
Susy yang baru saja pulang dari pasar terbelalak ketika melihat Lily dan Jay sudah ada di depan rumahnya. Bungkusan makanan dalam tangan pun tidak sanggup dia genggam dengan baik hingga jatuh ke atas jalan beraspal.
Ancaman dari seseorang kembali terngiang di telinga Susy. Mendadak kakinya terpatri di atas aspal. Kekuatan gadis itu seakan menguap ke udara, samoai tidak sanggup untuk sekedar balik kanan dan menghindar.
Ketika Lily menoleh dan hendak mendekat, barulah otaknya dapat kembali bekerja. Susy langsung berlari menjauh. Dia terus berlari menghindari Lily dan Jay.
"Susy, jangan lari! Kita bicarakan semuanya! Aku akan membantumu mendapatkan kembali gaji dari Yuna!" seru Lily di antara napasnya yang tersengal-sengal.
Susy mengabaikan teriakan Lily yang berusaha menghentikannya. Dia terus berlari membelah jalanan sempit nan sunyi itu. Namun, ketika hampir keluar dari gang, Susy tersandung.
Perempuan itu terjungkal hingga tersungkur di atas aspal. Dagunya teratuk aspal sehingga kulit perempuan tersebut lecet dan mengeluarkan darah. Lily yang panik segera menghampiri Susy.
"Susy, kamu baik-baik saja? Ayo berdiri!" Lily langsung membantu perempuan itu berdiri dan membersihkan pakaian Susy yang kotor.
"Astaga, dagumu berdarah! Ayo pulang dan obati lukamu!" Lily menarik lengan Susy, tetapi perempuan itu menepisnya.
Susy meringis menahan sakit dan berusaha mengusap dagu dengan punggung tangannya. Lily kembali berusaha menarik lengan Susy, tetapi dia kembali ditepis oleh perempuan itu. Lily akhirnya melipat lengan di depan dada seraya menatap tajam ke arah lawan bicaranya tersebut.
"Kamu kenapa menghindar dariku?" tanya Lily.
"Jangan pernah menemuiku lagi! Karena kamu, aku harus terus bersembunyi! Jika sampai aku ketahuan kembali berkomunikasi denganmu, maka orang itu ...."
Susy menghentikan ucapannya. Perempuan itu tampak menelan ludah kasar. Lily pun mengerutkan dahi dan berusaha mendesak Susy. Akan tetapi, dia tetap bungkam.
"Kalau begitu, ayo pulang! Kita obati dulu lukamu." Lily pun menekan rasa ingin tahunya dan menarik lengan Susy.
Kali ini Susy tidak melawan. Lily menuntunnya berjalan perlahan pulang ke rumah. Jay hanya berjalan pelan di belakang dua orang perempuan beda usia tersebut. Setelah masuk ke dalam rumah Susy, Lily segera membantunya membersihkan luka dan memberi antiseptik pada bagian yang tergores.
Setelah selesai mengobati Susy, Lily pun kembali membuka pembicaraan. Dia menatap intens Susy yang sejak tadi hanya menjawab seperlunya apa yang ditanyakan Lily. Susy tampak gugup dan terus menunduk.
"Susy, kenapa kamu pindah ke sini?"
"Bukan urusanmu!" jawab Susy ketus.
Lily dan Jay saling melemparkan pandangan. Lily menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Perempuan itu meraih jemari Susy agar lawan bicaranya tersebut mau menatapnya dan berbicara dari hati ke hati.
"Aku mendapat informasi bahwa sisa gajimu ditahan oleh Yuna selama beberapa bulan. Apa itu benar?"
Kali ini Lily berhasil membuat Susy menatapnya. Pupil mata perempuan itu tampak melebar. Secercah harapan muncul di hati Lily.
Lily berharap Susy mau ikut dengan temannya yang lain untuk melayangkan aksi protes kepada Yuna. Mantan pegawai Yuna yang lain sudah setuju dan akan berkumpul di depan salon Yuna besok lusa.
"Pergilah!" usir Susy dengan suara dingin.
Ternyata dugaan Lily meleset. Dia justru diusir oleh Beby. Mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari sang pemilik rumah membuat Lily kembali menatap Susy heran. Dia berusaha membujuk Susy, tetapi jawabannya sama. Dia tidak mau lagi berurusan dengan Yuna.
Akhirnya mau tidak mau Lily pun berpamitan. Dia dan Jay kembali ke apartemen. Mereka berdiskusi untuk mempersiapkan rencana aksi demo, yang akan dilakukan oleh Beby dan teman-temannya di depan salon Yuna.
"Baiklah, kita akan mengumpulkan mereka semua di depan salon Yuna besok lusa. Aku harap tidak ada kejadian buruk sebelum besok lusa. Jay, pastikan semua rencana kita hanya diketahui oleh Amy dan para manatan pegawai Yuna."
Jay mengangguk. Entah mengapa Lily merasa ada yang janggal ketika menemui Susy. Dia menduga perempuan itu diancam oleh seseorang, sehingga enggan bertemu dengan dirinya. Namun, alasan orang yang belum diketahui itu mengancam Susy belum terpikir oleh Lily.
Hari yang dinanti pun tiba. Lily menunggu semua pran5g berkumpul di depan salon Sara bersama Beby. Namun, setelah menunggu hampir satu jam, tidak ada seorang pun yang datang ke sana.
"Bagaimana ini, Kak?" tanya Beby gusar.
"Coba aku telepon mereka satu-satu." Lily pun merogoh ponsel dan mulai menelepon semua mantan karyawan Yuna.
Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang menanggapi. Bahkan mereka menolak panggilan Lily. Setelah dihubungi lagi nomor mereka tidak lagi aktif.
"Bagaimana, Kak?" tanya Beby semakin panik.
"Entahlah, mereka tidak merespons. Aku akan menemui mereka satu per satu."
"A-aku ikut! " seru Beby.
Lily dan Beby pun segera masuk ke mobil. Lily melajukan mobilnya untuk menemui satu per satu orang yang rencananya akan ikut aksi demo dan bernegoisasi dengan Yuna. Namun, mereka semua tidak mau membukakan pintu untuk Lily.
Bahkan salah satu di antara mereka, ada yang mengguyur Lily dengan air hingga badannya basah kuyup. Beby yang tidak terima pun langsung berteriak di depan pagar dan terus mengguncang benda di depannya itu agar si pemilik rumah keluar.
Akan tetapi, usahanya sia-sia. Mereka akhirnya pulang dengan menggenggam kekecewaan. Beby kembali ke rumah sakit sedangkan Lily kembali ke salon Sara untuk kembali bekerja.
"Baiklah, aku pergi dulu. Salam untuk ibu. Semoga lekas pulih." Lily melambaikan tangan sembari tersenyum tipis.
"Baik, Kak. Terima kasih." Beby iku menggoyangkan tangan sampai mobil Lily tak terlihat lagi dari pandangan.
Setelah mobil Lily tak lagi terlihat, Beby balik kanan. Dia mengerutkan dahi karena seorang perempuan berkacamata hitam sudah berdiri di belakangnya. Ketika perempuan itu membuka kacamata, barulah Beby sadar siapa yang sekarang berdiri di depannya itu.
"Wah, bagus! Sekarang kamu jadi parasit untuk dia, ya? Siapa perempuan itu?" Yuna tersenyum miring seraya menatap Beby sinis.
Yuna pun langsung bejalan ke arah Beby. Kaki perempuan itu gemetar karena takut Yuna melakukan hal buruk kepadanya. Dia tahu betul sikap mantan bosnya itu.
"Apa kalian membuat rencana untuk menjatuhkanku?" Yuna mencondongkan tubuhnya ke arah Beby.
Beby bungkam. Dia benar-benar takut sekarang. Beby khawatir Yuna akan memanfaatkan kondisi sang ibu untuk menekannya.
"Berhentilah melakukan apa pun. Abaikan perempuan itu, maka kamu akan hidup dengan tenang." Sebuah senyum seringai yang terukir di bibir Yuna sukses membuat Beby bergidik ngeri.