
Lily mengerutkan dahi ketika melihat Jay yang menggantungkan ucapannya di udara. Perempuan itu menangkap gelagat aneh yang tak biasa dari Jay. Lelaki di depannya itu tampak menelan ludah kasar berulang kali.
Pandangan Jay tidak fokus. Dia sepertinya sedang bimbang hendak mengucapkan sesuatu. Lily melambaikan tangan di depan wajah Jay untuk mendapatkan perhatian dari orang yang selama ini membantunya itu.
"Jay, halo! Kamu baik-baik saja?" tanya Lily sambil terus menggerakkan tangan.
Jay berdeham sebelum akhirnya kembali menatap Lily. Tatapannya begitu teduh dan penuh cinta. Jay kembali menelan ludah kasar dan bibirnya tampak gemetar.
"Lily, aku ... aku ...."
Jay kembali menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya kasar. Entah mengapa hari itu Jay ingin mengungkapkan isi hatinya kepada Lily. Rasa sayang yang selama ini dia pendam kepada gadis itu, terasa meluap dan meledak-ledak sekarang.
Hati Jay tak sanggup lagi menampung rasa sayang yang kini memenuhi hatinya untuk Lily. Dia pun akhirnya memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya detik itu juga. Jay tidak peduli bagaimana perasaan Lily terhadapnya.
Saat ini Jay hanya ingin mengungkapkan apa yang dia rasakan. Meski nantinya akan berakhir luka jika Lily tidak memiliki perasaan yang sama, paling tidak hatinya sedikit lebih lega. Jay menatap intens manik mata Lily dan mulai mengumpulkan tekat.
"Lily, aku ... suka sama kamu."
Mendengar pernyataan cinta dari Jay yang tiba-tiba tentu saja membuat Lily terdiam. Alis perempuan tersebut saling bertautan. Mata Lily meneliti ekspresi wajah Jay untuk mencari-cari kebohongan di sana.
"Aku sayang sama kamu. Aku tidak peduli apa kamu memiliki perasaan yang sama atau tidak denganku. Yang jelas aku sangat mencintaimu sejak kita pertama kali bertemu."
Mendengar rentetan kalimat itu membuat Lily terbelalak. Namun, sedetik kemudian tawa Lily pecah. Air mata pun membasahi sudut mata Lily karena merasa apa yang dilakukan Jay sekarang hanya sebuah gurauan.
Bahkan Lily beberapa kali memukul gemas lengan atas Jay. Lelaki tersebut berusaha menghindar dan menepis pukulan Lily. Sampai akhirnya tawa Lily semakin reda, Jay pun menanyakan alasan perempuan di sampingnya itu tertawa.
"Kamu lucu sekali, Jay! Astaga kamu sedang melemparkan gurauan macam apa? Atau kamu sengaja mengatakan semua itu untuk mengerjaiku? Astaga, Jay! Kamu bukan anak kecil kemarin sore yang pantas melakukan gurauan seperti ini." Rentetan kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Lily tanpa memikirkan perasaan Jay.
Mendengar Lily tertawa tentu saja membuat hati Jay terasa begitu nyeri. Dia meringis menahan rasa sakit dan malu secara bersamaan. Lelaki tersebut pun memilih untuk ikut tertawa demi menutup rasa sakit yang dia derita.
Rasa sayangnya yang begitu tulus ternyata hanya dianggap lelucon oleh Lily. Jay tersenyum getir. Memendam kembali rasa yang awalnya meluap itu.
Setelah Lily sedikit lebih tenang dan berhenti tertawa, mereka pun kembali ke apartemen. Setelah sampai di apartemen, Lily merebahkan tubuh ke atas sofa yang ada di kamar Amy. Sementara Amy sedang sibuk memainkan jemarinya di atas papan ketik.
"Bagaimana rencana selanjutnya? Apa kamu butuh bantuanku?" tanya Amy dengan mata yang tak lepas dari layar laptop.
"Tidak, bahkan aku rasa kali ini aku bisa mengatasinya sendiri. Sena begitu mudah disingkirkan." Lily memejamkan mata berusaha menikmati setiap udara yang dia hirup.
Bayangan tentang Jay yang mengungkapkan perasaannya kembali terlintas di benak Lily. Sontak perempuan itu bangkit dari pembaringan dan duduk tegak di atas sofa. Lily berusaha mengingat lagi ekspresi Jay ketika mengatakan bahwa dia mencintai dirinya.
Amy melemparkan pertanyaan kepada Lily, tetapi perempuan itu tidak menanggapinya. Amy pun mengabaikan pekerjaannya saat ini. Dia beranjak dari meja kerja dan berjalan menghampiri Lily.
Amy melambaikan tangan tepat di depan wajah Lily untuk mendapat perhatian dari gadis tersebut. Namun, perempuan itu tidak merespons. Amy pun mengerutkan dahi. Dia melipat lengan di depan dada kemudian menepuk bahu Lily, sehingga sahabatnya tersebut tersentak.
"Kamu kenapa bengong?"
"Jay ...." Lily masih terbelalak karena baru menyadari bahwa apa yang dikatakan Jay bukan merupakan gurauan.
"Jay kenapa?"
"Jay bilang suka sama aku! Bu-bukan cuma suka, tapi sayang dan cinta sama aku!" Lily menutup bibirnya dengan kedua telapak tangan.
Bukannya terkejut, Amy justru bersikap biasa. Perempuan itu melepas kacamatanya kemudian memasukkan benda tersebut ke dalam saku kaos. Amy pun segera mendaratkan bokong ke atas sofa.
"Hey, Lily. Aku tidak tahu kalian itu bodoh atau bagaimana."
"Kami ini pintar! Kami memiliki berbagai rencana bagus hingga bisa membuat para orang terkenal mengalami kehancuran karier!"
"Bukan itu yang aku maksud, ya amplop!" Amy menepuk dahi kemudian menatap sahabatnya itu gemas.
"Lily, dengarkan aku! Di dunia ini ... tidak ada persahabatan di antara dua orang berlawanan jenis murni tanpa rasa cinta. Pasti salah satu di antara mereka akan menaruh rasa sayang lebih dari perasaan seorang sahabat." Amy membuat tanda kutip dengan jari telunjuk dan tengah di samping kepalanya.
Sedetik kemudian Lily tampak cemas. Telapak kaki perempuan itu mulai bergerak naik turun beradu dengan karpet. Lily pun tak henti-hentinya menggigit ujung kuku tangan karena rasa panik yang berlebih.
Amy kembali menautkan kedua alis ketika melihat sikap Lily. Dia pun menanyakan alasan kenapa Lily tampak begitu panik. Amy langsung berteriak histeris ketika mengetahui apa yang dilakukan sahabatnya itu usai Jay mengungkap perasaan.
"Lily, kamu ...." Amy mengusap wajah kasar kemudian menoyor kepala Lily berulang kali.
"Astaga, baru kali ini aku melihat perempuan yang tidak menggunakan hatinya ketika menghadapi sebuah situasi! Astaga, kamu ini wanita jadi-jadian atau bagaimana?"
"Hentikan itu, Amy!" Lily berusaha menepis lengan Amy yang terus menyentuh dahinya dengan ujung jari telunjuk.
"Astaga! Cepat datangi Jay dan minta maaf! Bisa-bisanya kamu menganggap ungkapan perasaan Jay hanya sebuah lelucon!" Amy menghentikan gerakan mendorong kepala Lily kemudian melipat lengan dan melayangkan tatapan tajam kepada perempuan di hadapannya itu.
"Ya, aku pikir dia memang hanya bercanda. Kamu tahu sendiri, bukan? Jay itu usil, konyol, dan sering membuatku kesal dengan ide jahilnya. Aku pikir hari ini dia juga hanya sedang bergurau." Lily tertunduk lesu seraya meremas rok yang membalut tubuhnya.
"Se-sekarang kamu temui dia! Minta maaf, dan segera selesaikan semua kesalahpahaman ini! Katakan jika memang kamu tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya! Atau ungkapkan kalau kamu memang juga menyukai Jay!"