
"CUT!" seru Boby setelah adegan dari syuting selesai.
Para pemain film dan para kru langsung beristirahat di tempat yang disediakan, termasuk Ed. Lelaki yang pernah menjadi dosen itu kini tampil sangat berbeda. Wajah tampannya mulai menghiasi layar lebar sejak enam bulan terakhir.
Ketika hendak memberikan kotak makanan kepada Boby, tanpa sengaja Lily berpapasan dengan Ed. Awalnya Lily mengabaikan lelaki itu, tetapi dia langsung menghentikan langkah saat teringat akan Lilac.
"Apa Anda Profesor Ed yang pernah mengajar di salah satu Universitas Seni di Gangnam?"
Ed berhenti sejenak. Dia balik badan kemudian menatap Lily penuh curiga. Lelaki itu mendekati Lily tanpa melepaskan tatapannya dari perempuan tersebut.
"Kenapa?" tanya Ed dengan suara baritonnya.
"Bagaimana kabar tunanganmu? Aku hampir tidak pernah mendengar kabar kalau kalian jalan bersama. Apa hubungan kalian baik-baik saja? Kau tahu, dia sangat mencintaimu. Jadi ...."
"Tahu apa kamu tentang kami? Berhenti mencampuri urusan orang lain! Kerjakan saja apa yang harusnya kamu kerjakan!" ketus Ed kemudian dia berjalan lagi ke arah tempat istirahatnya.
"Dasar, masih sama seperti dulu, dingin dan ketus! Bagaimana bisa Lilac bertahan dengan lelaki seperti itu?" Lily tersenyum miring kemudian kembali berjalan ke arah Boby.
Ketika sampai di dekat Boby, perempuan itu tersenyum tipis. Lily langsung menyodorkan kotak makanan berisi nasi dengan ayam teriyaki serta beberapa macam sayur dan buah yang dia beli itu kepada sang sutradara. Boby mengerutkan dahi karena merasa tidak biasa dengan sikap Lily.
"Apa ini?" Boby menatap tajam ke arab kotak makanan yang disodorkan oleh Lily.
"Makanan untuk Anda, Pak. Aku membelikannya untuk Anda juga." Lily tersenyum lebar seraya memasang mode manja ala perempuan penggoda.
Boby tampak kebingungan. Dia masih berusaha menebak maksud dari sikap Lily kali ini. Lily yang tanggap pun langsung melontarkan alasan agar tidak terlihat seperti perempuan penggoda yang terlalu agresif.
"Ah, aku tidak ada maksud lain. Mereka juga aku belikan! Hari ini adalah ulang tahunku!" Lily menunjuk ke arah kru serta pemain film sedang menyantap makanan yang sama dengan milik Boby.
"Oh, kalau begitu terima kasih. Selamat ulang tahun!" Boby tersenyum lembut kemudian meraih kotak bekal tersebut.
Lily mengangguk sopan kemudian setengah berlari menghampiri tim make up yang lain. Dari kejauhan sepasang mata menatap tak suka ke arah Lily. Ya, dia adalah Jay.
Lelaki itu langsung merogoh saku kemudian mengirimkan pesan kepada Lily. Dalam hitungan detik, pesan tersebut sampai ke ponsel Lily. Dia pun segera membaca pesan dari Jay.
[Kamu tidak cocok ketika berpura-pura bersikap menjadi perempuan yang manis]
Lily langsung mengedarkan pandangan. Dari luar gedung sekolah, dia menangkap sosok Jay yang sedang mengawasinya menggunakan teleskop. Lily berdecap seraya tersenyum tipis.
"Dasar, lelaki nggak jelas!"
Lily memilih untuk melanjutkan makan siangnya dan mengabaikan Jay. Dia sengaja tidak membalas pesan lelaki itu agar Jay kesal. Jay pun akhirnya memberondong Lily dengan puluhan pesan yang akhirnya membuat perempuan itu sebal.
[Jangan ganggu aku! Kita bicarakan semuanya di rumah saja!]
Usai membalas pesan Jay, Lily pun mematikan ponselnya. Dia menatap Jay yang masih mengawasinya menggunakan teleskop. Lily menjulurkan lidah layaknya anak-anak yang tengah meledek teman sepermainannya.
Di sisi lain, Rani sedang menuju salon Yuna. Perempuan itu ingin mencabut kartu langganannya. Salon Yuna menerapkan cara pembayaran secara otomatis dengan memotong saldo rekening pelanggan. Rani yang tidak mau rugi, akhirnya memutuskan untuk mengakhiri masa langganan sebelum saldo dalam tabungannya terpotong.
Ketika baru membuka pintu, Rani langsung disambut hangat oleh Yuna. Perempuan itu menggandeng lengan Rani dan mengajaknya masuk ke kantor. Rani hanya mengikuti langkah perempuan itu tanpa menolaknya sedikit pun.
"Nyonya Kang, kenapa Anda melewatkan jadwal pijat relaksasi minggu lalu?" tanya yuna ramah.
Melihat hal tersebut tentu saja membuat Yuna terbelalak. Dia menatap kartu itu dan Rani secara bergantian. Perempuan itu tidak mengerti kenapa salah satu pelanggan VVIP-nya tersebut tiba-tiba berhenti berlangganan.
Rani adalah pelanggan pertama salon Yuna. Ketika dia menawari Rani untuk mendaftar menjadi pelanggan VVIP setelah menjelaskan berbagai keuntungannya, dengan cepat perempuan itu setuju berlangganan. Mendapati Rani berhenti berlangganan secara mendadak, tentu saja membuat Yuna melongo.
"Nyonya, ke-kenapa Anda seperti ini? Bukankah Anda pernah bilang kalau salon ini adalah salon terbaik?"
"Aku sudah menemukan salon lain dengan layanan lebih baik dari salon ini! Sudahlah, aku tidak mau ribut lagi!" seru Rani kemudian beranjak dari sofa.
"Nyonya Kang, tunggu! Bisa jelaskan kenapa tiba-tiba Anda ...."
Ketika hendak meraih tuas pintu, tiba-tiba Yura masuk ke salon tersebut. Perempuan itu sedikit terkejut karena melihat kehadiran calon mertuanya. Begitu juga dengan Rani.
"Tante!"
"Kamu! Sejak kapan kamu pulang? Kenapa tidak mengunjungiku?"
"Ah, itu ... a-ayo kita mengobrol di kafe seberang sana!" Yura meraih lengan sang calon mertua kemudian mengajaknya keluar dari salon.
Keduanya pun masuk ke dalam mobil Yura. Perempuan itu sedikit khawatir karena sang calon mertua tiba-tiba hadir di hadapannya. Sebenarnya dia enggan menemui Rani karena sudah bisa dipastikan perempuan itu akan menguras isi kantongnya.
Suasana hening dalam mobil, akhirnya sirna saat Rani memulai pembicaraan. Perempuan itu menanyakan kepada Yura kenapa tidak menemuinya saat libur dari jadwal penerbangan. Yura tampak gugup dan menelan ludah kasar.
"A-aku sibuk mempersiapkan beberapa keperluan pesta pernikahanku dengan Kak Boby, Tante. Tante tahu sendiri, 'kan kalau Kak Boby sangat sibuk akhir-akhir ini? Bahkan pernikahan kami terancam mundur karena dia sangat sibuk syuting. Jadi saat aku mendapatkan libur, aku harus mengurus semua sendirian."
"Oh, jadi kamu menyalahkan putraku?" Rani melipat lengan seraya menatap sinis calon menantunya itu.
"Bu-bukan begitu, Tante. Tapi ...."
"Bagaimana dengan mahar yang akan kamu berikan kepada Boby?" potong Rani.
"Ya?" Yura terbelalak ketika tiba-tiba Rani membahas masalah mahar pernikahan untuk Boby.
Hal yang paling dia takutkan kini terjadi. Sang calon mertua mulai menanyakan mahar pernikahan untuk Boby. Rencananya Yura hanya akan membelikan sebuah jam tangan biasa saja untuk calon suaminya itu.
Akan tetapi, jika Rani mengetahui hal itu pasti pernikahannya terancam batal. Akhirnya, mau tidak mau Yura berbohong. Dia mengatakan bahwa sudah menyiapkan mobil untuk Boby.
"Mobil, ya? Boleh juga. Aku kira kamu hanya akan membelikan jam tangan Rolex untuk anakku." Rani tersenyum miring, lalu mengalihkan pandangannya dari Yura.
"Jika sampai hanya membelikan jam tangan, aku akan membatalkan pernikahan ini!" seru Rani.
Mendengar ucapan dari sang calon mertua sontak membuat Yura menginjak pedal remnya. Tubuh Rani pun terbanting keras ke depan, sampai kepalanya terbentur dasbor mobil. Perempuan tua itu pun meringis menahan sakit.
Kepala Rani terasa berdenyut lumayan kuat. Dia mengusap lembut dahi yang terbentur, lalu perlahan kembali duduk tegak. Sebuah tatapan tajam pun dia layangkan kepada Yura.
"Kamu sengaja ingin membunuhku, ya?"
...****************...