
Jay terbelalak ketika mengetahui Jordan berada di hadapannya. Kakinya lemas seketika. Jordan sebenarnya juga sangat terkejut ketika mengetahui Jay ada di sana.
Akan tetapi, Jordan sangat pandai mengontrol ekspresi wajah. Dia tampak diam seraya memasukkan tangan ke saku celana. Lelaki itu mendekati Jay yang kini sedang mempertahankan keseimbangan tubuh dengan berpegangan pada salah satu sisi rak buku.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Jordan dengan suara dingin.
Jay tidak sanggup menjawab. Bibirnya sampai berkedut karena menahan rasa takut yang luar biasa. Di depannya kini ada seorang kakak yang pernah membuat mentalnya hancur saat kecil.
Sebenarnya bukan murni kesalahan Jordan, melainkan ibunya. Ya, Jay selalu dibandingkan dengan sang kakak yang rajin belajar dan berprestasi di sekolah. Berbeda dengan Jay yang senang bermain game di komputer atau konsol.
Selain itu, sejak kecil Jay sering makan berlebih ketika stres. Jarang berolah raga karena terlalu sibuk di depan komputer, membuat berat badannya naik dengan cepat. Sampai akhirnya Jay mengalami obesitas.
"A-aku ...."
Belum sempat Jay melanjutkan ucapan, Jordan melangkah maju mendekati sang adik. Kini kaki Jay tidak mampu lagi menumpu tubuhnya. Tubuh Jay merosot ke atas lantai.
"Bangkitlah! Jangan jadi pengecut!" seru Jordan kepada Jay yang tubuhnya mulai menggigil.
Jay kembali teringat bagaimana Jordan terus memaksanya untuk berolah raga dan belajar ketika kecil. Meski Jordan memiliki niat baik, tetapi Jay tidak suka dengan caranya.
"Bukankah kamu ingin menyelamatkan gadis itu?" Jordan tersenyum miring seraya berkacak pinggang.
"Ayo, bangunlah! Jangan jadi pengecut!" seru Jordan seraya menarik kaos Jay.
Mau tidak mau Jay pun bangkit dari atas lantai. Dia belum bisa berdiri tagak. Jordan yang geram dengan sikap sang adik langsung mendaratkan kepal tangannya ke pipi Jay.
Jay kembali tersungkur ke atas lantai. Jordan kembali menarik kaos Jay, dan memintanya untuk berdiri tegak. Akan tetapi, Jay seakan tidak bertulang.
Akhirnya Jordan pun menghajarnya habis-habisan. Dia terus mendaratkan pukulan pada pipi sang adik. Tak elak pipi lelaki itu pun penuh lebam.
"Ternyata waktu tidak dapat mengubahmu! Kamu tetap saja seorang pengecut!" teriak Jordan seraya menatap tajam sang adik yang tak berani menatap matanya.
"Tatap mataku, Brengsek! Aku sedang bicara denganmu!"
Jay hanya menggerakkan sedikit bola mata sehingga dapat melihat wajah Jordan yang tampak merah padam. Sebuah senyum seringai terukir di bibir Jordan. Dia melepaskan cengkeraman tangan dari kaos sang adik.
"Bagaimana kamu bisa melindungi gadis itu jika masih terus bersikap pengecut seperti ini?" ejek Jordan sembari melipat lengan di depan dada.
"Aku akan menghabisi gadis itu!" Jordan balik kanan kemudian kembali menggeser salah satu buku yang digunakan sebagai kunci dari pintu rahasia menuju ruang bawah tanah.
Mendengar Lily akan disakiti, tentu saja membuat kekuatan Jay bangkit. Dia melawan semua rasa sakit dari masa lalu yang membelenggu. Lelaki tampan itu mulai bangkit dari atas lantai.
Jay berlari ke arah sang kakak, kemudian menendang kaki Jordan hingga tubuh lelaki itu terjungkal dan jatuh. Jay menatap nyalang ke arah sang kakak yang mencoba untuk bangkit.
"Aku ingatkan! Jangan pernah menyentuh Lily seujung kuku pun!"
Jay yang tidak terima dengan ucapan sang kakak langsung mendaratkan kepalan tinju ke pipi sang kakak. Jordan sempat mundur beberapa langkah, tetapi kakinya cukup kokoh untuk bertahan sehingga tidak jatuh ke atas lantai.
"Ah, jadi kamu menyukainya? Aku jadi semakin tertantang untuk merebutnya darimu!" Jordan terkekeh.
Jay kembali memukul sang kakak. Kali ini serangannya semakin gesit dan kuat. Jordan terus berusaha menghindar, tetapi tidak membalas sekali pun pukulan dari Jay.
"Ayo, terus! Pukul aku sampai kena!" seru Jordan sambil terus menghindar.
Ketika Jordan lengah, sebuah pukulan keras mendarat pada perutnya. Lelaki itu pun memuntahkan cairan bening kemudian terbatuk-batuk. Jay menghentikan gerakannya sejenak.
Lelaki itu mulai mengatur napas tanpa melepaskan pandangan dari sang kakak. Setelah Jordan berhenti batuk, dia tersenyum miring. Jordan melangkah mendekati sang adik.
Sekarang Jay tidak mundur sedikit pun. Dia seakan sudah siap menyambut pukulan dari kakak kandungnya itu. Rahang Jay tampak mengeras sempurna.
"Baguslah! Terus begini sampai akhir. Kali ini, aku akan bersungguh-sungguh untuk melawanmu!"
Jordan mulai mengepalkan jemari dan mengayunkan lengan ke arah Jay. Akan tetapi, lelaki itu berhasil menghindar. Kini mereka berdua berkelahi di lorong yang mengubungkan rumah utama keluarga Kim dengan ruang bawah tanah.
Jay dan Jordan saling mendaratkan pukulan. Bahkan beberapa kali Jay terluka karena cincin yang melingkar di jemari sang kakak. Dahi lelaki tersebut sampai berdarah.
"Astaga, tubuhku benar-benar mulai menua!" Jordan berhenti sambil mengatur napas.
Begitu juga dengan Jay. Tenaga keduanya mulai terkuras habis. Setelah berpikir, Jordan memutuskan untuk membantu Jay kali ini. Dia meminta Jay untuk memukulnya hingga pingsan.
Hal itu Jordan minta karena ingin merancang semuanya bahwa memang Lily menghilang dari sana secara alami, bukan atas bantuannya. Jay tertegun ketika mendengar permintaan sang kakak.
"Ayo cepat pukul aku! Sudah tidak ada waktu lagi!" seru Jordan.
Perlahan Jay mulai mengambil balok kayu yang ada di lorong tersebut. Dia pun segera mengayunkan balok itu ke leher Jordan. Jordan pun langsung kehilangan kesadarannya detik itu juga.
Usai memukul sang kakak, tubuh Jay langsung merosot ke atas lantai. Bahkan lelaki itu sempat mengguncang tubuh sang kakak untuk menyadarkannya. Akan tetapi, Jay gagal. Akhirnya Jay kembali pada tujuan utamanya untuk mengeluarkan Liky dari rumah tersebut.
Dia terus mengikuti tangga menurun yang ada di sepanjang lorong itu. Di ujung lorong, ada sebuah ruangan kecil dengan pintu yang terbuat dari baja. Jay merogoh saku kemudian mengeluarkan kartu akses dan mulai menggunakannya untuk membuka pintu.
"Lily," gumam Jay ketika melihat Lily sudah tersungkur tak berdaya dengan seorang perempuan yang hendak mengayunkan balok di atas tubuhnya.
Jay langsung mengeluarkan pistol yang dia bawa. Lelaki itu menodongkan senjata api tersebut ke arah Sena yang akan memukul Lily.
"Polisi akan segera datang! Menjauhlah dari Lily atau aku akan menghabisimu!" gertak Jay.
Sena pun menjauh dari Lily karena ketakutan. Jay terus menyudutkannya kemudian mengikat tubuh Sena menggunakan tambang yang ada di sudut ruangan tersebut. Setelah selesai, dia segera mendekati Lily.
Jay memeluk hangat perempuan tersebut sambil terus mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari bibir Lily. Sampai akhirnya Sena menarik pelatuk dan akhirnya Lily terkena timah panas.