
Di sebuah ruang bawah tanah yang belum diketahui secara pasti lokasinya, Lily tengah diikat menggunakan tambang dengan posisi terduduk di atas kursi. Kepalanya tertunduk lesu dengan mata terpejam. Terdengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat.
Pria berumur 60 tahunan dengan punggung yang mulai melengkung ke depan itu adalah Tuan Kim, ayah Sena. Ya, preman berpakaian rapi tadi merupakan orang suruhan Rafael Kim. Lelaki itu mendekati Lily kemudian menjepit pipinya menggunakan jemari dengan kulit yang keriput.
"Bangun!" Rafael menggoyangkan kepala Lily.
Namun, Lily tetap bergeming. Dia masih terpejam. Rafael yang kesal akhirnya mengambil botol air mineral yang ada di atas meja.
Setelah itu, lelaki itu membuka tutupnya dan mengguyur kepala Lily menggunakan air tersebut. Lily pun tersentak kaget. Kepalanya terasa berdenyut hebat.
Perempuan itu sampai terbatuk-batuk karena sebagian air masuk ke dalam rongga hidung. Ketika baru setengah sadar, sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Lily. Hal itu tentu saja membuat kesadaran Lily kembali sepenuhnya.
"Hei, siapa kamu? Berani-beraninya kamu membuat karier putriku hancur dalam hitungan menit!"
Lily menatap nyalang kepada lelaki dengan kumis yang mulai memutih itu. Rahang Rafael mengeras sempurna. Jemarinya semakin kuat menekan pipi Lily sehingga meninggalkan rasa nyeri di sana.
"Aku hanya membalas perbuatan kejinya di masa lalu, Tuan Kim! Coba tanyakan kepada Sena! Hal apa yang membuatnya sampai menerima semua ini!"
"Dasar perempuan brengsek!" Sebuah pukulan keras mendarat di pipi Lily.
"Kamu tahu? Sekarang dia sedang berada di ruang psikologi karena mengalami tekanan psikis!" Rafael menatap nyalang Lily seraya menunjuk jauh ke luar pintu seakan ingin menunjukkan di mana Sena berada sekarang.
"Dia pantas menerimanya!" teriak Lily tanpa rasa takut sedikit pun.
"Siapa yang menyuruhmu! Katakan!" bentak Rafael tepat di depan wajah Lily.
Mendengar pertanyaan Rafael justru membuat Lily tertawa terbahak-bahak. Air mata perempuan itu sampai menetes. Akan tetapi, Rafael yang tidak suka dengan sikap Lily kembali mendaratkan pukulan.
Kali ini Rafael memukul wajah Lily hingga tubuhnya yang terikat pada kursi tersungkur ke atas lantai. Rafael bahkan terus menginjak kaki dan lengannya tanpa rasa kasihan sedikit pun. Lily hanya bisa meringis menahan sakit karena kekuatannya seakan menghilang begitu saja.
Ketika gerakan Rafael berhenti, Lily kembali menyulut emosi lelaki tersebut. Dia mengatakan bahwa Rafael adalah seorang pengecut. Lily juga mengatakan bahwa lelaki tua itu merupakan pria lemah.
"Sungguh sangat disayangkan! Seorang produser musik ternama harus mengerahkan empat orang preman u tuk menangkap gadis lemah sepertiku!" Lily terbahak-bahak hingga tubuhnya gemetar.
"Bahkan Anda hanya berani menghajar seorang perempuan karena tangan dan kakinya terikat. Apa Anda takut aku bisa membalas jika kondisiku tidak seperti ini? Dasar pe-nge-cut!" Lily terus mengejek Rafael untuk membakar emosi lelaki tersebut.
Benar saja, emosi Rafael langsung memuncak. Kini Lily kembali mendapatkan pukulan. Jika saja Rafael tidak ditahan oleh sekretarisnya, sudah bisa dipastikan Lily akan semakin babak belur.
"Hentikan, Tuan! Anda bisa membunuh perempuan ini!" Jordan mencoba mengingatkan bisnya itu.
"Dasar perempuan brengsek! Kamu harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada Sena dan kariernya!"
"Sudah, Tuan! Abaikan dia! Sebaiknya kita segera mengadakan konferensi pers dan menjemput Nona Sena!" Jordan menarik sang majukan keluar dari ruang berukuran enam meter persegi itu.
Setelah Jordan dan Rafael keluar dari ruangan tersebut, dua orang penjaga masuk. Mereka melepaskan tali yang mengikat Lily. Lily pun berusaha untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur.
Ketika semua tali yang membelenggu dirinya terlepas, Lily langsung berontak. Dia berlari ke arah pintu. Akan tetapi, ternyata di luar pintu sudah ada dua penjaga lain yang bertugas. Aksi Lily kabur pun gagal, dan dia harus kembali dikurung dalam ruangan tersebut.
Ketika tinggal sendirian di dalam ruangan. Lily meringkuk di sudut ruangan sambil meneteskan air mata. Air mata itu keluar bukan karena rasa sakit yang kini mendera tubuhnya. Dia menangis karena merasa sendiri dan kehilangan harapan untuk hidup.
"Jay, tolong aku," ucap Lily lirih di antara tangis yang mulai pecah.
Entah mengapa setiap Lily mengalami kesulitan, Jay adalah orang pertama yang terlintas di benaknya. Lily benar-benar mulai bergantung kepada lelaki tersebut. Saat ini barulah dia sadar bahwa Jay merupakan sumber kekuatannya.
Setelah lelah menangis, mata Lily mulai terasa sangat berat. Perlahan dia menutup kelopak mata dan mulai tertidur. Sampai akhirnya sebuah sentuhan lembut kembali membangunkannya.
Saat membuka mata, di depannya sudah ada Jordan yang membawa sebotol air mineral dan satu porsi jjangmyeon. Lelaki tersebut menyodorkan semua yang dia bawa kepada Loly. Namun, Lily hanya menatapnya sekilas, lalu membuang muka.
"Makanlah. Jangan pernah berusaha kabur dari sini. Rumah ini memiliki sistem keamanan canggih yang sulit ditembus oleh siapa pun."
"Benarkah? Tunggu saja ketika Jay membobol sistem keamanan rumah ini! Ah, setelah lepas dati sini, aku akan melaporkan kalian ke polisi karena sudah melakukan tindak kriminal penculikan kepada gadis secantik aku!" Lily tersenyum miring.
Sejujurnya Lily mendapatkan perlakuan yang baik dari Jordan. Di dalam ruangan itu, Lily juga dibiarkan bebas tanpa ikatan tambang seperti tadi. Hal itu dikarenakan tanggung jawab mengenai Lily diserahkan sepenuhnya oleh Jordan.
Setelah mendapatkan tugas itu dari Rafael, Jordan pun berusaha memanusiakan Lily. Dia tidak ingin terkena masalah di kemudian hari karena tindak kekerasan. Jordan kembali membujuk Lily agar gadis itu mau makan.
Akan tetapi, Lily tetap bersikukuh untuk terus menutup mulut. Akhirnya Jordan menyerah dan meninggalkan makanan serta minuman itu bersama Lily. Ketika lelaki itu keluar dari ruang bawah tanah, Lily diam-diam melirik mangkuk berisi mi pasta kedelai hitam itu.
"Aduh perutku lapar! Cacing di perutku juga butuh nutrisi. Jika aku tidak memakannya akan berdosa. Aduh, sungguh pilihan yang sulit." Lily menelan ludah kasar seraya menatap mi tersebut.
Liky masih bergeming. Dia terus menatap mi tersebut seraya menelan ludah kasar. Aroma khas dari jjangmyeon masuk ke rongga hidung seakan sedang merayu Lily untuk segera melahapnya. Akhirnya Lily tidak tahan lagi.
Perut Lily terus protes, dan lambungnya terasa perih. Mau tidak mau dia pun mendekati mi tersebut. Dia mengendusnya perlahan, mengambil sumpit, lalu membolak-balikkan makanan yang terbuat dari tepung itu.
"Aman, tidak ada yang mencurigakan. Misalkan ada racun di dalam sini, berarti sudah takdirku untuk mati dengan cara diracuni."
Lily segera memasukkan mi berwarna hitam itu masuk ke mulut. Perempuan itu mencecap rasa yang menari di lidah seraya memejamkan mata. Mi tersebut pun akhirnya habis dalam hitungan menit.
Di sisi lain, Jordan tersenyum geli ketika memantau perilaku Lily dari kamera pengintai. Ada rasa penasaran yang kini memenuhi kepala lelaki tampan berusia 35 tahun itu. Jordan mengusap dagu seraya memperhatikan gerak-gerik Lily melalui layar monitor.
"Gadis yang menarik!"