
Jam menunjukkan pukul 08:00 malam ketika Lily sudah siap dalam balutan gaun berwarna putih tulang. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan membentuknya menjadi bergelombang layaknya pegas mobil. Riasan wajah bernuansa merah muda membuat penampilan Lily tampak semakin cantik.
Dari arah luar pintu kamar, Amy yang juga sudah cantik dalam gaun berwarna senada dengan Lily pun menghampiri perempuan itu. Dia menatap kagum ke arah Lily yang tampak cantik seperti putri dalam negeri dongeng.
"Daebak! Aku takut jika nantinya Sutradara Kang salah mengenali pengantin wanitanya!" seru Amy dengan pupil mata melebar.
"Ngaco! Ngomong-ngomong ... apa kamu siap menyaksikan pertunjukan spektakuler malam ini?" tanya Lily seraya tersenyum penuh arti.
"Tentu saja! Aku akan menjadi penonton pertama yang duduk di barisan paling depan!" Amy mengepalkan jemari, lalu meninjukannya ke udara.
Keduanya pun terkekeh. Mereka langsung masuk ke mobil dan melajukannya menuju salah satu hotel ternama di kawasan Gangnam. Jalanan malam itu tampak begitu padat karena banyak sekali yang ingin menyaksikan perhelatan akbar itu secara langsung di depan gedung hotel.
Pernikahan Boby dan Yura menjadi sorotan seluruh negeri karena akan disiarkan langsung oleh seluruh stasiun televisi nasional. Pesta pernikahan yang digadang-gadang akan menjadi pesta termewah tahun ini pun jelas terbayang di benak para penduduk Korea Selatan. Putri dari produser nomor satu di Korea Selatan menikah dengan sutradara terbaik di negeri itu.
Hal tersebut tentu saja membuat heboh masyarakat umum. Hubungan Yura dan Boby memang tidak pernah terendus oleh media karena jam kerja keduanya yang sangat gila. Hal itu membuat privasi hubungan mereka terjaga dengan baik, sebab keduanya sepakat untuk menjalani hubungan jarak jauh berdasarkan rasa percaya kepada pasangan.
"Daebak! Aku merinding melihat semua dekorasi ruangan ini!" Mata Amy membola dengan bibir menganga lebar ketika memasuki tempat diadakannya pesta pernikahan Boby dan Yura.
Perempuan itu terus mendongak karena menatap langit-langit gedung yang dihiasi dengan rangkaian bunga menjuntai berwarna merah muda. Belum lagi ornamen serba putih dan emas yang dipakai untuk menghias pelaminan. Pesta ini bisa dipastikan akan menjadi pernikahan impian pasangan setelahnya.
"Hei, berhenti terlihat bodoh! Kita ke sini bukan hanya untuk mengagumi pesta ini!" Lily mengingatkan sang sahabat seraya menunjuk sebuah area khusus yang nantinya akan dipakai untuk memutar video kenangan kebersamaan Yura dan Boby.
Meski jarang bertemu, ternyata Yura dan Boby selalu mengabadikan momen kebersamaan mereka. Setiap foto dan video yang mereka simpan dibuat menjadi sebuah film pendek berdurasi 10 menit. Lily berencana mengganti file film tersebut dengan film lain yang nantinya akan membuat Yura batal nikah serta malu seumur hidup.
Semua berjalan normal sekarang. Tatapan Lily tak lepas dari area yang sengaja dipakai untuk meletakkan meja dengan alat proyektor. Setelah mengawasi tempat itu selama 20 menit, akhirnya terdapat celah. Orang yang ditugaskan di tempat itu tampak lengah karena Amy mendekat dan mengajaknya mengobrol.
"Hai!" sapa Amy kepada laki-laki bernama Steve itu.
Awalnya Steve diam. Dia tidak menanggapi sapaan dari Amy. Akan tetapi, sikapnya berubah 180 derajat setelah Amy membuka jati dirinya. Amy mengulurkan tangan kemudian menyebut bahwa dia adalah penulis bayangan dari Ara.
Ternyata lelaki itu adalah penggemar berat novel-novel yang ditulis oleh Amy atas nama Ara. Lelaki itu mulai hanyut dalam obrolan. Baginya, menjadi sebuah kebanggaan tersendiri karena disapa oleh penulis yang karyanya sangat dia puja-puja itu.
"Ah, mau tanda tanganku? Atau kita bisa mengambil foto bersama!"
Amy pun langsung mengajak Steve berfoto. Dia mengambil posisi memunggungi alat proyektor agar tatapan Steve beralih. Sementara mereka berdua sibuk berfoto ria, Lily melancarkan aksinya.
Perempuan itu menukar diska lepas yang tertancap pada proyektor dengan miliknya. Setelah berhasil, Lily pun segera beringsut dari tempat itu dan kembali berbaur dengan tamu yang lain. Semakin malam, suasana pesta semakin ramai.
Sesaat sebelum pemutaran film pendek, Lily dan Amy saling menatap satu sama lain. Sebuah senyum miring pun terukir di bibir keduanya. Mereka sama-sama menghitung mundur dalam hati dimulai dari angka 10.
"Selamat, Yura. Semoga kalian berdua hidup bahagia selamanya."
"Terima kasih, Pak. Apa dia istri Anda?" tanya Yura ramah seraya melirik istri sang pilot yang memasang wajah datar.
"Benar, Maria perkenalkan dia adalah ...."
"Pemuas napsumu ketika jauh dariku?" Maria langsung menyiramkan segelas minuman yang dia genggam ke wajah Yura.
Sontak keributan pun tak dapat dihindarkan. Pilot bernama Eden itu langsung menarik sang istri agar menjauh dari Yura. Sedangkan Boby tengah sibuk membantu sang istri mengeringkan wajah dari minuman tersebut.
"Dasar perempuan murahan! Perebut kebahagiaan wanita lain! Perempuan gatal!" umpat Maria berulang kali.
Maria terus berontak dari pelukan sang suami. Wajahnya tampak merah padam dengan mata berkaca-kaca. Dia berusaha untuk lepas dari dekapan Eden.
"Rasanya ingin sekali aku cakar wajahmu itu! Aku muak melihat senyum nistamu itu! Dasar perebut suami orang!"
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!" sanggah Yura.
"Kamu sudah berapa kali tidur dengan suamiku, ha! Dibayar berapa? Apa kalian menikmatinya sementara aku sedang hidup kesepian di rumah besar itu sendirian?" teriak Maria seperti orang kesetanan.
Tak lama kemudian lampu di ruangan itu padam. Menyisakan lampu kristal yang menggantung di langit-langit ruangan. Tak lama kemudian film singkat jurus pamungkas dari Lily pun diputar.
Film singkat itu bukan berisi kenangan kebersamaan Yura dengan Boby, melainkan bersama Eden. Seluruh tamu undangan pun terkejut dengan apa yang tengah mereka saksikan. Potret kemesraan dan beberapa pose yang tampak sangat int*m terpampang jelas dan disaksikan oleh ratusan tamu undangan.
"Hentikan! Hentikan ini semua!" teriak Yura frustrasi.
Steve berusaha menghentikan pemutaran film. Namun, dia gagal karena Jay sudah memasukkan virus ke dalam diska lepas yang dipasang Lily, untuk merusak kendali proyektor tersebut. Perselingkuhan Yura dengan sang pilot pun terbongkar.
Nama Yura yang baru naik ke permukaan karena menikah dengan Boby, kini langsung berubah buruk. Setiap sudut kota yang ada di Korea Selatan kini tengah membicarakan kebusukan Yura. Ambisi perempuan itu untuk menjadi terkenal tunai sudah.
Namun, kali ini Yura terkenal karena skandal yang terbongkar di hari pernikahannya. Ketika semua tamu sibuk menghujat Yura, Lily hanya tersenyum lebar sembari menatap tajam dari kejauhan, sang mempelai wanita yang sedang menangis.
...****************...