
Kesunyian membelenggu dua perempuan beda usia sepanjang koridor rumah sakit. Mereka tengah bergelut dengan pikiran masing-masing. Lily yang tidak suka dengan keadaan itu, akhirnya membuka pembicaraan.
"Aku lihat sepertinya umurmu masih sangat muda untuk bekerja fulltime." Lily melirik Beby dari ujung mata.
"Iya, Kak. Seharusnya aku masih duduk di bangku kelas dua belas sekolah menengah atas." Beby tersenyum pedih karena teringat nasib buruk yang mengiringinya.
"Lalu, kenapa kamu bekerja? Bukankah saat ini seharusnya kamu disibukkan dengan berbagai jam tambahan, serta memikirkan ke mana akan melanjutkan pendidikan?"
Beby menghentikan langkah. Dia menatap Lily sendu seraya tersenyum getir. Lily pun menatap gadis muda di depannya sembari mengerutkan dahi.
"Aku tidak memiliki kesempatan itu, Kak. Ayahku sudah meninggal sejak aku lulus sekolah menengah pertama. Sejak hari itu, ibu harus bekerja keras untuk menghidupi aku dan ketiga adikku." Terdengar hela napas panjang mewakili rasa putus asa keluar dari bibir Beby.
"Karena kasihan melihat ibu yang harus bekerja keras, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti sekolah dan membantu beliau. Kebetulan aku bertemu Kak Yuna dan dia menawariku untuk bekerja di salonnya yang baru buka. Tentu saja aku menerimanya dengan senang hati!"
"Tunggu, kamu bekerja di salon Yuna?" tanya Lily dengan mata membola.
"Iya, tapi tadi aku berhenti bekerja dari sana. Kak Yuna tidak membayar penuh gajiku di sana dengan alasan yang menurutku tidak jelas. Bukan hanya aku, karyawan lain pun juga seperti itu. Satu tahun terakhir Kak Yuna tidak membayar gaji kami secara penuh." Beby berjalan seraya tertunduk lesu.
Beby kembali teringat akan gajinya yang sudah ditahan 30 persen setiap bulan selama setahun terakhir. Oleh karena itu, banyak karyawan Yuna yang mogok kerja sampai mengundurkan diri karena mendapatkan perlakuan tidak adil dari pemilik salon tersebut.
Mendengar cerita dari Beby tentu saja membuat hati Lily miris. Seorang pemilik salon ternama langganan para artis ternyata memperkerjakan karyawan di bawah umur dan memangkas gaji mereka dengan alasan tidak jelas.
Akhirnya Lily menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia meraih lengan atas Beby, lalu menatapnya serius. Perempuan itu tergugah untuk membantu Beby serta keluarganya.
"Kamu mau sekolah lagi? Jika iya, aku akan membiayai pendidikanmu. Kamu juga bisa bekerja paruh waktu di salon Sara. Aku akan mencoba merekomendasikanmu kepada Kak Sara."
Mendengar tawaran Lily sontak membuat Beby terbelalak. Akan tetapi, sedetik kemudian matanya berubah sayu dan mulai berkaca-kaca. Mendadak air mata Beby tumpah dengan isak tangis keluar dari bibir gadis itu.
Lily tersenyum tipis, kemudian memeluk tubuh mungil Beby. Dia berusaha menenangkan gadis yang cerita hidupnya menyedihkan itu. Setelah lebih tenang, akhirnya Lily langsung mendaftarkan Beby ke salah satu sekolah terbaik di Seoul.
"Belajarlah, agar lolos ujian masuk. Masih ada waktu hingga tahun ajaran baru, jadi semangatlah!" Lily tersenyum lebar dengan mata berapi-api.
Lily berusaha menularkan semangat positif agar Beby lebih semangat belajar. Dia mengatakan adik-adiknya mendapatkan subsidi biaya pendidikan dari pemerintah, hanya saja dia juga perlu membanting tulang untuk kehidupan sehari-hari.
Setelah mengantar Beby mendaftar sekolah, Lily pun bergegas menemui Jay yang masih ada di bengkel. Lelaki itu tampak kesal ketika melihat Lily datang dari kejauhan. Lelaki itu terus menggerutu seraya melemparkan tatapan tajam kepada Lily dan Beby yang mulai berjalan mendekat.
"Jay, kamu kenapa? Mukamu kusut sekali!" ejek Lily seraya terkekeh.
"Kenapa dia masih di sini? Bagaimana ibunya? Beneran sakit nggak?" Jay berbicara dengan nada ketus sambil menyipitkan mata ketika menatap Beby.
"Dia ke sini untuk mengambil motornya, bukan? Ibunya memang akan dioperasi besok lusa. Berhentilah menafuh curiga kepada gadis manis ini!" Lily melirik ke arah Beby yang tampak tertunduk lesu.
"Baik, terima kasih, Kak Lily. Aku akan mengingat kebaikan Kakak!" Beby tersenyum lebar kemudian berjalan ke arah motornya.
Perempuan itu pun segera menyalakan mesin motor dan melajukannya meninggalkan bengkel. Lily tersenyum tipis sembari melambaikan tangan ke arah Beby yang terus menjauh. Ketika Beby sudah tidak tampak lagi, Lily langsung masuk ke mobilnya.
Jay membuang napas kasar kemudian mengekor di belakang Lily dan ikut masuk ke dalam mobil. Dia menatap Lily sinis tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Lily yang gemas dengan sikap Jay akhirnya terkekeh.
"Kamu itu kenapa?" tanya Lily.
"Gadis itu menabrak mobilmu sampai penyok! Bukannya meminta ganti rugi malah membiayai perbaikan motornya!" Jay terus menunjuk ke depan seolah sedang menuding wajah Beby penuh emosi.
"Hei, aku tahu kondisinya. Sudah kelihatan, bukan? Jika aku meminta ganti rugi, gadis itu pasti tidak akan sanggup membayarnya. Untuk makan sehari-hari saja dia harus rela putus sekolah."
"Kamu percaya?" Jay membuang muka sambil melipat lengan di depan dada.
"Aku percaya, dan tugasmu adalah terus mengawasi gadis itu. Pastikan dia belajar dan mengurus ibu serta adik-adiknya dengan baik!"
"Aku rasa kamu sudah gila, Lily!" seru Jay sembari tersenyum miring.
"Aku akan membawanya ke kantor dinas ketenagakerjaan, jika Yuna tidak mau membayar upah Beby yang dia tahan selama satu tahun!"
Jay langsung mengerutkan dahi saat mendengar ucapan Lily. Lelaki itu pun menanyakan alasan kenapa Lily mengatakan hal tersebut. Dari sana perempuan itu langsung menceritakan ulang apa yang sudah dia tahu dari Beby.
Sebuah senyum miring kini terukir di bibir Jay. Ternyata kebaikan hati Lily menuntunnya untuk mendapatkan fakta kelam dari Yuna yang selama ini mereka cari. Dari sana Lily meminta Jay untuk mencari tahu siapa saja yang pernah bekerja di salon Yuna.
Jika Jay sudah mendapatkan data tersebut, Lily akan menemuinya satu persatu untuk meyakinkan mereka agar mau menuntut gaji yang seharusnya dibayar. Jika sampai Yuna menolak, maka mereka akan dibantu oleh Lily untuk mendatangi dinas ketenagakerjaan.
"Ide bagus!" seru Jay sambil menjentikkan jari.
"Jay, aku rasa Lilac benar. Aku tidak harus terlalu berambisi untuk balas dendam. Aku hanya perlu membantu orang lain kembali ditindas oleh mereka saja."
"Lilac? Kamu bertemu dengan kakak kembarmu itu?"
"Iya, tidak sengaja saat di pemutaran pertama film Amy."
"Tapi, aku rasa kamu selama ini kan memang awalnya membantu semua orang yang sudah menjadi korban penindasan mereka. Untuk itulah mereka semua bersedia membantumu untuk membongkar kebusukan Yuna dan lain." Jay mengusap dagu sambil menyipitkan mata.
"Kali ini beda, Jay. Sebelumnya kita sudah tahu kalau orang-orang itu sengaja ditindas dan dimanfaatkan oleh mereka. Tapi, kali ini kita tidak tahu kalau ternyata Beby ada hubungannya dengan Yuna. Aku rasa semesta merestui kita untuk membongkar kebusukan mereka!" seru Lily percaya diri.