
Tepat satu minggu sebelum pernikahan Yura, Jay kembali menemui Lily. Dia memberitahukan kepada gadis itu mengenai satu fakta baru mengenai Yura. Lily menatap antusias Jay yang tampak sangat serius.
"Yura diam-diam menjalani hubungan terlarang dengan Eden, salah satu pilot yang bekerja satu maskapai dengannya."
"Benarkah?" Lily terbelalak.
Sedetik kemudian, sebuah senyum lebar terukir di bibir perempuan berparas cantik itu. Sebuah ide cemerlang kini menari-nari di dalam otaknya. Dia berencana membuat kejutan besar di hari pernikahan Yura dan Boby.
"Apa pilot itu sudah berkeluarga?" tanya Lily.
"Sudah, istrinya hanya ibu rumah tangga biasa. Sebenarnya dia dulu juga pramugari, tetapi setelah menikah Eden melarangnya bekerja."
"Ah, aku benci hal seperti itu. Kenapa perempuan harus dibatasi setelah menikah. Jika kariernya bisa menjadikan perempuan lebih bermanfaat, kenapa harus dilarang?" Lily membuang napas kasar kemudian kembali menatap Jay serius.
"Aku minta semua data tentang perempuan itu. Siapa namanya?"
"Maria, aku sudah menyiapkan semua sebelum kamu menyuruhku!" Jay menggoyangkan ponselnya.
Lily pun mengacungkan jempol sambil tersenyum lebar. Jay langsung mengirim beberapa dokumen berisi informasi tentang kehidupan Maria dan Eden setelah menikah. Dari sana Lily tahu bahwa Maria adalah perempuan baik-baik, setia, dan patuh kepada sang suami.
Selain dokumen itu, Jay juga mengirim beberapa bukti kedekatan Eden dengan Yura. Mulai dari foto dan video mesra, hingga bukti percakapan keduanya. Jay meretas semua itu dengan mudah melalui aplikasi peretas data buatannya.
Lily yang tidak ingin lagi membuang waktu, langsung mendatangi Maria ke rumahnya. Dia bergegas menemui Maria karena besok lusa Eden akan singgah di Korea untuk melakukan penerbangan jarak dekat. Lily menekan bel rumah Maria dan menunggu dibukakan pintu sambil berbalas pesan dengan Jay.
"Permisi, apa benar ini kediaman Nyonya Maria Song?" tanya Lily seraya tersenyum lebar, setelah seorang perempuan membuka pintu pagar.
"Iya benar." Maria tampak menatap Lily dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ada apa, ya?"
"Perkenalkan saya Lily Kim. Saya ingin membicarakan hal penting kepada Anda. Bolehkan saya masuk?" tanya Lily dan diikuti anggukan oleh Maria.
Keduanya pun melangkah masuk ke rumah. Maria menyuguhkan minuman dan beberapa jenis camilan. Setelah itu, Lily mulai membuka percakapan.
"Begini, apa lelaki yang ada di foto ini adalah suami Anda?" Lily menyodorkan sebuah amplop berisi foto Eden.
Maria pun segera meraih amplop berwarna coklat tersebut, lalu membukanya perlahan. Dia mengeluarkan semua isinya, dan mulai menelitinya satu-satu. Di awal, hanya terdapat foto Eden yang sedang tersenyum lebar.
Melihat senyuman suami yang sangat Maria cintai itu, tentu saja membuatnya ikut tersenyum. Dia mengusap lembut foto tersebut. Perlahan Maria mengamati lembar demi lembar foto itu, sampai akhirnya menemukan kejanggalan.
Salah satu foto itu menunjukkan kalau sang suami sedang menggenggam jemari perempuan. Maria sangat yakin kalau itu bukan tangannya. Jari perempuan dalam foto terlihat jauh lebih lentik daripada miliknya.
"Si-siapa perempuan ini?" Maria terbelalak ketika menatap foto dalam genggamannya.
"Silakan lanjut ke foto yang lain, Nyonya. Foto selanjutnya akan menunjukkan siapa perempuan yang sedang bersama suami Anda." Lily tersenyum tipis seraya menunjuk tumpukan foto lain yang masih ada di atas meja.
Jemari Maria tampak gemetar ketika hendak meraih lembar demi lembar foto berikutnya. Pikiran buruk tentang sang suami kini menguasai hati dan pikirannya. Dia berharap apa yang sedang dia pikirkan tidak benar-benar terjadi.
Di dalam foto itu, Eden tampak begitu akrab dengannya. Keakraban yang terlihat seperti sepasang kekasih, bukan teman atau semacamnya. Ya, perempuan itu adalah Yura.
"Namanya Yura, putri dari Produser Han. Anda mengenal ayahnya, bukan?"
"Foto ini hasil editan, 'kan? Jaman sekarang sangat canggih! Bi-bisa saja kamu sengaja mengedit foto ini untuk menghancurkan pernikahan kami! Siapa yang menyuruhmu melakukan hal ini?" teriak Maria frustrasi.
"Apa Anda mau kuajak melihat sendiri perselingkuhan mereka secara langsung?" Lily tersenyum miring kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Maria.
"Besok lusa pukul sepuluh malam, aku tunggu di Hotel Grand Gangnam. Atau mau kujemput saja? Karena setelah malam itu, bisa dipastikan untuk memijakkan kaki ke atas tanah saja Anda tidak akan sanggup." Lily beranjak dari kursi kemudian berjalan ke arah pintu keluar.
Namun, sesaat sebelum memutar tuas pintu, Lily balik badan. Dia kembali berjalan ke arah Maria yang masih mematung dengan posisi sama seperti sebelumnya. Lily menyodorkan kartu nama kepada Maria.
Akan tetapi, perempuan itu hanya melihat kertas kecil tersebut dengan tatapan datar. Lily pun menghela napas kasar. Dia akhirnya memilih untuk meletakkan kartu nama ke atas meja tanpa menunggu uluran tangannya disambut oleh Maria.
"Masih ada waktu dua hari untuk mempertimbangkan semua. Sejujurnya saya hanya ingin menyelesaikan semuanya sendiri. Tapi, mengetahui Anda hidup sendirian di rumah besar ini ... saya merasa harus memberitahukan semuanya sekarang."
Lily masih berdiri di depan Maria sambil menunggu keputusan perempuan itu. Namun, Maria masih diam seribu bahasa. Agaknya dia tengah syok berat.
Suami yang selama ini Maria cintai dan selalu menunjukkan berbagai macam perhatian kepadanya, ternyata mengkhianati dia. Lelaki tersebut bermain api di belakang Maria. Lily pun balik badan, kemudian meninggalkan Maria sendirian di dalam rumah.
"Hah, melihat kehidupan rumah tangga yang tampak rumit membuatku malas untuk melakukan janji suci itu," ucap Lily ketika sudah berada di dalam mobil.
Ketika Lily menyalakan mesin mobil, tiba-tiba sebuah pesan masuk. Pesan tersebut berasal dari nomor asing. Lily langsung tersenyum lebar karena ternyata pesan itu berasal dari Maria.
"Baiklah! Maaf sudah membuat hatimu hancur. Tapi aku ingin kamu tahu kebusukan suamimu dan selingkuhannya itu, Maria! Aku rasa lebih baik tahu sekarang daripada nanti ketika kamu sudah sangat dalam mencintainya atau sudah memiliki anak dari Eden."
Di hari kepulangan Eden, Lily menjemput Maria. Dia meminta perempuan itu untuk bersikap tenang setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mereka menunggu Eden dari pintu keluar bandara, biasa Eden melaluinya.
Setelah menunggu selama setengah jam, akhirnya Eden keluar. Dia tidak memesan taksi, melainkan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di sana 15 menit setelah mereka datang. Lily pun bergegas mengikuti keduanya.
Sesuai dugaan, mobil itu masuk ke sebuah hotel. Dunia Maria seakan hancur. Sang suami telah mendustainya. Lelaki itu mengatakan bahwa akan pulang lebih lambat karena pesawat mengalami penundaan keberangkatan akibat cuaca buruk.
"Coba hubungi dia!"
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Maria menghubungi sang suami. Panggilannya diangkat dan Eden mengatakan sedang ada di bandara Shanghai. Mendadak Maria memutuskan sambungan telepon.
Perempuan itu mulai menangis sejadi-jadinya. Tangisnya pilu seorang istri yang dikhianati suami terdengar begitu menyayat hati. Lily hanya bisa menatap Maria yang sedang menangis. Sesekali Lily menepuk lembut punggung Maria agar perempuan itu sedikit lebih tenang.
"Menangislah, Maria. Tumpahkan semua emosi dan kekecewaanmu. Setelah itu, kembalilah kuat. Jika kamu mau bekerja sama denganku, dijamin suamimu itu akan mendapatkan malu seumur hidup."
"Bagaimana caranya?" tanya Maria di antara isak tangis.
"Begini, kamu tidak perlu melakukan apa pun untuk saat ini. Bersikaplah biasa di depan suamimu seperti tidak mengetahui apa pun tentang perselingkuhan itu. Kamu hanya perlu melakukan hal ini di akhir pertunjukan."
Lily pun menjelaskan rencananya. Maria pun dengan mudah menyetujui permintaan Lily. Dari sanalah adegan mengguyur Yura dengan minuman berasal.