Revenge Of The Ugly Lily

Revenge Of The Ugly Lily
Bab 26. Kembali Terungkap



Dari kejauhan, Amy tampak terburu-buru kembali ke unit apartemen Lily. Dia melupakan alat penyimpan data yang tertinggal di dalam laci meja kerja. Begitu membuka pintu apartemen, Amy dikejutkan dengan pemandangan menakjubkan.


Amy menjadi saksi ciuman pertama Lily dan Jay. Dua anak manusia beda jenis itu pun akhirnya terperanjat ketika menyadari ada sepasang mata lain yang sedang menatap mereka. Jay langsung menjauh dari tubuh Lily.


"Ka-kalian sedang apa?"


"Amy! Se-sejak kapan kamu berdiri di sana?" tanya Lily gugup.


"Apa aku mengganggu? Ka-kalau begitu silakan lanjutkan. Aku akan kembali 30 menit lagi! Waktu setengah jam cukup bukan?" Amy tersenyum canggung kemudian melambaikan tangan.


"Hei, ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan!" teriak Lily.


Perempuan itu pun balik kanan dan keluar dari apartemen Lily. Setelah Amy menghilang di balik pintu, Lily langsung menyerang Jay dengan bantal. Jay terus menepis dan berusaha menghindar.


Namun, ketika Jay menghindar, serangan Lily semakin brutal. Gumpalan putih dari isi bantal pun sampai keluar dan beterbangan ke udara hingga membuat Jay batuk. Tak lama setelahnya Jay tampak kesulitan bernapas.


"Halah, nggak usah pura-pura! Dasar pria mesum! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!" seru Lily sambil terus memukul tubuh Jay dengan bantal yang sudah tidak berbentuk.


"To-tolong ambilkan ventolin inhalerku! A-ada di saku jaketku!"


Melihat Jay yang tampak kepayahan bernapas, langsung membuat Lily tersadar. Ternyata Jay memang sedang tidak bercanda. Lily langsung berlari ke arah ruang tamu, kemudian merogoh saku jaket milik Jay.


Benar saja, di sana terdapat sebuah alat hirup untuk melegakan pernapasan. Lily pun bergegas menghampiri Jay yang mulai mengeluarkan keringat dingin. Dia membantu Jay untuk duduk tegak dan menyodorkan alat untuk melegakan pernapasan itu kepadanya.


Jay pun langau menghirup obat yang ada di dalam alat tersebut selama beberapa detik. Perlahan ritme napasnya mulai teratur. Setelah merasa dadanya tidak sesak lagi, Jay memejamkan mata.


"Kamu memiliki riwayat asma?" tanya Lily dengan suara lemah.


"Iya, aku alergi debu. Sepertinya bantalmu itu lama tidak divakum, ya? Sialan, jorok sekali kamu!" ejek Jay seraya terkekeh.


"E-enak saja!" Loly mengerucutkan bibir seraya menyatukan kedua pangkal alisnya.


Namun, sedetik kemudian wajah Lily kembali berubah tegang. Dia kembali teringat dengan kondisi Jay. Lily baru bisa bernapas lega ketika Jay mulai kembali ceria.


Rasa bersalah kini bergelayut di hati Liky. Dia merasa buruk untuk disebut sebagai teman Jay. Ternyata banyak yang tidak dia tahu tentang lelaki yang sering membantunya dalam proses balas dendam ini.


"Maaf," ucap Lily lirih hampir tak terdengar.


"Maaf untuk apa?"


"Maaf karena ... sudahlah lupakan saja."


Sejak hari itu, Lily berusaha memahami Jay. Dia mencari tahu banyak hal tentang lelaki tersebut dengan mengamati serta memperhatikan kebiasaan kecil yang sering Jay lakukan. Dari sana mulai tumbuh sebuah perasaan yang terasa asing di hati Lily, tetapi dia belum menyadari hal itu.


Dua hari kemudian, tiba-tiba bel apartemen Lily berbunyi. Hari masih gelap saat itu. Lily terus menggerutu seraya mencoba untuk bangkit dari ranjang. Lily langsung membuka pintu unit apartemennya karena mengira yang menekan bel adalah Amy.


Namun, ketika pintu terbuka lebar Lily terbelalak. Di hadapannya kini sudah berdiri Rani yang tampak marah. Perempuan berusia senja itu menatapnya sini seraya melipat lengan di depan dada.


"Itu tidak penting! Ngomong-ngomong, boleh aku masuk?" Rani melongok ke dalam ruangan di belakang Lily, kemudian melangkah masuk melewati Lily tanpa menunggu persetujuan dari sang pemilik rumah.


Lily mengentakkan kaki kesal, kemudian mengikuti Rani. Rani pun duduk di atas sofa kemudian menyilangkan kaki. Dia tampak mengedarkan pandangan untuk menilai semua barang mewah yang ada di dalam apartemen Lily.


"Wah, kamu kaya juga, ya? Tapi, kenapa hanya membayarkan belanjaanku berapa kali saja sudah menyerah?" ejek Rani.


Lily memutar bola mata sembari melipat lengan di depan dada. Melihat perlawanan dari Liky tentu saja membuat Rano meradang. Dia yang biasanya dengan mudah membuat mental seseorang jatuh, ternyata jurusnya kali ini tidak berfungsi untuk Lily.


"Apa kurang? Saya sudah membelikan Anda beberapa buah tas, jam tangan, serta sepatu dengan harga selangit! Ah, lebih tepatnya bukan membelikan." Lily tersenyum miring sambil menyipitkan mata.


"Tapi, bisa dikatakan Anda telah merampok saya, Nyonya Kang! Anda sengaja menghindar dan pergi ke toilet ketika transaksi di meja kasir hendak dilakukan. Sungguh mengesankan! Saya hanya membantu Anda untuk membayarkan barang belanjaan menggunakan uang yang Anda miliki! Apa itu salah? Aku rasa tidak!"


"Tapi kemarin lusa kamu yang mengajakku belanja! Bukankah seharusnya orang yang mengajak adalah orang yang akan membayar barang belanjaan orang yang diajak?" Rani menggebrak meja kemudian beranjak dari kursi.


Lily perlahan melangkah maju mendekati Rani. Tatapannya tidak lepas dari perempuan yang kini sedang terbakar amarah itu. Semakin Rani menunjukkan kemarahannya, justru Lily semakin senang.


"Saya rasa ada kesalahpahaman di sini. Mati kita luruskan!" Lily tersenyum miring.


"Saya hanya mengajak Anda belanja, Nyonya Kang. Saya tidak pernah mengatakan bahwa akan membayari barang belanjaan Anda."


"Dasar, Brengsek!" umpat Rani.


"Nyonya, calon menantu Anda itu anak orang kaya! Putri dari seorang produser kondang! Apa uangnya tidak cukup banyak bagi Amda?" Lily memiringkan kepala seraya terus mengukir senyum sinis di bibirnya.


"Sejujurnya saya menyesal sudah pernah berbaik hati kepada Anda! Nyonya Kang, pintu keluar ada di sebelah sana!" Lily menunjuk ke arah pintu keluar, tanpa melepaskan tatapannya dari Rani.


"Anda ingin keluar sendiri, atau keluar dengan cara paksa?"


Rani berteriak keras sebelum akhirnya pergi keluar dari apartemen Lily. Perempuan itu juga membanting kasar pintu sehingga membuat Amy yang masih tidur tersentak. Amy pun langsung menghampiri Lily yang masih berdiri di ruang tamu seraya menatap kesal pintu apartemennya.


"Ada apa ribut-ribut?" tanya Amy seraya menguap lebar.


"Bukan apa-apa, hanya ada anjing liar yang masuk ke sini tadi!"


Lily pun kembali masuk ke kamarnya. Sedangkan Amy mengerutkan dahi karena tidak menangkap maksud dari ucapan Lily. Akhirnya Amy pun kembali lagi ke kamarnya karena malah berpikir lebih jauh.


Tepat satu minggu sebelum pernikahan Yura dan Boby berlangsung, tiba-tiba Jay menemukan sebuah fakta baru yang dapat menjadi akhir bagi kebahagiaan Yura. Lily pun tersenyum lebar ketika mengetahui fakta tersebut.


Sebuah rencana baru untuk membantu karma bekerja pun kini mulai Lily susun. Dia yakin, hari pernikahan Lily akan menjadi awal kehancuran hidupnya. Sebuah senyum seringai pun terukir di bibir tipis Lily.


...****************...