
Amy mondar-mandir di kamarnya seraya menatap layar ponsel. Dia tengah menghubungi Lily yang sudah dua malam tidak pulang, tetapi nomor ponsel peremouan utu tidak dapat dihubungi. Amy juga sudah menghubungi Jay dan sekarang lelaki tersebut sedang dalam perjalanan pulang ke Korea.
Selain Jay, Amy juga menghubungi ayah Lily. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam ketika ayah Lily mendatangi apartemen sang putri. Raut wajahnya tampak panik.
"Bagaimana? Lily belum menjawab panggilanmu?" tanya Lupin panik.
"Belum, Paman. Nomor ponselnya tidak dapat dihubungi." Amy mengusap wajah kasar.
Ada rasa sesal yang kini memenuhi hati perempuan itu. Sudah lama dirinya tidak bertegur sapa dengan Lily karena kesalahpahaman mengenai Jay. Amy sempat menyesal karena merencanakan hal bodoh ini bersama Jay.
"Sebenarnya kami sudah lama tidak mengobrol, Paman." Amy tertunduk lesu seraya menatap ujung kakinya.
"Kenapa?" Lupin menautkan kedua alis dan menatap serius salah satu sahabat putrinya itu.
"Aku dan Jay merencanakan sesuatu untuk memberi Lily pelajaran. Kami sebenarnya hanya ingin membantu Lily berpikir dan memahami tentang perasaannya sendiri." Amy menatap sendu lelaki dengan wajah yang mulai keriput itu.
"Aku rasa Lily menyukai Jay, tetapi gengsinya terlalu tinggi, Paman. Jadi, aku dan Jay merencanakan sesuatu agar Lily menyadari bahwa dirinya sebenarnya membutuhkan Jay." Amy kembali mengusap wajah kasar.
"Membutuhkan kehadirannya untuk melengkapi hidup. Bukan sekedar untuk membantu dalam membalas semua perbuatan orang-orang yang pernah menindasnya."
Lupin menghela napas panjang. Dia menatap datar ke arah Amy yang kini tertunduk. Lupin menepuk bahu Amy, sehingga membuat pandangan gadis itu tertuju kepadanya.
"Itu bukanlah pangkal dari masalah menghilangnya Lily. Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres di sini. Lily bukannya pergi atau semacamnya. Aku yakin ada seseorang yang sengaja menyembunyikannya."
Amy terbelalak ketika mendengar dugaan yang diungkapkan oleh Lupin. Dia baru sadar bisa saja apa yang dikatakan Lupin benar. Selama ini Lily jadi memiliki banyak musuh karena telah menghancurkan banyak karier orang-orang ternama.
Selain karier para mantan perundungnya, tanpa Lily sadari nama baik orang tua mereka pasti ikut tercoreng. Amy mengembuskan napas kasar. Otaknya tengah buntu karena tidak tahu harus mencari Lily ke mana lagi.
"Apa kamu sudah melaporkannya ke pihak berwajib?" tanya Lupin.
"Sudah, Paman. Mereka juga sedang menyelidiki kasus ini.
Saat keduanya sedang sibuk memikirkan kemungkinan di mana Lily berada, tiba-tiba pintu apartemen terbuka. Jay tampak terengah-engah dengan baju basah kuyup. Di luar memang sedang hujan deras sekarang.
Lelaki itu tidak lagi memedulikan dinginnya air hujan. Baginya yang terpenting sekarang segera memastikan bahwa Amy tidak sedang menipunya. Dalam kondisi panik, Jay sempat berpikir bahwa Amy serta Lily ingin mengerjainya.
Tanpa bertanya banyak, Jay langsung masuk ke kamar Lily. Dia juga membuka pintu kamar mandi. Lelaki itu berusaha mencari-cari keberadaan Lily.
"Dia tidak ada di rumah Jay! Apa kamu pikir aku sedang membohongimu?" Amy menyusul Jay, lalu menarik lengan lelaki tampan tersebut.
"Terakhir kali dia pergi ke mana?" tanya Jay dengan sorot mata tajam.
"Aku tidak tahu." Amy tertunduk lesu seraya meremas jemarinya sendiri.
"Bagaimana bisa kamu tidak tahu, ha!" bentak Jay seraya mengguncang tubuh Amy.
Jay menyugar rambut, kemudian memukul dinding dingin kamar Lily penuh emosi. Buku-buku jari lelaki tersebut sampai lecet dan mengeluarkan darah. Amy mengusap lengan atas Jay berharap lelaki di hadapannya itu sedikit lebih tenang.
Akhirnya Jay memutuskan untuk mengecek lokasi terakhir Lily berada menggunakan aplikasi pelacak buatannya. Dalam hitungan detik, dia menemukan fakta bahwa terakhir kali Lily ada di gedung pertunjukan tempat Sena mengadakan konser.
"Berarti dia benar-benar melakukan semua rencana terakhir ini sendirian?" tanya Jay seraya melemparkan tatapan tajam kepada Amy.
"Maaf, Jay." Amy kembali tertunduk lesu.
Tanpa menunggu lebih lama, Jay pun keluar apartemen. Dia langsung melajukan mobil menuju gedung pertunjukan itu. Dia meminta izin kepada pihak pengelola gedung untuk melihat rekaman CCTV yang ada di sekitar sana.
Dari sana Jay mengetahui bahwa sejak awal Lily sudah diikuti oleh sebuah mobil lain. Setelah itu, Jay mendatangi kantor polisi dan meminta rekaman CCTV jalanan yang ada di sekitar tempat itu. Setelah berhasil mengetahui ke mana Lily dibawa Jay langsung menghubungi Amy.
Jay memberitahu lokasi di mana Lily berada kepada perempuan itu. Pihak kepolisian sebenarnya meminta Jay untuk menunggu sebelum ke sana sendirian. Akan tetapi, Jay tidak sabar.
Jay langsung mengendarai mobilnya menuju rumah Tuan Kim seorang diri. Kediaman Tuan Kim ternyata lumayan jauh dari pusat Kota Seoul. Hari sudah berganti saat Jay sampai di rumah megah yang ada di tepi jurang itu.
"Gila! Aku rasa keluarga ini memang memiliki kelainan jiwa! Bisa-bisanya membangun rumah di tebing seperti ini!" Jay keluar dari mobil kemudian berjalan mendekati gerbang besar yang terbuat dari gelondongan kayu utuh setinggi lima meter itu.
Tidak ada penjaga di luar sana, tetapi Jay dapat melihat terdapat banyak kamera pengintai yang dipasang. Sudah dapat dipastikan kalau kedatangannya sekarang sudah diketahui oleh penjaga keamanan di sana.
Jay akhirnya masuk ke mobil. Dia berusaha meretas sistem keamanan rumah keluarga Kim. Keringat mengucur di dahi Jay. Tangannya yang mulai kaku karena terus mengetik di atas papan ketik pun dia hiraukan.
Rasa lelah yang dia rasakan setelah penerbangan selama berjam-jam di udara serta perjalanan menuju tempat itu sirna seketika. Sekarang yang terpenting bagi Jay adalah ingin segera mengeluarkan Lily dari bangunan tersebut dengan selamat.
"Yes, berhasil!" seru Jay seraya meninju udara ketika berhasil meretas sistem keamanan rumah megah tersebut.
Jay segera keluar dari mobil dan masuk melalui pintu gerbang tersebut menggunakan kartu akses apartemennya. Berkat kegeniusan Jay, lelaki itu berhasil menjadikan kartu akses apartemennya untuk membuka semua pintu yang ada di rumah tersebut.
Ketika masuk, tidak ada penjagaan ketat di sana. Jay menduga hal itu dilakukan karena Tuan Kim yakin sistem canggih keamanan rumahnya akan sulit dibobol oleh orang lain. Namun, hal itu sangat mudah bagi Jay.
Saat masuk di ruang tamu, barulah dua orang penjaga menghadangnya. Perkelahian sengit pun tak terelakkan. Mereka saling serang satu sama lain. Meski terlihat lemah, ternyata Jay memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Keringat terus mengucur di balik kemeja yang membalut tubuh Jay. Dua orang penjaga itu pun dapat dikalahkan Jay dalam waktu lebih dari satu jam.
"Di mana gadis itu kalian tahan?" tanya Jay kepada salah satu penjaga yang masih setengah sadar.
"Di-dia ada di ruang bawah tanah."
Setelah mendapatkan jawaban dari si penjaga, Jay langsung memukul lagi kepala lelaki tersebut hingga kesadarannya hilang lagi. Setelah itu Jay mengamati ponselnya. Lelaki tersebut menggunakan aplikasi buatannya untuk mengetahui denah rumah keluarga Kim.
"Ada di sebelah sana!" seru Jay seraya menatap sudut ruangan yang tertutup oleh rak buku yang sangat besar.
Jay setengah berlari menuju rak tersebut. Lelaki itu mengamati benda di hadapannya untuk mencari tahu bagaimana cara menggeser rak yang digunakan sebagai pintu rahasia menuju ruang bawah tanah.
Ketika sedang mengamati rak buku, tiba-tiba saja benda itu tampak bergeser. Tak lama kemudian muncul sosok seorang lelaki dengan usia terpaut hampir sepuluh tahu darinya. Jay terbelalak ketika mengetahui siapa lelaki yang ada di hadapannya itu.