
"Nggak!" Lily langsung menolak saran dari Amy.
Gengsi perempuan itu terlalu besar hanya untuk sekedar meminta maaf kepada Jay. Toh, semuanya sudah terlanjur. Jika Lily harus meminta maaf, dia takut akan membuat situasi menjadi semakin canggung.
Akan tetapi, Amy tidak kehabisan akal. Dia langsung menarik lengan Lily dan menyeretnya keluar dari kamar. Lily terus berontak. Akan tetapi, Amy tidak mau menyerah begitu saja.
Amy terus menyeret Lily sampai keluar dari unit apartemennya. Tak sampai di sana, Amy pun membawa gadis itu ke depan pintu apartemen Jay. Amy menjepit kepala Lily di antara ketiak, sehingga Lily tidak bisa berkutik lagi.
"Jay, buka pintu!" seru Amy seraya menggedor pintu di depannya, karena tidak mendapat respons dari Jay usai menekan bel.
Tak lama kemudian pintu terbuka. Sontak Amy langsung mendorong tubuh Lily hingga perempuan itu masuk ke dalam pelukan Jay. Tatapan keduanya bertemu.
Embusan napas Jay menyapu wajah cantik Lily. Dua pasang manik mata berwarna kecokelatan itu saling menatap. Jantung keduanya pun berpacu semakin cepat.
Gelenyar aneh merasuki hati Jay dan juga Lily. Mendadak ada perasaan asing yang menyelinap di hati keduanya. Amy yang menyadari hal ini hanya bisa menggeleng.
"Kalian benar-benar perpaduan yang membuatku pusing! Selesaikan urusan kalian!" seru Amy.
Amy pun balik kanan dan kembali ke apartemen Lily yang hanya berjarak beberapa pintu dari unit apartemen Jay. Setelah kesadaran Lily terkumpul, perempuan itu langsung mendorong dada lelaki tersebut. Dia setengah berlari menuju apartemennya.
Lily terus menekan tombol sandi yang ada di pintu apartemennya. Namun, dia gagal membukanya karena Amy mengunci pintu tersebut secara manual dari dalam. Lily terus menggedor pintu di depannya, tetapi Amy menghiraukan hal tersebut.
"Amy, buka pintunya! Amy! Hei! Buka pintunya!"
Tak ada jawaban apa pun yang terdengar dari dalam. Lily yang kesal akhirnya menendang pintu kamarnya. Dia melirik Jay yang kini sedang berdiri sambil bersandar pada kusen pintu.
"Apa lihat-lihat?" tanya Lily dengan nada ketus.
Jay hanya tersenyum simpul. Lelaki itu menggerakkan tangan dan meminta Lily untuk masuk ke apartemennya. Akhirnya mau tidak mau Lily mengentakkan kaki kesal dan mulai melangkah mendekati Jay.
"Masuklah!" Jay menggerakkan kepala untuk mengisyaratkan agar Lily masuk ke dalam unit apartemennya.
Lily pun masuk ke apartemen Jay dengan patuh. Perempuan itu langsung mendaratkan bokong ke atas sofa dan menyandarkan punggung pada dasbor sofa. Akan tetapi, sedetik kemudian mata Lily menangkap suatu hal janggal yang tak biasa di apartemen Jay.
Lily melihat dua buah koper berukuran besar sudah tertata rapi di sudut ruangan. Sontak Lily kembali duduk tegap dan menatap Jay yang kini sedang sibuk di dapur membuatkannya minuman.
"Jay, kamu mau ke mana?" tanya Lily setengah berteriak.
"Ah, aku mendapatkan tawaran pekerjaan di Amsterdam. Aku rasa aku akan menetap di sana."
Mendengar jawaban dari Jay, entah mengapa membuat hati Lily kecewa. Selama hampir dua tahun, hari-harinya selalu ditemani Jay. Hampir setiap kaki Lily melangkah, selalu ada Jay di sampingnya.
Namun, hari ini tiba-tiba Jay mengatakan bahwa dia akan pergi ke negara yang berjarak ribuan mil dari Korea Selatan itu. Ada rasa kecewa ketika Lily baru mengetahuinya sekarang. Jika Jay sudah berkemas, itu artinya penawaran kerja tersebut sudah didapat jauh-jauh hari.
"Kenapa tidak bilang kalau mau pergi? Padahal seharian kita bersama! Atau ketika kamu menerima tawaran pekerjaan ini, kenapa tidak memberitahuku!" Mata Lily mulai berkaca-kaca.
Jay tertegun melihat sikap Lily. Dia pun segera beranjak dari dapur dan berjalan menghampiri Lily. Lelaki tersebut meletakkan nampan berisi coklat hangat dan cheese cake kesukaan Lily ke atas meja.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Jay seraya mengerutkan dahi.
Jay berusaha memegang pundak Lily, tetapi langsung ditepis oleh perempuan tersebut. Jay sampai menggaruk kepala karena bingung dengan perubahan sikap Lily.
"Aku hanya ke Amsterdam, bukannya mau mati. Kenapa harus menangis?" tanya Jay seraya terkekeh.
Sedetik kemudian sebuah pukulan keras mendarat di kepala Jay. Jay pun mengaduh kemudian menatap tajam Lily yang matanya semakin memerah. Lelaki tersebut mengusap bagian kepala yang dipukul oleh Lily seraya meringis.
"Astaga, apa salahku hingga kamu lukai aku?" tanya Jay dengan nada yang dibuat seperti menyanyikan sebuah lagu.
"Dasar bodoh! Nggak peka! Kamu tidak menganggapku teman? Kenapa tidak memberitahuku kalau kamu mendapatkan penawaran itu! Aku akan membayarmu puluhan kali lipat dari gaji yang akan mereka berikan! Jadi jangan berangkat ke mana pun! Kamu adalah karyawan eksklusifku!" Tangis Lily pecah seketika.
"Padahal dirinya sendiri yang nggak peka!" gumam Jay dalam hati.
Jay akhirnya mengembuskan napas kasar. Dia meraih ponsel yang ada di dalam saku celana. Lelaki tersebut tampak menggulir layar ponsel kemudian berhenti ketika menemukan apa yang sedang dia cari.
"Ini, aku sudah membubuhkan tanda tangan di surat kontraknya. Aku tidak mungkin membatalkan kerja sama ini!" Jay menunjukkan layar ponselnya kepada Lily.
"Ya sudah, pergi sana! Jangan pernah kembali lagi!" Lily langsung beranjak dari sofa kemudian keluar dari apartemen Jay.
Jay tersenyum tipis seraya menyugar rambut. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Lily yang sangat menjunjung tinggi gengsi di atas perasaan. Dia ingin memastikan satu hal dengan benar-benar pergi ke Amsterdam.
Di sisi lain, Lily terus menggedor pintu apartemennya hingga dibuka oleh Amy. Lily langsung menghambur ke pelukan gadis itu. Amy pun meminta Lily masuk dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Lily pun menceritakan semuanya sambil berlinang air mata. Rasa sesak di dalam dada sedikit berkurang setelah meluapkan semua kekecewaan kepada Jay dengan bercerita kepada Amy. Amy menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
"Aku sebenarnya sudah tahu sejak lama tentang ini. Tapi, Jay melarangku untuk menceritakannya kepadamu. Dia bilang tidak ada pengaruhnya kehadirannya untukmu. Dia bilang kamu wanita yang kuat." Amy menatap datar Lily yang semakin tersedu-sedu.
"Lagi pula, bukankah lawanmu kali ini tinggal Sena? Kamu sendiri yang mengatakan bahwa dia adalah target yang mudah dilawan."
"Ta-tapi ...."
Amy menguap lebar. Dia beranjak dari sofa kemudian berjalan ke arah kamarnya. Perempuan itu tidak lagi memedulikan Lily yang terus menangis.
Sejak hari itu kesepian seakan membelenggu Lily. Tidak ada lagi si konyol Jay yang biasanya mengganggunya ketika bekerja. Tidak ada lagi sosok Jay yang membantu Lily dalam melakukan misi balas dendamnya.
Memang benar kata orang. Kita baru akan merasa kehilangan setelah orang tersebut menjauh. Dalam keadaan itu, barulah Lily menyadari bahwa dia sudah terlalu bergantung pada Jay.