Revenge Of The Ugly Lily

Revenge Of The Ugly Lily
Bab 44. Kembali Membuka mata



Aroma khas rumah sakit tercium oleh hidung Lily. Jemarinya perlahan bergerak. Bola mata perempuan itu bergerak ke sana kemari dengan kelopak yang masih terpejam.


Bibir Lily pun mulai bergerak tampak ingin mengeluarkan kalimat. Perlahan Lily membuka mata. Cahaya matahari menembus jendela melalui tirai putih yang tertiup angin membuat perempuan itu mengerjap beberapa kali.


Saat kesadaran Lily sepenuhnya pulih, rasa sakit di sekujur tubuh membuatnya meringis. Jay yang menyadari bahwa Lily sudah tersadar langsung menggenggam jemari perempuan itu. Dia mencondongkan tubuh ke arah Lily dengan wajah tegang.


"Lily, apa yang kamu rasakan?" tanya Jay dengan wajah panik.


"Sakit," ucap Lily dengan suara lirih hampir tidak terdengar.


Jay langsung memencet tombol darurat untuk memanggil perawat. Lily sudah tak sadarkan diri selama hampir 24 jam. Selama Lily memejamkan mata, Jay terus meneteskan air mata hingga matanya bengkak.


Lily tersenyum tipis ketika melihat kondisi Jay yang terlihat sangat kacau. Mata sembab, rambut berantakan, pakaian kusut, sungguh bukan seperti Jay yang terbiasa rapi.


"Matamu kenapa?"


"Ah, i-ini ...."


Belum sempat Jay menjawab, seorang perawat mendatangi mereka. Perempuan itu langsung mengecek tensi darah Lily dan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai keluhan yang dirasakan Lily. Setelah selesai, perawat tersebut pun berpamitan.


"Sebentar lagi jam kunjungan dokter, Nona Kim bisa beristirahat kembali. Semoga segera pulih." Sang perawat tersenyum ramah kemudian keluar dari ruangan tersebut.


"Lily, maaf. Aku datang terlambat. Seharusnya waktu itu aku tidak pergi ke Amsterdam." Jay tertunduk lesu seraya mengusap lembut punggung tangan Lily.


"Kamu itu bicara apa? Jika saja kamu tidak pergi ke Amsterdam, mungkin aku tidak akan menyadari perasaanku kepadamu." Lily tersenyum tipis.


Mendengar ucapan Lily, sontak membuat Jay tersipu. Lelaki itu membuang wajah karena takut Lily mengetahui perasaannya sekarang. Jantung lelaki tersebut berdebar tak beraturan.


Rasa lega juga memenuhi hati Jay karena perasaannya bersambut. Di dalam hati, dia benar-benar ingin segera menikahi perempuan di depannya itu. Namun, semua itu membutuhkan persiapan yang matang.


Jay berencana akan melamar Lily setelah dia kembali dari rumah sakit. Mengutarakan kembali isi hati dan meminta Lily untuk menemani sisa umurnya. Memikirkan semua hal manis itu membuat jantung Jay berdegup semakin kencang.


"Jay, bisakah aku meminta sesuatu darimu?"


"Apa?"


"Jangan pernah jauh-jauh dariku. Aku benar-benar tidak bisa menjalani hidup tanpamu. Ketika kamu menjauh, aku merasa separuh jiwaku menghilang."


Terdengar klasik, tetapi apa yang diucapkan Lily sanggup membuat hati Jay berbunga-bunga. Bahkan detik itu juga rasanya Jay ingin melompat dan berteriak karena terlalu senang. Perasaan yang dia pendam setahun lebih ternyata berbalas.


"Iya, aku tidak akan pernah lagi pergi meninggalkanmu!" Jay mengecup punggung tangan Lily penuh cinta.


Lily pun mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit itu. Banyak sekali orang yang peduli dengannya. Mulai dari teman kerja, sampai Ara dan Hari menjenguk perempuan berhati mulia tersebut.


Berkat cinta dari orang-orang sekitar, kondisi Lily membaik dengan cepat. Dia sudah diperbolehkan pulang setelah dirawat secara intensif selama tiga hari.


Hari itu Lily berkemas dibantu Amy dan juga Jay. Wajahnya sudah tampak jauh lebih segar. Mereka pun segera keluar dari bangsal setelah mengemasi barang ke dalam tas.


"Apa kalian bisa pulang berdua dulu? Aku ada janji dengan seseorang." Amy memasukkan tas ke atas kursi penumpang bagian belakang.


"Aigoo ... bukan seperti itu! Aku sudah menemukan sebuah rumah yang sepertinya cocok untuk disewa! Aku akan nego harga dengan pemiliknya."


"Kenapa tidak membelinya sekalian, Amy?" Jay membukakan pintu mobil untuk Lily dan perempuan itu pun masuk ke dalam.


"Aku belum menemukan rumah yang cocok untuk dibeli. Jika aku merasa nyaman dengan rumah ini, nantinya akan aku beli!"


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu, Amy. Semoga kamu berjodoh dengan rumah itu."


Mereka pun berpisah. Lily dan Jay langsung menuju apartemen, sedangkan Amy meminjam mobil Lily untuk menemui orang yang hendak menyewakan rumah tersebut.


Sepanjang perjalanan pulang, Jay dan Lily saling menautkan jemarinya. Binar kebahagiaan jelas terpancar di wajah keduanya. Getar-getar cinta membuat mereka selalu tersenyum sepanjang perjalanan pulang.


"Mau mampir makan dulu?"


"Tidak, buatkan aku makanan di rumah saja," pinta Lily.


"Aku ingin makan ramyun dan sayap ayam pedas buatanmu! Rasanya aku sudah lama sekali tidak memakannya!"


"Baiklah jika utu maumu." Jay tersenyum lembut, kemudian mencium punggung tangan sang kekasih.


Meski keduanya tidak mengukuhkan status yang sedang dijalani, dengan mengungkapkan perasaan satu sama lain sudah bisa untuk mengikat hati keduanya. Mereka sudah menganggap bahwa sekarang keduanya merupakan sepasang kekasih.


Sesampainya di rumah, Jay langsung membuatkan mi pedas dan juga ayam goreng kesukaan Lily. Keduanya menikmati makanan tersebut sambil bercanda. Melepas rindu dengan berbagi cerita.


Jay menceritakan pengalaman pertamanya pekerja di perusahaan asing, sedangkan Lily bercerita pengalaman pertama bertindak sendirian ketika membalas perbuatan Sena. Meski pada akhirnya dia mendapat celaka, Lily mengaku puas.


"Kamu tahu, Jay? Sesaat sebelum datang aku sudah pasrah." Lily tersenyum kecut saat mengingat detik terakhir sebelum Jay datang.


"Ketika Sena mulai mengangkat balok kayu itu, dan hendak memukulkannya ke kepalaku ... aku berdoa pada Tuhan. Aku akan menerima takdirku jika memang harus kehilangan nyawa untuk kedua kalinya."


Jay mengerutkan dahi ketika mendengar kejanggalan yang ada dalam kalimat Lily. Ya, Jay seakan menangkap bahwa Lily memang pernah mati sebelumnya. Akhirnya Jay pun bertanya kenapa Lily berkata demikian.


"Apa maksudmu kehilangan nyawa untuk kedua kalinya?"


"Ah, itu .... Aku sebenarnya ...." Lily menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


Lily bimbang kali ini. Dia keceplosan dan bingung harus mengatakan apa kepada Jay. Jika berkata jujur, Lily takut Jay tidak percaya dan malah menertawakannya.


"Jay, sebenarnya aku bukan pemilik asli dari tubuh ini."


Mendengar penuturan Lily membuat Jay mengerutkan dahi. Dia menatap intens manik mata sang kekasih. Berusaha mencerna apa yang dikatakan Lily.


"Coba katakan pelan-pelan. Aku akan mendengarkannya dengan baik."


"Jadi, sebenarnya jiwaku masuk ke tubuh ini karena sebuah kecelakaan. Sebelum bangun di tubuh ini, aku adalah seorang MUA asal Paris yang akan berlibur ke Korea bersama seorang temanku." Mata Lily menerawang berusaha mengingat kembali kenangan terakhir sebelum pesawatnya mengalami turbulensi.


"Karena perubahan cuaca ekstrem, pesawat yang aku tumpangi mengalami turbulensi. Dalam keadaan panik dan minim oksigen kesadaranku menurun. Aku pingsan. Saat terbangun, aku sudah ada di dalam tubuh gadis bernama Lily ini."