
Meski terasa begitu sulit, Lily berusaha kembali menjalani harinya tanpa Jay. Jika biasanya dia tinggal menyuruh Jay untuk menyelidiki calon target, kali ini Lily harus melakukan semua hal tersebut sendiri.
Siang itu Lily menyambangi sebuah rumah sederhana yang ada di pinggiran kota Seoul. Dari dalam rumah tersebut terdengar suara denting piano yang mengiringi suara merdu dari dua orang perempuan.
Rumah tanpa pagar itu terlihat begitu rindang karena banyak pepohonan yang di tanam di sekitar rumah. Di teras juga terdapat berbagai macam tanaman hias sehingga membuat siapa pun yang memandangnya merasa sejuk. Lily perlahan mendekati pintu dan mengetuknya.
"Permisi," sapa Lily ketika pintu terbuka lebar.
"Anda siapa?" tanya perempuan berambut panjang itu kepada Lily.
"Boleh saya masuk, Nona Park?" Lily tersenyum tipis seraya melongok ke ruangan dengan dua gadis lain berusia belasan tahun di dalamnya.
Perempuan itu tampak terkejut karena Lily mengetahui namanya. Ya, gadis itu bernama Jiny Park. Seorang guru sekolah les vokal yang dia dirikan sendiri.
Jiny pun akhirnya memperbolehkan Lily masuk. Mereka berdua duduk di ruang tamu, sedangkan Jiny meminta kedua murid lesnya untuk beristirahat. Lily mengedarkan pandangan menatap setiap sudut ruangan.
Di dalam ruang sederhana itu terdapat banyak sekali medali, piagam, serta piala yang dipajang. Dinding dengan cat yang mulai mengelupas itu juga dihiasi banyak bingkai dengan foto kemenangan Jiny di berbagai kompetisi musik.
"Maaf, sebelumnya. Anda siapa?" tanya Jiny sopan.
"Ah, ya. Saya Lily Kim." Lily mengulurkan tangan dan disambut baik oleh Jiny.
Sebuah senyum tipis terukir di bibir Lily. Dia ingin mengungkapkan niatnya mendatangi Jiny. Namun, sebelum mengutarakan maksud kedatangannya, Lily mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengonfirmasi bahwa data yang selama ini Jay dan dia kumpulkan memang valid.
Jiny terbelalak setiap mendapatkan pertanyaan dari Lily yang lebih terdengar seperti sebuah tebakan. Perempuan itu merespons semua pertanyaan Lily dengan jawaban ya. Lily pun tersenyum lebar ketika semua informasi yang sudah dia pegang ternyata akurat.
"Begini, saya datang ke tempat ini untuk menawarkan bantuan. Saya ingin berinvestasi untuk sekolah musik Anda, Nyonya Park." Lily menatap serius perempuan yang masih belum bisa berhenti dari rasa terkejutnya itu.
"Saya memiliki beberapa gedung kosong di pusat kota yang dapat Anda manfaatkan untuk membuka sekolah musik yang lebih layak."
"Jadi, menurut Anda sekolah musikku sekarang tidak layak?" Jiny tersenyum sinis seraya membuang muka.
"Bukan begitu maksud saya, Nona Park. Beberapa orang memang menilai penampilan luar sebelum akhirnya mau masuk ke dalam sebuah bangunan." Lily tersenyum tipis dan mengangkat satu alisnya.
"Pergilah!" usir Jiny dengan suara datar.
Lily mengembuskan napas kasar sebelum melanjutkan lagi ucapannya. Kini tatapan perempuan itu fokus kepada Jiny. Semakin dia diusir, maka akan semakin kuat dirinya berusaha meyakinkan Jiny.
"Aku tahu kamu juga bekerja di bawah tekanan. Kamu tahu apa yang kamu lakukan bersama Sena itu merupakan pembohongan publik?" Lily tersenyum sinis sembari menatap tajam perempuan di hadapannya itu.
Jiny mengerutkan dahi. Banyak sekali praduga yang berputar di kepala perempuan itu. Rasa penasaran akan sosok Lily mulai hinggap di hati Jiny.
Jiny heran kenapa Lily tahu banyak hal tentangnya. Bahkan dia menduga Lily juga mengetahui tentang pekerjaannya sebagai penyanyi pengganti Sena ketika harus menyanyi langsung di muka umum. Namun, perempuan itu memilih untuk diam sementara waktu.
"Aku tahu betul siapa itu Sena. Perempuan itu sama sekali tidak memiliki bakat menyanyi. Saat dia berteriak saja tidak bernada dan membuat telinga sakit." Lily terkekeh ketika mengingat bagaimana Sena sering diejek gerombolannya karena memiliki suara sumbang.
"Kalau bukan karena ayahnya pemilik studio rekaman, aku rasa dia tidak akan diterima masyarakat sebagai penyanyi. Merekam suara sumbangnya dan menggunakan efek dari studio untuk merombak hasil rekaman Sena. Seolah dia memang ditakdirkan lahir sebagai peri bersuara emas." Lily mulai mengungkapkan semua yang dia tahu mengenai Sena.
"Bagaimana kamu tahu semua itu?" Jiny tersenyum tipis ketika mendengar penuturan Lily yang sangat akurat itu.
"Aku dapat mengetahui semuanya dalam hitungan menit!" seru Lily angkuh.
Jiny memutar tubuh, sehingga tatapannya fokus kepada Lily. Begitu juga manik mata Lily yang tak lepas dari gadis di hadapannya itu. Lily mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Jiny dan berbicara dengan suara pelan tetapi begitu menusuk.
"Dia membayarmu ketika ada acara langsung di stasiun televisi. Bahkan dekat-dekat ini, kamu diajak berkeliling Korea Selatan untuk mengadakan konser perdana, bukan?" Lily tersenyum miring sambil melipat lengan.
"Ba-bagaimana bisa, kamu ...."
Lily kembali menarik tubuh hingga kini duduk tegak. Dia menyandarkan punggung pada kepala sofa. Perempuan itu menyilangkan kaki dan tampak menggoyangkan telapak kakinya.
"Bayangkan saja jika publik mengetahui bahwa peri bersuara emas yang sesungguhnya itu adalah kamu. Ketenaran, uang, kekaguman orang ketika menatap dan mendengar suaramu ... semua akan kamu dapatkan!" seru Lily antusias.
"Bahkan kamu bisa memberikan fasilitas terbaik untuk sekolah vokalmu ini! Memperkerjakan beberapa sahabatmu yang mahir memainkan alat musik untuk menambah mata pelajaran yang bisa diajarkan di sekolah ini."
Lily tersenyum tipis ketika melihat Jiny mulai terprovokasi. Lily melirik jemari Jiny yang mulai mengepal dengan sorot mata penuh antusiasme. Dia yakin lawan bicaranya itu akan mulai menyadari potensi besar yang akan dia raih jika terlepas dari tekanan Sena.
"Impianmu untuk mendirikan sekolah musik terbaik di Korea Selatan akan terwujud jika kamu berhasil menjadi bintang di panggungmu sendiri. Aku akan menjadi sponsor utama untuk mendukung sekolah musikmu nanti."
"Mulutmu manis sekali, Nona Kim!" Jiny terkekeh seakan meremehkan apa yang sedang diucapkan Lily dengan serius itu.
Melihat bahwa Jiny tengah meremehkan dia, Lily langsung membuka tasnya. Dia mengeluarkan sebuah sertifikat dan selembar cek. Lily menyodorkan dua lembar kertas berharga itu kepada Jiny.
Jiny mengerutkan dahi. Namun, sedetik kemudian dia terbelalak karena membaca nama yang ada dalam sertifikat tersebut. Di sana sudah tertulis namanya.
Selain itu, di dalam cek sudah berisikan nominal uang yang sangat besar. Jiny menatap dua kertas itu dan Lily secara bergantian. Dia menelan ludah kasar karena sempat meremehkan Lily.
"Bukankah kamu ingin merangkul anak-anak yang berbakat tapi tidak memiliki dana lebih untuk mengikuti les musik dan vokal. Dengan ini semua, kamu bisa mewujudkan impian muliamu itu. Bagaimana?"
“Maaf, Nona Kim. Saya tidak ingin tampil di muka publik atau memiliki panggung sendiri.”
...****************...