Revenge Of The Ugly Lily

Revenge Of The Ugly Lily
Bab 34. Menyerang Yuna



"Ini peringatan terakhir. Jika kamu sampai mengikuti omongan perempuan itu, dan merencanakan demo ke salonku ...." Yuna berjalan semakin mendekat.


Perempuan itu menyeringai dan mendekatkan bibirnya ke telinga Beby. Beby tampak menelan ludah kasar ketika Yuna mengucapkan ancaman. Setelah selesai membisikkan ancaman kepada Beby, Yuna mundur dua langkah kemudian terkekeh.


"Aku tahu kamu anak yang berbakti. Jadi, camkan apa yang baru saja aku ucapkan! Nyawa ibumu ada di tanganku!" seru Yuna.


Yuna pun melenggang begitu saja. Dia masuk ke dalam mobil yang terparkir di tepi jalan dekat rumah sakit. Jemari Beby mengepal kuat seraya menatap penuh kebencian ke arah Yuna.


"Semakin kamu menekanku, maka aku akan semakin melawanmu!" Beby mengangkat ponsel yang sejak tadi dia genggam.


Layar ponsel itu menyala. Ternyata Beby merekam semua percakapannya dengan Yuna. Perempuan itu pun langsung mengirimkan rekaman suara tersebut kepada Lily.


Dalam hitungan detik, pesan dari Beby sudah sampai ke ponsel Lily. Lily pun segera mendengarkan rekaman tersebut. Dari sana barulah dia menyimpulkan bahwa Yuna pasti mengancam mantan pekerja yang lain dengan cara sama.


"Jadi ini yang membuat mereka semua berubah pikiran?" Lily memukul roda kemudinya seraya mengumpat.


Lily pun memutuskan untuk melaporkan hal ini kepada polisi. Dia membanting roda kemudi dan kembali menghampiri Beby yang masih ada di rumah sakit. Setelah itu keduanya langsung pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan.


Sepanjang perjalanan, Lily menanyakan apa saja ancaman yang dilayangkan kepada Beby. Beby pun mengatakan bahwa dia tidak akan segan-segan melukai ibu dan juga adik-adiknya. Air mata pun bercucuran membasahi pipi perempuan itu ketika bercerita mengenai pertemuannya dengan Yuna.


Lily pun menenangkan Beby sejenak sebelum kembali melajukan kembali mobilnya. Setelah sampai kantor polisi mereka segera membuat laporan. Awalnya semua polisi yang ada di kantor tersebut tidak percaya. Namun, begitu Beby memutar rekaman percakapannya dengan Yuna mereka semua langsung terbelalak.


"Kami akan memproses semuanya segera, Nona. Terima kasih atas laporan Anda."


"Ini adalah daftar korban lain yang mendapat ancaman serupa, mungkin Anda membutuhkannya untuk memperkuat bukti." Lily menyodorkan beberapa lembar kertas berisi biodata mantan pegawai Yuna yang lain.


"Baik, terima kasih atas laporannya!"


Lily dan Beby pun meninggalkan kantor polisi. Demi menjaga keamanan Beby, Lily meminta Jay untuk terus mengawasi keluarga gadis tersebut. Jay pun dengan sigap memasang kamera pengintai di depan rumah Beby untuk mengawasi adik-adiknya yang ditinggal sendirian di rumah.


Beberapa jam setelah melapor, pihak kepolisian pun mendatangi Yuna. Perempuan itu sedang ada di salonnya bersama beberapa karyawan baru yang sedang menjalani pelatihan. Di sana tampak remaja yang seharusnya belum diperbolehkan untuk bekerja jam penuh di sebuah salon.


Seharusnya mereka yang bekerja di bidang jasa wajib memiliki sertifikat sebagai salah satu persyaratan untuk bisa bekerja. Selain itu mereka juga haru memiliki kartu khusus pekerja. Dari sana polisi dapat menemukan bukti untuk pelanggaran lain yang dilakukan Yuna.


"Lepaskan saya!" seru Yuna ketika polisi memasangkan borgol ke tangannya.


"Anda kami tangkap atas tuduhan pengancaman kepada beberapa orang mantan karyawan yang hendak meminta sisa gaji mereka!"


"Saya tidak melakukannya! Lepaskan saya!"


"Anda berhak berbicara nanti ketika sudah berada di kantor polisi!"


Yuna pun digelandang ke dalam mobil polisi. Beberapa karyawan baru tersebut juga dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Sesampainya di kantor polisi, Lily dan Beby sudah ada di sana juga.


Paling tidak selama ada di kantor polisi, Yuna tidak akan bisa berbuat macam-macam. Sebuah tatapan tajam pun Yuna lemparkan kepada Lily. Lily hanya tersenyum miring seraya menatap sinis salah satu orang yang pernah menindasnya itu.


"Siapa kamu? Kenapa kamu ikut campur dengan urusanku!" teriak Yuna.


Lily beranjak dari kursi, kemudian mendekati Yuna yang salah satu lengannya masih dipegangi oleh seorang polisi. Lily mendekatkan bibirnya ke arah telinga Yuna.


"Aku harap kamu tidak melupakan namaku. Lily Kim, perempuan yang pernah kamu tindas sepanjang masa kuliahnya dulu." Senyum tipis kini terukir di bibir Lily.


Perempuan itu melirik ke arah Yuna yang kini terbelalak. Yuna pun menoleh, sehingga tatapan keduanya kini bertemu. Senyum Lily semakin lebar.


"Tidak mungkin! Gadis gendut itu sudah lenyap entah ke mana! Kamu tidak mungkin ...." Lily akhirnya kembali menunjukkan bekas kejahatan Yuna dan teman-temannya di masa lalu.


Sebuah tanda di dahi dengan membentuk kata babi itu masih terukir jelas di sana. Kaki Yuna seakan lemas. Yuna hampir saja terjatuh ke atas lantai, jika polisi tidak membantu dia untuk menopang tubuhnya.


"Aku pikir kalian semua berubah seiring berjalannya waktu. Tapi, ternyata aku salah! Kalian masih bekerja dengan sifat licik kalian dan memanfaatkan kelemahan orang lain untuk mempermudah urusan kalian!" Lily memalingkan wajah dan berdecih sambil tersenyum miring.


Sedetik kemudian, Lily kembali mengangkat wajahnya. Dia menatap Yuna penuh kebencian. Rahang perempuan itu mengeras dengan jemari lentik yang mengepal kuat di samping badan.


"Sekarang, nikmati buah dari hasil tanamanmu di masa lalu! Selebihnya, aku akan membiarkan Tuhan untuk membalas semua perbuatanmu! Aku yakin Tuhan selalu adil!" Lily menyeringai seraya menyipitkan mata.


Setelah Lily selesai mengungkapkan identitasnya dan berusaha mengintimidasi Yuna, para petugas kepolisian pun membawa sang tersangka masuk ke jeruji besi. Satu per satu saksi mulai diperiksa dan dimintai keterangan.


Dari sana terungkap bagaimana Yuna menjalankan bisnis salonnya. Dia sengaja merekrut gadis di bawah umur dengan latar belakang ekonomi rendah untuk bekerja di salonnya. Kebanyakan dari mereka putus sekolah, anak jalanan, dan beberapa remaja yang kabur dari panti asuhan.


Yuna sengaja melakukan hal tersebut untuk memangkas biaya operasional salon, khususnya gaji karyawan. Semua karyawan yang pernah bekerja di salon Yuna mengaku terpaksa mau menerima tawaran pekerjaan perempuan itu, karena selain di sana mereka akan kesulitan mendapatkan uang.


"Akhirnya aku kembali bisa membalaskan dendam masa laluku!" seru Lily ketika duduk di sebuah taman bersama Jay.


Perempuan itu tampak menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Jay tersenyum tipis seraya bertopang dagu ketika melihat Lily dengan senyum lebarnya. Jay selalu menyukai momen ini.


Momen di mana bisa melihat senyum asli Lily terukir di bibirnya. Ya, Lily sudah melalui banyak hal luar biasa untuk bisa sampai di titik ini. Terkadang Jay merasa setiap senyum yang perempuan itu tampilkan hanya sebuah senyum palsu.


Jay hanya dapat melihat senyum tulus Lily setelah perempuan itu berhasil mendapatkan apa yang dia mau, serta ketika perempuan itu selesai melakukan sebuah kebaikan untuk orang lain. Pandangan Jay tak lepas dari Lily. Perempuan yang tanpa sadar telah mencuri hatinya.


"Jay, tinggal satu orang lagi yang belum kita singkirkan! Apa kamu siap?"


"Lily, boleh aku mengatakan sesuatu?" Jay menatap intens manik mata perempuan di hadapannya itu.


"Aku ...."