Revenge Of The Ugly Lily

Revenge Of The Ugly Lily
Bab 45. Kencan Pertama



Jay menautkan kedua alisnya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Lily. Bahkan dia sempat mengira kepalanya sedang bermasalah setelah kejadian penculikan, atau dia sedang berhalusinasi karena pengaruh obat bius.


Namun, ini sudah tiga hari sejak Lily dioperasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di punggungnya. Jay meneliti raut wajah sang kekasih. Mungkin saja Lily hanya melemparkan gurauan karena terlalu sering membaca novel buatan Amy yang sangat absurd.


"Lily, apa kamu sedang bercanda?" Jay tersenyum geli ketika Lily selesai menceritakan apa yang sebenarnya dia alami.


Lily menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Sesuai dugaan, Jay pasti menertawakannya. Akhirnya Lily menyandarkan punggung pada kepala sofa secara perlahan.


Selama hampir dua tahun, Lily sudah sangat nyaman hidup di dalam tubuh yang sekarang. Dia tidak ingin kembali lagi hidup sebagai Iris yang kesepian. Ya, dirinya yang dulu merupakan sosok yang sangat kesepian.


Hidup sebatang kara, berusaha melawan kerasnya dunia. Hidup dalam kesengsaraan hingga dapat mencapai kesuksesan di bidang kecantikan. Akan tetapi, semua itu tidak berarti baginya karena dia tidak dapat menikmati kesuksesan bersama ibu yang sudah lama meninggal.


"Apa kamu marah?" tanya Jay, seraya memiringkan badan agar dapat menatap wajah sang kekasih secara leluasa.


"Tidak, Jay. Kamu boleh percaya atau tidak kalau ini merupakan kehidupan keduaku. Yang jelas ... aku merasa sangat beruntung karena di kehidupan kali ini bisa dipertemukan dengan orang baik sepertimu."


Mendengar ucapan Lily sontak membuat Jay tersipu. Lelaki itu membuang muka sekilas, kemudian menenggelamkan wajahnya yang merah ke dalam telapak tangan. Sontak Lily kembali duduk tegap.


Lily menoleh ke arah Jay, dan berusaha menyingkirkan kedua lengan lelaki itu dari wajahnya. Lily terus menarik lengan Jay, tetapi telapak tangannya seakan merekat kuat pada wajah.


"Jay, apa kamu malu?"


Jay mengangguk tanpa mau melepaskan telapak tangan dari wajah. Melihat sikap Jay yang dianggap manis, tentu saja membuat Liky tertawa terbahak-bahak. Dia berasa menjadi seorang perayu ulung.


Hanya dengan menggunakan beberapa kalimat manis, bisa membuat Jay salah tingkah. Bukankah mereka terlihat seperti terbalik? Jika biasanya pihak lelaki yang akan sering menggombal, kali ini Lily justru lebih sering mengeluarkan kalimat manis hingga membuat Jay tersipu malu.


"Sudah, sana pulang dan segera istirahat!" usur Jay halus tanpa melepaskan telapak tangan dari wajahnya.


"Astaga, jahat sekali pacarku ini!"


"Aaah! Sudah, jangan katakan hal semacam itu lagi!" seru Jay seraya menenggelamkan wajah ke dalam bantal.


"Hahaha, baiklah! Aku pulang dulu, ya?" Lily pun beranjak dari sofa kemudian melangkah keluar apartemen Jay.


Sebuah senyum lebar mengembang di bibir perempuan cantik itu. Dia benar-benar merasa sangat beruntung diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hidup di tubuh Lily. Meski harus melewati banyak tantangan, Iris merasa begitu senang dan menikmati setiap alur yang sudah digariskan untuknya.


Jika Tuhan sudah menentukan alur cerita kehidupannya, artinya Yang Maha Kuasa percaya bahwa Lily dapat melewati semua ujian dengan baik. Lily melangkah ringan masuk ke dalam unit apartemen dan beristirahat.


Tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Setelah mengambil cuti selama satu minggu, hari ini Lily kembali bekerja di salon Sara. Dia mendapat sambutan hangat dari Sara serta karyawan lain.


"Selamat datang kembali, Lily! My Golden Finger!" seru Sara seraya memeluk Lily penuh kasih.


"Maafkan aku, Kak. Karena ceroboh, Kakak jadi kesulitan mengurus para pelanggan VVIP."


"Hei, Kakak itu bicara apa? Semua ini sudah menjadi garis hidupku. Semua sudah berakhir. Sena dan Tuan Kim sudah mendapatkan hukuman yang seharusnya." Lily tersenyum tipis.


"Benar juga, kalau begitu ayo mulai bekerja! Tapi, jangan terlalu memaksakan diri. Kamu belum pulih total." Sara tersenyum lembut dan mengajak pegawai kesayangannya itu masuk ke dalam kantor.


Lily pun langsung efektif bekerja hari itu juga. Dia menangani pelanggan VVIP dengan baik. Akan tetapi, memang dirinya setiap selesai melayani satu pelanggan akan istirahat satu jam.


Sara pun memakluminya. Dia paham kalau Lily belum pulih sepenuhnya. Ketika sedang bersantai di ruang istirahat sebuah pesan dari Jay masuk ke ponsel Lily.


[Pulang jam berapa]


Sebuah senyum mereka di bibir Lily karena merasa tidak biasa. Selama mengenal Jay, lelaki itu belum pernah sekali pun mengajak makan malam di sebuah restoran mewah.


Keduanya hanya akan makan di restoran sederhana pinggiran, itu pun selalu Lily yang berinisiatif mengajak Jay lebih dulu. Perempuan itu merasa akan ada hal baik yang menghampirinya.


"Kamu tampak senang sekali?" tanya Sara yang baru saja keluar dari kantor.


"Ah, apa terlalu jelas terlihat?"


"Dasar, sebentar lagi kamu pulang. Berkemaslah! Sisanya biar Elijah yang mengerjakan." Sara melirik jam tangan sekilas kemudian kembali menatap Lily sambil tersenyum.


"Baiklah! Terima kasih, Kak!" seru Lily seraya tersenyum lebar.


Jam menunjukkan pukul tiga sore ketika Lily keluar dari salon. Menunggu Jay di depan halte sambil mendengarkan lagu. Ketika sedang asyik mendengarkan lagu kesukaannya melalui earphone, tiba-tiba sebuah panggilan masuk.


"Jay, kamu ada di mana?" tanya Lily sambil tersenyum lebar.


Jay yang saat itu sedang ada di toko perhiasan, meminta Lily untuk menunggunya. Ada sedikit rasa kecewa yang bergelayut di hati Lily sekarang. Jay tidak tepat waktu.


Setelah panggilan berhenti, Lily pun akhirnya memutuskan untuk segera beranjak dari halte. Dia ingin menunggu Jay di dalam salon karena merasa sangat mengantuk.


Ketika baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba seseorang dengan jaket berwarna hitam mendekatinya. Lily menajamkan penglihatan untuk mengetahui siapa orang yang lini menghadangnya.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Lily dengan senyum tipis.


Begitu orang di depannya itu membuka masker, senyum Lily seketika lenyap. Dia mengerutkan dahi karena heran kenapa perempuan di hadapannya itu berpenampilan tertutup dan terkesan misterius.


"Kamu harus mati!"


Sontak Lily terbelalak. Perempuan di hadapannya itu mulai menusukkan pisau belati ke perut Lily. Lily pun tersungkur ke atas aspal.


Perempuan yang tadi menikam Lily seakan tidak puas hanya dengan sekali tusukan. Dia mengulangi perbuatannya hingga Lily lemas dan tak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah.


Ketika orang-orang mulai menyadarinya datang dan berlari ke arah Lily, semua sudah terlambat. Lily sudah meregang nyawa. Perempuan itu pun sudah kabur menggunakan motor balap tanpa pelat nomor.


"Siapa dia?"


"Cepat lapor polisi!"


"Ambulans! Jangan lupa panggil ambulans!"


Suara riuh orang-orang yang panik membuat suasana tampak semakin mencekam. Tak lama kemudian Jay datang. Lelaki itu membelah kerumunan warna dan langsung terbelalak ketika melihat sang kekasih sudah kehilangan kesadaran dengan bersimbah darah.


Kaki Jay tak memiliki kekuatan untuk berpijak. Buket bunga yang dia bawa untuk diberikan kepada Lily pun jatuh ke atas aspal. Air mata mulai merebak membasahi bola mata lelaki tampan tersebut.


"Lily, bangun! Kamu sudah berjanji akan menungguku, bukan?" Jay menatap nanar kekasih yang wajahnya mulai pucat itu.


"Lily, aku bilang bangun!" teriak Jay frustrasi.


Lelaki tersebut langsung merengkuh tubuh Lily. Rasa sesak karena kehilangan, kini mengimpit dada lelaki tersebut. Dia memeluk tubuh Lily yang berlumuran darah seraya menangis tersedu-sedu.


Langit seakan ikut menangisi kepergian Lily. Air hujan mendadak turun dengan lebatnya sore itu. Hujan dengan rintik yang tidak begitu deras itu membuat darah yang keluar dari tubuh Lily mengalir ke saluran drainase jalan. Tangis orang-orang yang menyayangi Lily pun mengiringi kepergiannya untuk selama-lamanya.