lily melangkah mendekat, barulah Susy dapat mencerna keadaan. Perempuan itu langsung balik kanan dan mengambil langkah seribu. Lily dan Jay pun segera mengejar ke mana langkah pendek gadis itu berlari.


Lily heran kenapa Susy tampak terkejut dan langsung kabur ketika melihat dia berada di depan rumahnya. Lily semakin mempercepat langkah kaki. Sampai akhirnya Susy yang kelelahan tersandung batu dan tersungkur di atas aspal.


"Susy!" teriak Lily panik.