Revenge Of The Ugly Lily

Revenge Of The Ugly Lily
Bab 30. Yuna Salon



Siang itu Yuna melamun di kantornya. Dia mulai menaruh curiga kenapa satu per satu pelanggannya mencabut keanggotaan VVIP dari sana. Akibat hal tersebut omzet salon menurun drastis.


Bukan hanya pelanggan VVIP, tetapi para pelanggan biasa pun mulai berpindah haluan. Yuna mulai kesulitan mengorek informasi mengenai salon Sara karena Susy sudah tidak bekerja lagi di salon tersebut. Perempuan itu pernah mencoba untuk menemui salah seorang karyawan lain yang bekerja di sana untuk dibayar menjadi mata-mata.


Akan tetapi, Yuna gagal. Bahkan dia malah ditertawakan oleh karyawan tersebut dan diejek. Dia mengatakan bayaran yang dia tawarkan oleh Yuna jauh lebih rendah dari gaji per jam yang dibayar oleh Sara. Mendengar hal itu Yuna menjadi geram dan semakin ingin menjatuhkan Sara.


"Permisi, Nona Han." Seorang karyawan Yuna yang bekerja sebagai penata rambut mengetuk pintu kemudian masuk ke kantor Yuna.


"Ada apa, Beby?" tanya Yuna seraya menatap datar salah satu karyawan yang dia anggap paling setia itu.


Ya, Beby merupakan karyawan yang menemani Yuna dari nol sejak dia membuka salon hingga sekarang. Ketika melangkah masuk dan menghadap Yuna Beby tampak ragu. Perempuan itu meremas jemari satu sama lain sebelum akhirnya mendaratkan bokong ke atas kursi.


"Begini, Kak. Sa-saya ... saya ingin meminta sisa gaji bulan lalu yang belum dibayarkan. Saya butuh uang itu untuk pengobatan ibu saya, Kak." Beby menunduk seraya meremas rok yang membalut tubuhnya.


Mendengar ucapan Beby membuat kepala Yuna semakin berdenyut. Sebenarnya dia sudah tidak sanggup lagi membayar gaji Beby, tetapi Yuna tidak mungkin mengatakan itu secara terang-terangan. Jika hal itu dia lakukan, tentu saja bisa menjatuhkan harga dirinya sendiri.


"Sisa gaji? Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya? Kamu akan menerima sisanya jika target salon ini terpenuhi. Kalau tidak, kamu tidak akan mendapatkannya sebagai sanksi karena kinerjamu dalam melayani pelanggan kurang memuaskan!" seru Yuna tersenyum miring.


"Kak, setahuku ketika masuk kerja di sini tidak pernah ada peraturan seperti itu! Lagi pula aku sudah bekerja dengan baik!" protes Beby.


“Kamu tidak mau mempromosikan salon ini secara personal! Itu artinya kamu juga tidak berkontribusi terhadap manajemen pemasaran!” kilah Yuna.


“Kak, itu bukan tugasku! Seharusnya Kakak memperkerjakan karyawan lain untuk menyebar brosur atau semacamnya! Bahkan salon Sara sampai membuat website resmi untuk memperkenalkan salonnya kepada masyarakat! Bahkan di web tersebut terdapat layanan pelanggan gratis untuk konsultasi masalah kecantikan!”


"Jangan pernah membandingkan salon ini dengan salon murahan itu! Lagi pula ini salonku, bukan salonmu! Jika tidak suka, kamu bisa cari tempat lain untuk bekerja!"


Beby tampak menatap tajam ke arah Yuna. Jemari perempuan itu mengepal kuat dengan bahu gemetar karena menahan amarah. Beby pun melepas kartu identitas karyawan yang tersemat di saku kemeja dan meletakkannya ke atas meja secara kasar.


"Kalau begitu, saya berhenti bekerja detik ini juga!" seru Beby.


Perempuan itu langsung keluar dari kantor Yuna dan membanting pintu kasar. Setelah Beby keluar dari ruangannya, Yuna langsung menyapu isi mejanya dengan lengan. Barang yang ada di atas meja pun berserakan ke atas lantai.


Setelah mengundurkan diri dari salon Yuna, Beby langsung mengendarai motornya menuju rumah sakit. Dia hendak menemui sang ibu yang tengah dirawat dan akan menjalani operasi besok lusa. Sepanjang perjalanan fokus perempuan itu terbelah.


Sampai-sampai Beby menabrak sebuah mobil yang berhenti di depannya karena lampu merah menyala. Beby yang panik, berniat melajukan motor untuk kabur. Dia takut jika diminta untuk mengganti perbaikan mobil mewah tersebut. Akan tetapi, ketika hendak memutar tuas gasnya seorang lelaki muda keluar dari mobil dan mematikan mesin motor dengan cara mencabut kunci dari lubangnya.


"Mau ke mana? Kabur? Hah, jangan harap!" seru Jay seraya tersenyum miring.


"Ma-maaf, Kak. Aku ...." Beby yang gugup hanya bisa menunduk sambil meremas roknya.


Dari arah belakang, klakson mobil pun bersahutan. Lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. Akhirnya Jay meminta Beby turun dari motor dan menepi di bahu jalan. Sementara Lily yang masih ada di dalam mobil ikut menepi.


Setelah sampai di bahu jalan, Lily keluar dari kuda besinya. Dia berjalan ke arah bagian belakang mobil untuk memeriksa kondisinya. Ternyata mobil tersebut sedikit penyok dan lecet.


"Maaf, Kak. Saya terburu-buru ke rumah sakit. Ibu saya sakit dan tidak ada yang menemani beliau di sana." Beby terus menunduk karena tidak berani menatap Jay dan juga Lily.


"Halah, alasan! Dasar berandal kecil!" seru Jay.


Beby memanglah seorang gadis yang seharusnya masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah atas. Namun, karena harus membantu perekonomian keluarga, dia terpaksa bekerja di salon Yuna.


Lily akhirnya mencekal lengan Jay yang terlihat hendak memukul Beby. Jay menoleh ke arah Lily yang kini menggeleng. Mau tidak mau Jay menurunkan kembali lengannya dan memukul udara untuk melampiaskan kekesalan. Lily akhirnya mendekati Beby.


Perempuan itu melirik motor butut Beby yang tampak lecet di bagian depannya. Lily menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Dia merangkum wajah Beby dan menatapnya serius.


"Siapa namamu?"


"Beby, Kak," jawab Beby lirih hampir tidak terdengar.


"Benarkah ibumu sedang dirawat? Di mana?" tanya Lily lembut tanpa melepaskan tangannya dari wajah Beby.


"Di Rumah Sakit Universitas Seoul, Kak."


Lily melepaskan lengannya dari wajah Beby. Dia mengembuskan napas perlahan kemudian tersenyum lembut. Beby kembali menunduk menatap ujung sepatunya.


"Jay, bawa motornya ke bengkel. Aku akan mengantarnya ke rumah sakit, setelah itu aku akan membawa mobilku ke bengkel juga."


"Lily, dia sudah menabrak mobilmu. Bagaimana bisa kamu ...."


Lily menempelkan telunjuknya ke bibir sehingga membuat Jay terdiam. Lelaki itu tidak berani lagi melayangkan protes. Akhirnya Jay pun pergi dengan perasaan kesal sambil mengendarai motor Beby.


Sementara itu, Lily mengantarkan Beby ke rumah sakit. Dia ingin mengetahui secara langsung apakah yang dikatakan gadis itu benar atau bohong. Sesampainya di rumah sakit, Lily langsung mengekor di belakang Beby menyusuri koridor rumah sakit.


Langkah keduanya berhenti di depan bangsal dengan tulisan Lisa Choi. Beby tambah menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar sebelum akhirnya membuka pintu tersebut. Begitu masuk ke ruangan, sebuah senyum merekah terukir di bibir seorang perempuan dengan rambut yang mulai memutih.


"Ibu," sapa Beby sambil tersenyum tipis.


"Halo, Beby. Bukannya kamu harusnya bekerja? Kenapa datang ke sini?"


"Aku mengambil cuti sementara sampai Ibu selesai operasi."


Perbincangan keduanya pun berlangsung cukup lama. Lily hanya menyaksikan dari kejauhan. Dari obrolan mereka Lily tahu bahwa Beby memang tidak berbohong. Bahkan beberapa kali ibu Beby menyapa dan mengajaknya untuk ikut mengobrol.


"Kalau begitu, aku mau mengantar Kakak ini ke tempat parkir dulu, ya? Ibu, istirahatlah." Beby menyelimuti ibunya yang kini berbaring dan mulai memejamkan mata.


Setelah itu, mereka berdua keluar dari bangsal. Beby dan Lily kembali ke tempat parkir sambil mengobrol. Dari cerita yang diungkapkan Beby, Lily akhirnya mengetahui semua tentang Yuna. Kelemahan perempuan itu akan menjadi kartu AS bagi Lily untuk menghancurkan reputasi Yuna.