
Lily terus menatap Sena melalui layar monitor di hadapannya. Sebuah senyum miring terukir di bibir perempuan itu. Dia berharap hari ini pekerjaannya tuntas.
Dari bagian audio, Jiny tampak mengambil napas. Sebenarnya Lily memintanya untuk tetap melakukan semua seperti biasa. Lily hanya meminta Jiny untuk membatunya menghubungi kru bagian teknis yang bertugas ketika konser berlangsung.
Berkat informasi dan bantuan dari Jiny, Lily hari itu dapat masuk ke dalam tim dengan mudah. Namun, sebuah hal mengejutkan terjadi. Suara yang keluar bukanlah milik Sena, tetapi Jiny. Mikrofon Jiny tetap menyala, sedangkan mikrofon Sena yang mati.
"Sialan! Umpat Lily!"
Lily pun bergegas keluar dari ruangan tersebut untuk menemui karyawan yang dia gantikan. Perempuan itu tampak bersantai di ruang ganti seraya menikmati secangkir kopi.
"Sialan! Kamu mau menipuku?" Lily menarik kerah baju karyawan bernama Kristal tersebut.
"Apa maksudmu, Kak?"
"Aku sudah membiarkan mikrofon Sena tetap menyala, tetapi kenapa suaranya tidak terdengar? Justru suara Jiny yang keluar seperti biasa!"
Kristal terbelalak seketika ketika mendengar kemarahan Lily. Dia pun meletakkan kembali cangkir kopi dan segera berlari ke ruang kontrol. Perempuan itu mulai meneliti tombol yang ada di sana.
Ternyata ada yang memindahkan fungsi tombol mikrofon tanpa sepengetahuannya. Kristal pun kembali keluar ruang kontrol dan segera menghampiri Lily. Dia menjelaskan keadaan yang terjadi.
Setelah mendengar penjelasan dari Kristal, Lily langsung memukul udara geram. Dia berulang kali melontarkan umpatan. Dari sana, Lily yakin bahwa ada orang yang telah mengetahui rencananya.
"Kembalilah ke sana dan cari tombol mana yang menghubungkan mikrofon Sena dan pengeras suara!" perintah Lily.
Kristal pun kembali ke ruang kontrol dengan patuh. Perempuan itu mulai memeriksa semua tombol. Akan tetapi, dia gagal. Saat Sena berhenti menyanyi dan mengadakan obrolan santai dengan penggemar, Jiny keluar dari ruang kontrol.
Perempuan itu langsung menemui Lily yang sedang terduduk di ruang ganti seraya memijat pelipis. Jiny langsung duduk di bangku kosong yang ada di samping Lily dan menanyakan keadaan perempuan itu.
"Apa ada orang lain yang mengetahui rencana kita?"
"Aku tidak tahu, Kak. Tapi aku benar-benar terkejut tadi. Apa kata Kristal?" tanya Jiny panik.
"Dia juga tidak tahu kenapa program tombolnya berubah. Saat ada di dalam ruang kontrol, apa kamu tahu siapa yang mendekati alat dengan banyak tombol itu?" tanya Lily.
Lily menduga ada seseorang yang sengaja mengubah sistem pengontrol suara, sehingga apa yang dilakukannya tidak berpengaruh. Jiny tampak menautkan kedua alisnya.
"Maaf, aku tidak memperhatikannya." Jiny tertunduk lesu.
"Bisakah kamu sampaikan hal ini kepada Kristal?"
Lily mulai membeberkan rencana selanjutnya. Setelah memahami apa yang diperintahkan Lily, Jiny mengangguk. Dia segera masuk ke dalam ruang kontrol dan menyampaikan hal tersebut kepada Kristal.
Kristal pun mulai mencari tombol yang tepat. Setelah mengotak-atik semua, akhirnya gadis tersebut berhasil menemukan tombol yang terhubung dengan mikrofon yang dipakai Sena. Kali ini Kristal dan Jiny yakin rencananya akan berhasil.
Ya, Lily mengubah rencana. Awalnya dia ingin masuk dan menyaksikan sendiri bagaimana Sena dipermalukan di depan publik melalui layar monitor yang ada di ruang kontrol. Selain untuk alasan itu, Lily juga tidak ingin nama Kristal tersangkut hingga dipecat oleh pihak penyelenggara konser.
"Tiga ... dua ... satu ...." Kristal akhirnya mematikan tombol mikrofon Jiny.
Kali ini rencana mereka berhasil. Baru satu baris syair lagu yang keluar dari bibir Sena, semua penonton dibuat riuh. Suara sumbang Sena kini menggema di seluruh gedung. Sena sampai terkejut dan berhenti bernyanyi karena mendengar suaranya sendiri.
Suara penonton pun kini terdengar seperti dengung lebah. Seorang teknisi menghampiri Sena dan mencoba mengecek kondisi mikrofon. Mereka berdua saling tatap.
Keringat mengucur di balik punggung kru laki-laki tersebut. Dia gemetar karena mendapatkan tatapan tajam dari mata Sena yang mulai basah. Lelaki itu terancam kehilangan pekerjaan.
Di ruang kontrol, Jiny dan Kristal saling tatap. Secara teknis apa yang dilakukan Jiny tidak salah. Namun, sudah dapat dipastikan dia akan dianggap bersalah dan dipecat oleh pihak penyelenggara konser. Kristal tidak akan lagi memedulikan itu karena uang tambahan yang ditawarkan Lily jauh lebih banyak dari empat kali gajinya ketika mengadakan konser.
"Kerja bagus!" seru Lily yang mengintip di balik panggung.
Setelah memastikan semua berhasil, Lily langsung mentransfer sejumlah uang ke rekening Kristal. Dia mengirimkan bukti pemindahan saldo tersebut kepada Kristal dan melenggang keluar gedung pertunjukkan.
Lily mulai melajukan mobil dan menjauh dari tempat tersebut. Ketika dalam perjalanan, tiba-tiba dia dibalap oleh mobil lain, dan kendaraan tersebut menghalangi jalan Lily. Mau tak mau dia pun keluar dari mobil dan menghampiri pengendara yang kini masih ada di dalam kuda besinya tersebut.
"Keluar kalian!" teriak Lily seraya menggebrak bagian depan mobil mewah tersebut.
Tak lama kemudian, keluar empat orang laki-laki dengan jas dan berkacamata hitam. Tubuh mereka semua besar dan tinggi. Lily mengedarkan pandangan kepada keempat lelaki tersebut.
Lily melepas kedua sepatu hak tingginya dan mengibaskannya ke arah para lelaki bertubuh besar tersebut. Akan tetapi, mereka terus mendekat. Berkat tubuh Lily yang mungil dan ringan, dia menerobos barisan preman berpenampilan formal tersebut.
"Sial! Siapa mereka!" seru Lily.
Perempuan itu terus berlari menyusuri jalanan yang terasa sepi. Rasa panas pada telapak kaki yang beradu dengan jalanan beraspal pun dia abaikan. Dia harus kabur dari kumpulan preman tersebut. Lily sadar bahwa dia dalam bahaya sekarang.
Dalam kondisi panik dan terancam, hanya ada nama Jay yang terpikir di benaknya. Lily pun terus berlari sambil mengeluarkan ponsel dari saku blazernya. Ketika hendak menekan nomor ponsel Jay dia baru sadar akan sesuatu.
"Astaga! Jay kan tidak bisa dihubungi! Misalkan bisa di juga sedang berada di Amsterdam! Mana mungkin bisa ke sini dalam hitungan detik!" Lily menepuk kening karena baru sadar akan kenyataan tersebut.
Di depan matanya kini ada sebuah bangunan yang tampak kosong. Lily pun memutuskan untuk masuk ke rumah itu dan bersembunyi. Lily bersembunyi di sela-sela antara dinding dan lemari yang ada di ruang tengah.
Perempuan itu pun kembali menatap layar ponselnya sejenak sambil berpikir orang yang sekiranya bisa membantu. Orang kedua yang dia pikirkan setelah Jay adalah Amy.
"Aduh, tapi kan aku sedang musuhan sama Amy!" Lily menepuk dahi.
Akan tetapi, sedetik kemudian dia menggeleng. Lily menekan rasa egonya. Kali ini dia dalam bahaya dan harus segera mendapat pertolongan.
Bodohnya perempuan itu tidak berpikir untuk segera menelepon polisi. Ya, dalam keadaan tertekan karena menghadapi bahaya pasti membuat seseorang tidak dapat berpikir normal dan jernih.
Lily menghubungi Amy dan menunggu panggilannya dijawab. Sialnya Amy tidak segera mengangkat panggilannya. Lily terus mencoba lagi, tetapi tidak membuahkan hasil.
"Ternyata kamu di sini?"
Mendengar suara bariton dari depannya membuat Lily mendongak. Dia tertangkap. Lelaki bertubuh besar itu langsung melayangkan pukulan ke wajah Lily.
Tubuh Lily limbung dan kepalanya terbentur ke dinding. Pandangan perempuan itu mulai kabur. Lily berusaha mendapatkan kembali kesadarannya dengan menggeleng dan mengerjapkan mata berulang kali.
Namun, usaha Liky gagal. Sebuah pukulan keras mendarat di bagian belakang tengkoraknya. Lily pun tumbang dan tersungkur di atas lantai berdebu.