
Sehari sebelum Yura pulang ke Korea, Lily mendatangi kediaman Yuna bersama Jay. Dia menekan bel rumah dan seorang asisten rumah tangga membuka pintu pagar.
"Permisi, apa benar Anda Nona Shin?" tanya Lily.
Mendengar namanya disebut oleh Lily, tentu saja membuat Nona Shin terbelalak. Dia tidak menyangka ada orang lain selain Yuna yang tahu tentang dirinya. Gadis itu pun akhirnya mengangguk.
Gadis itu bernama Rani Shin, seorang perempuan muda yang bekerja di rumah Yuna untuk menggantikan sang ibu. Ibu Rani meninggal karena serangan jantung ketika bekerja di rumah Yuna. Rani harus meneruskan pekerjaan sang ibu karena Yuna mengancam akan meminta kembali uang kontrak yang sudah dia berikan.
Rani mempersilakan Lily dan Jay duduk. Dia berjalan ke dapur, kemudian kembali dengan nampan berisi dua gelas jus jeruk. Setelah meletakkan minuman itu ke atas meja, Rani pun duduk bersimpuh di atas karpet.
"Hei, kenapa duduk di bawah? Ayo, sini duduk di sampingku!" Lily menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya.
"Ti-tidak, Kak. Nona Yuna melarangku duduk di atas situ karena membuat sofa itu kotor."
Lily dan Jay saling menatap. Tanpa sadar Lily mengembuskan napas kasar. Dia tidak menyangka Yuna merendahkan asisten rumah tangga sampai seperti itu.
Bagaimanapun juga, mereka juga manusia. Tanpa bantuan dari ART pasti Yuna akan kesulitan dalam mengurus rumahnya yang sangat besar. Bisa-bisanya dia memperlakukan Rani seburuk itu.
"Hei, bukan masalah besar. Jika sampai sofa ini kotor ketika kamu duduki, aku akan menggantinya langsung dengan yang baru! Ayo, duduk sini!" Lily kembali menepuk pelan sofa tersebut.
Meski takut, akhirnya Rani duduk di samping Lily. Rani menunduk dengan jemari yang meremas seragam kerjanya. Dua berulang kali menelan ludah kasar karena takut.
Ini adalah pertama kalinya Rani duduk di atas sofa. Dia takut ketahuan. Terlebih lagi di rumah itu banyak sekali CCTV yang dipasang.
"Begini, aku mau minta tolong kepadamu. Bertahanlah di rumah ini sampai misi yang aku lakukan selesai. Setelah itu aku akan memberimu uang untuk membayar uang kontrak yang pernah diterima ibumu." Lily mengeluarkan dompet dari dalam tas.
Setelah itu, Lily mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada Rani. Rani hanya menatap uluran tangan Lily. Dia mengerutkan dahi karena tidak mengerti kenapa perempuan itu memberinya uang.
"Ambillah! Setiap kamu hendak mengerjakan sesuatu yang akan aku minta, kamu akan mendapat uang segini. Masalah keamanan, kamu tenang saja. Aku dan Jay akan terus mengawasimu dari kejauhan." Lily melirik Jay yang kini tersenyum tipis.
"Ingat, setelah semua selesai aku akan membantumu untuk keluar dari rumah ini." Lily menatap serius Rani untuk meyakinkan perempuan di hadapannya itu.
"Tapi, bolehkah saya tahu kenapa Anda melakukan sesuatu yang disebut misi itu? Lalu misi seperti apa yanh akan Anda lakukan?"
Setelah mendengar alasan Lily memintanya untuk menjadi mata-mata, akhirnya Rani mengiyakan permintaan perempuan itu. Namun, dia menolak pemberian Lily. Rani mau membantu dengan suka rela, asalkan setelah semua selesai dia benar-benar bisa keluar dari rumah Yuna.
Keesokan harinya Rani menempelkan alat penyadap suara di kolong meja, ketika menyuguhkan makanan dan minuman untuk Yuna, Yura, dan Sena. Dari percakapan mereka bertiga, Lily memutuskan untuk memulai rencana selanjutnya.
Lily berencana menggagalkan pernikahan Yura dan Boby. Keputusan Lily pun didukung oleh Jay. Gadis itu berencana mencari tahu lebih jauh perasaan seperti apa yang Yura rasakan untuk Boby. Benar-benar cinta atau hanya ingin memanfaatkan sang sutradara saja.
"Jay, tolong kumpulkan semua informasi tentang Sutradara Kang. Setelah itu aku akan membuat rencana untuk membatalkan pernikahannya dengan Yura." Lily tersenyum miring seraya menatap penuh arti ke arah Jay.
"Apa kamu akan menggoda Paman Kang?" tanya Jay curiga.
Mendengar pertanyaan Jay tentu saja membuat Lily memukul keras bagian belakang kepala Jay. Jay pun langsung meringis kesakitan. Sebuah tatapan tajam dia lemparkan kepada Lily.
Kali ini Lily memukul paha Jay sehingga membuat lelaki itu mengangkat kaki untuk menghindar. Akan tetapi, Jay gagal karena gerakan Lily jauh lebih cepat darinya. Lelaki itu pun hanya bisa meringis menahan sakit seraya mengusap paha untuk mengurangi nyeri akibat pukulan Lily.
"Bukan menggoda! Tapi, aku akan memberikan Sutradara Kang sedikit perhatian." Lily mendekatkan jari telunjuk dan jempolnya.
"Lily, berhati-hatilah dalam permainan ini. Aku khawatir kamu terjebak dalam permainan yang kamu buat ini suatu saat nanti." Jay tampak serius menatap Lily.
Seketika senyum Lily lenyap. Dia membalas tatapan Jay. Keduanya seakan sedang membuktikan bahwa salah satu di antara mereka paling dominan. Akan tetapi, tindakan mereka tampak berbeda di mata Amy.
Perempuan itu menjerit ketika melihat dua anak manusia itu saling menatap. Pikiran mesum kini memenuhi kepala Amy. Ya, gadis itu berpikir bahwa Lily dan Jay hendak berciuman.
"Omo! Apa yang sedang kalian lakukan?" Amy menutup bibir yang menganga karena terkejut melihat pemandangan di depannya.
Mendengar teriakan Amy, sontak membuat Lily dan Jay menoleh. Keduanya kini menatap tajam ke arah Amy. Lily langsung beranjak dari sofa kemudian mendekati teman satu apartemennya itu.
Sebuah pukulan ringan mendarat tepat kepala Amy. Amy pun mengaduh sambil mengusap lembut kepalanya. Dia terus menggerutu karena mendapat pukulan dari Lily.
"Aku rasa isi kepalamu itu harus dicuci!" seru Lily kemudian berjalan masuk ke kamarnya.
Setelah mengumpulkan banyak informasi mengenai Boby, Lily tahu bahwa sang sutradara tinggal bersama ibunya. Kebetulan Nyonya Kang adalah salah satu langgan VVIP salon Yuna. Dia berencana mengambil hati ibu Boby dan mengenalkannya pada salon Sara.
Sekali dayung dua pulau terlewati, Lily akan mendekati ibu Boby untuk mencuri hatinya. Dia akan menunjukkan kepada Nyonya Kang, kalau masih ada banyak perempuan baik yang bisa dijadikan menantu.
Pagi itu adalah jadwal Hana Kang melakukan pijat relaksasi di salon Yuna. Lily sengaja mengikutinya dan meminta ijin kepada Sara untuk datang terlambat. Kebetulan tidak ada jadwal syuting juga pada hari itu. Jadi, Lily bebas melakukan banyak hal.
"Ah, itu dia!" seru Lily ketika melihat Hana keluar dari rumah bersama sang sopir.
Lily terus mengikuti mereka hingga keluar perumahan. Ketika hendak menyeberang ke arah salon Yuna, Lily mempercepat laju mobilnya. Dia sengaja menabrakkan badan mobilnya ke bagian belakang mobil Hana.
Mobil tersebut pun tidak jadi menyeberang karena ulah Lily. Lily tersenyum lebar, kemudian turun dari kuda besinya tersebut. Dia berlari kecil menemui sang sopir yang kini sedang memeriksa kondisi badan mobil yang penyok.
"Maaf, Pak! Saya tidak sengaja. Tadi saya ...."
"Anak muda jaman sekarang memang tidak pernah bisa berhati-hati!" sahut Hana geram.
Belum sempat Lily berdalih, dia sudah kena marah oleh ibu Boby. Lily pun membungkuk dalam untuk menyembunyikan senyum miringnya dari perempuan berusia 60 tahunan itu.
"Let's start the next mission!"
...****************...